로그인Kabin belakang terasa hening dan hangat. Mereka terbangun setelah tidur lelap sesaat. Tirai pembatas diantara kedua bilik sengaja dibuka agar Binar bisa melihat Ardan.Kasur tipis yang mereka tiduri ternyata jauh lebih nyaman dari perkiraan, diselimuti aroma kain bersih yang baru Binar ganti beradu dengan hawa sejuk dari pendingin pesawat. Langit-langit yang rendah membuat ruang sempit itu terasa makin privat. Lampu di langit-langit masih disetel ke mode paling redup, hanya menyisakan cahaya temaram yang cukup untuk melihat garis-garis wajah.Ardan meringkuk di sisi kiri, terlelap tanpa bergerak sedikit pun. Dinosaurus kecil masih ada di pelukannya, kepala dinosaurus plastik itu tersandar di dagu Ardan. Napas anak itu pelan dan teratur, terlihat begitu menenangkan. Sesekali bibirnya bergerak, seperti sedang bermimpi tentang sesuatu, dan terkadang mencebik-cebik.Di sisi kanan, Binar dan Bhaga berbaring miring saling berhadapan. Berpelukan sambil memangkas jarak tanpa menimbulkan gerak
Bhaga tidak langsung melepaskan Binar. Dia masih berada di dalam tubuhnya, napas keduanya belum sepenuhnya tenang, kulit saling menempel basah oleh keringat tipis. Binar merasa cairan hangat mereka masih bercampur di antara paha, dan setiap kali dia sedikit bergeser, sensasi itu membuatnya menggigit bibir. Tanpa bicara, Bhaga menggeser tubuhnya. Dia menarik keluar pelan, membuat Binar mengerang dan mendesis karena rasa kosong yang tiba-tiba. Dengan gerakan cepat, kedua lengan Bhaga sudah berada di bawah lutut dan punggung Binar, kemudian memindahkan Binar ke dalam gendongannya. Binar melingkarkan lengan di leher Bhaga, wajahnya terbenam di ceruk bahu. Dia masih telanjang, kaki menggelantung, cairan mereka menetes tipis dari paha dalamnya. Bhaga tidak peduli. Pria itu berjalan melewati deretan kursi kosong menuju bilik istirahat di kabin belakang, langkahnya stabil meski dengan beban di pelukan.Tirai bilik ditarik terbuka dengan satu tangan, lalu ditutup rapat setelah mereka masuk.
Binar masih duduk di pangkuan Bhaga ketika pesawat mencapai ketinggian tiga puluh ribu kaki. Mesin berdengung stabil di luar, kabin gelap dengan lampu baca yang redup, dan tirai kecil di jendela setengah tertutup. Di balik pintu kokpit yang terkunci dan deretan kursi kosong di depan mereka, dunia terasa sunyi sekali. Bhaga tidak buru-buru. Jari-jarinya masih di pinggang Binar, mengusap pelan lewat kain blus tipis, naik turun merasakan kelembutan yang dirindukannya selama sepuluh hari belakangan dan itu membuat tubuhnya perlahan bergairah. Hidungnya sesekali mengendus tengkuk Binar, menikmati aroma yang membuatnya candu, sehingga napasnya terasa hangat di belakang telinga Binar.Pinggul dan tubuh Binar meliuk pelan, napasnya mengembus berat dan dia mendesis. Satu tangannya berusaha mendorong pelan dada Bhaga, menolak tapi tanpa keteguhan.“Tenang,” bisik Bhaga. “Tidak usah takut. Tidak ada yang melihat.”Binar menelan ludah. Jantungnya berdegup lebih cepat, kerinduannya membuncah, dan
Kabin pesawat itu kecil, tapi terasa luas karena sepi. Hanya ada empat kursi penumpang di bagian depan dan dua kabin tidur kecil di belakang yang dipisahkan tirai tebal. Lantai karpet abu-abu lembut menyerap suara langkah, dan lampu-lampu di langit-langit disetel temaram, menciptakan suasana yang nyaris seperti ruang tamu pribadi di atas awan.Di luar jendela bundar, langit biru terbentang luas, dengan sesekali gumpalan awan putih yang melintas di bawah sayap. Begitu pesawat lepas landas dan tanda sabuk pengaman dipadamkan, Ardan langsung menarik tangan Binar menuju kabin belakang. Jari-jari mungilnya menggenggam erat jari Binar, seperti takut jika dia melepas, Binar akan pergi lagi. Dalam dua puluh menit pertama setelah take-off, Ardan tidak berhenti mengoceh dengan tempo cepat yang membuat Binar kesulitan menyerap tiap kata. Kata-katanya keluar seperti air dari keran yang tidak bisa ditutup dan melompat dari satu topik ke topik lain tanpa jeda, tanpa urutan yang jelas. "Terus wa
Bibir Binar mencebik seperti anak kecil. Matanya berkaca, wajahnya memerah menahan emosi yang campur aduk. Dia masih terdiam di ambang pintu mobil, mengerjab tak percaya dengan apa yang terlihat di depan matanya.Di sana. Seseorang yang tak pernah dia sangka akan bertemu, berdiri dengan senyuman lebar dan wajah semringah. Berdiri merentangkan tangan sambil terus memanggil namanya, tapi kaki Binar terasa lunglai hingga tak mampu untuk melangkah mendekat, justru hampir jatuh andai dia tak berpegangan pada pintu mobil.“Binar, kamu tak apa-apa?”Pertanyaan itu keluar dengan penuh kekuatiran, tapi bukan pemilik suara yang kini berlari mendekat. Justru pria kecil dengan ransel dinosaurus yang bergerak memantul di punggungnya, sedang berlari dan menerjang Binar ke dalam pelukan. “Bunda.”Satu tangan Binar menangkap tubuh kecil kesayangannya itu dan tangan lainnya berpegangan pada pintu mobil karena limbung ketika dipeluk erat oleh Ardan dalam keadaan belum siap.Anak itu memeluk erat. Kedu
Mobil berjalan cukup kencang, meninggalkan area kampung kelahiran Binar. Beberapa kali dia menoleh ke jendela belakang, berharap ada yang mengejarnya atau apalah. Tapi tak ada sama sekali, ibunya tadi bahkan tak terlihat kuatir atau menangis meneriakkan namanya.Dia menghela napas kasar, mengangkat tangannya yang masih memegang plastik berisi bawang merah. Dengan muka tertekuk, dia mendesah berat dan mengambil tangan pria di sampingnya lalu menyerahkan plastik bawang itu dengan kasar.Pria itu hanya melirik, membuka jendela lalu melemparkan bawang itu keluar begitu saja.“Itu aku beli pakai uang ya, malah dibuang.” Dumal Binar, walau sebenarnya dia tak peduli.Binar duduk kaku di jok tengah, terapit dua pria yang badannya kaku tegap. Udara dingin dari AC mobil menusuk kulit, berbaur dengan aroma pengharum mobil setelah tak ada lagi aroma bawang. Di depan, ada sopir dan seorang pria lagi yang hanya diam menatap lurus ke jalan.Dia sebenarnya agak bingung, karena pria-pria itu tak meluk







