ホーム / Zaman Kuno / Di Atas Ranjang Duke Cassian / Mitra Bisnis dan Donatur Suci

共有

Mitra Bisnis dan Donatur Suci

作者: arctrs_
last update 公開日: 2026-02-21 19:53:44

Duke Cassian dan Florence melangkah beriringan menuju ruang kerja ayahnya—Duke Benedictus of Valeridge. Sesampainya mereka di sana, Ayahnya tengah berkutat dengan tumpukan berkas dokumen. Sebenarnya Florence tidak ingin melihat wajahnya mengingat pertengkaran tempo hari. Namun apa boleh buat, ia harus memberikan keterangan perihal kejadian semalam.

Melihat kedatangan anak dan menantunya, Duke Benedictus mengehentikan urusannya dan beralih pada mereka. "Kalian sudah pulang rupanya. Bukankah ka
この本を無料で読み続ける
コードをスキャンしてアプリをダウンロード
ロックされたチャプター

最新チャプター

  • Di Atas Ranjang Duke Cassian   "Mana Papa?"

    Empat tahun berlalu dengan tenang. Kini William Green sudah berada dalam masa kanak-kanak. Florence tidak pernah melarang anaknya untuk bermain dengan teman seusianya. "Mama, apa aku tidak punya Papa?" tanya William kecil yang membuat Florence menghentikan aktivitas memasaknya. Sebenarnya Florence sangat tahu diri bahwa pertanyaan polos itu tidak salah dan suatu saat putranya itu akan menanyakannya. Namun, siapa sangka saat ini, ketika pertanyaan itu lolos dari bibir anaknya yang masih balita membuatnya tanpa sadar menggigit bibir dengan keras. Jangan menunjukkan emosi kesedihan, Florence! teriaknya dalam hati. Florence menoleh. Bisa ia lihat bekas air mata di pipi William kecil yang membuatnya kembali teriris. "Kenapa kamu menanyakannya, Sayang?" "Kata teman-teman aku dibuang Papa. Jadi mereka ngga mau main sama aku." Florence dengan langkah pasti langsung memeluk putranya. Ia tidak bisa membayangkan seberapa hancur perasaan anaknya sekarang. Ia merasa sudah gagal menjadi seora

  • Di Atas Ranjang Duke Cassian   Tunas Baru

    lima bulan telah berlalu. Selama hidup di Oakhaven, Florence merasa hidupnya lebih tenteram. Walaupun dalam sudut hatinya kosong, asalkan anak dalam kandungannya aman, Florence rasa itu sudah cukup untuk sekarang. "Jangan memaksakan dirimu, istirahatlah." Sebuah suara dari belakang membuat Florence menoleh sebentar. Blake baru saja pulang dari pasar membawa sekarung beras beserta ikan segar. Florence tersenyum samar, kemudian kembali memusatkan dirinya untuk menumbuk beberapa dedaunan herbal. "Ini tinggal beberapa pesanan obat lagi. Berhentilah khawatir," balas Florence dengan ringan. Blake lalu menurunkan karung beras dari pundaknya ke lantai dapur. Ia lalu berjalan menuju bak air untuk mencuci ikan. Florence mengamati Blake dalam diam. Selama mereka di Oakhaven, Blake selalu membawakan bahan makanan untuk Florence dan Elara–anak perempuan yang ia selamatkan dari Ordo Sanctus. Florence dan Blake memutuskan untuk pisah rumah, mengingat mereka pendatang baru di sini. Walaup

  • Di Atas Ranjang Duke Cassian   Pelarian

    Sesuai dengan rencana pelarian mereka, Blake membawa Florence melintasi samudera menuju Kepulauan Oakhaven, sebuah wilayah pesisir terpencil di ujung benua yang dikelilingi kabut tebal dan hutan cemara. Di sana, hukum kerajaan Aethelgard maupun Ironhard hanyalah dongeng jauh yang tak berani menyentuh daratannya. Mereka menetap di sebuah rumah kayu sederhana di pinggir tebing yang menghadap ke laut lepas. Di malam pertama mereka tiba, suara deburan ombak yang menghantam karang menjadi saksi bisu runtuhnya pertahanan emosional Florence. Florence duduk di depan perapian yang menyala, memeluk secangkir teh hangat dengan tangan yang masih gemetar. Blake berdiri di dekat jendela, matanya tetap siaga mengawasi kegelapan hutan di luar, namun hatinya tertuju sepenuhnya pada wanita yang tampak begitu rapuh di depannya. "Blake..." suara Florence memecah kesunyian, parau dan penuh luka. "Semuanya terasa seperti mimpi buruk yang tidak ada ujungnya." Blake berbalik, menatap Florence dengan

  • Di Atas Ranjang Duke Cassian   Pengakuan Dosa

    Florence mengerjapkan matanya perlahan. Langit-langit sel yang dingin dan lembap telah berganti menjadi atap kayu tua yang rendah. Suara derit jeruji besi pun menghilang, digantikan oleh suara api yang berderak pelan di tungku kecil. Ia berusaha bangkit, namun kepalanya masih terasa sangat berat akibat sisa obat tidur yang disuntikkan sebelumnya. Saat itulah ia menyadari bahwa ia tidak lagi berada di penjara bawah tanah, melainkan di sebuah pondok kecil yang sangat tersembunyi. "Kau sudah bangun?" Florence menoleh. Di sudut ruangan yang remang, seorang wanita berdiri dengan jubah hitam yang menutupi gaun mewahnya. Saat wanita itu mendekat ke cahaya lampu minyak, jantung Florence seolah berhenti. Wajah itu... wajah yang selama ini ia lihat di cermin setiap pagi. "Clarice?" bisik Florence parau. "Iya, ini aku," sahut Clarice dengan nada yang bergetar. Ia tidak berani menatap mata Florence secara langsung. Di samping Clarice, berdiri Blake yang tampak siaga dengan pedang di pingg

  • Di Atas Ranjang Duke Cassian   Keputusasaan yang Menyiksa

    Sisa-sisa pemberontak mulai melarikan diri ke arah tebing, namun Duke Cassian tidak membiarkan mereka lolos begitu saja. Ia memacu kudanya dengan beringas; tak ingin menyisakan satu mulut pun yang berani mencoreng kehormatan istrinya."Yang Mulia, tunggu! Itu terlalu berbahaya!" peringat salah satu pengawal dari kejauhan.Duke Cassian tuli terhadap peringatan itu. Ia terus memacu derap langkah kudanya melewati jembatan kayu sempit yang membelah jurang Stonegate. Namun, tepat saat kaki kudanya menginjak bagian tengah jembatan, sebuah ledakan hebat mengguncang fondasi kayu tersebut.BOOM!Bubuk mesiu yang telah ditanam secara rahasia oleh para pemberontak meledak tepat di bawahnya. Lidah api membubung tinggi, melahap struktur jembatan dalam sekejap. Duke Cassian terjebak di tengah kobaran yang meruntuhkan segalanya. Kudanya meringkik ngeri sebelum akhirnya mereka terperosok ke dalam jurang salju yang tak berdasar.Tubuh Cassian menghantam bebatuan tajam sebelum akhirnya tenggelam di bal

  • Di Atas Ranjang Duke Cassian   Pertumpahan Darah

    Duke Cassian memacu kudanya di garis paling depan. Setiap hentakan tapal kuda yang menghantam tanah salju di perbatasan Stonegate terdengar seperti detak jantung yang memburu. Perbatasan antara Kerajaan Aethelgard dan Ironhard ini tampak begitu suram di bawah langit yang mendung. Dasar keparat! Kutuk Duke Cassian di pertengahan. Pikirannya berkecamuk. Wilayah Stonegate ini selalu saja menjadi duri dalam daging. Ia merasa geram karena para penduduk di sini seolah menutup mata atas kebaikan Florence yang pernah berkunjung ke sini sebagai Duchess Silverhood. Sekarang, mereka justru membalasnya dengan pemberontakan keji, hanya karena termakan fitnah murah bahwa Duchess mereka terlibat dalam kejahatan Ordo Sanctus. Begitu Duke Cassian tiba di titik pertemuan, langkah kudanya terhenti. Di depannya, barisan manusia bertopeng dengan parang yang berkilat di tangan mereka sudah bersiaga. Jumlah mereka tak main-main. Kurang lebih lima puluh orang. Itu adalah angka yang cukup menekan jika di

  • Di Atas Ranjang Duke Cassian   Duke yang Dingin

    "Apa wajah tampanku sesuai seleramu Nona?" Hal yang paling tidak masuk akal bagi Florence saat momen itu ialah ia begitu terpana memandang paras duke di depannya. Garis wajah yang tegas serta iris mata birunya yang begitu bersinar membuat Florence enggan mengedipkan mata. Mendengar nada sinis D

  • Di Atas Ranjang Duke Cassian   Pengantin Pengganti

    "Tanggal pernikahan dengan Duke Cassian sudah ditentukan, Florence. Jangan membuat masalah dan patuhi saja kali. Setidaknya dirimu berguna untuk Kerajaan Aethelgard kita." Florence menatap lantai marmer di bawah tanpa suara. Kali ini ucapan ayahnya sudah tidak bisa diganggu gugat. Ayahnya ialah se

  • Di Atas Ranjang Duke Cassian   Milikku

    Keesokan paginya, kediaman Silverhood kedatangan Putri Seraphina serta penjahit kerajaan dengan enam asisten dan tiga rak gaun. Duke Cassian dan Florence tidak menyangka kalau putri itu akan secepat ini untuk datang mengingat baru kemarin pertemuan mereka berlangsung. "Kalian tidak lupa kan kalau

  • Di Atas Ranjang Duke Cassian   Calon Istri yang Anggun

    Florence dan pelayan tua itu bekerja sampai matahari terbenam. Mereka berbagi tugas. Pelayan tua itu membersihkan bagian dinding dan jendela, Sementara Florence menyapu lantai dan merapikan ranjang. Di lantai, di bawah tumpukan buku basah, Florence tanpa sengaja menemukan sesuatu. Itu adalah sebu

続きを読む
無料で面白い小説を探して読んでみましょう
GoodNovel アプリで人気小説に無料で!お好きな本をダウンロードして、いつでもどこでも読みましょう!
アプリで無料で本を読む
コードをスキャンしてアプリで読む
DMCA.com Protection Status