MasukTentu saja Belle mengenali Zayn. Zayn adalah teman satu kampusnya, pria yang beberapa kali hadir dalam hari-harinya tanpa pernah benar-benar bisa Belle abaikan. Karena Belle diam-diam menyimpan perasaan pada Zayn.
Apalagi Zayn juga pernah beberapa kali mencoba mengungkapkan perasaannya pada Belle. Namun, Belle selalu memilih diam. Bukan karena ia tidak memiliki perasaan yang sama, melainkan karena hidupnya sendiri masih terlalu berantakan. Ia tidak ingin memikirkan cinta ketika hidupnya dipenuhi begitu banyak masalah. Terlebih sekarang, ia harus memikirkan neneknya yang sedang terbaring tidak sadarkan diri di rumah sakit. Sementara itu, Zayn beberapa saat hanya menatap Belle. Sebelum menatap pada tiga pria yang masih memegangi tangan Belle. "Pecundang, beraninya cuma sama perempuan. Kalian banci?" tanya Zayn. "Kalau berani, maju kalian bertiga, atau kalian ingin mamakai rok?" Pak Anton, Ferry dan Dani tentu saja terpancing dengan ucapan Zayn. Membuat ketiganya langsung melepas Belle, dan maju mendekati Zayn. "Jangan sok jagoan!" balas pak Anton yang langsung memasang kuda-kuda. Dan tanpa aba-aba mereka bertiga menyerang Zayn bersamaan. Sedangkan Belle bersembunyi di balik motor gede Zayn. Tentu saja tidak mudah untuk Zayn melawan tiga pria sekaligus, dan beberapa kali membuat tubuhnya mendapat pukulan telak. Tapi mengingat bagimana ketiga pria itu menyeret Belle. Membuat Zayn semangat untuk melawan ketiga pria itu. Dan akhirnya, Zayn bisa menumbangkan pak Anton, Ferry dan juga Dani. "Dasar pecundang!" seru Zayn pada tiga pria yang tergeletak di aspal. Bergegas Zayn menghampiri Belle, memegang kedua lengannya. "Kamu baik-baik saja, Belle?" Belle menganggukkan kepalanya. "Aku baik-baik saja. Bibir kamu berdarah Zayn," kata Belle melihat bibir Zayn luka. "Aku tidak apa-apa, ayo cepat naik." pinta Zayn, lebih dulu naik ke atas motor. Tidak ingin tertangkap ketiga pria itu yang mungkin saja masih bisa mengejar. Belle langsung naik keatas motor Zayn. "Peluk aku Belle!" perintah Zayn Belle terdiam, mendengar perintah dari Zayn. Membuat Zayn menarik dua tangan Belle, lalu di paksa memeluk pinggangnya dari belakang. "Aku harus ngebut, takut jika mereka menangkap kita." kata Zayn dan langsung melajukan motornya dengan kecepatan penuh. *** Akhirnya mereka berdua berada di klinik untuk mengobati luka di bibir dan pelipis Zayn. Dan setelah Zayn selesai mendapat pengobatan, mereka berdua duduk berdampingan di kursi yang ada di depan klinik itu. "Apa yang sebenarnya terjadi, Belle?" tanya Zayn ingin tahu, kenapa Belle di bawa paksa tiga pria itu. Tapi Belle terdiam, sepertinya ia tidak akan menceritakan hal menjijikan yang tadi ia alami. Zayn meraih tangan Belle, membuat Belle langsung menatap tangan itu dan menjauhkan tangannya. “Maaf,” Kata Zayn. "Kenapa diam, Belle? Apa kamu tidak ingin cerita?" Belle kembali tidak menanggapi, karena tiba-tiba ponselnya berdering dan pihak rumah sakit yang menghubungi. Dengan segera Belle beranjak dari duduknya untuk mengangkat telepon yang baginya sangat penting. "Maaf, selamat malam Nona Belle, dokter ingin bertemu dengan anda sekarang juga." Suara dari balik telepon. "Baik, aku akan segera kesana." Belle menatap pada Zayn setelah menutup telepon. "Zayn, aku harus ke rumah sakit, aku pergi dulu." "Apa nenek kamu masuk rumah sakit lagi?" tanya Zayn. Belle hanya menganggukkan kepalanya. "Kalau begitu, aku akan mengantar kamu." Kata Zayn yang siap-siap beranjak dari duduknya. "Tidak perlu Zayn, kamu terluka. Aku bisa naik ojek di depan," Belle langsung berlari meninggalkan Zayn. *** Setibanya di rumah sakit, Belle langsung berlari menuju ruangan dokter yang menangani sang nenek. Seorang perawat yang sudah menunggu Belle segera menghampiri. "Mbak Belle, Dokter sudah menunggu." Belle tidak mengatakan apapun dan mengikuti perawat tersebut dengan langkah tergesa. Begitu sampai di depan ruangan dokter yang menangani sang nenek, Belle menarik napas panjang sebelum masuk. Saat sudah masuk, Belle melihat Dokter yang menangani neneknya sedang duduk di balik meja. Wajah pria paruh baya itu terlihat serius. Membuat jantung Belle semakin tidak tenang. "Dok," ucap Belle dengan suara bergetar. "Bagaimana keadaan nenek?" tanya Belle memastikan keadaan sang nenek. "Apa nenek sudah sadar?" Dokter tidak menjawab, dan mempersilahkan Belle duduk. "Silakan duduk dulu, Mbak Belle." Namun Belle tetap berdiri. "Aku ingin tahu keadaan nenek, Dok." Dokter menatap Belle beberapa saat sebelum akhirnya menghela nafas pelan. "Nenek anda belum sadar." Belle menahan air mata mendengar penjelasan dokter. "Dan maaf jika saya harus memberitahu, jika keadaan jantung nenek Anda semakin melemah." Wajah Belle langsung pucat, air mata tidak bisa lagi Belle tahan. "Tidak." lirih Belle. "Kami sudah melakukan pemeriksaan lebih lanjut." Dokter melanjutkan perkataannya sambil membuka berkas yang berada di atas meja. "Kondisi jantung nenek Anda tidak bisa terus dibiarkan seperti ini." Belle merasa tenggorokannya tercekat. "Jadi, apa yang harus aku lakukan Dok?" tanya Belle sambil menghapus air matanya. Dokter menatap Belle dengan serius. "Kami harus segera melakukan operasi seperti kesepakatan awal." Belle akhirnya duduk, tatapannya kosong menatap dokter itu. "Dok, aku belum punya uang." jujur Belle. "Aku bahkan tidak tahu harus mencari uang sebanyak itu dari mana." Dokter memandang Belle dengan penuh pengertian. "Mbak Belle, dengarkan saya. Untuk masalah biaya, Anda tidak perlu membayarnya sekarang." "Maksud Dokter?" "Yang paling penting saat ini adalah keselamatan nenek Anda. Kami tidak ingin kehilangan waktu hanya karena keluarga masih memikirkan biaya." "Tapi jumlahnya sangat besar, Dok." "Saya mengerti." Dokter kembali menatap berkas di hadapannya sebelum menatap Belle. "Untuk sekarang, fokuslah pada nenek Anda. Kami akan melakukan tindakan yang diperlukan demi menyelamatkan beliau." Air mata Belle yang tadi tertahan kini kembali membasahi pipi. "Jika Nona menyetujui tindakan tersebut, kami ingin segera mempersiapkan operasi." Belle menatap dokter dengan dada terasa sesak. Di satu sisi, ia takut kehilangan neneknya. Namun di sisi lain, ia tidak tahu dari mana harus mendapatkan uang sebanyak itu untuk biaya operasi sang nenek. "Lakukan yang terbaik Dok, selamatkan nenek." Kata Belle akhirnya, tidak ingin mengulur waktu lagi demi keselamatan sang nenek, satu satunya orang yang sangat menyayangi Belle. Belle duduk terdiam di kursi tunggu, pikirannya benar-benar campur aduk. Meskipun dokter mengatakan tidak harus sekarang juga membayar biaya operasi sang nenek. Tapi tetap saja Belle harus membayarnya, apalagi saat Belle memastikan kembali biaya operasi sang nenek jauh lebih besar dari sebelumnya. Belle menarik rambutnya sendiri merasa frustrasi. "Aku harus mencari ke mana uang sebanyak itu." Ucap Belle yang tiba-tiba teringat saran Natt sang sahabat. Tapi setelahnya Belle menggelengkan kepalanya. "Tidak," Mulut Belle memang mengatakan tidak, tapi ia kini beranjak dari duduknya. Lalu melangkah meninggalkan rumah sakit. Setelah turun dari ojek online yang Belle naiki, kini ia berdiri di depan sebuah tempat kos dimana Natt sang sahabat tinggal. Belle terdiam beberapa saat sebelum melangkah menuju kamar kost dimana sang sahabat berada. Dalam situasi yang tidak Belle inginkan, mungkin saran Natt bisa menjadi pilihan, persetan dengan harga diri, nyawa sang nenek lebih penting dari apapun. "Belle, apa yang kamu lakukan disini malam-malam?" Suara Natt membuat Belle yang sedang berdiri di depan pintu kamar kost sang sahabat langsung menoleh. "Apa kamu tidak bekerja?" tanya Natt mendekati sang sahabat. Belle tidak menjawab, yang ada langsung berkata. "Natt, bawa aku menemui om-om yang kamu bilang."Mendengar pertanyaan dari Mattias, Belle segera beranjak dari tempatnya. Lalu menatap pada Mattias yang masih terus menatapnya.Belle menganggukkan kepala. "Ya, tapi tenang saja. Aku tahu cara bagaimana memuaskan anda, Om."Belle mengukir senyum paksa, lalu menarik tangan Mattias untuk beranjak dari sofa. Mattias mengikuti Belle yang menarik tangannya menuju ranjang, senyum tipis terukir dari bibir Mattias Ketika Belle melepas sendiri gaun yang masih menempel di tubuhnya, memperlihatkan tubuhnya yang indah tanpa setitikpun noda.Ingin rasanya Belle menangis, saat melepas gaun di tubuhnya, ia benar-benar seperti pelacur yang tidak ada harga dirinya. Tapi sebisa mungkin Belle menahan air untuk tidak jatuh.Belle mendekati Mattias, melepas ikat pinggang pria itu dengan tangan gemetar. Tapi saat ingin melepas pengait celana yang Mattias kenakan, tangan Belle di tahan oleh pria itu."Kenapa buru-buru sekali sayang." Kata Mattias sambil mengelus pipi Belle dengan lembut. "Buru-buru itu ti
Dada Belle berdebar tidak karuan ketika Mattias kini sudah bertelanjang dada dan duduk santai di sofa. Kedua tangannya berada di atas sandaran, sementara tatapan pria itu tidak pernah lepas sedikit pun dari Belle.Tatapan itu membuat Belle semakin gugup, Apalagi sejak tadi Mattias hanya diam memperhatikan Belle menyantap makanan di atas meja. Seolah-olah pria itu sedang menunggu sesuatu.Begitu Belle selesai menyantap makanannya, suara Mattias akhirnya terdengar."Apa kamu sudah selesai menyantap makananmu?"Belle langsung menganggukkan kepala. "Sudah, Om."Mattias mengangkat sudut bibirnya. "Kalau begitu, mendekatlah. Giliran aku yang akan menyantap kamu."Belle langsung merinding. Entah kenapa kalimat sederhana itu terdengar begitu menakutkan untuknya.Namun, Belle segera mengingat alasan dirinya berada di kamar hotel tersebut. Akhirnya Belle memaksa kedua kakinya untuk beranjak dari duduknya, dan perlahan ia melangkah menghampiri Mattias.Hingga akhirnya Belle kini berhenti tepat
"Bagaimana, apa kamu mau tidur denganku?" tanya Mattias tanpa ekspresi.Belle terdiam, tatapannya terpaku pada wajah pria yang kini berdiri di hadapannya. Pertanyaan itu kembali terngiang-ngiang di kepalanya, membuat jantung Belle berdetak lebih cepat.Belle teringat jelas pada perkataan Natt, sang sahabat. Natt mengatakan bahwa pria yang sedang berada di hadapannya itu tidak menyukai perempuan. Namun, jika memang demikian, mengapa Mattias justru mengajaknya tidur?"Tenang, berapa pun uang yang kamu inginkan, aku bisa memberikan," lanjut Mattias dengan suara datar.Belle menelan ludah, saat berada di klub tersebut, semua pria yang Natt kenalkan kepadanya adalah pria-pria yang sudah cukup tua. Berbeda dengan Mattias, pria itu memang terlihat dewasa, tetapi wajahnya tampan, tubuhnya tegap, dan penampilannya begitu berwibawa. Siapapun akan tertarik pada Mattias. Hanya saja Mattias tidak menyukai perempuan.Jika Belle menerima tawarannya, mungkin saja ia mendapatkan keuntungan. Bisa jadi
Natt yang melihat Belle tampak terintimidasi setelah tidak sengaja menabrak seorang pria, segera menghampiri sahabatnya itu."Maaf, Om-om tampan," kata Natt dengan cepat kepada kedua pria yang berdiri di hadapan Belle. "Kami pergi dulu."Tanpa menunggu jawaban, Natt langsung menarik tangan Belle dan mengajaknya pergi meninggalkan pria yang tadi ditabraknya.Belle hanya bisa mengikuti langkah Natt. Jantungnya berdebar karena tatapan pria yang ditabraknya terasa begitu tajam dan membuatnya gugup.Sementara itu, Mattias menoleh ke arah Belle yang kini berjalan mengikuti Natt menuju salah satu sofa di sudut klub malam tersebut.Jackson yang berdiri di samping Mattias ikut memperhatikan gadis itu, sampai Belle duduk."Aku kira gadis itu milik kamu, Matt." ujar Jackson sambil menyeringai. "Cantik juga gadis itu. Hidung belang mana yang beruntung mendapatkannya?"Mattias sama sekali tidak menanggapi ucapan Jackson. Pria itu justru berjalan menuju salah satu sofa yang berada tidak jauh dari t
"Kamu yakin?" tanya Natt, karena ia pikir Belle tidak akan mengikuti sarannya, untuk mendapatkan uang dengan cepat dari om-om kaya raya. Belle tidak langsung menjawab. Tatapannya justru bergetar sebelum akhirnya ia melangkah mendekati Natt dan memeluk sahabatnya itu erat. Tangis yang sejak tadi ditahannya kembali pecah. "Aku tidak tahu harus bagaimana lagi, Natt." kata Belle di sela isak tangisnya. Natt menghela napas panjang. Ia mengusap punggung Belle, berusaha menenangkannya sebelum akhirnya membawa sang sahabat masuk ke dalam kamar kosnya. Natt kemudian mendudukkan Belle di pinggir tempat tidur. "Jangan menangis," ujar Natt lembut sembari menghapus air mata yang membasahi pipi Belle. "Natt, bawa aku ke tempat om-om yang kamu bilang. Aku membutuhkan uang itu secepatnya." Belle menarik napas panjang, berusaha menghentikan tangisnya. "Nenek harus segera dioperasi. Dan uang yang aku butuhkan ternyata lebih banyak dari sebelumnya." Natt menatap dalam pada Belle. "Kamu yakin, Bell
Tentu saja Belle mengenali Zayn. Zayn adalah teman satu kampusnya, pria yang beberapa kali hadir dalam hari-harinya tanpa pernah benar-benar bisa Belle abaikan. Karena Belle diam-diam menyimpan perasaan pada Zayn.Apalagi Zayn juga pernah beberapa kali mencoba mengungkapkan perasaannya pada Belle. Namun, Belle selalu memilih diam. Bukan karena ia tidak memiliki perasaan yang sama, melainkan karena hidupnya sendiri masih terlalu berantakan. Ia tidak ingin memikirkan cinta ketika hidupnya dipenuhi begitu banyak masalah.Terlebih sekarang, ia harus memikirkan neneknya yang sedang terbaring tidak sadarkan diri di rumah sakit.Sementara itu, Zayn beberapa saat hanya menatap Belle. Sebelum menatap pada tiga pria yang masih memegangi tangan Belle. "Pecundang, beraninya cuma sama perempuan. Kalian banci?" tanya Zayn. "Kalau berani, maju kalian bertiga, atau kalian ingin mamakai rok?"Pak Anton, Ferry dan Dani tentu saja terpancing dengan ucapan Zayn. Membuat ketiganya langsung melepas Belle,







