FAZER LOGINBhaga keluar dari ruang kerjanya. Dua jam lebih dia di sana sejak setelah makan malam. Tidak. Dia tidak bekerja. Hanya duduk dengan layar komputer yang mati, memikirkan isi surat itu.Celia selalu penuh dengan akal bulus dan licik. Bahkan di saat dia sudah bersalah dan terpojok, dia masih berani melakukan kejahatan baru tanpa memikirkan risiko jangka panjangya. Dan ini adalah tentang Ardan, dia tak mau kejadian terakhir yang menimpa putra tunggalnya itu terulang lagi. Sudah cukup. Tapi bagaimana pun, Celia tetap ibu dari anaknya.Dia harus segera memutuskan.Rumah sudah sunyi, ketika dia melangkah menyusuri tiap ruang.Ardan sudah tidur sejam lalu. Binar sendiri yang menidurkannya malam ini, sambil membacakan cerita sampai bocah itu terlelap di tengah buku. Para pelayan sudah istirahat setengah jam yang lalu. Lampu-lampu rumah utama sudah dimatikan sebagian, hanya menyisakan lampu sudut di ruang keluarga yang temaram, membuat bayangan-bayangan lembut di dinding.Binar duduk di sofa.S
Pesan dari Rudi itu masuk ke ponsel Bhaga tepat saat lift baru saja naik.[Pak, ada surat dari RSJ Grahasia. Dari Bu Celia, ditujukan untuk Ardan. Saya taruh di meja Bapak.]Bhaga membaca dengan wajah datar, tapi hatinya berdebar sedikit lebih cepat.Lift terus naik, hingga akhirnya denting dan pintu yang terbuka, membuat Bhaga menghela napas. Dia memasukkan ponselnya dan melangkah menuju ruangannya.Lorong yang biasanya terdengar suara lirih beberapa karyawan, kini begitu sepi. Dia tak menoleh atau menjawab semua sapaan, hanya diam dengan wajah kaku dan menatap lurus ke depan.Dia masuk begitu saja ke ruangannya. Tak lagi mencari kopi atau meletakkan tas, tangannya langsung bergerak mencari surat yang dimaksud begitu langkah cepatnya berhenti di depan meja kerjanya.“Untuk Ardan Anakku Sayang.” Bhaga membacanya dengan suara lirih.Tulisan tangan Celia.Bhaga duduk di kursinya, memegang amplop itu, tapi dia tidak membukanya. Hanya menatap, tapi dadanya seperti kena hantaman benda kera
Hari-hari berjalan dengan rutinitas baru yang melelahkan. Binar sudah tidak ingat kapan terakhir kali dia bangun tanpa rasa pegal di sekujur tubuh. Dari pagi hingga sore, dia harus menguras energinya untuk berpikir dan praktek belajar. Di luar itu, dia akan mengurus Ardan dan mengecek keperluan rumah.Semua harus tetap berjalan baik, seperti sebelumnya. Dia tak ingin mengorbankan hal yang telah tertata baik. Beruntungnya, Ardan selalu mengerti dan tetap menjadi anak yang penyayang. Meskipun kadang, Binar sudah tertidur saat Bhaga pulang.Dia tidak pernah mengeluh, tapi tubuhnya punya cara lain untuk protes.Seperti hari ini, saat sore tiba tubuhnya rasanya mau remuk dan dia kelelahan sekali. Tetapi, dia tetap menjalankan sisa hari itu dengan tersenyum kecil.**Bhaga baru saja masuk kamar setelah memastikan Ardan tidur. Matanya langsung mencari Binar, tapi dia tak menemukannya di ranjang maupun balkon.Tangannya merogoh kantong untuk mengambil ponsel dan ingin menghubungi Binar, tapi
Lima minggu berjalan dengan jadwal belajar yang penuh, tugas, dan tanggung jawab di rumah. Jujur, Binar kelelahan, tapi semangat dan tekadnya membuat semuanya terasa menyenangkan.Seperti sore ini, Binar baru pulang jam enam. Dia baru saja membeli beberapa kebutuhan Ardan yang telah habis setelah mengikuti kelas terakhir. Matahari sudah tenggelam, menyisakan jingga di ufuk barat.Dia masuk melalui pintu dapur, kebiasaan yang masih sulit hilang, dengan tas selempang berisi modul dan catatan, juga beberapa tote bag berisi barang belanjaan.Maryam sedang di dapur, merapikan peralatan masak. "Non Binar, sudah pulang?""Ya, Bi." Binar meletakkan tas, meregangkan leher. "Ardan sudah makan dan mandi?""Sudah, Non. Tadi jam lima. Sama Sari." Maryam tersenyum. "Makannya lahap. Sekarang lagi gambar di kamar.""Syukurlah." Binar melongok ke kulkas, mengecek stok untuk besok. Sayuran tinggal sedikit, daging masih ada. "Bi, besok tolong tambah beli brokoli, ya. Ardan suka yang direbus sebentar.""
Seminggu kemudian, yang ditunggu Binar akhirnya datang. Dia baru saja pulang setelah mengantar Ardan ke sekolah, dan Maryam memberikan amplop tebal berwarna putih dengan kop surat berwarna biru tua, dengan namanya tertera di depan amplop.Sekarang rumah begitu sunyi. Binar memilih duduk di meja makan dengan segelas air putih, berniat menikmati sepuluh menit ketenangan sebelum membuka amplop itu.Dia menarik napas dalam sebelum akhirnya membuka amplop tersebut dengan hati-hati.Matanya langsung bergerak membaca baris demi baris semua yang tertera adalah ucapan selamat dan program belajar yang akan dia jalanin enam bulan ke depan.“Aku akan belajar ini semua,” gumamnya tersenyum. Dia tak sabar untuk mulai belajar. “Bahasa Inggris, Etiket Sosial, Public Speaking, Media Training, Pengetahuan Dasar Bisnis, Perawatan dan Penampilan diri.”Dia membacanya perlahan, sesekali mengulangnya, dan kini matanya berbinar. “Wah, ini bagus sekali.”Tangannya sedikit gemetar, membayangkan perubahan besa
“Bhaga, tolong. Stop menggodaku.”Bhaga terus mengecupi setiap inci tubuh bagian atas Binar, menggodanya dengan sentuhan sensual di titik-titik sensitif wanita itu.“Sudah tak sabar, Sayang?”Tangan Bhaga mengambil tangan Binar, memindahkannya dari dada ke bagian bawah tubuhnya. Menuntun untuk menyapa kejantanannya yang sudah menegang.“Ah… Bhaga…”Punggung Binar melengkung di pintu yang tertutup itu.Perasaan Bhaga membuncah. Dia begitu senang setiap kali Binar memohon dengan ucapan lirih seperti itu. Bhaga menariknya dalam satu gerak hingga kini Binar bersandar pada rak buku.Dengan gerakan cepat, Bhaga menurunkan celananya dan langsung memperlihatkan kejantanannya yang sudah menegang sempurna.Binar menahan napas untuk sesaat. Matanya mengerjap penuh minat.Detik berikutnya, tangan Bhaga turun mengelus memutar kewanitaan Binar dan menyeringai saat tangannya menyentuh kelembaban itu. “Kamu benar-benar sudah siap.” Dia mengocok sebentar kejantanannya, sebelum mengangkat paha Binar d
“Boleh aku minta jatahku sekarang?”Suara serak Bhaga membuat Binar memerah malu. Dia ingat, tadi pagi Bhaga belum mendapat pemuasan hasratnya, dan dia malah membantu Binar ke toilet.‘Jatah’ dia bilang. Seolah hubungan mereka adalah sepasang suami-istri yang saling memuaskan nafkah batin. Seolah b
Perselisihan antara Bhaga dan Celia kian memanas. Tak ada yang mau menurunkan ego, apalagi mengalah. Kini meletus menjadi konflik terbuka yang melibatkan kedua belah keluarga. Bhaga dengan tegasnya terus menekan pihak Celia dan tak memberikan sedikit pun keringanan.Tidak hanya memblokir akses ke
Penthouse pagi ini terasa begitu menegangkan. Binar memilih menyibukkan diri di dapur, menyiapkan sarapan untuk Bhaga, sedangkan Bhaga sudah rapi di meja makan dengan tangan yang sibuk dengan tabletnya. Binar melirik wajah Bhaga yang sudah tidak lagi murung. Pagi ini, pria itu terlihat segar meski
Binar duduk dengan gelisah. Sejak tadi, dia menyadari kalau para pembantu mengawasinya dari balik jendela, tapi dia tak berani menoleh atau memandang balik. Dia hanya terus meremat tangannya dan menunduk. “Astaga … Dia balik lagi rupanya.” “Aku kira dia baik hati dan pergi untuk kebaikan, ternyat







