เข้าสู่ระบบMalam turun perlahan ketika Valeria akhirnya meninggalkan Sanz Management. Ia sudah memastikan setiap gaun diperiksa ulang, bahkan membawa dua potong cadangan kembali ke butiknya untuk berjaga-jaga. Di dalam mobil sebelum menyalakan mesin, ia mengirimkan pesan singkat. Valeria: Aku akan datang malam ini. Balasan datang seketika. Camila: Aku tunggu di lobi. Orang tuaku sudah pulang. Jantung Valeria berdebar lebih cepat.Rumah sakit terlihat lebih sunyi dibanding siang hari. Lampu-lampu putih memantulkan kesan dingin dan steril.Begitu pintu otomatis terbuka, Camila sudah berdiri di dekat kursi tunggu. Wajahnya tampak lelah, tetapi ada secercah harapan di matanya ketika melihat Valeria. “Kamu benar-benar datang,” katanya pelan. Valeria mengangguk. “Bagaimana keadaannya?” “Masih belum sadar penuh. Dokter bilang kondisinya stabil." Mereka berjalan berdampingan menuju lift. “Ayahmu tidak ada di sini, kan?” tanya Valeria hati-hati hanya untuk memastikan. “Sudah pulang. Kamu tida
“Apa?” bisiknya. “Aku tidak bodoh, Valeria. Aku tumbuh bersamanya. Aku tahu dia mencintaimu." Valeria bangkit berdiri dari tepi ranjang dan berjalan gelisah ke arah jendela. "Ini tidak masuk akal." "Kakakku telah berubah sejak kecelakaan itu. Dia tidak seperti Daniel yang dulu. Aku tahu mungkin kamu masih belum memaafkan, karena dia telah membuat calon suamimu meninggal." Di luar, angin malam berhembus pelan. “Aku ingin kamu datang karena mungkin kamu satu-satunya orang yang bisa membuatnya sadar." Valeria memejamkan mata. Ia datang ke rumah sakit tadi hanya untuk memastikan keadaan Daniel bukan untuk terlibat lebih jauh. “Camila," suaranya lebih pelan sekarang. “Aku tidak tahu apakah aku siap untuk semua ini.” “Aku juga tidak,” jawab Camila jujur. “Tapi untuk pertama kalinya, aku merasa kamu bukan musuh.” Valeria terdiam. “Datanglah besok!" pinta Camila sekali lagi. “Tolong!" Valeria menutup matanya lebih lama dan mencoba menenangkan detak jantungnya yang terasa tidak ber
Langit sudah berubah jingga ketika Valeria akhirnya tiba di rumah orang tuanya.Ia jarang pulang sebelum larut malam akhir-akhir ini. Butik, pertemuan klien, dan urusan yang tidak pernah benar-benar selesai semuanya menjadi alasan untuk menunda kepulangannya. Namun malam itu, langkahnya terasa berat bukan karena lelah bekerja, melainkan karena pikirannya yang terus berputar.Begitu ia membuka pintu, aroma masakan hangat langsung menyambutnya. Lampu ruang makan menyala terang. Meja makan sudah tertata rapi dengan taplak putih sederhana. Sup hangat mengepul di tengah meja dan ayam panggang favoritnya tersaji dengan kentang dan sayuran. Ibunya keluar dari dapur sambil membawa sepiring roti. “Kamu sudah pulang? Mama pikir kamu akan lembur lagi." Valeria berkedip dan sedikit kaget. “Iya." Ayahnya muncul dari ruang keluarga dan melepas kacamata bacanya. “Akhirnya anak kami ingat jalan pulang sebelum tengah malam.” Nada bercandanya ringan, tetapi sorot matanya penuh perhatian. Valeri
Emiliano berdiri di ambang pintu dengan tatapan yang begitu tenang hingga terasa lebih mengancam daripada teriakan. “Apa yang kamu lakukan di sini?” tanyanya datar. Camila langsung berdiri tegak. “Aku yang membawanya.” “Keluar!" ucap Emiliano singkat. Valeria tidak bergerak. “Aku hanya ingin memastikan keadaannya.” “Keadaannya stabil dan ia tidak membutuhkan tekanan tambahan," jawab Emiliano. Daniel mengerang pelan di ranjang. Matanya kembali terpejam dan kesadarannya yang tadi sempat muncul menghilang lagi. “Dia belum sadar sepenuhnya,” kata Valeria dengan suaranya yang tertahan. Emiliano melangkah masuk, lalu dengan sopan menggenggam lengan Valeria. “Silakan! Kita bicara di luar," katanya dingin. Camila ingin memprotes, tetapi tatapan ayahnya menghentikannya. Emiliano menuntun Valeria keluar ruangan. Pintu tertutup pelan di belakang mereka dan begitu berada di lorong yang lebih sepi, Emiliano melepaskan tangannya dari lengan Valeria. Namun jarak di antara mereka tetap tera
Keesokan paginya, matahari menyelinap lembut melalui jendela kaca besar butik milik Valeria. Gaun-gaun rancangan terbarunya tergantung rapi di rak-rak dan berkilau dalam cahaya pagi. Aroma kopi memenuhi ruangan ketika Lucia masuk sambil membawa dua gelas. “Kamu datang lebih pagi dari biasanya,” kata Lucia, memperhatikan Valeria yang berdiri diam di dekat rak display tanpa benar-benar melihat apa pun. Valeria menghela napas panjang. “Aku tidak bisa tidur.” Lucia menyerahkan kopi padanya. “Karena Daniel?” Valeria menatap sahabatnya itu. “Dia tahu semuanya, Lucia.” Lucia mengernyit. “Semuanya tentang Virginia?” Valeria mengangguk. “Bukan cuma dugaan. Dia memiliki bukti bukti dan semua mengarah ke ayahnya.” Lucia terdiam beberapa detik. “Dan dia tetap berdiri di sisimu?” “Dia bilang dia akan melawan ayahnya sendiri. Dia bahkan menyuruhku pulang dulu semalam. Katanya kita harus bicara lagi hari ini untuk menentukan langkah.” Lucia menyandarkan pinggulnya ke kursi. “Dan kau percaya
Alejandro menatapnya tidak percaya. “Jadi kau yang mengancam Rafael.” “Dia orang yang berbahaya,” balas Emiliano cepat. “Dia pembohong dan dia ...." “Cukup!” potong Alejandro keras. “Kalau kau tahu aku bertemu dengannya, itu berarti kau memang sudah lama mengawasi Rafael dan mengawasi semua orang di sekitarnya.” Emiliano terdiam. Keheningan itu lebih jujur daripada pengakuan apa pun dan Alejandro tidak menyangka Emiliano tidak sebaik yang ia kira. Ia telah salah menilainya. Alejandro menarik napas tajam. "Kau tahu Rafael akan bicara dan kau juga tahu dia menyimpan bukti dan mencoba membungkamnya seperti kau membungkam Virginia.” “Aku melindungi keluarga ini!” bentak Emiliano tiba-tiba. “Aku melindungimu, melindungi Camila, melindungi ibumu. Kau pikir dunia akan memaafkan skandal itu? Seorang DeLaLuca menghancurkan hidupnya sendiri karena perempuan simpanan?” “Dia bukan benda!” teriak Alejandro. “Dia manusia. Dia hamil dan kau membunuhnya!” Emiliano menggeleng keras. “Aku tidak







