Share

6. Yakin

Penulis: NARA
last update Tanggal publikasi: 2026-09-10 13:55:44

"Kamu yakin?" tanya Natt, karena ia pikir Belle tidak akan mengikuti sarannya, untuk mendapatkan uang dengan cepat dari om-om kaya raya.

Belle tidak langsung menjawab. Tatapannya justru bergetar sebelum akhirnya ia melangkah mendekati Natt dan memeluk sahabatnya itu erat. Tangis yang sejak tadi ditahannya kembali pecah.

"Aku tidak tahu harus bagaimana lagi, Natt." kata Belle di sela isak tangisnya.

Natt menghela napas panjang. Ia mengusap punggung Belle, berusaha menenangkannya sebelum akhirnya membawa sang sahabat masuk ke dalam kamar kosnya.

Natt kemudian mendudukkan Belle di pinggir tempat tidur. "Jangan menangis," ujar Natt lembut sembari menghapus air mata yang membasahi pipi Belle.

"Natt, bawa aku ke tempat om-om yang kamu bilang. Aku membutuhkan uang itu secepatnya." Belle menarik napas panjang, berusaha menghentikan tangisnya. "Nenek harus segera dioperasi. Dan uang yang aku butuhkan ternyata lebih banyak dari sebelumnya."

Natt menatap dalam pada Belle. "Kamu yakin, Belle?" tanyanya sekali lagi.

Belle menganggukkan kepala, meski wajahnya masih dipenuhi kesedihan, tapi tidak ada keraguan dalam tatapannya.

"Tapi kamu harus tahu, semua ada konsekuensinya."

Belle menatap pada sang sahabat sambil mengangkat sebelah alisnya. "Apa maksud kamu, Natt?"

"Kamu tidak bisa lepas begitu saja setelah mendapatkan uang dari om-om tajir itu, setiap dia membutuhkan kamu. Kamu harus ada untuknya,"

Belle terdiam sejenak mendengar apa yang sang sahabat katakan, lalu berkata. "Aku tidak peduli tentang itu semua, Natt. Yang penting Nenek selamat."

"Baiklah, jika itu keputusanmu. Besok aku akan membawa kamu ke tempat itu."

"Kenapa tidak sekarang saja, Natt?" balas Belle cepat.

Natt menatap penampilan Belle dari ujung kepala hingga kaki. Mata gadis itu masih bengkak karena menangis. Rambut hitamnya berantakan, sementara pakaian yang dikenakannya begitu lusuh.

"Kamu yakin mau ke sana malam ini juga, dengan penampilan kamu seperti ini?" tanya Natt. "Yang benar saja,"

Belle mengikuti arah pandangan Natt hingga akhirnya menatap pantulan dirinya sendiri dari cermin.

Beberapa detik Belle terdiam, lalu berkata. "Kamu bisa membuat penampilanku lebih baik, Natt."

Natt tersenyum. "Bisa sih. Tapi jangan menangis lagi. Oke!"

Belle menganggukkan kepala. "Aku tidak akan menangis lagi," bohong Belle, karena air matanya kapan saja bisa jatuh mengingat kondisi sang nenek.

Dengan bantuan Natt, Belle kemudian bersiap. Tidak membutuhkan waktu terlalu lama hingga penampilan gadis itu berubah drastis.

Gaun merah marun tanpa lengan melekat anggun di tubuh Belle. Rambut hitam panjangnya dibiarkan tergerai dengan sedikit sentuhan penataan sehingga terlihat lebih rapi dan berkilau. Riasan tipis menghiasi wajah Belle, membuat mata yang sebelumnya sembap tampak lebih segar.

Belle berdiri di depan cermin, dan nyaris tidak mengenali dirinya sendiri.

"Sempurna," kata Natt sambil tersenyum puas.

Belle menunduk dan kedua tangannya refleks menutupi dadanya.

"Natt, apa pakaian ini tidak terlalu terbuka?" tanya Belle merasa tidak nyaman.

"Tentu saja tidak." Natt menurunkan tangan Belle. Lalu meraih dagu sahabatnya tersebut. "Ingat, kamu harus tersenyum saat menggoda om-om, jangan tunjukkan wajah sedihmu, ok." Natt memberitahu Belle.

"Coba sekarang tersenyum." pinta Natt.

Belle mengukir senyum meskipun hatinya benar-benar terluka, karena ia telah mengambil keputusan yang seharusnya tidak ia ambil, demi sang nenek.

"Bagus, dan aku yakin. Malam ini kamu akan langsung mendapat uang itu."

***

Belle memeluk lengan Natt, ketika keduanya memasuki sebuah klub malam mewah yang hanya dipenuhi orang-orang kaya raya.

Lampu-lampu temaram menghiasi ruangan. Musik terdengar dari arah panggung, sementara para tamu berbincang di meja-meja eksklusif. Para pelayan berjalan membawa minuman, dan hampir semua orang yang berada di sana terlihat mengenakan pakaian mahal.

Ini pertama kalinya Belle datang ke tempat seperti itu. Membuat jantungnya berdetak lebih cepat.

Belle merasa asing dan gugup, terlebih karena tujuan kedatangannya malam ini bukan untuk bersenang-senang.

"Natt, aku ingin ke toilet," bisik Belle.

Natt menunjuk ke arah lorong di sebelah kanan.

"Di sana toiletnya, mau aku antar?"

"Tidak Natt, terima kasih."

"Baiklah. Aku tunggu di sini."

Belle mengangguk dan segera berjalan menuju toilet.

Begitu berada di dalam, Belle berdiri di depan cermin dan menarik napas dalam-dalam.

"Belle, tenanglah." bisiknya kepada diri sendiri. "Ini demi Nenek."

Belle memejamkan mata beberapa saat, kemudian mengingat wajah sang nenek yang terbaring di rumah sakit.

Bayangan itu membuat hati Belle kembali sesak. Namun, kali ini Belle memaksa dirinya untuk tetap tenang.

Setelah merasa sedikit lebih baik, Belle akhirnya keluar dari toilet.

Belle mempercepat langkah untuk kembali menemui Natt. Namun, karena terlalu terburu-buru dan tidak memperhatikan jalan di depannya, tubuhnya justru menabrak seseorang.

Bruk!

"Ma... maaf, Om." Belle spontan mendongakkan kepala.

Di hadapannya berdiri seorang pria yang membuat Belle seketika terdiam. Pria itu tampak jauh lebih dewasa dari Belle, dengan postur tinggi dan tegap. Bahunya lebar, tubuhnya proporsional, dan cara berdirinya memancarkan wibawa. Pria itu mengenakan setelan formal berwarna hitam yang sempurna mengikuti bentuk tubuhnya.

Rambut gelapnya tertata rapi, sementara beberapa helai rambut jatuh tipis di atas dahinya. Wajahnya tegas dengan rahang yang jelas, hidung mancung, serta kulit yang terlihat bersih dan terawat.

Namun, hal yang paling menarik perhatian Belle adalah sepasang mata biru jernih milik pria itu.

Belle buru-buru menundukkan kepala. "Maaf, Om. Aku tidak sengaja."

Pria itu masih diam dengan tatapan tidak lepas dari Belle.

Sebelum pria itu sempat mengatakan apa pun, seorang pria lain datang dari belakang dan menepuk bahunya.

"Mattias," panggilnya. Pria itu kemudian menatap Belle dari atas ke bawah sekilas, sebelum kembali menatap Mattias dengan senyum penuh arti.

"Siapa gadis ini, Mattias?" tanyanya. "Apa kamu sudah menemukan yang sesuai?"

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Di Bawah Kendali Sugar Daddy    8. Puaskan Aku Malam Ini

    "Bagaimana, apa kamu mau tidur denganku?" tanya Mattias tanpa ekspresi.Belle terdiam, tatapannya terpaku pada wajah pria yang kini berdiri di hadapannya. Pertanyaan itu kembali terngiang-ngiang di kepalanya, membuat jantung Belle berdetak lebih cepat.Belle teringat jelas pada perkataan Natt, sang sahabat. Natt mengatakan bahwa pria yang sedang berada di hadapannya itu tidak menyukai perempuan. Namun, jika memang demikian, mengapa Mattias justru mengajaknya tidur?"Tenang, berapa pun uang yang kamu inginkan, aku bisa memberikan," lanjut Mattias dengan suara datar.Belle menelan ludah, saat berada di klub tersebut, semua pria yang Natt kenalkan kepadanya adalah pria-pria yang sudah cukup tua. Berbeda dengan Mattias, pria itu memang terlihat dewasa, tetapi wajahnya tampan, tubuhnya tegap, dan penampilannya begitu berwibawa. Siapapun akan tertarik pada Mattias. Hanya saja Mattias tidak menyukai perempuan.Jika Belle menerima tawarannya, mungkin saja ia mendapatkan keuntungan. Bisa jadi

  • Di Bawah Kendali Sugar Daddy    7. Tidur Denganku

    Natt yang melihat Belle tampak terintimidasi setelah tidak sengaja menabrak seorang pria, segera menghampiri sahabatnya itu."Maaf, Om-om tampan," kata Natt dengan cepat kepada kedua pria yang berdiri di hadapan Belle. "Kami pergi dulu."Tanpa menunggu jawaban, Natt langsung menarik tangan Belle dan mengajaknya pergi meninggalkan pria yang tadi ditabraknya.Belle hanya bisa mengikuti langkah Natt. Jantungnya berdebar karena tatapan pria yang ditabraknya terasa begitu tajam dan membuatnya gugup.Sementara itu, Mattias menoleh ke arah Belle yang kini berjalan mengikuti Natt menuju salah satu sofa di sudut klub malam tersebut.Jackson yang berdiri di samping Mattias ikut memperhatikan gadis itu, sampai Belle duduk."Aku kira gadis itu milik kamu, Matt." ujar Jackson sambil menyeringai. "Cantik juga gadis itu. Hidung belang mana yang beruntung mendapatkannya?"Mattias sama sekali tidak menanggapi ucapan Jackson. Pria itu justru berjalan menuju salah satu sofa yang berada tidak jauh dari t

  • Di Bawah Kendali Sugar Daddy    6. Yakin

    "Kamu yakin?" tanya Natt, karena ia pikir Belle tidak akan mengikuti sarannya, untuk mendapatkan uang dengan cepat dari om-om kaya raya. Belle tidak langsung menjawab. Tatapannya justru bergetar sebelum akhirnya ia melangkah mendekati Natt dan memeluk sahabatnya itu erat. Tangis yang sejak tadi ditahannya kembali pecah. "Aku tidak tahu harus bagaimana lagi, Natt." kata Belle di sela isak tangisnya. Natt menghela napas panjang. Ia mengusap punggung Belle, berusaha menenangkannya sebelum akhirnya membawa sang sahabat masuk ke dalam kamar kosnya. Natt kemudian mendudukkan Belle di pinggir tempat tidur. "Jangan menangis," ujar Natt lembut sembari menghapus air mata yang membasahi pipi Belle. "Natt, bawa aku ke tempat om-om yang kamu bilang. Aku membutuhkan uang itu secepatnya." Belle menarik napas panjang, berusaha menghentikan tangisnya. "Nenek harus segera dioperasi. Dan uang yang aku butuhkan ternyata lebih banyak dari sebelumnya." Natt menatap dalam pada Belle. "Kamu yakin, Bell

  • Di Bawah Kendali Sugar Daddy    5. Pilihan

    Tentu saja Belle mengenali Zayn. Zayn adalah teman satu kampusnya, pria yang beberapa kali hadir dalam hari-harinya tanpa pernah benar-benar bisa Belle abaikan. Karena Belle diam-diam menyimpan perasaan pada Zayn.Apalagi Zayn juga pernah beberapa kali mencoba mengungkapkan perasaannya pada Belle. Namun, Belle selalu memilih diam. Bukan karena ia tidak memiliki perasaan yang sama, melainkan karena hidupnya sendiri masih terlalu berantakan. Ia tidak ingin memikirkan cinta ketika hidupnya dipenuhi begitu banyak masalah.Terlebih sekarang, ia harus memikirkan neneknya yang sedang terbaring tidak sadarkan diri di rumah sakit.Sementara itu, Zayn beberapa saat hanya menatap Belle. Sebelum menatap pada tiga pria yang masih memegangi tangan Belle. "Pecundang, beraninya cuma sama perempuan. Kalian banci?" tanya Zayn. "Kalau berani, maju kalian bertiga, atau kalian ingin mamakai rok?"Pak Anton, Ferry dan Dani tentu saja terpancing dengan ucapan Zayn. Membuat ketiganya langsung melepas Belle,

  • Di Bawah Kendali Sugar Daddy    4. Hanya Kamu Dan Aku

    "Bagaimana? Tentu saja kamu tidak menolak, bukan, Belle cantik."Tatapan Pak Jhoni berubah menjadi tatapan penuh gairah. Kedua matanya tanpa malu mengamati Belle dari ujung kepala hingga ujung kaki.Membuat Belle merasa sangat risih. Perlahan, gadis itu memundurkan langkah.Belle baru saja hendak berbalik ketika tiba-tiba tangan Pak Jhoni meraih pergelangan tangannya."Pak, lepas!" teriak Belle terkejut.Cengkeraman tangan pria itu begitu kuat hingga Belle kesulitan menarik tangannya.Pak Jhoni justru tersenyum. "Bagaimana? Mau, kan?" tanyanya. "Tenang, tidak ada yang tahu. Hanya kamu dan aku yang tahu."Belle menatap atasannya dengan wajah pucat. "Pak, saya datang ke sini hanya untuk meminjam uang.""Dan aku sudah memberikan jalan keluar untuk masalahmu.""Bukan seperti ini maksud saya."Pak Jhoni tidak peduli, dan lebih dekat lagi mendekati Belle. "Belle, asal kamu tahu, sudah lama aku menginginkan kamu, cantik."Ucapan itu membuat Belle semakin panik dan takut. Dan coba untuk tida

  • Di Bawah Kendali Sugar Daddy    3. Layani Aku Di Atas Ranjang

    Bibi Mila menatap tajam ke arah sumber suara. Dari arah kamar, Nenek Maria berjalan perlahan dengan wajah pucat. Salah satu tangannya berpegangan pada dinding, seolah tubuhnya sudah tidak cukup kuat untuk menopang dirinya sendiri."Bu, jangan ikut campur!" bentak Bibi Mila.Tatapan Nenek Maria langsung tertuju pada Belle yang masih berada dalam cengkeraman putrinya. Rambut gadis itu masih ditarik dengan kasar hingga wajah Belle dipenuhi air mata."Mila, sudah! Lepaskan cucuku!" suara Nenek Maria terdengar lemah, tetapi penuh ketegasan.Bibi Mila tertawa sinis. "Ya, cucu Ibu yang tidak berguna!""Belle keponakan kamu, Mila," kembali Nenek Maria berkata."Cih! Tidak sudi aku punya keponakan benalu seperti ini."Tangan Bibi Mila justru semakin kencang menarik rambut Belle."Aw... Bi! Sakit!" pekik Belle.Air mata Belle semakin deras. Tangannya mencoba melepaskan cengkeraman tangan Bibi Mila."Mila!" teriak Nenek Maria. Wanita tua itu melangkah lebih cepat, tetapi tiba-tiba wajahnya berub

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status