Home / Romansa / Di Ranjang Majikanku / 4. Keras dan Panas

Share

4. Keras dan Panas

Author: Keke Chris
last update publish date: 2025-09-30 10:18:31

Bangun. Kerjamu sudah selesai. Bukan di sini tempatmu tidur."

Suara berat dan tegas itu membangunkan Binar dari tidurnya. Matanya perlahan terbuka, melihat siluet tinggi seorang pria yang berdiri di hadapannya, dan untuk sesaat, dia linglung.

Namun, setelah menyadari bahwa pria itu adalah Tuan Bhaga, Binar langsung duduk tegak, rasa tak enak hati dan merasa bersalah langsung menghinggapi.

"Ma-Maaf, Tuan. Saya tidak bermaksud..."

Bhaga tidak menjawab. Dia hanya memandangnya sebentar sebelum berbalik dan meninggalkan kamar Ardan, memberi isyarat bahwa Binar harus mengikutinya.

Binar menegakkan tubuh dengan cepat, segera membenarkan bajunya yang kusut setelahnya, lalu mengikuti Bhaga keluar, menutup pintu kamar Ardan dengan hati-hati.

Di koridor yang temaram, suara rendah Bhaga terdengar jelas. “Kamu kelihatan lelah.”

Binar menggeleng cepat, "Ah, enggak, Tuan. Saya sudah biasa mengurus anak kecil. Di kampung, saya dulu biasa momong adik teman sampai anak tetangga."

Bhaga hanya mendengus pelan. Matanya tertuju pada tangan Binar yang masih menggenggam sesuatu. "Masih memegang mahkotanya?" tanyanya, nada datar tapi tidak menuduh.

Binar terkejut, melihat bunga kertas kuning yang masih ada di tangannya. Dia tersipu. "Tuan muda bilang ini jimat agar saya tidak mimpi buruk," katanya, hampir berbisik. Dia tersenyum.

Untuk sejenak, Bhaga terdiam, lalu mengeluarkan suara yang hampir seperti helaan napas. "Dia memang anak yang punya imajinasi tinggi."

Tiba-tiba, seperti menyadari dia terlalu banyak bicara, wajah Bhaga kembali datar. "Sekarang, buatkan saya kopi. Dan antarkan ke ruang kerja."

"Baik, Tuan," jawab Binar patuh. Dia menyelipkan bunga kertas itu dengan hati-hati ke saku roknya sebelum bergegas ke dapur.

Binar menyiapkan kopi hitam pekat seperti yang disukai Bhaga, persis seperti yang dia lihat saat Maryam menyiapkannya. Dengan nampan di tangan, dia berjalan menuju ruang kerja yang pintunya masih terbuka.

Bhaga sudah duduk kembali di belakang meja, matanya terpaku pada layar laptop. Suasana hening, hanya terdengar bunyi ketikan keyboard dan detak jam dinding.

Saat meletakkan nampan di meja, Binar memperhatikan gelas air putih yang dia bawa sore tadi masih penuh. Bhaga belum menyentuhnya. "Airnya... tidak diminum, Tuan?" tanyanya, khawatir ada yang salah.

Bhaga mengalihkan pandangannya dari layar. "Saya lebih butuh kafein daripada air saat ini," jawabnya pendek. Namun, setelah melihat ekspresi khawatir Binar, dengan enggan dia mengambil gelas itu dan meneguk beberapa teguk.

"Sudah tenang sekarang?" ujarnya, dengan nada yang hampir seperti menggoda, tetapi masih datar.

Binar tersipu, dia menunduk. "Maaf, Tuan."

Matanya lalu tertarik pada sebuah bingkai foto di dinding dekat rak buku. Foto keluarga Bhaga, Celia, dan Ardan yang diambil di studio. Posisinya agak miring, tidak sejajar dengan foto lainnya. Tangan Binar yang sudah terbiasa membereskan segala sesuatu tiba-tiba gatal untuk meluruskannya.

Bhaga menyadari kegelisahan itu. "Ada apa?" tanyanya tanpa mengangkat kepala.

Reflek, Binar menjawab, "Itu foto keluarga..." Dia langsung menutup mulutnya sendiri, mata membelalak karena ngeri. Dia ingat teguran Bhaga sebelumnya. Jangan melewati batas.

Bhaga mengangkat pandangannya dari laptop, menatapnya tajam, menunggu Binar menyelesaikan kalimatnya.

Dengan suara kecil, Binar memberanikan diri melanjutkan, "Agak miring, Tuan. Boleh saya benahi sedikit?"

Tak langsung menjawab, Bhaga menatapnya sebentar lalu mengangguk. "Boleh. Sambil kau ada di sana, bersihkan debu di rak dokumen itu. Lap dan penyedot debu ada di lemari kecil di sudut."

Binar mengangguk lega. Dia segera mengambil peralatan kebersihan dan mulai bekerja. Tangannya meluruskan foto itu dengan hati-hati sebelum membersihkan rak buku dengan khidmat. Dia bisa merasakan pandangan Bhaga sesekali mengawasinya, membuatnya semakin gugup.

Beberapa menit berlalu dalam keheningan yang hanya diisi oleh suara penyedot debu dan ketikan di laptop.

Suara Bhaga tiba-tiba memecah kesunyian. "Ambilkan map hijau tua yang ada di rak paling atas. Tertulis 'Proyek Dermaga'."

Binar memandang ke arah yang ditunjuk. Dia melongo. Rak itu sangat tinggi. Dia mengulurkan tangannya, berjinjit, tapi masih jauh dari cukup. Dia mencoba melompat-lompat kecil, jari-jarinya hampir menyentuh ujung map.

Tanpa disadari, setiap kali Binar melompat, rok seragamnya yang sederhana tersingkap sedikit, memperlihatkan paha mulus yang ramping dan kencang.

Tiba-tiba, ada kehangatan muncul tepat di belakangnya. Bhaga berdiri nyaris menempel di belakang punggung Binar, dan tingginya membuatnya dengan mudah meraih dokumen yang dimaksud.

Posisinya justru terlihat seperti Bhaga sedang mengukung Binar.

Bhaga menunduk, dekat dengan telinga Binar, dia berbisik, “Di sini.” Lalu dengan mudah mengambil map yang dimaksud. Saat melakukannya, tubuhnya sedikit menunduk.

Binar yang masih dalam posisi berjinjit, tanpa sengaja mendongak ke atas untuk melihatnya.

Bhaga pun menunduk ke bawah untuk memberikan map itu.

Dalam sekejap, wajah mereka berada dalam jarak yang sangat dekat. Hidung mereka hampir bersentuhan.

Binar bisa melihat setiap bulu mata yang menghiasi mata Bhaga yang gelap, bisa merasakan hembusan nafasnya yang hangat dan beraroma kopi.

Binar membeku, tidak bisa bergerak, tidak bisa bernapas. Bahkan sulit berkedip.

Di saat hening yang mendebarkan itu, melalui kain rok tipisnya, Binar bisa merasakan sesuatu yang keras dan menonjol menekan bagian belakang tubuhnya.

Continue to read this book for free
Scan code to download App
Comments (2)
goodnovel comment avatar
Davita
Ada yang mau ga sama aku?🥹
goodnovel comment avatar
Shinta
wkwkwk wkwkwk. panas panas
VIEW ALL COMMENTS

Latest chapter

  • Di Ranjang Majikanku   329. Saat Pengakuan Itu Tiba

    “Ada masalah di kantor?” Binar akhirnya bertanya itu di malam ketiga, karena sudah tak tahan melihat wajah Bhaga yang makin kusut. Pria itu murung dan banyak menghabiskan waktunya di ruang kerja, bahkan melewatkan waktu makan. Bhaga yang sedang membuka kancing di pergelangan lengannya berhenti sebentar. Hanya sebentar dan menjawab tanpa repot menoleh pada Binar. “Sedikit.” Jawaban pendek yang menyebalkan, tapi itu artinya Bhaga belum mau membahas.Binar merapatkan bibirnya setelah menghela napas pelan. Dia yang sedang berdiri di samping meja makan memilih kembali fokus menuangkan teh panas ke cangkirnya. Aroma teh melati langsung memenuhi ruang makan di tengah malam itu.“Berat?” tanya Binar pelan sambil melirik ragu.Bhaga menarik kursi lalu duduk dengan tenang. “Masih bisa ditangani. Tenanglah.” Binar mengangguk kecil. Tidak memaksa lagi. Dia sudah cukup lama hidup di dekat pria itu untuk tahu kapan sebuah pertanyaan boleh dilanjutkan dan kapan harus berhenti. Bhaga bukan tip

  • Di Ranjang Majikanku   328. Kepercayaan Yang Rusak

    Senin pagi, Bhaga sengaja datang lebih awal karena akan meninjau kerja sama yang akan di resmikan. Namun sebelum itu, dia butuh membaca ulang persiapannya agar tak terjadi kesalahan walau sekecil apa pun.Bhaga baru turun dari mobil saat Rudi muncul dengan cepat dari arah lobi utama. Langkahnya panjang, wajahnya tegang, tablet masih ada di tangan.Melihat itu saja, sudah cukup membuat Bhaga tahu ada sesuatu yang tidak beres.“Ada apa?” Tanya Bhaga tanpa menghentikan langkah.Rudi langsung berjalan di sampingnya. “Dokumen akuisisi Nusa bocor, Pak.”Langkah Bhaga melambat tapi dia tak berhenti. Wajahnya tetap lurus ke depan, meski matanya berkedip tak tenang. “Sejak kapan?”“Tadi malam. Kami dapat info jam lima pagi dari mitra Surabaya. Saya langsung cek silang dengan tim keamanan data sebelum Bapak datang.”Tatapan Bhaga semakin tajam menatap ke depan. Rahangnya mengeras tipis, tapi suaranya penuh ketegasan yang tersembunyi. “Sudah tersebar?”“Informasi itu masuk ke dua grup tertutup k

  • Di Ranjang Majikanku   327. Curhat

    “Bhaga…”Suara Binar terdengar pelan saat masuk ke ruang kerja itu.Bhaga yang sedang membaca laporan di meja kerjanya langsung mengangkat kepala. Lampu ruangan redup. Hanya lampu meja yang menyisakan cahaya terang di sudut ruang.“Kamu belum tidur?”Binar menutup pintu pelan di belakangnya. Wajahnya terlihat lelah.“Aku mau ngomong sebentar.”Bhaga langsung menutup map di depannya tanpa bertanya macam-macam. Tatapannya mengikuti Binar yang berjalan pelan menuju sofa.Binar duduk. Tangannya saling menggenggam di pangkuan. Tidak langsung bicara.Bhaga menunggu. Ruangan itu terlalu tenang sampai suara jam dinding terdengar jelas.“Kamu pernah bilang hati-hati,” ucap Binar akhirnya.Bhaga menyandarkan tubuh ke kursinya. “Iya.”“Aku tidak hati-hati.”Nada suaranya datar dengan wajah sesendu itu membuat Bhaga menatapnya lebih serius.“Apa yang terjadi.”Binar mengembuskan napas pelan. Kepalanya menunduk sebentar sebelum akhirnya mulai cerita.“Aku datang telat ke rumah Kiara tadi.”Bhaga d

  • Di Ranjang Majikanku   326. Mendengarkan Fakta Yang Tertunda

    Minggu ini acaranya bertempat di rumah Kiara. Acara kali ini memang lebih privat dari biasanya, lebih kecil walaupun tentu saja menu dan obrolannya tak bisa disebut sederhana.Binar datang sedikit terlambat karena ada urusan terlebih dahulu di sekolah Ardan.Dia masuk ke ruang tengah yang sudah ramai. Suara tawa dan canda teman-teman sosialitanya terdengar dari kejauhan. Karena penasaran, dia mempercepat langkahnya untuk turut bergabung dalam obrolan seru mereka. Namun langkahnya terhenti tepat di dinding pembatas antar ruang, tempat acara berlangsung.“... kasihan, sih. Dia pikir kita mau berteman sama dia karena suka dan salut sama dia. Ih, enggak banget.”“Enggak mungkin banget ‘kan, ya?!”“Kalau kita enggak perlu koneksi ke keluarga Bhaga, aku juga enggak sudi deket-deket sama bekas babu kaya dia.”“Betul banget. Dia itu pintu paling gampang. Bayangkan privillege yang akan kita dapatkan juga.”“Anaknya sih, oke. Enggak aneh aneh. Tapi tetap aja ...”“... enggak sederajat sama kit

  • Di Ranjang Majikanku   325. Memilih Diam

    “Ini Binar, kekasih Bhaga”Kalimat itu jatuh ringan dari bibir Kiara. Pendek dan santai seakan tidak terasa seperti masalah untuk mengucapkannya.Namun justru karena terlalu pendek, Binar langsung merasakannya. Dia terdiam membeku, bingung ingin bereaksi bagaimana. Bahkan untuk tersenyum, dia kuatir salah.Di acara besar seperti ini, Binar tak ingin melakukan kesalahan sekecil apa pun yang dapat merugikan atau menjatuhkan keluarga Bhaga. Jadi sebisa mungkin dia memilih banyak diam sambil memperhatikan sekeliling.Ruangan private lounge hotel itu dipenuhi aroma parfum mahal dan suara gelas yang beradu pelan. Tawa perempuan-perempuan sosialita bercampur musik jazz yang diputar rendah dari pengeras suara sudut ruangan.Kiara berdiri di tengah lingkaran kecil bersama tiga perempuan baru yang belum pernah Binar lihat sebelumnya.“Yang ini Celine,” kata Kiara sambil tersenyum lebar. “Dia baru masuk Forbes Asia under forty.”Perempuan bergaun hitam itu tertawa kecil. “Kiara terlalu berlebiha

  • Di Ranjang Majikanku   324. Mulai Tak Nyaman

    “Berarti proyek kamu sebenarnya enggak benar-benar mulai dari nol, dong?”Sendok di tangan Binar berhenti tepat di atas piring demi mendengar kalimat yang meluncur dari Melissa.Suasana restoran masih ramai. Musik piano pelan mengalun dari sudut ruangan. Pelayan berlalu-lalang membawa makanan mahal yang ditata cantik. Namun kalimat Melissa barusan membuat semuanya terdengar sedikit menjauh.Binar mengangkat kepala dan matanya berkedip. “Maksudnya?”Melissa terlihat santai sambil mengaduk es. “Aku dengar pendanaan awal proyek kamu dari Om Djati.”“Bukan.” Nada suara Binar masih tenang. “Aku pakai tabungan pribadi.” Senyumnya muncul menetralisir rasa tidak nyaman yang tiba-tiba muncul menguasainya.“Oh.” Melissa tersenyum kecil. “Kupikir Om Djati yang biayain.”“Papi bantu kenalin aku ke beberapa orang.” Binar meletakkan sendoknya pelan. “Tapi modal awal tetap dari aku.”Kiara yang duduk di samping langsung menyelipkan senyum ringan. “Tetap saja ada privilege keluarga mereka di belakang

  • Di Ranjang Majikanku   154. Aku Di Sini Bersamamu

    Binar tak bisa berhenti tersenyum. Hatinya sedang berbunga-bunga saat mengingat kembali percintaannya dengan Bhaga semalam. Pipinya memerah meski sedang sendirian di kamar.Setiap kali bayangan sentuhan Bhaga, bisikan sayang, dan keintiman yang mereka bagi muncul di benaknya, sebuah kebahagiaan yan

    last updateLast Updated : 2026-03-29
  • Di Ranjang Majikanku   243. Ulang Tahun Ardan

    Pesta ulang tahun Ardan yang ke-6 berlangsung meriah.Ruang tamu rumah utama disulap menjadi lautan biru. Balon-balon berbentuk dinosaurus bergelantungan di setiap sudut, ada yang berbentuk T-rex, ada yang brontosaurus panjang melingkar di tiang teras. Spanduk kecil bertuliskan "HAPPY BIRTHDAY ARDA

    last updateLast Updated : 2026-04-05
  • Di Ranjang Majikanku   244. Aku Butuh Pelepasan

    Binar menghela napas lega dengan senyum puas. Akhirnya acara selesai dengan baik, walaupun tak begitu lama, tapi Ardan terlihat begitu bahagia. Begitu juga dengan anak-anak yang lain. Dia bersyukur bisa memberikan kenangan baru untuk Ardan.Dia berbalik, setelah mengantar tamu terakhir untuk pulang

    last updateLast Updated : 2026-04-05
  • Di Ranjang Majikanku   246. Memendam Kecewa

    Makan malam selesai tak begitu lama setelah obrolan mereka berakhir. Djati benar-benar tak memberikan jeda Binar untuk menolak bahkan untuk berpikir pun tidak ada.Dia hanya terus melontarkan kalimat motivasi, dan Binar lebih terbuka pandangannya.Sopir Djati mengantar Binar pulang.Sepanjang perja

    last updateLast Updated : 2026-04-05
More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status