LOGIN"Kamu yakin?" tanya Natt, karena ia pikir Belle tidak akan mengikuti sarannya, untuk mendapatkan uang dengan cepat dari om-om kaya raya.
Belle tidak langsung menjawab. Tatapannya justru bergetar sebelum akhirnya ia melangkah mendekati Natt dan memeluk sahabatnya itu erat. Tangis yang sejak tadi ditahannya kembali pecah. "Aku tidak tahu harus bagaimana lagi, Natt." kata Belle di sela isak tangisnya. Natt menghela napas panjang. Ia mengusap punggung Belle, berusaha menenangkannya sebelum akhirnya membawa sang sahabat masuk ke dalam kamar kosnya. Natt kemudian mendudukkan Belle di pinggir tempat tidur. "Jangan menangis," ujar Natt lembut sembari menghapus air mata yang membasahi pipi Belle. "Natt, bawa aku ke tempat om-om yang kamu bilang. Aku membutuhkan uang itu secepatnya." Belle menarik napas panjang, berusaha menghentikan tangisnya. "Nenek harus segera dioperasi. Dan uang yang aku butuhkan ternyata lebih banyak dari sebelumnya." Natt menatap dalam pada Belle. "Kamu yakin, Belle?" tanyanya sekali lagi. Belle menganggukkan kepala, meski wajahnya masih dipenuhi kesedihan, tapi tidak ada keraguan dalam tatapannya. "Tapi kamu harus tahu, semua ada konsekuensinya." Belle menatap pada sang sahabat sambil mengangkat sebelah alisnya. "Apa maksud kamu, Natt?" "Kamu tidak bisa lepas begitu saja setelah mendapatkan uang dari om-om tajir itu, setiap dia membutuhkan kamu. Kamu harus ada untuknya," Belle terdiam sejenak mendengar apa yang sang sahabat katakan, lalu berkata. "Aku tidak peduli tentang itu semua, Natt. Yang penting Nenek selamat." "Baiklah, jika itu keputusanmu. Besok aku akan membawa kamu ke tempat itu." "Kenapa tidak sekarang saja, Natt?" balas Belle cepat. Natt menatap penampilan Belle dari ujung kepala hingga kaki. Mata gadis itu masih bengkak karena menangis. Rambut hitamnya berantakan, sementara pakaian yang dikenakannya begitu lusuh. "Kamu yakin mau ke sana malam ini juga, dengan penampilan kamu seperti ini?" tanya Natt. "Yang benar saja," Belle mengikuti arah pandangan Natt hingga akhirnya menatap pantulan dirinya sendiri dari cermin. Beberapa detik Belle terdiam, lalu berkata. "Kamu bisa membuat penampilanku lebih baik, Natt." Natt tersenyum. "Bisa sih. Tapi jangan menangis lagi. Oke!" Belle menganggukkan kepala. "Aku tidak akan menangis lagi," bohong Belle, karena air matanya kapan saja bisa jatuh mengingat kondisi sang nenek. Dengan bantuan Natt, Belle kemudian bersiap. Tidak membutuhkan waktu terlalu lama hingga penampilan gadis itu berubah drastis. Gaun merah marun tanpa lengan melekat anggun di tubuh Belle. Rambut hitam panjangnya dibiarkan tergerai dengan sedikit sentuhan penataan sehingga terlihat lebih rapi dan berkilau. Riasan tipis menghiasi wajah Belle, membuat mata yang sebelumnya sembap tampak lebih segar. Belle berdiri di depan cermin, dan nyaris tidak mengenali dirinya sendiri. "Sempurna," kata Natt sambil tersenyum puas. Belle menunduk dan kedua tangannya refleks menutupi dadanya. "Natt, apa pakaian ini tidak terlalu terbuka?" tanya Belle merasa tidak nyaman. "Tentu saja tidak." Natt menurunkan tangan Belle. Lalu meraih dagu sahabatnya tersebut. "Ingat, kamu harus tersenyum saat menggoda om-om, jangan tunjukkan wajah sedihmu, ok." Natt memberitahu Belle. "Coba sekarang tersenyum." pinta Natt. Belle mengukir senyum meskipun hatinya benar-benar terluka, karena ia telah mengambil keputusan yang seharusnya tidak ia ambil, demi sang nenek. "Bagus, dan aku yakin. Malam ini kamu akan langsung mendapat uang itu." *** Belle memeluk lengan Natt, ketika keduanya memasuki sebuah klub malam mewah yang hanya dipenuhi orang-orang kaya raya. Lampu-lampu temaram menghiasi ruangan. Musik terdengar dari arah panggung, sementara para tamu berbincang di meja-meja eksklusif. Para pelayan berjalan membawa minuman, dan hampir semua orang yang berada di sana terlihat mengenakan pakaian mahal. Ini pertama kalinya Belle datang ke tempat seperti itu. Membuat jantungnya berdetak lebih cepat. Belle merasa asing dan gugup, terlebih karena tujuan kedatangannya malam ini bukan untuk bersenang-senang. "Natt, aku ingin ke toilet," bisik Belle. Natt menunjuk ke arah lorong di sebelah kanan. "Di sana toiletnya, mau aku antar?" "Tidak Natt, terima kasih." "Baiklah. Aku tunggu di sini." Belle mengangguk dan segera berjalan menuju toilet. Begitu berada di dalam, Belle berdiri di depan cermin dan menarik napas dalam-dalam. "Belle, tenanglah." bisiknya kepada diri sendiri. "Ini demi Nenek." Belle memejamkan mata beberapa saat, kemudian mengingat wajah sang nenek yang terbaring di rumah sakit. Bayangan itu membuat hati Belle kembali sesak. Namun, kali ini Belle memaksa dirinya untuk tetap tenang. Setelah merasa sedikit lebih baik, Belle akhirnya keluar dari toilet. Belle mempercepat langkah untuk kembali menemui Natt. Namun, karena terlalu terburu-buru dan tidak memperhatikan jalan di depannya, tubuhnya justru menabrak seseorang. Bruk! "Ma... maaf, Om." Belle spontan mendongakkan kepala. Di hadapannya berdiri seorang pria yang membuat Belle seketika terdiam. Pria itu tampak jauh lebih dewasa dari Belle, dengan postur tinggi dan tegap. Bahunya lebar, tubuhnya proporsional, dan cara berdirinya memancarkan wibawa. Pria itu mengenakan setelan formal berwarna hitam yang sempurna mengikuti bentuk tubuhnya. Rambut gelapnya tertata rapi, sementara beberapa helai rambut jatuh tipis di atas dahinya. Wajahnya tegas dengan rahang yang jelas, hidung mancung, serta kulit yang terlihat bersih dan terawat. Namun, hal yang paling menarik perhatian Belle adalah sepasang mata biru jernih milik pria itu. Belle buru-buru menundukkan kepala. "Maaf, Om. Aku tidak sengaja." Pria itu masih diam dengan tatapan tidak lepas dari Belle. Sebelum pria itu sempat mengatakan apa pun, seorang pria lain datang dari belakang dan menepuk bahunya. "Mattias," panggilnya. Pria itu kemudian menatap Belle dari atas ke bawah sekilas, sebelum kembali menatap Mattias dengan senyum penuh arti. "Siapa gadis ini, Mattias?" tanyanya. "Apa kamu sudah menemukan yang sesuai?""Perusahaan yang besar itu?" tanya Bibi Mila. "Untuk apa dia ada di sini?" Lanjutnya sambil terus menatap Mattias.Laura mengingat lagi apa yang Natt katakan, jika Belle bekerja di perusahaan Burner. Kemudian Laura mengalihkan tatapannya pada sang sepupu. "Jangan bilang, kamu ada main dengan pemilik perusahaan Burner, itu tidak mungkin!" ucapnya tidak percaya jika Belle menjual diri dari pada Mattias.Laura tahu benar, jika pemilik perusahaan Burner, kabarnya tidak pernah tersentuh wanita, meskipun ratusan wanita coba mendekatinya dengan cara apapun itu. Pria itu terlalu setia dengan istrinya.Kaluna tidak menimpali ucapan Laura, ia mengalihkan tatapannya pada Mattias yang berjalan mendekat. Matiias yang sudah berdiri di samping Belle, menatap tajam pada bibi Mila dan juga Laura. "Sekali lagi kalian mengusik Belle, kalian tidak akan hidup tenang!" ancam Matiias.Lalu Mattias meraih tangan Belle. "Kita pergi dari sini." ajaknya.Belle mengikuti Matiias keluar dari rumah tanpa mengatak
Belle menatap pada Mattias setelah pria itu memintanya berlutut, untuk membuktikan jika Belle tidak akan mengingkari janjinya. "Kenapa diam sayang?" tanya Mattias. "Apa kamu ingin mengingkari janjimu?"Belle tidak menjawab, ia mulai menekuk kakinya untuk berlutut di hadapan Matiias.Namun, belum juga kedua lutut Belle menyentuh lantai. Matiias kini menarik tangannya, kemudian memeluk pinggang Belle. Membuat gadis itu terkejut, dan mengangkat wajahnya menatap Mattias."Jangan pernah berlutut pada siapapun, termasuk padaku, sayang. Kamu tidak pantas melakukan itu, kamu sangat berharga." ucap Mattias sambil mengelus pipi Belle.Belle benar-benar tidak mengerti dengan pria yang masih memeluk pinggangnya. Dalam sesaat Matiias seperti orang yang berbeda-beda, marah, kesal, emosi, penuh ancaman dan kini penuh perhatian. Belle semakin tidak mengerti dengan Matiias."Besok aku akan membawamu menemui nenek kamu, malam ini aku ingin tidur di rumah ini bersama kamu, sayang." ucap lembut Mattias,
Mattias tersenyum tipis, lalu beranjak dari duduknya. Puntung rokok yang masih terselip di antara jarinya ia lempar begitu saja ke lantai, kemudian diinjak hingga bara merahnya benar-benar padam.Suara gesekan sepatu Mattias dengan lantai terdengar pelan, tetapi entah mengapa justru membuat dada Belle semakin sesak.Tatapan pria itu kini tertuju sepenuhnya kepada Belle. Namun, kali ini Belle tidak memundurkan langkah.Ia sudah terlalu sering membiarkan dirinya ditakut-takuti. Terlalu sering membiarkan Mattias menentukan apa yang harus ia lakukan, ke mana ia harus pergi, bahkan dengan siapa ia boleh berbicara.Tidak, Belle tidak boleh terus seperti ini, ia harus berani menghadapi pria yang telah memberikan Belle kemewahan.Mattias justru tersenyum semakin lebar. "Ya, aku mengancammu, sayang," Matiias menimpali ucapan Belle.Nada suara pria itu sama sekali tidak terdengar seperti seseorang yang sedang kehilangan kendali. Justru sebaliknya. Mattias tampak begitu yakin bahwa apa pun yang
Belle memundurkan langkah ketika Mattias berjalan mendekatinya sambil tersenyum.Senyum yang justru membuat Belle semakin kesal.Beberapa saat lalu, ia sempat merasa lega karena akhirnya rencananya berhasil. Belle berhasil melarikan diri dari rumah itu setelah mengelabui Bibi Yuyu dan Pak Hani ketika berada di taman kota.Belle bahkan sudah membayangkan dirinya pergi ke luar kota. Menjauh dari Mattias, dan dari semua kendali pria itu.Namun, harapan tersebut benar-benar pupus ketika kini Mattias berdiri di hadapannya.Entah bagaimana pria itu bisa lebih dulu sampai di rumah, dan tahu jika Belle akan pulang.Belle ingin berlari, namun belum sempat ia melangkah, satu tangannya sudah lebih dahulu ditahan Mattias.Dengan satu tarikan kuat, tubuh Belle langsung membentur dada bidang pria itu."Kamu sangat bodoh sayang." ucap Mattias saat sudah memeluk tubuh Belle dari belakang. "Harusnya aku tahu, kamu seperti anjing yang penurut karena ingin kabur dariku, tapi bodohnya aku percaya begitu
Bibi Yuyu masih duduk santai di atas tikar, dan berbincang dengan pak Hani. Sesekali wanita itu melirik ke arah toilet."Kenapa Mbak Belle lama sekali, ya Han?" tanya Bibi Yuyu pada Pak Hani.Pak Hani melihat jam tangannya, dan menjawab. "Mungkin sedang antre."Bibi Yuyu mengangguk. "Mungkin saja." Kemudian keduanya kembali berbincang. Sampai akhirnya keduanya menghentikan perbincangan mereka, saat ada seorang perempuan melewati tempat mereka berada. Perempuan itu pergi ke toilet jauh setelah Belle pergi. Tapi perempuan itu sudah lebih dulu kembali di banding Belle.Membuat Bibi Yuyu bertanya pada perempuan itu. "Mbak, di toilet masih antri?""Tidak Bu, toilet sejak tadi sepi."Bibi Yuyu dan juga pak Hani menautkan kening mendengar jawaban perempuan itu. Keduanya kini memilih beranjak dari tempatnya. "Terima kasih Mbak."Setelah perempuan itu pergi, Bibi Yuyu dan juga pak Hani kini saling pandang."Han, jangan-jangan Mbak Belle kabur." ujar Bibi Yuyu, lalu berlari menuju toilet.Di
Setelah menghabiskan makan siang, Belle terus menatap Mattias sambil memegangi kalung berlian yang sudah terpasang di lehernya.Kilauan berlian itu seharusnya membuat Belle bahagia. Namun, justru terasa seperti pengingat bahwa semakin banyak yang diberikan Mattias kepadanya, semakin sulit pula bagi Belle untuk pergi.Apa yang harus Belle lakukan? Tetap bertahan bersama Mattias dan menikmati kehidupan yang penuh kemewahan? Atau pergi dari pria itu sebelum dirinya benar-benar terikat?Hati Belle sudah memberikan jawabannya. Ia tidak mencintai Mattias.Belle tidak ingin terus hidup sebagai perempuan yang hanya dipertahankan dengan uang dan kemewahan."Sayang, kenapa kamu melamun?"Suara Mattias membuat Belle tersadar. Pria itu sudah mendekat dan mengelus pipinya dengan lembut.Belle menggeleng sambil tersenyum. "Aku tidak melamun. Aku hanya tidak pernah berpikir akan memiliki kalung berlian seperti ini." Bohong Belle.Mattias kembali duduk di hadapan Belle. Tangannya masih mengusap lembu







