LOGINZayn menautkan kedua alisnya ketika mendengar ucapan Mattias. Ada sesuatu yang terasa aneh dari perkataanya menanggapi ucapannya."Apa yang papa katakan?" tanya Zayn penasaran.Mattias yang sempat terdiam karena sudah keceplosan bicara, langsung mengalihkan pandangannya ke layar ponsel. Sudut bibirnya terangkat membentuk senyum tipis. Ia harus berhati-hati agar tidak mengatakan sesuatu yang bisa membuat Zayn curiga."Maksud papa, mama kamu hanya milik papa," jawab Mattias santai.Jawaban itu sengaja ia keluarkan untuk menutupi maksud sebenarnya dari ucapannya sebelumnya. Mattias tidak ingin Zayn mengetahui sedikit pun mengenai hubungannya dengan Belle.Zayn akhirnya tersenyum dan mengangguk. "Oh, aku kira papa sedang membicarakan Belle."“Kamu yang dari tadi membicarakan gadis itu, Zayn,” balas Mattias.“Karena aku sangat mencintai Belle, Pa.”Zayn mengatakannya dengan penuh keyakinan. Tidak ada keraguan sedikit pun dalam sorot matanya ketika membicarakan gadis yang telah berhasil mem
Zayn baru saja sampai di rumah setelah sebelumnya mampir ke toko buku, seusai mengantar Belle. Begitu motor gedenya berhenti di garasi, Zayn turun dan melangkahkan kaki masuk ke dalam rumah yang begitu besar dan mewah. Bangunan itu bahkan lebih mirip sebuah istana dari pada rumah biasa.Namun, sebesar apa pun rumah tersebut, tetap saja Zayn tidak pernah merasa benar-benar nyaman berada di dalamnya.Saat memasuki rumah, seperti biasa hanya ada beberapa pembantu yang menyambut kedatangan Zayn."Selamat datang, Den Zayn."Zayn hanya menganggukkan kepala sambil memberikan senyum tipis."Terima kasih, Bi."Setelah itu, Zayn memberikan tasnya pada bibi Muti seperti biasa. Tatapannya kemudian menyapu seluruh ruangan yang begitu luas, dan juga sepi.Tidak ada suara kedua orang tuanya. Tidak ada suara percakapan. Tidak ada suara tawa yang biasanya bisa membuat sebuah rumah terasa hidup.Zayn menghela napas panjang. Rumah sebesar istana yang menjadi tempatnya pulang ternyata tidak pernah benar
Zayn tidak langsung membawa Belle ke rumah sakit dimana nenek Maria masih berada di sana, pria itu justru membawa Belle ke sebuah restoran.Belle awalnya menolak saat Zayn mengajaknya makan. Tapi Belle akhirnya mengikuti keinginan Zayn.Keduanya duduk berhadapan di sebuah maje, menyantap makanan yang di pesan oleh Zayn.Untuk menghormati Zayn, Belle menyantap makanan yang ada di hadapannya. Meskipun Belle masih sangat kenyang. Mengingat lagi, belum lama Belle juga makan bersama dengan Mattias, di ruang kerja pria itu."Zayn, hari sudah mulai petang. Aku harus ke rumah sakit, nenek pasti sudah menunggu kedatanganku," ucap Belle.Zayn menatap hidangan yang berada di hadapan Belle yang belum habis. "Habiskan dulu makanan kamu.""Aku sudah kenyang, Zayn."Zayn tidak bicara lagi, yang ada menyendok makanan Belle, dan coba untuk menyuapi gadis itu. "Buka mulutmu." pinta Zayn.Belle menatap pada Zayn, sambil mengingat Mattias yang tadi juga menyuapinya. Padahal pergelangan tangan pria itu se
Belle akhirnya memutuskan untuk pulang setelah Mattias mengizinkannya pergi. Langkahnya perlahan melewati lobi perusahaan, tetapi pikirannya sama sekali tidak tenang.Keputusan yang baru saja diambilnya terus berputar-putar di dalam kepala.Ia telah menyetujui sesuatu yang bahkan sebelumnya tidak pernah terbayangkan oleh Belle. Menjadi simpanan Mattias.Belle mengembuskan napas panjang. Ia masih merasa ragu, tetapi janji dan keadaan memaksanya untuk mengambil keputusan tersebut."Belle."Langkah Belle mendadak terhenti ketika mendengar seseorang memanggil namanya.Ia segera menoleh, matanya membulat ketika melihat Zayn berdiri tidak jauh darinya."Zayn?" Belle menatap pria itu dengan terkejut. "Kenapa kamu ada di sini?" Tanyanya saat Zayn telah mendekat.Namun, Zayn tidak langsung menjawab pertanyaan Belle. Tatapannya justru menyapu wajah gadis itu dari atas hingga bawah, seolah ingin memastikan tidak ada sesuatu yang buruk terjadi padanya."Apa kamu sudah sembuh?" tanyanya. "Kenapa k
Dimitri keluar dari dalam kamar yang berada di ruang kerja Mattias, meninggalkan sahabatnya itu seorang diri.Tatapan Dimitri segera tertuju pada Belle yang masih duduk di sofa. Gadis itu terlihat begitu cantik dan manis, bahkan dalam keadaan sederhana sekalipun.Namun, dari penampilan Belle, gadis itu sama sekali tidak terlihat seperti perempuan yang sengaja mendekati Mattias hanya demi uang, seperti dugaan Dimitri.Meski begitu, Dimitri tidak akan langsung percaya begitu saja. Ia sudah mengenal Mattias cukup lama, banyak wanita yang ingin mendekati sahabatnya itu karena Mattias kaya raya."Bagaimana dengan keadaan Pak Mattias, Dok?" tanya Erlando yang masih terus memainkan perannya.Dimitri pun ikut berpura-pura serius. Ia menatap Erlando dengan wajah tenang, seolah-olah baru saja memeriksa kondisi Mattias."Untung nadinya tidak terputus. Kalau sampai benar-benar terputus, bos kamu bisa mati."Mendengar perkataan itu, Belle langsung terdiam. Jantungnya berdegup lebih cepat.Jika Mat
"Pak, tolong bangunlah." Kata Belle masih coba untuk membangunkan Mattias. "Saya akan menepati janji saya, tapi tolong anda bangun."Mattias sekarang menggerakkan tangan yang masih Belle pegang."Pak, anda sadar?" tanya Belle menatap Mattias yang masih memejamkan matanya, Belle tidak salah lihat tangan Mattias baru saja bergerak. Belle kembali menatap tangan Mattias yang tadi bergerak. "Aku tidak salah lihat," ucap Belle meyakinkan diri sendiri, jika ia memang melihat tangan Mattias bergerak."Jangan ingkari janji kamu, Sayang." ucap Mattias tiba-tiba.Membuat Belle terkejut dan menatap pria itu yang masih memejamkan matanya."Pak, anda berbicara?" tanya Belle."Iya," jawab Mattias. "Dan rasanya aku seperti ingin mati, sayang." Mattias masih memejamkan matanya, agar Belle tidak curiga jika dirinya hanya sedang berpura-pura."Maafkan saya, Pak." Belle mengalihkan tatapannya pada Pintu ruang kerja Mattias yang di buka oleh Erlando, di belakang pria itu ada pria lain yang menggunakan j







