LOGIN"Bagaimana, apa kamu mau tidur denganku?" tanya Mattias tanpa ekspresi.
Belle terdiam, tatapannya terpaku pada wajah pria yang kini berdiri di hadapannya. Pertanyaan itu kembali terngiang-ngiang di kepalanya, membuat jantung Belle berdetak lebih cepat. Belle teringat jelas pada perkataan Natt, sang sahabat. Natt mengatakan bahwa pria yang sedang berada di hadapannya itu tidak menyukai perempuan. Namun, jika memang demikian, mengapa Mattias justru mengajaknya tidur? "Tenang, berapa pun uang yang kamu inginkan, aku bisa memberikan," lanjut Mattias dengan suara datar. Belle menelan ludah, saat berada di klub tersebut, semua pria yang Natt kenalkan kepadanya adalah pria-pria yang sudah cukup tua. Berbeda dengan Mattias, pria itu memang terlihat dewasa, tetapi wajahnya tampan, tubuhnya tegap, dan penampilannya begitu berwibawa. Siapapun akan tertarik pada Mattias. Hanya saja Mattias tidak menyukai perempuan. Jika Belle menerima tawarannya, mungkin saja ia mendapatkan keuntungan. Bisa jadi Mattias hanya menginginkannya untuk menemani malamnya tanpa ada sesuatu yang lebih jauh. Setidaknya, menurut pikiran Belle, hal itu membuatnya tidak perlu takut terikat dengan pria tersebut. Itu yang Natt pernah katakan, jika Belle menyerahkan diri kepada pria kaya, mau tidak mau Belle tidak bisa lepas dari pria itu. Jujur Belle tidak menginginkan hal seperti itu, yang ia butuhkan malam ini hanya uang. Mattias memegang bahu Belle, membuat Belle langsung tersadar dari lamunannya. "Aku mau, Om," jawab Belle akhirnya. Sudut bibir Mattias terangkat membentuk senyum tipis. "Kalau begitu, ikut aku sekarang." Namun sebelum Belle sempat bergerak, ia buru-buru berkata. "Tunggu." Mattias menaikkan alisnya. "Aku mau Om memberikan uang seratus lima puluh juta malam ini juga." Belle mengatakannya dengan tegas meskipun dadanya berdebar. Tujuannya datang ke klub malam memang untuk mendapatkan uang dari om-om yang akan ia layani. Karena itu, ia tidak ingin pergi begitu saja tanpa kepastian. Mattias hanya menganggukkan kepala. "Baiklah." Pria itu kemudian meraih tangan Belle. "Dan sekarang ikut denganku." "Tunggu, Om. Aku ingin memberitahu sahabatku." Belle menoleh ke arah Natt yang masih berada tidak jauh dari mereka. Ia merasa tidak tenang jika pergi tanpa mengatakan apa pun kepada sahabatnya. "Tidak perlu. Dia sudah tahu." Mattias kembali menarik tangan Belle. Membuat Belle mau tidak mau mengikuti langkah Mattias. Natt melihat jelas, Belle di bawa pergi oleh Mattias, ia berusaha ingin mengejar mereka, tetapi salah seorang pelayan segera menahan tubuhnya. "Tenang, sahabat kamu aman dengan Pak Mattias." Natt tidak bisa berbuat banyak. Ia hanya berdiri sambil memperhatikan Belle yang semakin jauh. Apalagi om-om yang selalu di temani Natt kini memeluknya dari belakang. *** Belle kini sudah berada di sebuah kamar hotel bersama Mattias. Sejak keluar dari klub malam hingga sampai di kamar hotel, perasaan Belle semakin tidak nyaman. Semula Belle merasa keputusannya benar. Namun sekarang, ketika pintu kamar hotel sudah tertutup dan hanya ada dirinya bersama Mattias, keberanian Belle perlahan menghilang. Belle berdiri kaku di dekat sofa. Ia menatap sekeliling kamar yang begitu luas dan mewah. Semuanya tampak sempurna, tetapi justru membuatnya semakin gugup. Matanya kemudian kembali tertuju kepada Mattias. Pria itu duduk santai di sofa, berhadapan dengannya. Tatapannya tidak pernah benar-benar lepas dari Belle. Sesekali Mattias tersenyum tipis, membuat Belle semakin sulit menebak apa yang sebenarnya ada di dalam pikiran pria itu. Belle meremas ujung gaunnya. "Kenapa aku jadi takut?" gumam Belle dalam hati. Bukankah sebelumnya Belle sendiri yang mengatakan bahwa ia mau? Namun, sekarang semuanya terasa berbeda. Mungkin karena hanya ada dirinya dan Mattias. Pikiran buruk mulai bermunculan di benak Belle. Bagaimana jika perkiraannya tentang Mattias salah? Bagaimana jika pria itu tidak seperti apa yang Natt katakan. Belle menundukkan wajahnya, berusaha menyembunyikan kegelisahannya. "Belle, jangan gugup. Ingat tujuan kamu." batin Belle pada dirinya sendiri. Mattias memperhatikan Belle beberapa saat sebelum berkata, "Duduklah dan makanlah yang banyak." Kata Mattias. Belle mengangkat wajahnya. Di atas meja sudah tersedia beberapa hidangan yang baru saja diantarkan petugas hotel. "Kamu butuh tenaga yang banyak, untuk menghabiskan malam ini," lanjut Mattias. Pria itu berdiri dari duduknya, dan melangkah mendekati Belle. "Di meja itu," Mattias menunjuk sebuah koper yang ada di atas meja. "Kamu akan mendapatkan uang yang kamu mau." Mattias yang sudah berdiri di depan Belle, meraih dagu gadis itu, dan menatapnya dengan lekat. "Puaskan aku malam ini," kata Mattias membuat bulu kuduk Belle meremang.Air mata Belle mengalir deras dari kedua sudut matanya, bukan hanya karena keperawanannya yang selama ini ia jaga telah hilang saat Mattias menyatukan tubuh mereka berdua. Tapi di bawah sana, di arena pribadinya Belle merasakan sakit dan juga perih, saat Mattias tidak ingin berhenti menyudahi aktivitas panas yang sudah hampir tiga puluh menit berlangsung.Memang, pria itu beberapa saat berhenti, tapi kemudian melanjutkan lagi aktivitasnya. Membuat Belle benar-benar rasanya ingin pingsan.Dan Mattias kali ini menghentikan aktivitasnya kembali, lalu mengusap air mata Belle."Maaf sayang, aku telah membuat kamu sakit." kata Mattias."Tidak apa-apa, Om." balas Belle. Tidak berani mengatakan untuk Mattias menyudahi aktivitasnya.Belle beberapa saat lalu, mengatakan untuk Mattias berhenti, tapi membuat pria itu marah dan semakin keras menghetak tubuhnya, dan itu malah menyakiti tubuh Belle.Mattias tersenyum, sambil mengusap air mata Belle. "Kalau begitu, jangan menangis. Coba tersenyum," p
Mendengar pertanyaan dari Mattias, Belle segera beranjak dari tempatnya. Lalu menatap pada Mattias yang masih terus menatapnya.Belle menganggukkan kepala. "Ya, tapi tenang saja. Aku tahu cara bagaimana memuaskan anda, Om."Belle mengukir senyum paksa, lalu menarik tangan Mattias untuk beranjak dari sofa. Mattias mengikuti Belle yang menarik tangannya menuju ranjang, senyum tipis terukir dari bibir Mattias Ketika Belle melepas sendiri gaun yang masih menempel di tubuhnya, memperlihatkan tubuhnya yang indah tanpa setitikpun noda.Ingin rasanya Belle menangis, saat melepas gaun di tubuhnya, ia benar-benar seperti pelacur yang tidak ada harga dirinya. Tapi sebisa mungkin Belle menahan air untuk tidak jatuh.Belle mendekati Mattias, melepas ikat pinggang pria itu dengan tangan gemetar. Tapi saat ingin melepas pengait celana yang Mattias kenakan, tangan Belle di tahan oleh pria itu."Kenapa buru-buru sekali sayang." Kata Mattias sambil mengelus pipi Belle dengan lembut. "Buru-buru itu ti
Dada Belle berdebar tidak karuan ketika Mattias kini sudah bertelanjang dada dan duduk santai di sofa. Kedua tangannya berada di atas sandaran, sementara tatapan pria itu tidak pernah lepas sedikit pun dari Belle.Tatapan itu membuat Belle semakin gugup, Apalagi sejak tadi Mattias hanya diam memperhatikan Belle menyantap makanan di atas meja. Seolah-olah pria itu sedang menunggu sesuatu.Begitu Belle selesai menyantap makanannya, suara Mattias akhirnya terdengar."Apa kamu sudah selesai menyantap makananmu?"Belle langsung menganggukkan kepala. "Sudah, Om."Mattias mengangkat sudut bibirnya. "Kalau begitu, mendekatlah. Giliran aku yang akan menyantap kamu."Belle langsung merinding. Entah kenapa kalimat sederhana itu terdengar begitu menakutkan untuknya.Namun, Belle segera mengingat alasan dirinya berada di kamar hotel tersebut. Akhirnya Belle memaksa kedua kakinya untuk beranjak dari duduknya, dan perlahan ia melangkah menghampiri Mattias.Hingga akhirnya Belle kini berhenti tepat
"Bagaimana, apa kamu mau tidur denganku?" tanya Mattias tanpa ekspresi.Belle terdiam, tatapannya terpaku pada wajah pria yang kini berdiri di hadapannya. Pertanyaan itu kembali terngiang-ngiang di kepalanya, membuat jantung Belle berdetak lebih cepat.Belle teringat jelas pada perkataan Natt, sang sahabat. Natt mengatakan bahwa pria yang sedang berada di hadapannya itu tidak menyukai perempuan. Namun, jika memang demikian, mengapa Mattias justru mengajaknya tidur?"Tenang, berapa pun uang yang kamu inginkan, aku bisa memberikan," lanjut Mattias dengan suara datar.Belle menelan ludah, saat berada di klub tersebut, semua pria yang Natt kenalkan kepadanya adalah pria-pria yang sudah cukup tua. Berbeda dengan Mattias, pria itu memang terlihat dewasa, tetapi wajahnya tampan, tubuhnya tegap, dan penampilannya begitu berwibawa. Siapapun akan tertarik pada Mattias. Hanya saja Mattias tidak menyukai perempuan.Jika Belle menerima tawarannya, mungkin saja ia mendapatkan keuntungan. Bisa jadi
Natt yang melihat Belle tampak terintimidasi setelah tidak sengaja menabrak seorang pria, segera menghampiri sahabatnya itu."Maaf, Om-om tampan," kata Natt dengan cepat kepada kedua pria yang berdiri di hadapan Belle. "Kami pergi dulu."Tanpa menunggu jawaban, Natt langsung menarik tangan Belle dan mengajaknya pergi meninggalkan pria yang tadi ditabraknya.Belle hanya bisa mengikuti langkah Natt. Jantungnya berdebar karena tatapan pria yang ditabraknya terasa begitu tajam dan membuatnya gugup.Sementara itu, Mattias menoleh ke arah Belle yang kini berjalan mengikuti Natt menuju salah satu sofa di sudut klub malam tersebut.Jackson yang berdiri di samping Mattias ikut memperhatikan gadis itu, sampai Belle duduk."Aku kira gadis itu milik kamu, Matt." ujar Jackson sambil menyeringai. "Cantik juga gadis itu. Hidung belang mana yang beruntung mendapatkannya?"Mattias sama sekali tidak menanggapi ucapan Jackson. Pria itu justru berjalan menuju salah satu sofa yang berada tidak jauh dari t
"Kamu yakin?" tanya Natt, karena ia pikir Belle tidak akan mengikuti sarannya, untuk mendapatkan uang dengan cepat dari om-om kaya raya. Belle tidak langsung menjawab. Tatapannya justru bergetar sebelum akhirnya ia melangkah mendekati Natt dan memeluk sahabatnya itu erat. Tangis yang sejak tadi ditahannya kembali pecah. "Aku tidak tahu harus bagaimana lagi, Natt." kata Belle di sela isak tangisnya. Natt menghela napas panjang. Ia mengusap punggung Belle, berusaha menenangkannya sebelum akhirnya membawa sang sahabat masuk ke dalam kamar kosnya. Natt kemudian mendudukkan Belle di pinggir tempat tidur. "Jangan menangis," ujar Natt lembut sembari menghapus air mata yang membasahi pipi Belle. "Natt, bawa aku ke tempat om-om yang kamu bilang. Aku membutuhkan uang itu secepatnya." Belle menarik napas panjang, berusaha menghentikan tangisnya. "Nenek harus segera dioperasi. Dan uang yang aku butuhkan ternyata lebih banyak dari sebelumnya." Natt menatap dalam pada Belle. "Kamu yakin, Bell







