ログイン“Kok hilang ya?” keluhku pelan sambil mengacak-acak isi kulkas.
Malam itu, aku mengorek-ngorek isi kulkas karena tidak menemukan buah potong yang baru aku beli kemarin. Aku sudah berdiri menjelajahi isi rak kulkas bagian atas sampai berjongkok untuk melihat bagian bawah pun masih belum ketemu. Rasanya menyebalkan karena saat ini tubuhku sedang kekurangan gula. Lemas, ingin marah, dan perut keroncongan.
Terlebih lagi, aku baru saja melewati hari pertama yang berat di sekolah. Siapa yang akan mengira aku akan mengalami kejadian yang tidak pernah ada di bayanganku sebelumnya?
Orang gila mana yang bisa memprediksi hal seperti itu akan terjadi di sekolah. Dalam hidupku, tidak pernah aku membayangkan akan terkena pembullyan sampai segila ini. Selama ini, aku hanya melihat kasus kekerasan yang parah di sekolah hanya melalui berita-berita. Itu pun selalu terjadi di sekolah-sekolah yang memang terpencil atau kurang dikenal. Tidak aku sangka, sekolah elite pun memiliki permasalahan serupa. Ah, sepertinya mainku kurang jauh.
Dulu, saat aku melihat berita-berita kekerasan seperti itu, darahku langsung mendidih. Aku ikut kesal dan menghujat para pelaku di kolom komentar. Aku ingin memberi mereka bogem mentah supaya tahu betapa sakitnya dipukul seperti itu. Namun, sekarang justru akulah yang menjadi korban. Ternyata, tidak semudah itu untuk melawan. Tidak ada perlawanan berarti yang bisa aku lakukan untuk menghadapi itu.
Akan tetapi, bukannya trauma, kalau dipikir-pikir, rasanya aku sangat marah sekali. Aku ingin membalas dendam supaya mereka merasakan kesakitan yang sama. Saat amarahku memuncak karena bullyan ini ditambah lagi tidak menemukan buah potong milikku, aku langsung bangkit dan menengok ke belakang untuk memanggil pembantu rumah ini, Bi Marsih.
“Bi Mars ….” Teriakanku terhenti karena dikejutkan oleh sosok pria gagah. “Tuan Arga?” kagetku.
Tuan Arga hanya berdiri di hadapanku sambil memegang sebuah kotak makanan kecil. Mataku langsung tertuju pada kotak kosong tersebut. Aku tahu betul kotak milik siapa itu. Itulah yang aku cari selama ini.
“Buah potongku!” jeritku sambil refleks merebut kotak makanan kosong dari tangan Tuan Arga.
Aku hanya bisa manyun sambil menatap sedih kotak yang sudah kotor dengan noda-noda cairan buah. Tanpa sadar, aku mengeluarkan bombastic side eye kepada Tuan Arga. Pria itu hanya menatapku seperti orang bodoh. Tidak ada rasa bersalah sedikit pun. Iya, aku tahu dia itu anak dari boss ayahku. Tapi, ini kan punyaku.
“Tuan Arga nggak bisa bacakah? Udah jelas, loh ada nama Laras di kotak ini.” Aku menunjuk label bertuliskan Laras yang sengaja aku tuliskan agar tidak ada yang mengambil.
“Terus? Peduli gue? Ini kulkas rumah gue. Kenapa jadi masalah mau makan apa yang ada di kulkas gue sendiri,” bela Tuan Arga.
“Jangan egois gitu, dong. Iya, saya tahu ini rumah Tuan Arga. Cuma kan harus adil. Jelas-jelas ini punya saya,” rengekku.
Saat kami sedang berdebat, tiba-tiba Bi Marsih datang dan terkejut karena ada Tuan Arga di dapur. Sepertinya, ini memang pemandangan unik. Sebab, kalau butuh sesuatu, Tuan Arga hanya tinggal teriak dan menyuruh saja. Ah, enaknya jadi orang kaya.
“Ya Allah, Tuan Arga. Kenapa ada di sini? Ngapain repot-repot keluar kamar? Bibi minta maaf ya kalau nggak dengar panggilan Tuan,” kata Bi Marsih dengan melas.
“Bi, saya punya kaki. Nggak usah lebay begitu. Saya cuma mau ambil air dingin,” jelas Tuan Arga tenang.
“Yasudah, sekarang Tuan Arga kembali ke kamar, ya. Nanti saya bawakan air dinginnya untuk Tuan.” Bi Marsih langsung memintaku menyingkir dari depan kulkas.
Namun, permasalahan buah potongku belum selesai. Seperti anak kecil yang mengadu kepada orang tuanya, aku mengadukan hal ini kepada Bi Marsih.
“Bi Marsih, coba lihat. Tuan Arga makan buah potong saya,” rengekku sambil menunjukkan kotak makanan yang kosong.
“Loh, terus kenapa? Sudah. Nanti Bibi belikan lagi. Sekarang, kamu kembali ke kamar, ya. Bibi mau ambil air buat Tuan Arga,” kata Bibi sambil menggeser tubuhku dengan pelan.
“Tidak usah, Bi. Bibi kerjakan yang lain saja, ya. Saya bisa ambil sendiri.” Tuan Arga langsung maju ke depan kulkas.
“Tapi, Tuan …” Bi Marsih masih keras kepala.
“Bi, bibi dengerin saya atau tidak?” tegas Tuan Arga.
Bi Marsih pun mengangguk dan langsung mengajakku untuk pergi dari dapur. Sementara itu, mataku masih menatap tajam Tuan Arga. Aku tidak mau beranjak walaupun Bi Marsih memaksaku.
“Sudah, ayo. Nanti bibi belikan yang baru,” paksa Bi Marsih mengajakku segera pergi.
Saat tubuhku mulai terdorong karena Bi Marsih, tiba-tiba saja lenganku ditarik oleh Tuan Arga. Kami berdua sama-sama terkejut dengan tindakan itu. Hal yang lebih membuat terkejut, tarikan itu berbeda saat di sekolah tadi. Tuan Arga menarikku dengan lembut.
“Bi, saya mau ngobrol sebentar dengan Laras. Bibi pergi duluan saja ya,” pinta Tuan Arga.
Bibi mengangguk dan berbisik kepadaku sebelum pergi. “Kalau Tuan Arga minta apa-apa, tolong turuti, ya.”
Mendengar itu, hidungku langsung mengkerut. Tak sudi rasanya melayani seseorang yang telah mengambil buah potongku.
“Apa?!” sinisku kepada Tuan Arga.
Tuan Arga pun berdecak sambil tersenyum tipis. Dia mulai fokus mengambil air putih dan duduk di meja makan. Secara sadar, aku langsung mengikutinya dan duduk di hadapannya. Aku membuang muka sambil tetap menyipitkan mata agar bisa memandang pria itu. Terlihat, ia minum satu gelas air dengan sekali teguk. Jakunnya bergerak ke atas ke bawah. Ah, entah kenapa bagiku itu terlihat seksi. Lehernya yang jenjang mengubah adegan minum air ini menjadi suatu hal yang mempesona bagiku.
“Sekarang, lu ngerti kan kenapa gua suruh lu jangan macem-macem di sekolah?” tanya Tuan Arga terlihat serius.
Pertanyaan itu membuat aku berpikir. Apakah Tuan Arga memang benar-benar ingin melindungiku dari jahatnya sekolah elite? Sebenarnya, kejadian ini masih belum bisa diterima oleh akal sehatku. Kenapa ada seseorang yang begitu kejam melakukan ini hanya karena status sosial?
Aku yang tadinya marah karena permasalahan sepele, kini mulai mengalihkan fokus kepada hal ini. Aku ingin tahu lebih dalam tentang SMA International Cakra.
“Sebenarnya, saya salah apa Tuan sampai diperlakukan seperti itu?” tanyaku serius.
“Lu nggak denger Clarissa bilang apa sebelum lu pingsan? Udahlah, lu nggak bisa berbuat apa-apa. Hilang saja dari pandangan mereka,” jelas Tuan Arga.
Aku agak tersinggung dengan ucapan tersebut. Seolah-olah, aku ini penjahat yang memiliki kesalahan sehingga harus bersembunyi. Mengapa terlahir dari keluarga yang kurang mampu justru menjadikan hal itu sebagai sebuah kejahatan?
“Tuan Arga, saya mau sukses. Ayah Tuan Arga memberikan beasiswa ini bukan untuk melihat saya gagal dan tidak berbuat apa-apa. Saya harus sukses di sekolah ini,” jelasku dengan tekad membara.
Namun, Tuan Arga hanya bisa menggeleng-geleng seakan tidak percaya dengan keteguhanku. Dia pun sudah muak dan bangkit dari kursi. Sebelum pergi, dia kembali berpesan kepadaku, “Intinya, gua udah ngingetin lu berkali-kali. Bersembunyilah. Jangan sampai lu kelihatan di hadapan mereka lagi.”
Tuan Arga pun langsung beranjak pergi. Akan tetapi, ucapanku menahannya untuk pergi.
“Tuan Arga, apa kamu ingin melindungiku?” tanyaku serius.
“Cuma jadi putri supir bokapnya Arga udah belagu banget,” ucap salah seorang siswi kepadaku ketika aku lewat di depannya.Aku yang mendengar itu hanya tersenyum tipis. Tidak masalah bagiku mereka ingin mengatakan apa. Asalkan, tidak bermain fisik dan mengganggu proses belajarku di sekolah ini. Berstatus sebagai orang dekat Tuan Arga membuatku lebih nyaman bersekolah di SMA International Cakra ini.Aku lebih dihargai dan tidak ada yang berani macam-macam kepadaku. Ah, sungguh senang rasanya. Akan tetapi, Tuan Arga tetaplah Tuan Arga. Sikapnya di sekolah tidak pernah berubah. Tetap dingin dan cuek saja. Tidak jarang, aku pun menjahili dengan sedikit menggodanya supaya interaksinya kepadaku lebih cair.“Sok cool banget sih Tuan Arga,” ledekku di sampingnya saat dia sedang menikmati makan siangnya“Jangan berisik. Gue lagi makan!” ujarnya sembari mengunyah nasi goreng.Aku hanya tertawa kecil sambil menyantap makanan mewahku yang dibelikan oleh Tuan Arga. Rasanya lebih nikmat dibandingkan
“Eh, itu beneran mereka? Arga sama si anak supir itu turun dari mobil yang sama?” ucap siswi kepada siswi lainnya.Ancaman Pak Rahadian berhasil membuat Tuan Arga luluh di sekolahan. Mau tidak mau, dia harus menyetujui permintaan ayahnya untuk menjagaku. Walaupun, aku lihat raut wajahnya tidak senang dengan tugasnya tersebut. Akan tetapi, kepercayaan diriku mengungkapkan bahwa ada rasa lega dari ekspresi yang dipancarkan Tuan Arga. Dia seperti sudah menunggu momen-momen untuk menjagaku.Aku dan Tuan Arga turun dari mobil hitam yang sama. Hari ini, Pak Rahadian meminta ayahku untuk mengantar kami berdua ke sekolah. Tentunya, dengan senang hati aku duduk manis di mobil yang cukup mewah itu. Setelah menginjakkan kaki di depan sekolah, beberapa siswi yang juga baru datang memandangi kami sambil kebingungan dan mulai bergosip. Aku tanpa sadar membusungkan dada karena merasa percaya diri sudah meluluhkan Tuan Arga. Mungkin, itu juga yang mereka pikirkan setelah melihatku bersama Tuan Arga
“Wah, beneran udah nggak waras lu ya! Mau mati di sini lu udah bikin Clarissa sampai jatuh gini?” ancam Veronica kepadaku.Veronica langsung mendekat kepadaku. Sementara itu, Rani terlihat berusaha membantu Clarissa berdiri. Aku waspada dengan mengambil kuda-kuda untuk bersiap menahan serangan yang akan mereka lakukan. Tangan kanan Veronica mulai diayunkan. Aku yang sudah bisa memprediksi gerakan Veronica langsung menahan tamparannya. Kemudian, aku juga memelintir tangan Veronica sambil mendorongnya hingga terjatuh ke Clarissa.Rani dan Clarissa pun terkejut karena tertubruk tubuh Veronica. Rani yang sudah murka langsung cepat-cepat bangkit dan memberikanku serangan kejutan. Lumayan. Pipi kananku rasanya perih dan sepertinya agak memerah setelah menerima tamparan itu. Namun, kali ini berbeda. Aku yang biasanya diam saja dipukuli seperti ini, mulai melawan pada hari ini.Tanpa basa-basi, aku juga melayangkan tamparanku sekuat tenaga. Belum cukup sampai sana, aku juga mencekik lehernya
“Woy, Babu. Cepetan jalannya!” teriak Clarissa kepadaku yang tertinggal jauh di belakang mereka.Setelah mengetahui fakta yang menyakitkan soal orang tua Rani, aku lebih banyak melamun. Walaupun itu papa angkatnya Rani, hal tersebut tidak menghilangkan fakta bahwa Rani berasal dari keluarga yang terpandang. Intinya, Veronica sudah membohongiku. Tidak pernah ada sejarahnya Rani menjadi budak dahulu untuk mendapatkan apa yang dia inginkan di sekolah. Veronica hanya ingin mengerjaiku. Akan tetapi, aku masih dihadapi dilema. Kini, semuanya terasa hambar. Aku sudah tidak terlalu senang saat mendapatkan kenyamanan belajar di sekolah ini. Aku juga sudah tidak terlalu merasakan sakit saat dibully oleh Clarissa dan teman-temannya. Aku mati rasa.Status budak ini membuatku makin diremehkan oleh seluruh warga sekolah. Sebelumnya, mereka tidak terlalu mengusikku. Sayangnya, statusku yang menjadi budak Clarissa membuatku makin terekspos oleh siswa dan siswi sombong yang hanya memanfaatkan kekayaa
“Apaan sih Tuan Arga. Kalau di sekolah aja, sok-sok nggak kenal,” teriakku saat tidak sengaja berpapasan dengan Tuan Arga di lorong sekolah.Tuan Arga yang tadinya memasang raut wajah dingin seketika berubah menjadi pucat pasi. Dia langsung menutup mulutku dari belakang dengan tangan kirinya. Sementara itu, tangan kanannya berada di pinggangku untuk mendorong aku menepi. Beruntung, saat itu keadaan lorong sekolah cukup sepi. Tidak ada siapa-siapa. Kini, hanya ada aku dan Tuan Arga yang terhalang oleh papan mading besar. “Lu kenapa tiba-tiba ngomong gitu? Kalau ada yang denger gimana?” protes Tuan Arga.“Biarin. Biar sekolah tahu kita ini siapa,” kataku dengan manja.Setelah kejadian semalam, entah kenapa tiba-tiba aku menjadi seberani ini kepada Tuan Arga. Walaupun, sebenarnya Tuan Arga tidak menjelaskan maksudnya memegang tanganku seperti itu. Akan tetapi, hal yang pasti adalah perempuan mana yang tidak baper diperlakukan seperti itu.“Sekarang, mau lu apa?” tanya Arga yang terlihat
“Laras, lu yakin mau ambil jalan ini?” ujarku pada diri sendiri sambil menatap pantulan wajahku yang ada di kolam renang. Walaupun aku tidak bisa berenang, tetapi area kolam renang di rumah Tuan Arga merupakan tempat favoritku. Sebab, suasananya sepi serta angin berembus membuat udaranya cukup sejuk.Memang benar, hari ini tidak ada yang mengganggu aku saat di kelas. Aku bisa nyaman belajar bahkan mengikuti setiap proses pembelajaran dengan lancar. Namun, aku tetap merenungkan apa yang terjadi hari ini. Bullyan yang dilakukan Clarissa di kantin tidak bisa aku abaikan begitu saja. Clarissa seperti memberiku sebuah kenyataan pahit. Kenyataan bahwa kalau aku ingin nyaman di SMA International Cakra, maka aku harus terlebih dahulu mendapatkan kesakitan. Terdengar adil, bukan? Akan tetapi, seharusnya konsepnya tidak seperti itu. Bisa belajar dengan nyaman merupakan hak seluruh murid. Tidak perlu ada konsekuensi buruk yang diterima terlebih dahulu untuk menerima semua itu. Saat sedang me







