Home / Romansa / Di Bawah Kendali Sugar Daddy / 3. Layani Aku Di Atas Ranjang

Share

3. Layani Aku Di Atas Ranjang

Author: NARA
last update publish date: 2026-09-09 18:09:28

Bibi Mila menatap tajam ke arah sumber suara. Dari arah kamar, Nenek Maria berjalan perlahan dengan wajah pucat. Salah satu tangannya berpegangan pada dinding, seolah tubuhnya sudah tidak cukup kuat untuk menopang dirinya sendiri.

"Bu, jangan ikut campur!" bentak Bibi Mila.

Tatapan Nenek Maria langsung tertuju pada Belle yang masih berada dalam cengkeraman putrinya. Rambut gadis itu masih ditarik dengan kasar hingga wajah Belle dipenuhi air mata.

"Mila, sudah! Lepaskan cucuku!" suara Nenek Maria terdengar lemah, tetapi penuh ketegasan.

Bibi Mila tertawa sinis. "Ya, cucu Ibu yang tidak berguna!"

"Belle keponakan kamu, Mila," kembali Nenek Maria berkata.

"Cih! Tidak sudi aku punya keponakan benalu seperti ini."

Tangan Bibi Mila justru semakin kencang menarik rambut Belle.

"Aw... Bi! Sakit!" pekik Belle.

Air mata Belle semakin deras. Tangannya mencoba melepaskan cengkeraman tangan Bibi Mila.

"Mila!" teriak Nenek Maria. Wanita tua itu melangkah lebih cepat, tetapi tiba-tiba wajahnya berubah semakin pucat. Nenek Maria berhenti dan memegangi dadanya.

"Nenek!" Teriak Belle, Rasa sakit di kepalanya seakan terlupakan ketika melihat sang nenek.

"Bi, tolong lepaskan aku," pinta Belle memohon.

Bibi Mila menatap Belle dengan kesal. Setelah beberapa saat, akhirnya ia melepaskan rambut Belle dengan kasar.

Tubuh Belle terdorong hingga hampir kehilangan keseimbangan. Belle tidak memperdulikan rasa sakitnya. Ia langsung berlari menghampiri Nenek Maria dan memegang tubuh wanita tua itu.

"Nek, Nenek baik-baik saja?" tanya Belle sambil menghapus air mata di pipinya.

Belle benar-benar tidak bisa menyembunyikan kekhawatirannya. Seharusnya Nenek Maria berada di rumah sakit, menjalani operasi yang disarankan dokter. Tapi karena biaya yang cukup besar dan Bibi Mila tidak mau tahu. Membuat nenek Maria memilih untuk tetep berada di rumah.

Nenek Maria tersenyum tipis. "Nenek baik-baik saja, Belle."

"Jangan bohong, Nek. Wajah Nenek pucat."

"Nenek tidak apa-apa, Belle." nenek Maria mengusap pipi Belle, sang cucu yang mengusahakan semuanya. Hingga Nenek Maria memutuskan untuk pulang dari rumah sakit, ketika tahu. Belle yang dibebankan atas semua biaya rumah sakit, sedangkan Mila putrinya sendiri tidak peduli sama sekali padanya.

Belle menggeleng pelan. "Tidak, Nenek harus kembali ke kamar."

Namun, Nenek Maria justru menoleh ke arah Bibi Mila. Tatapan wanita tua itu berubah sedih.

"Mila, dengarkan Ibu. Kamu harus berubah," kata Nenek Maria dengan suara lirih. "Belle sudah tidak memiliki siapa pun selain kita."

"Aku tidak peduli." Sahut bibi Mila.

Wajah Nenek Maria tampak berubah. Belle dapat melihat kesedihan yang begitu dalam di mata sang nenek.

"Mila, bagaimana bisa kamu berkata seperti itu?"

"Ah sudahlah, Ibu jangan banyak bicara. Tinggal diam-diam di kamar dan tunggu ajal menjemput."

"Bibi!" Belle teriak, tidak terima dengan perkataan sang bibi.

"Oh berani berteriak sekarang ya, dasar benalu!"

Plak!

Sebuah tamparan keras mendarat di pipi Bibi Mila yang di layangkan oleh nenek Maria.

Bibi Mila terdiam beberapa saat. Ia memegang pipinya dengan mata membulat, tidak percaya dengan apa yang baru saja terjadi.

"Ibu menamparku?" tanyanya tajam.

Nenek Maria berdiri dengan napas memburu. "Karena kamu sudah keterlaluan!"

Bibi Mila menatap ibunya dengan kemarahan yang semakin membara, lalu dengan kasar, Bibi Mila mendorong tubuh Nenek Maria.

Tubuh Nenek Maria yang sudah lemah langsung terhuyung ke belakang. Belle dengan cepat memeluk tubuh sang nenek agar tidak jatuh.

"Nenek!"

Belle menatap Bibi Mila dengan mata yang penuh kemarahan dan kekecewaan. "Bibi benar-benar jahat!"

Bibi Mila tertawa kecil. "Kamu baru tahu, hah?"

"Bagaimana Bibi bisa melakukan ini pada Nenek? Nenek ibu Bibi!"

"Bodo amat!" sahut bibi Mila.

Belle mulai merasa ada yang tidak beres. Tubuh sang nenek terasa semakin berat dalam pelukannya.

"Nenek," kata Belle panik melihat sang nenek memejamkan matanya. Dan kini Belle terduduk di lantai sambil menepuk-nepuk pipi sang nenek. "Nenek bangun, Nek." Belle kembali menangis, lalu menatap pada Bibi Mila yang masih berdiri tanpa ekspresi. "Bi, tolong. Nenek pingsan, kita harus membawanya ke rumah sakit."

"Kamu saja yang bawa." dengan entenganya Bibi Mila bicara dan berlalu pergi.

***

Belle benar-benar tidak bisa menghentikan tangisnya, setelah membawa sang nenek ke rumah sakit.

Belle segera menghampiri dokter yang baru saja keluar dari ruang ICU dimana sang nenek sekarang berada.

"Dok, bagaimana keadaan nenek?" tanya Belle.

Dokter itu bukannya menjawab, malah memarahi Belle. "Coba saja jika nenek kamu masih tetap di rawat dan menjalankan operasi yang pernah kita bicarakan, semua ini tidak akan terjadi."

Belle terdiam, ia merasa bersalah telah mengikuti keinginan sang nenek yang meminta pulang dari rumah sakit. "Maafkan aku, Dok." Kata Belle menyesal. "Sekarang, bagaimana keadaan nenek?"

"Masih belum sadarkan diri."

Belle tidak bisa bicara lagi, yang ada kembali lagi menangis.

Setelah dokter pergi, salah satu perawat menghampiri Belle. "Maaf Mbak, silakan ikut saya ke ruang administrasi."

Belle menghapus air mata. "Aku belum ada uang Sus," kata Belle, tahu berapa banyak uang yang harus ia keluarkan, apalagi jika sang nenek harus menjalani operasi.

"Tidak masalah, yang penting isi data lebih dulu."

***

Malam harinya seperti biasa, Belle bekerja paruh waktu di sebuah kafe. Tidak seperti biasanya, Belle akan semangat melakukan pekerjaannya, tapi malam ini ia sama sekali tidak semangat. Mengingat sang nenek kembali masuk rusak sakit setelah pingsan dan sampai sekarang belum juga sadar, dan ya, uang untuk biaya rumah sakit tidaklah sedikit, dan Belle bingung harus mencari uang sebanyak itu ke mana.

"Bagaimana aku bisa mendapatkan uang?" gumam Belle pelan.

Tiba-tiba sebuah pikiran muncul di kepala Belle. Bagaimana jika ia meminjam uang kepada pemilik kafe tempatnya bekerja?

Belle segera mencari salah satu rekan kerjanya. "Citra," panggil Belle.

Seorang gadis yang sedang merapikan meja menoleh. "Ya?"

"Pak Jhoni hari ini datang?"

Citra menganggukkan kepala. "Iya. Sepertinya beliau ada di ruangannya."

Mata Belle sedikit berbinar. "Terima kasih."

Tanpa membuang waktu, Belle segera berjalan menuju ruangan pemilik kafe tersebut.

Sesampainya di depan pintu, Belle menarik napas panjang, ia merasa ragu dengan niatnya.

Namun, mengingat kondisi sang nenek, Belle akhirnya mengumpulkan keberanian, dan langsung mengetuk ruangan Pak Jhoni.

Setelah mendapatkan izin dari pemilik ruangan, Belle perlahan membuka pintu.

Ia masuk ke dalam ruangan dan segera menundukkan kepala.

"Malam, Pak," sapa Belle sopan.

Pak Jhoni, pria paruh baya dengan perut buncit, menatapnya dari balik meja.

"Ada apa?" Tanyanya datar.

"Maaf Pak, saya sudah lancang." kata Belle merasa tidak enak dengan tujuannya menemui atasannya itu. "Apa saya boleh meminjam uang?" tanya Belle langsung pada tujuannya.

"Boleh."

Belle langsung mengangkat wajahnya mendengar jawaban Pak Jhoni. Matanya berbinar, harapan yang sejak tadi terasa begitu kecil kini seolah kembali terbuka lebar.

"Benarkah, Pak?"

Pak Jhoni berdiri dari kursinya. "Kamu mau pinjam berapa?" tanyanya sambil berjalan mendekati Belle. "Katakan saja. Aku tidak suka basa-basi."

"Li... lima puluh juta Pak." Jawab Belle tatapan mengikuti Pak Jhoni.

Pak Jhoni kini berhenti tepat di hadapan Belle.

Belle segera melanjutkan perkataannya. "Sebagai gantinya, Pak Jhoni tidak usah membayar gaji saya selama saya bekerja. Saya akan tetap bekerja seperti biasa sampai uang itu lunas."

Pak Jhoni tersenyum. "Tapi aku tidak bisa, kalau tidak membayar gaji karyawanku."

Belle mengernyit bingung. "Maksud Bapak?"

Pak Jhoni kembali melangkah mendekat. Belle refleks mundur selangkah.

"Layani aku di atas ranjang malam ini, dan kamu tidak usah mengembalikan uang lima puluh juta itu."

Perkataan pak Jhoni membuat Belle langsung melotot. Ia benar-benar tidak percaya dengan apa yang baru saja didengarnya.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Di Bawah Kendali Sugar Daddy    79. Main Bertiga

    "Perusahaan yang besar itu?" tanya Bibi Mila. "Untuk apa dia ada di sini?" Lanjutnya sambil terus menatap Mattias.Laura mengingat lagi apa yang Natt katakan, jika Belle bekerja di perusahaan Burner. Kemudian Laura mengalihkan tatapannya pada sang sepupu. "Jangan bilang, kamu ada main dengan pemilik perusahaan Burner, itu tidak mungkin!" ucapnya tidak percaya jika Belle menjual diri dari pada Mattias.Laura tahu benar, jika pemilik perusahaan Burner, kabarnya tidak pernah tersentuh wanita, meskipun ratusan wanita coba mendekatinya dengan cara apapun itu. Pria itu terlalu setia dengan istrinya.Kaluna tidak menimpali ucapan Laura, ia mengalihkan tatapannya pada Mattias yang berjalan mendekat. Matiias yang sudah berdiri di samping Belle, menatap tajam pada bibi Mila dan juga Laura. "Sekali lagi kalian mengusik Belle, kalian tidak akan hidup tenang!" ancam Matiias.Lalu Mattias meraih tangan Belle. "Kita pergi dari sini." ajaknya.Belle mengikuti Matiias keluar dari rumah tanpa mengatak

  • Di Bawah Kendali Sugar Daddy    78. Kedatangan Tamu

    Belle menatap pada Mattias setelah pria itu memintanya berlutut, untuk membuktikan jika Belle tidak akan mengingkari janjinya. "Kenapa diam sayang?" tanya Mattias. "Apa kamu ingin mengingkari janjimu?"Belle tidak menjawab, ia mulai menekuk kakinya untuk berlutut di hadapan Matiias.Namun, belum juga kedua lutut Belle menyentuh lantai. Matiias kini menarik tangannya, kemudian memeluk pinggang Belle. Membuat gadis itu terkejut, dan mengangkat wajahnya menatap Mattias."Jangan pernah berlutut pada siapapun, termasuk padaku, sayang. Kamu tidak pantas melakukan itu, kamu sangat berharga." ucap Mattias sambil mengelus pipi Belle.Belle benar-benar tidak mengerti dengan pria yang masih memeluk pinggangnya. Dalam sesaat Matiias seperti orang yang berbeda-beda, marah, kesal, emosi, penuh ancaman dan kini penuh perhatian. Belle semakin tidak mengerti dengan Matiias."Besok aku akan membawamu menemui nenek kamu, malam ini aku ingin tidur di rumah ini bersama kamu, sayang." ucap lembut Mattias,

  • Di Bawah Kendali Sugar Daddy    77. Manipulasi

    Mattias tersenyum tipis, lalu beranjak dari duduknya. Puntung rokok yang masih terselip di antara jarinya ia lempar begitu saja ke lantai, kemudian diinjak hingga bara merahnya benar-benar padam.Suara gesekan sepatu Mattias dengan lantai terdengar pelan, tetapi entah mengapa justru membuat dada Belle semakin sesak.Tatapan pria itu kini tertuju sepenuhnya kepada Belle. Namun, kali ini Belle tidak memundurkan langkah.Ia sudah terlalu sering membiarkan dirinya ditakut-takuti. Terlalu sering membiarkan Mattias menentukan apa yang harus ia lakukan, ke mana ia harus pergi, bahkan dengan siapa ia boleh berbicara.Tidak, Belle tidak boleh terus seperti ini, ia harus berani menghadapi pria yang telah memberikan Belle kemewahan.Mattias justru tersenyum semakin lebar. "Ya, aku mengancammu, sayang," Matiias menimpali ucapan Belle.Nada suara pria itu sama sekali tidak terdengar seperti seseorang yang sedang kehilangan kendali. Justru sebaliknya. Mattias tampak begitu yakin bahwa apa pun yang

  • Di Bawah Kendali Sugar Daddy    76. Mengancam

    Belle memundurkan langkah ketika Mattias berjalan mendekatinya sambil tersenyum.Senyum yang justru membuat Belle semakin kesal.Beberapa saat lalu, ia sempat merasa lega karena akhirnya rencananya berhasil. Belle berhasil melarikan diri dari rumah itu setelah mengelabui Bibi Yuyu dan Pak Hani ketika berada di taman kota.Belle bahkan sudah membayangkan dirinya pergi ke luar kota. Menjauh dari Mattias, dan dari semua kendali pria itu.Namun, harapan tersebut benar-benar pupus ketika kini Mattias berdiri di hadapannya.Entah bagaimana pria itu bisa lebih dulu sampai di rumah, dan tahu jika Belle akan pulang.Belle ingin berlari, namun belum sempat ia melangkah, satu tangannya sudah lebih dahulu ditahan Mattias.Dengan satu tarikan kuat, tubuh Belle langsung membentur dada bidang pria itu."Kamu sangat bodoh sayang." ucap Mattias saat sudah memeluk tubuh Belle dari belakang. "Harusnya aku tahu, kamu seperti anjing yang penurut karena ingin kabur dariku, tapi bodohnya aku percaya begitu

  • Di Bawah Kendali Sugar Daddy    75. Sedang Mencari Siapa Sayang?

    Bibi Yuyu masih duduk santai di atas tikar, dan berbincang dengan pak Hani. Sesekali wanita itu melirik ke arah toilet."Kenapa Mbak Belle lama sekali, ya Han?" tanya Bibi Yuyu pada Pak Hani.Pak Hani melihat jam tangannya, dan menjawab. "Mungkin sedang antre."Bibi Yuyu mengangguk. "Mungkin saja." Kemudian keduanya kembali berbincang. Sampai akhirnya keduanya menghentikan perbincangan mereka, saat ada seorang perempuan melewati tempat mereka berada. Perempuan itu pergi ke toilet jauh setelah Belle pergi. Tapi perempuan itu sudah lebih dulu kembali di banding Belle.Membuat Bibi Yuyu bertanya pada perempuan itu. "Mbak, di toilet masih antri?""Tidak Bu, toilet sejak tadi sepi."Bibi Yuyu dan juga pak Hani menautkan kening mendengar jawaban perempuan itu. Keduanya kini memilih beranjak dari tempatnya. "Terima kasih Mbak."Setelah perempuan itu pergi, Bibi Yuyu dan juga pak Hani kini saling pandang."Han, jangan-jangan Mbak Belle kabur." ujar Bibi Yuyu, lalu berlari menuju toilet.Di

  • Di Bawah Kendali Sugar Daddy    74. Tekad

    Setelah menghabiskan makan siang, Belle terus menatap Mattias sambil memegangi kalung berlian yang sudah terpasang di lehernya.Kilauan berlian itu seharusnya membuat Belle bahagia. Namun, justru terasa seperti pengingat bahwa semakin banyak yang diberikan Mattias kepadanya, semakin sulit pula bagi Belle untuk pergi.Apa yang harus Belle lakukan? Tetap bertahan bersama Mattias dan menikmati kehidupan yang penuh kemewahan? Atau pergi dari pria itu sebelum dirinya benar-benar terikat?Hati Belle sudah memberikan jawabannya. Ia tidak mencintai Mattias.Belle tidak ingin terus hidup sebagai perempuan yang hanya dipertahankan dengan uang dan kemewahan."Sayang, kenapa kamu melamun?"Suara Mattias membuat Belle tersadar. Pria itu sudah mendekat dan mengelus pipinya dengan lembut.Belle menggeleng sambil tersenyum. "Aku tidak melamun. Aku hanya tidak pernah berpikir akan memiliki kalung berlian seperti ini." Bohong Belle.Mattias kembali duduk di hadapan Belle. Tangannya masih mengusap lembu

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status