공유

Bab 4

작가: Yina
Rombongan itu berjalan melewati Anjani dan pintu dibanting hingga berbunyi keras.

Pintu itu pun bergoyang-goyang dan mengeluarkan suara berderit yang berulang-ulang ….

Juga diiringi sorak-sorai Jihan yang terdengar makin menjauh, "Yey! Makasih, Kak Nathan! Kalian memang yang terbaik untukku."

Akhirnya, semuanya kembali hening.

Hanya tersisa Anjani yang berdiri di tengah ruang tamu yang kosong. Dia menatap kue krim yang indah itu dan spanduk di atas meja tanpa suara.

Di atas spanduk itu tertera tulisan besar: [Selamat Ulang Tahun Jihan!]

Tanpa sadar, Anjani mengulurkan jarinya dan mengambil sedikit krim itu. Rasanya sangat manis, terlalu manis hingga membuat hati Anjani terasa pahit.

Anjani tiba-tiba teringat masa kecilnya. Hanya neneknya yang ingat hari ulang tahunnya dan membelikannya kue kecil semacam itu.

Nenek sudah tiada, satu-satunya orang di dunia ini yang benar-benar mencintai Anjani sudah tidak ada lagi.

Kini, bahkan satu-satunya kenangan yang ditinggalkan Nenek, yaitu rumah ini, juga harus dijual untuk membiayai pengobatannya.

Saat melihat Jihan dan Nathan berciuman dengan penuh gairah ….

Saat dia menampar Nathan, lalu didorong hingga jatuh dari tangga oleh Jihan ….

Saat dia terbaring sendirian di rumah sakit, bahkan tidak bisa meminum seteguk air saja, teman-temannya malah memarahinya ….

Anjani pun lalu memutuskan untuk pergi dari tempat ini.

Dia tidak ingin lagi menjadi menantu Keluarga Bimantara yang dianggap hanya ingin naik derajat dengan menikahi putra mereka. Anjani juga tidak ingin terus menjadi kakak yang berkorban tanpa pamrih.

Anjani ingin menjadi dirinya sendiri, menjadi Anjani sendiri.

Tiba-tiba, terdengar suara notifikasi di ponsel Anjani. Ada dua pesan yang masuk.

Satu dari Nathan: [Tadi kata-kataku agak kasar. Jangan terlalu dipikirkan. Kita masih punya banyak waktu ke depan.]

Satu lagi adalah pemberitahuan jadwal terapi berikutnya, yang akan dilakukan dua minggu lagi.

Setelah terapi selesai, Anjani akan melupakan segalanya. Dengan sisa uang dari penjualan rumah, Anjani akan pergi ke sebuah kota kecil yang indah dan memulai hidup baru.

Anjani hanya membalas pesan perawat itu, lalu membungkuk untuk memungut pita-pita warna-warni yang berserakan di lantai.

Nathan mungkin keliru. Tepat di saat Anjani melihatnya berciuman dengan Jihan, mereka sudah tidak mungkin lagi bisa bersama.

Setelah merapikan ruangan, Anjani menghubungi agen properti yang sudah dia hubungi sebelumnya untuk datang ke rumahnya.

Setelah agen properti tersebut selesai memotret dan mengunggah foto-foto rumah itu ke aplikasi, dia ingin mengatakan sesuatu, tetapi kemudian merasa ragu.

"Bu Anjani, lokasi rumah ini sangat strategis dan kondisinya juga terawat dengan baik."

"Selama beberapa tahun terakhir, harga properti di kawasan ini terus naik dan pasti akan terus meningkat ke depannya."

"Kalau Bu Anjani nggak terburu-buru untuk menjualnya, Bu Anjani mungkin bisa mendapatkan harga yang lebih tinggi lagi nantinya."

Anjani hanya tersenyum sambil menggelengkan kepala. Dia mengucapkan terima kasih dan menolak tawaran itu.

Setelah agen properti itu pergi, Anjani duduk di sofa dan menatap sekeliling dengan pandangan kosong.

Lantaran berniat menjual rumah, banyak barang sudah dikemas dan disimpan di tempat penitipan berbayar, sehingga ruangan itu kini terasa begitu kosong.

Di sampingnya, ada kursi rotan yang dahulu sering digunakan neneknya untuk bersantai dan di dalam kamar ada meja tulis buatannya sendiri.

Hanya saja, orang yang biasa duduk di kursi itu dan foto bersama yang terpajang di atas meja, kini sudah tidak ada lagi.

Anjani teringat masa kecilnya, ketika ibunya selalu kelelahan. Begitu lelahnya hingga tidak ingin bicara dan hanya bisa menangis.

Anjani sangat ingin menghibur ibunya. Namun, saat Anjani mendekat, ibunya malah menariknya dan memukulinya.

Sambil menangis, ibunya mencubitnya dan memarahinya.

"Semua ini salahmu! Juga ayahmu yang nggak punya hati itu!"

"Kalau bukan karena kamu, aku sudah lama menikah lagi! Semua penderitaan yang kualami ini karena kamu dan ayahmu!"

"Kamu juga egois. Ya jelas lah, darah ayahmu kan mengalir di tubuhmu, tentu saja begitu."

Anjani tidak tahu harus berbuat apa. Tubuhnya terasa begitu sakit dan dia ingin sekali mendorong ibunya menjauh.

Namun, ketika Anjani menengadah, dia melihat ibunya tampak menangis pilu dan air mata ibunya menetes ke pipinya.

Anjani pun langsung menurunkan tangannya, yang tadinya hendak mendorong ibunya.

Saat itu, Anjani berpikir, jika dengan begini ibunya bisa merasa bahagia, dia akan menanggung rasa sakit itu.

Setelah ibunya tenang, seakan segala sesuatu yang baru saja terjadi tidak pernah ada.

Bu Sekar akan memasak iga kesukaan Anjani dan menjahit baju Anjani yang sobek dengan sabar.

Bu Sekar juga akan berkata kepada Anjani, "Anjani, belajarlah dengan giat. Jangan sampai nanti seperti Ibu, salah pilih pasangan hidup."

"Menghabiskan seumur hidup dalam kebencian."

Perasaan Anjani terhadap ibunya sangatlah rumit. Dia tidak bisa membenci ibunya sepenuhnya, juga tidak bisa mencintainya sepenuhnya.

Selama bertahun-tahun tumbuh dewasa, hanya Nenek yang menjadi satu-satunya harapan, ketenangan dan sumber kebahagiaan bagi Anjani.

Nenek akan membawakan permen rasa jeruk kesukaan Anjani dan mengoleskan obat pada luka Anjani dengan lembut.

Nenek akan mengajak Anjani bermain ke luar dan berkata kepada Anjani bahwa Anjani bukanlah beban dan bukan anak yang merepotkan.

Anjani pun bergumam pelan, "Nenek, aku akan pergi."

"Aku nggak bisa mempertahankan rumah ini. Jangan salahkan aku, ya."

Tiba-tiba, ponsel Anjani bergetar. Anjani membukanya dan melihat jika itu pesan dari Nathan.

[Kalungmu tertinggal di rumahku. Kapan mau kamu ambil?]

이 작품을 무료로 읽으실 수 있습니다
QR 코드를 스캔하여 앱을 다운로드하세요

최신 챕터

  • Di Perbatasan Utara, Hatiku Berlabuh   Bab 24

    Nathan mengangkat kepalanya. Matanya tampak memerah dan menyiratkan sedikit harapan terakhir.Mereka berada di halaman kecil penginapan itu dan duduk di atas bangku batu yang dingin.Anjani tidak berbelit-belit dan langsung angkat bicara."Pak Nathan, saya pernah menjalani terapi MECT, demi melupakan beberapa hal yang terlalu menyakitkan.""Meski ada beberapa catatan di buku catatan itu, bagi saya, itu seperti kisah orang lain di kehidupan masa lalu. Saya nggak bisa merasakan cinta yang Anda bicarakan, juga nggak bisa merasakan kebencian yang Anda sebutkan."Anjani terdiam sejenak, lalu menatap ke arah cahaya lampu penginapan yang hangat di kejauhan. Kemudian, nada bicaranya berubah menjadi lembut, tetapi tegas."Saya sangat bahagia sekarang. Theo sangat baik pada saya dan kehidupan di sini membuat saya merasa tenang, juga puas. Inilah segala sesuatu yang saya inginkan.""Jadi, saya mohon ... lepaskan saja."Anjani menoleh dan menatap Nathan dengan pandangan yang jernih."Jangan coba-c

  • Di Perbatasan Utara, Hatiku Berlabuh   Bab 23

    Anjani menatap Nathan dengan tatapan mata yang jernih, tetapi jelas menjaga jarak.Dia menggelengkan kepalanya pelan, lalu berkata dengan nada yang begitu tenang, hingga terasa kejam."Pak, Anda salah orang, ya? Saya nggak kenal Anda."Anjani terdiam sejenak, lalu menambahkan."Lagi pula, ini rumah saya. Saya nggak akan pergi ke mana pun."Kata "Pak" itu, bagaikan jarum-jarum dingin yang menusuk ke dalam hati Nathan.Anjani tidak mengenalnya …. Dia bilang, di sinilah rumahnya ….Rasa putus asa dan panik yang luar biasa melanda Nathan bagaikan air pasang. Dia sudah mencari Anjani dengan susah payah, menanggung penderitaan yang menyiksa dan setelah akhirnya berhasil menemukannya, yang dia dapatkan malah kalimat yang tidak berarti, yaitu "tidak kenal".Theo mengulurkan tangan dan merangkul bahu Anjani dengan lembut, lalu mengusir Nathan."Pak, kalau Anda bukan tamu yang mau menginap, tolong jangan ganggu tamu saya dan … tunangan saya."Tunangan ….Nathan tiba-tiba terhuyung dan wajahnya l

  • Di Perbatasan Utara, Hatiku Berlabuh   Bab 22

    Hubungan antara Anjani dan Theo bagaikan musim semi di Kota Loman. Salju dan es mulai mencair, semuanya kembali hidup dan semuanya terjadi dengan alami, juga hangat.Tidak ada pengakuan cinta yang menggemparkan. Hanya di suatu senja, ketika matahari terbenam, saat keduanya berjalan berdampingan untuk pulang, setelah memeriksa jalur pendakian yang baru saja dibuka, Theo menggenggam tangan Anjani begitu saja. Anjani tertegun untuk sesaat. Kemudian, dia menjadi rileks dan balas menggenggam tangan Theo.Kehangatan yang mengalir di antara jemari mereka menggantikan semua kata-kata.Sejak saat itu, hari-hari mereka terasa manis.Mereka mengelola penginapan bersama, merencanakan rute wisata dan menyambut tamu dari berbagai penjuru negeri.Di waktu luang, Theo akan mengendarai motornya untuk mengantar Anjani ke pedalaman padang rumput, menikmati keindahan bunga-bunga liar yang bermekaran.Atau, di saat Anjani sedang sibuk bekerja di meja, Theo diam-diam akan menyodorkan secangkir teh melati ke

  • Di Perbatasan Utara, Hatiku Berlabuh   Bab 21

    Menghadapi lonjakan jumlah tamu dan perhatian publik yang tiba-tiba, Anjani dan Theo mau tidak mau harus meningkatkan kerja sama mereka.Mereka berdiskusi bersama tentang cara mengoptimalkan layanan, cara menghadapi wawancara media, serta cara memenuhi kebutuhan banyak wisatawan tanpa menghilangkan ciri khas penginapan mereka.Lantaran menghabiskan waktu bersama setiap hari, Anjani bisa merasakan dengan jelas jika Theo makin terbuka dalam menunjukkan perasaannya kepadanya.Theo tahu jika lambung Anjani kurang baik. Oleh karena itu, setiap pagi dia diam-diam menghangatkan segelas susu untuk Anjani.Saat Anjani bergadang untuk menyusun data, Theo diam-diam akan meletakkan lampu pelindung mata dan potongan buah di dekat tangan Anjani.Telinga Theo akan memerah ketika para wisatawan bersorak dan bergurau dengan mengatakan bahwa, "pemilik penginapan dan istrinya sangat serasi". Theo tidak membantahnya, melainkan hanya mencuri pandang ke arah Anjani.Perasaan seperti ini benar-benar hangat,

  • Di Perbatasan Utara, Hatiku Berlabuh   Bab 20

    Titik balik terjadi di penghujung musim gugur.Di tahun itu, Kota Loman menyambut fenomena aurora yang sangat aktif. Kejadian ini sangat langka dan hanya terjadi sekali dalam beberapa dekade.Pita cahaya berwarna hijau dan ungu yang memukau, menari-nari di langit malam, begitu indah bagaikan mimpi.Anjani dengan sigap memanfaatkan peluang emas ini.Dia segera bekerja lembur untuk merancang naskah promosi dan video bertema "Mengejar Aurora Utara", serta menghubungi para pembuat konten wisata yang pernah bekerja sama dengannya sebelumnya. Anjani mengubah penginapan "Gemintang" menjadi titik pengamatan aurora yang paling sempurna.“Datanglah ke Gemintang, rebahan di tempat tidur sambil menyaksikan aurora!” Slogan tersebut benar-benar sangat menggoda.Dalam sekejap, kota kecil yang semula sepi itu diserbu oleh banyak wisatawan yang ingin menyaksikan aurora.Penginapan "Gemintang" yang sudah mempersiapkan semuanya dengan matang juga kebanjiran tamu hampir setiap hari. Bahkan, pemesanan kama

  • Di Perbatasan Utara, Hatiku Berlabuh   Bab 19

    Langit Kota Loman berwarna biru jernih dan luas. Hal ini belum pernah dilihat oleh Anjani sebelumnya.Udara di sana dipenuhi kesegaran pohon pinus dan aroma tanah yang harum, sangat bertolak belakang dengan bau asap knalpot serta besi dan beton di kota besar.Anjani menyewa sebuah rumah tua dengan halaman kecil di pinggiran kota. Di halaman tersebut, tumbuh sebatang pohon sengon yang sudah tua.Tiap pagi, Anjani terbangun oleh kicauan burung. Hanya dengan membuka jendela, dia sudah bisa menyaksikan pegunungan di kejauhan yang bentuknya seperti alis.Anjani belajar hidup seperti warga kota itu. Dia pergi ke pasar untuk membeli sayuran segar, memasak makanannya sendiri dan sesekali belajar cara membuat asinan sayur, serta menjahit kasur kapuk yang tebal dari bibi tetangga.Sesekali, Anjani masih membolak-balik tulisan di buku catatannya. Namun, masa lalu tentang "Nathan" dan "Jihan" itu kini ketika membacanya, rasanya seperti membaca kisah orang asing dan Anjani tidak merasakan apa pun d

더보기
좋은 소설을 무료로 찾아 읽어보세요
GoodNovel 앱에서 수많은 인기 소설을 무료로 즐기세요! 마음에 드는 작품을 다운로드하고, 언제 어디서나 편하게 읽을 수 있습니다
앱에서 작품을 무료로 읽어보세요
앱에서 읽으려면 QR 코드를 스캔하세요.
DMCA.com Protection Status