Share

7. Tidur Denganku

Author: NARA
last update publish date: 2026-09-11 15:26:27

Natt yang melihat Belle tampak terintimidasi setelah tidak sengaja menabrak seorang pria, segera menghampiri sahabatnya itu.

"Maaf, Om-om tampan," kata Natt dengan cepat kepada kedua pria yang berdiri di hadapan Belle. "Kami pergi dulu."

Tanpa menunggu jawaban, Natt langsung menarik tangan Belle dan mengajaknya pergi meninggalkan pria yang tadi ditabraknya.

Belle hanya bisa mengikuti langkah Natt. Jantungnya berdebar karena tatapan pria yang ditabraknya terasa begitu tajam dan membuatnya gugup.

Sementara itu, Mattias menoleh ke arah Belle yang kini berjalan mengikuti Natt menuju salah satu sofa di sudut klub malam tersebut.

Jackson yang berdiri di samping Mattias ikut memperhatikan gadis itu, sampai Belle duduk.

"Aku kira gadis itu milik kamu, Matt." ujar Jackson sambil menyeringai. "Cantik juga gadis itu. Hidung belang mana yang beruntung mendapatkannya?"

Mattias sama sekali tidak menanggapi ucapan Jackson. Pria itu justru berjalan menuju salah satu sofa yang berada tidak jauh dari tempat Belle duduk.

"Matt, tunggu!"

Jackson menyusul dan segera duduk di samping Mattias. Tangannya mengambil gelas wine yang berada di atas meja sebelum menyesapnya dengan santai.

"Mau aku kenalkan dengan wanita pilihanku, Matt?" tanya Jackson.

"Kali ini wanita itu berbeda, Matt. Aku yakin kamu langsung tertarik padanya." Jackson kembali berbicara. "Dia model dari Rusia. Kamu tahu sendiri, kecantikan model Rusia melebihi bidadari."

Namun, ucapan panjang Jackson tidak mendapatkan tanggapan sedikit pun dari Mattias.

Mattias tampak lebih tertarik pada sesuatu yang lain. Sambil menyesap wine di gelasnya, tatapannya justru terus tertuju kepada Belle. Dari tempatnya duduk, Mattias bisa melihat dengan jelas gadis itu yang sedang berbicara dengan sahabatnya.

"Matt, apa kamu mendengar apa yang aku katakan?"

Pertanyaan Jackson akhirnya membuat Mattias mengalihkan pandangan.

Ia kemudian mengangkat tangannya dan memanggil seorang pelayan.

"Bawakan wine edisi terbatas yang kalian miliki." pinta Mattias pada pelayan.

"Matt."

"Diam, Jack!" potong Mattias. "Aku ingin menikmati setiap tetes wine terbaik di sini."

Mattias menggoyangkan gelas wine di tangannya sebelum menyesapnya kembali dengan perlahan.

Jackson menggelengkan kepalanya. "Matt, apa kamu tidak kesepian?"

Pertanyaan itu akhirnya membuat Mattias menoleh. "Kesepian?" ulang Mattias dengan alis terangkat. "Aku Mattias Burner. Apa kamu lupa siapa aku?"

"Sudahlah, semua orang juga tahu kamu Mattias Burner. Pengusaha kaya raya yang hartanya tidak akan pernah habis sampai dunia kiamat." Jackson menanggapi. "Tapi kamu pria paling malang di dunia ini, bodoh."

Mattias mendengus. "Hanya kamu satu-satunya orang yang berani mengatakan aku bodoh, sialan!"

"Tentu saja, karena kamu memang benar-benar bodoh!" Sahut Jackson. "Buat apa harta banyak kalau kamu tetap kesepian. Setidaknya gunakan hartamu untuk mendapatkan wanita yang kamu inginkan, saat istrimu tidak mau disentuh."

Mattias hanya tersenyum tipis. Alih-alih menimpali ucapan Jackson, ia kembali menatap Belle sambil menyesap wine dari gelasnya.

"Sebentar lagi wanita itu datang," kata Jackson penuh percaya diri. "Aku pastikan. Kali ini kamu akan tertarik padanya."

Mattias tetap tersenyum. Namun, pandangannya tidak sedikit pun lepas dari Belle.

***

Sementara itu, Belle benar-benar ingin pulang. Bukan karena ia ingin mengurungkan niatnya mencari pria kaya yang bisa memberinya uang dalam jumlah banyak.

Masalahnya, Natt terus mengenalkannya kepada pria-pria yang menurut Belle sudah terlalu tua.

"Belle, gimana sih!" kesal Natt. "Kamu bilang ingin mendapatkan uang secepatnya, tapi ketika aku kenalkan dengan om-om tajir, kamu malah menarik tanganku dan mengajak pergi."

"Bisa tidak jangan yang sudah tua?" protes Belle.

"Kamu banyak mau!" Natt mendengus. "Yang tua banyak duit, bodoh."

"Ingat baik-baik tujuan kamu datang ke sini untuk apa," lanjut Natt. "Untuk uang, untuk nenek kamu, oke!"

Belle menghela napas panjang, kemudian menganggukkan kepalanya dengan pasrah.

"Kalau begitu aku kenalkan lagi ke Om Satria."

"Sebentar," kata Belle, dan tiba-tiba tatapannya bertemu dengan tatapan Mattias yang duduk tidak terlalu jauh darinya. "Setidaknya seperti om-om yang tadi aku tabrak itu," ucap Belle tanpa sadar.

Natt langsung mengikuti arah pandang Belle, kemudian ia tertawa kecil.

"Om-om itu tidak doyan cewek, doyannya cowok."

Belle langsung mengalihkan tatapannya kepada Natt. "Maksud kamu?"

"Om-om yang tadi kamu tabrak namanya Mattias. Dengar kabar sih dia sukanya cowok. Makanya rumah tangganya dengan sang istri tidak harmonis." Jelas Natt.

"Tapi kamu tahulah, orang kaya tetap mempertahankan rumah tangganya demi bisnis." lanjut Natt.

Belle kembali melirik ke arah sofa tempat Mattias tadi duduk. Namun, pria itu sudah tidak ada di sana.

"Sudahlah," kata Natt sambil kembali menarik tangan Belle. "Ayo cepat. Kita ke tempat Om Satria lagi."

"Sebentar, aku ingin ke toilet lagi." ujar Belle.

"Ya ampun, kamu ini." Natt menghela napas. "Ya sudah, cepat sana. Aku tunggu disini,"

Belle segera beranjak dari duduknya, dan berjalan menuju toilet dengan pikiran yang semakin kacau.

Ia benar-benar tidak bisa membayangkan jika harus menyerahkan dirinya kepada pria-pria tua demi mendapatkan uang.

"Apa aku harus tidur dengan om-om bau tanah demi uang?" Ucap Belle pelan dengan wajah frustrasi.

"Bagaimana kalau tidur denganku?"

Suara berat seorang pria membuat langkah Belle terhenti dan ia perlahan menoleh.

Pria yang tadi ia tabrak, kini berdiri di samping Belle, menatap Belle tajam dengan mata birunya.

"O... Om," ucap Belle gugup.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Di Bawah Kendali Sugar Daddy    10. Desahan

    Mendengar pertanyaan dari Mattias, Belle segera beranjak dari tempatnya. Lalu menatap pada Mattias yang masih terus menatapnya.Belle menganggukkan kepala. "Ya, tapi tenang saja. Aku tahu cara bagaimana memuaskan anda, Om."Belle mengukir senyum paksa, lalu menarik tangan Mattias untuk beranjak dari sofa. Mattias mengikuti Belle yang menarik tangannya menuju ranjang, senyum tipis terukir dari bibir Mattias Ketika Belle melepas sendiri gaun yang masih menempel di tubuhnya, memperlihatkan tubuhnya yang indah tanpa setitikpun noda.Ingin rasanya Belle menangis, saat melepas gaun di tubuhnya, ia benar-benar seperti pelacur yang tidak ada harga dirinya. Tapi sebisa mungkin Belle menahan air untuk tidak jatuh.Belle mendekati Mattias, melepas ikat pinggang pria itu dengan tangan gemetar. Tapi saat ingin melepas pengait celana yang Mattias kenakan, tangan Belle di tahan oleh pria itu."Kenapa buru-buru sekali sayang." Kata Mattias sambil mengelus pipi Belle dengan lembut. "Buru-buru itu ti

  • Di Bawah Kendali Sugar Daddy    9. Apa Kamu Masih Perawan?

    Dada Belle berdebar tidak karuan ketika Mattias kini sudah bertelanjang dada dan duduk santai di sofa. Kedua tangannya berada di atas sandaran, sementara tatapan pria itu tidak pernah lepas sedikit pun dari Belle.Tatapan itu membuat Belle semakin gugup, Apalagi sejak tadi Mattias hanya diam memperhatikan Belle menyantap makanan di atas meja. Seolah-olah pria itu sedang menunggu sesuatu.Begitu Belle selesai menyantap makanannya, suara Mattias akhirnya terdengar."Apa kamu sudah selesai menyantap makananmu?"Belle langsung menganggukkan kepala. "Sudah, Om."Mattias mengangkat sudut bibirnya. "Kalau begitu, mendekatlah. Giliran aku yang akan menyantap kamu."Belle langsung merinding. Entah kenapa kalimat sederhana itu terdengar begitu menakutkan untuknya.Namun, Belle segera mengingat alasan dirinya berada di kamar hotel tersebut. Akhirnya Belle memaksa kedua kakinya untuk beranjak dari duduknya, dan perlahan ia melangkah menghampiri Mattias.Hingga akhirnya Belle kini berhenti tepat

  • Di Bawah Kendali Sugar Daddy    8. Puaskan Aku Malam Ini

    "Bagaimana, apa kamu mau tidur denganku?" tanya Mattias tanpa ekspresi.Belle terdiam, tatapannya terpaku pada wajah pria yang kini berdiri di hadapannya. Pertanyaan itu kembali terngiang-ngiang di kepalanya, membuat jantung Belle berdetak lebih cepat.Belle teringat jelas pada perkataan Natt, sang sahabat. Natt mengatakan bahwa pria yang sedang berada di hadapannya itu tidak menyukai perempuan. Namun, jika memang demikian, mengapa Mattias justru mengajaknya tidur?"Tenang, berapa pun uang yang kamu inginkan, aku bisa memberikan," lanjut Mattias dengan suara datar.Belle menelan ludah, saat berada di klub tersebut, semua pria yang Natt kenalkan kepadanya adalah pria-pria yang sudah cukup tua. Berbeda dengan Mattias, pria itu memang terlihat dewasa, tetapi wajahnya tampan, tubuhnya tegap, dan penampilannya begitu berwibawa. Siapapun akan tertarik pada Mattias. Hanya saja Mattias tidak menyukai perempuan.Jika Belle menerima tawarannya, mungkin saja ia mendapatkan keuntungan. Bisa jadi

  • Di Bawah Kendali Sugar Daddy    7. Tidur Denganku

    Natt yang melihat Belle tampak terintimidasi setelah tidak sengaja menabrak seorang pria, segera menghampiri sahabatnya itu."Maaf, Om-om tampan," kata Natt dengan cepat kepada kedua pria yang berdiri di hadapan Belle. "Kami pergi dulu."Tanpa menunggu jawaban, Natt langsung menarik tangan Belle dan mengajaknya pergi meninggalkan pria yang tadi ditabraknya.Belle hanya bisa mengikuti langkah Natt. Jantungnya berdebar karena tatapan pria yang ditabraknya terasa begitu tajam dan membuatnya gugup.Sementara itu, Mattias menoleh ke arah Belle yang kini berjalan mengikuti Natt menuju salah satu sofa di sudut klub malam tersebut.Jackson yang berdiri di samping Mattias ikut memperhatikan gadis itu, sampai Belle duduk."Aku kira gadis itu milik kamu, Matt." ujar Jackson sambil menyeringai. "Cantik juga gadis itu. Hidung belang mana yang beruntung mendapatkannya?"Mattias sama sekali tidak menanggapi ucapan Jackson. Pria itu justru berjalan menuju salah satu sofa yang berada tidak jauh dari t

  • Di Bawah Kendali Sugar Daddy    6. Yakin

    "Kamu yakin?" tanya Natt, karena ia pikir Belle tidak akan mengikuti sarannya, untuk mendapatkan uang dengan cepat dari om-om kaya raya. Belle tidak langsung menjawab. Tatapannya justru bergetar sebelum akhirnya ia melangkah mendekati Natt dan memeluk sahabatnya itu erat. Tangis yang sejak tadi ditahannya kembali pecah. "Aku tidak tahu harus bagaimana lagi, Natt." kata Belle di sela isak tangisnya. Natt menghela napas panjang. Ia mengusap punggung Belle, berusaha menenangkannya sebelum akhirnya membawa sang sahabat masuk ke dalam kamar kosnya. Natt kemudian mendudukkan Belle di pinggir tempat tidur. "Jangan menangis," ujar Natt lembut sembari menghapus air mata yang membasahi pipi Belle. "Natt, bawa aku ke tempat om-om yang kamu bilang. Aku membutuhkan uang itu secepatnya." Belle menarik napas panjang, berusaha menghentikan tangisnya. "Nenek harus segera dioperasi. Dan uang yang aku butuhkan ternyata lebih banyak dari sebelumnya." Natt menatap dalam pada Belle. "Kamu yakin, Bell

  • Di Bawah Kendali Sugar Daddy    5. Pilihan

    Tentu saja Belle mengenali Zayn. Zayn adalah teman satu kampusnya, pria yang beberapa kali hadir dalam hari-harinya tanpa pernah benar-benar bisa Belle abaikan. Karena Belle diam-diam menyimpan perasaan pada Zayn.Apalagi Zayn juga pernah beberapa kali mencoba mengungkapkan perasaannya pada Belle. Namun, Belle selalu memilih diam. Bukan karena ia tidak memiliki perasaan yang sama, melainkan karena hidupnya sendiri masih terlalu berantakan. Ia tidak ingin memikirkan cinta ketika hidupnya dipenuhi begitu banyak masalah.Terlebih sekarang, ia harus memikirkan neneknya yang sedang terbaring tidak sadarkan diri di rumah sakit.Sementara itu, Zayn beberapa saat hanya menatap Belle. Sebelum menatap pada tiga pria yang masih memegangi tangan Belle. "Pecundang, beraninya cuma sama perempuan. Kalian banci?" tanya Zayn. "Kalau berani, maju kalian bertiga, atau kalian ingin mamakai rok?"Pak Anton, Ferry dan Dani tentu saja terpancing dengan ucapan Zayn. Membuat ketiganya langsung melepas Belle,

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status