แชร์

Di Ujung Kabut Itu, Dia Tak Kembali
Di Ujung Kabut Itu, Dia Tak Kembali
ผู้แต่ง: Cupcake

Bab 1

ผู้เขียน: Cupcake
Di foto itu, Arka tampak gagah dengan setelan jasnya. Dia terlihat tampan bagaikan pangeran. Sementara, Marissa sendiri mengenakan gaun pengantin yang tidak ternilai harganya. Dia tersenyum dengan begitu lembut dan menawan.

"Sudah tiga tahun …." gumam Marissa pada dirinya sendiri. Ujung jarinya mengusap bingkai foto itu dengan lembut. "Akhirnya, semua ini akan segera berakhir."

Tiga tahun lalu, pernikahan antara dua keluarga konglomerat, yaitu Keluarga Kivandra dan Keluarga Pranaya, menggemparkan dunia. Kakak kembar Marissa, Marina Pranaya, adalah menantu pilihan Keluarga Kivandra.

Namun, tepat di malam menjelang pernikahan, Marina meninggalkan sepucuk surat dan melarikan diri.

[Ayah, Ibu, aku nggak mau terikat perjodohan ini. Tapi, aku tahu ini tanggung jawabku. Beri aku waktu tiga tahun untuk mencari kebebasan. Tiga tahun lagi, aku akan kembali.]

Demi mempertahankan kerja sama antara kedua keluarga, ayah dan ibu Marina terpaksa menjemput putri bungsu kembar mereka yang sejak kecil dibuang di desa.

Marissa yang tumbuh besar di pedesaan dan bahkan tidak berhak untuk menghadiri pertemuan keluarga, akhirnya menjadi "pengantin pengganti" dengan menggunakan nama Marina.

"Arka nggak mencintai kakakmu. Dia mencintai seorang siswi miskin yang dibiayai keluarganya." Ibunya memperingatkan Marissa dengan nada yang dingin pada malam sebelum pernikahan. "Kamu nggak bakal hidup enak setelah menikah dengannya. Tapi, asal kamu menurut dan bertahan menyamar sebagai kakakmu selama tiga tahun ini, itu sudah cukup."

Marissa ingat, saat itu dia hanya mengangguk patuh.

Tentu saja, dia tahu siapa Arka, sosok yang sering muncul di majalah bisnis, putra keluarga kaya paling terpandang di kalangan kelas atas ibu kota dan pria yang dikejar-kejar oleh banyak wanita terhormat.

Marissa juga pernah mendengar kisah tentang Arka dan Shalia Rajata.

Shalia adalah siswi miskin yang dibiayai oleh Keluarga Kivandra, yang berhasil masuk ke universitas ternama berkat beasiswa. Arka begitu dalam mencintainya, bahkan rela menentang keluarga demi bersamanya. Akan tetapi, Shalia adalah sosok yang dingin dan memiliki harga diri yang tinggi. Shalia tidak sudi menerima hubungan yang tidak direstui. Oleh karena itu, Shalia pun memilih untuk mengakhiri hubungan tersebut dan pergi ke luar negeri.

Keluarga Kivandra sangat gembira dengan keputusan itu dan segera mengatur perjodohan untuk Arka.

Kehidupan setelah menikah, ternyata jauh lebih menyiksa dibanding yang dibayangkan.

Ruang kerja Arka penuh dengan foto-foto Shalia. Setiap minggu, Arka memiliki jadwal rutin terbang ke Negara Arunda hanya untuk menemui Shalia secara diam-diam. Sementara itu, Marissa sebagai istrinya, bahkan tidak memiliki hak untuk menginjakkan kaki di kamar tidur utama. Marissa hanya bisa tidur di kamar tamu yang terletak di ujung lorong.

Marissa sangat berhati-hati. Dia berusaha sebaik mungkin untuk berperan sebagai Marina. Demi tidak mengganggu kerja sama antara kedua keluarga, selama tiga tahun ini, Marissa bahkan memperlakukan Arka dengan begitu baik, hingga seperti tidak normal.

Jika suaminya lembur, Marissa akan membiarkan lampu teras menyala semalaman untuk menunggunya. Jika perut suaminya bermasalah, Marissa akan bangun jam lima pagi untuk memasak bubur yang menenangkan perut. Jika suaminya menyukai ketenangan, Marissa akan menjadikan dirinya sosok yang paling tenang di rumah itu.

Lambat laun, mulai beredar kabar di sirkel mereka, bahwa istri Pak Arka sangat mencintai Pak Arka. Pandangan Arka kepada Marissa juga seolah-olah menunjukkan perubahan yang tidak kentara.

Foto-foto Shalia di ruang kerja menghilang dan perjalanan mingguan ke Negara Arunda dibatalkan. Arka mulai mengingat hari ulang tahun Marissa, pulang lebih awal saat Marissa sedang flu, bahkan mulai melakukan hubungan suami istri dengan Marissa.

Marissa hampir saja mengira jika dalam pernikahan pengganti ini, mulai tumbuh perasaan yang tulus.

Sampai Shalia kembali, tiga bulan yang lalu.

Segalanya pun kembali ke titik semula.

Hati Arka kembali dikuasai oleh Shalia. Arka mulai tidak pulang ke rumah semalaman dan ruang kerjanya kembali penuh oleh foto-foto Shalia. Semua orang mengejek Marissa dan menganggapnya sebagai lelucon. Akan tetapi, Marissa hanya tersenyum tenang dan tidak membuat keributan.

Itu karena sejak awal, Marissa memang tidak pernah mencintai Arka.

Alasan Marissa tetap bertahan di sisi pria itu hanyalah demi uang dan kebebasan yang dijanjikan oleh orang tuanya. Jika Arka mencintainya, memang akan membuat hidupnya sedikit lebih mudah, tetapi jika tidak, Marissa juga tidak peduli.

Tidak ada yang tahu bahwa meskipun Marissa dan Marina adalah sepasang anak kembar, nasib mereka benar-benar seperti langit dan bumi.

Saat melahirkan Marissa, ibunya mengalami pendarahan hebat dan hampir kehilangan nyawa. Sejak saat itu, pandangan ibunya kepada Marissa selalu penuh dengan kebencian. Sementara, ayahnya yang sangat memuja istrinya, menganggap Marissa sebagai pembawa sial.

Pada usia lima tahun, Marissa dikirim ke desa untuk tinggal di rumah pengasuh.

Marissa masih ingat di musim hujan itu, dia menggigil kedinginan ketika penghangat di rumah pengasuh rusak. Dia sampai gemetaran menahan dingin. Akan tetapi, dia tidak memiliki baju hangat satu pun. Sementara itu, Marina berada di dalam vila yang hangat, mengenakan baju kain wol yang mahal dan dimanjakan sepenuh hati oleh kedua orang tua mereka.

Perlakuan berbeda selama 18 tahun sudah lama mengikis habis harapan Marissa akan kasih sayang keluarga.

Kini, hanya tinggal satu bulan lagi. Marissa akan mendapatkan 60 miliar hasil dari perannya menjadi Marina selama tiga tahun ini. Marissa akan meninggalkan kota ini dan menjalani hidupnya sendiri.

Di saat suasana hatinya sedang baik itu, ponsel Marissa tiba-tiba bergetar dan nama penelepon muncul di layar.

Arka.

Marissa menarik napas dalam-dalam, lalu mengangkatnya. "Halo?"

"Dalam dua puluh menit, antarkan pembalut ke Belvara." Suara Arka terdengar sedingin es. "Yang untuk malam hari."

Telepon ditutup tanpa ragu. Marissa menggenggam ponselnya. Dia langsung paham, untuk siapa barang itu ditujukan.

Arka jauh lebih ingat siklus haid Shalia, dibanding tanggal peluncuran perusahaannya di bursa saham.

Di luar jendela, hujan turun dengan sangat deras. Dari vila Keluarga Kivandra menuju kelab malam Belvara, setidaknya membutuhkan waktu 40 menit dengan mobil.

Namun, Marissa tetap mengambil payung dan keluar rumah.

Di tengah jalan, mobilnya terjebak kemacetan. Marissa melirik jam tangannya, masih tersisa 12 menit lagi. Sambil menggertakkan gigi, Marissa membuka pintu mobil dan segera menerobos hujan.

Air hujan dengan cepat membasahi pakaiannya. Sepatu hak tingginya beberapa kali tergelincir di permukaan jalan yang licin. Marissa bahkan tersandung dan jatuh tersungkur ke dalam genangan air. Lututnya terasa perih.

Akan tetapi, Marissa tidak memedulikan semua itu. Dia bangkit dan terus berlari, hingga akhirnya tiba di kelab malam tepat pada menit kesembilan belas.

Di depan pintu ruang privat, saat Marissa hendak mengetuk, terdengar gelak tawa dari dalam.

"Pak Arka, hujan sederas ini, Anda benar-benar menyuruh Kak Marissa mengantarkan barang itu? Dari rumah Anda ke sini paling nggak butuh waktu 40 menit, 'kan?"

"Shalia sangat kesakitan." Suara Arka terdengar acuh tak acuh. "Dia pasti akan mencari cara untuk datang."

"Benar juga, siapa pun tahu kalau Kak Marissa sangat mencintai Anda. Selama tiga tahun ini, meski ada orang lain di hati Anda, dia tetap setia tanpa mengeluh sedikit pun."

Seseorang mulai memanaskan suasana. "Tapi Pak Arka, jujur saja. Begitu dicintai oleh wanita secantik itu selama tiga tahun ini, apa Anda sama sekali nggak tergoda?"

Ruang privat itu langsung menjadi sunyi.

Marissa menahan napas. Dia mendengar Arka terdiam selama beberapa saat, lalu berkata, "Kapan pun itu, antara Shalia dan dia, aku akan selalu memilih Shalia."

Kata-kata yang begitu tidak berperasaan. Akan tetapi, Marissa sama sekali tidak merasa sedih. Sebaliknya, dia justru merasa lega. Marissa menunggu sampai pembicaraan di dalam selesai, baru kemudian mengetuk pintu.

Saat dia mendorong pintu dan masuk, semua orang menatapnya dengan terkejut.

"Gila, tepat waktu banget!"

"Kak Marissa … kok sampai basah kuyup begini?"

Arka berdiri. Dia mengerutkan kening. "Kok kamu bisa jadi berantakan begini?"

Marissa menyerahkan pembalut yang dilindunginya dengan baik itu. "Bukankah kamu bilang butuh ini dalam 20 menit? Aku takut kamu terburu-buru, jadi aku turun dari mobil dan berlari ke sini."

Marissa tidak menyebut soal dia jatuh sebelumnya, juga tidak mengatakan bahwa lututnya sekarang begitu sakit hingga gemetar.

Tatapan mata Arka sedikit berubah. Tiba-tiba, Arka melepas jasnya dan menyelimutkannya ke tubuh Marissa. "Pakai ini."

Lalu Arka menunjuk pembalut di tangan Marissa. "Antarkan ke toilet wanita."

Marissa mengangguk, lalu berjalan patuh menuju toilet.

Saat mengetuk pintu, Marissa mendengar suara lembut Shalia dari dalam. "Siapa?"

"Aku mengantarkan pembalut."

Suasana di dalam menjadi hening selama beberapa saat, lalu pintu terbuka sedikit. Marissa menyerahkan barang itu ke dalam dan segera berbalik pergi.

Setibanya di rumah, Marissa mandi dengan air panas. Luka di lututnya terasa berdenyut nyeri.

Saat berbaring di tempat tidur, memikirkan dirinya sebentar lagi akan terbebas, Marissa pun merasakan lega yang tidak terlukiskan.

Baru saja dia hampir terlelap, pintu kamarnya tiba-tiba ditendang hingga terbuka lebar.

Arka menyerbu masuk dan langsung mencengkeram pergelangan tangannya. "Bangun!"

Belum sempat Marissa bereaksi, dia sudah diseret dengan kasar dari tempat tidur. Lalu dengan langkah terhuyung-huyung, dia ditarik sampai ke depan tangga.

"Arka? Apa yang kamu …."

Sebelum Marissa bisa menyelesaikan kalimatnya, sebuah kekuatan besar menghantamnya. Tubuhnya terlempar ke belakang. Bagian belakang kepalanya membentur anak tangga dengan keras dan Marissa pun terguling jatuh ke bawah tangga.

Rasa sakit yang hebat langsung menjalar ke seluruh tubuh Marissa.

Marissa terbaring di dasar tangga. Pandangannya kabur, sementara cairan hangat mengalir dari dahinya.

"Kenapa …." Marissa mencoba menopang tubuhnya dengan susah payah. "Melakukan ini … kepadaku?"

Arka berdiri di puncak tangga. Raut wajahnya tidak terlihat jelas karena membelakangi cahaya. Akan tetapi, suaranya terdengar begitu dingin hingga menusuk tulang.

"Apa kamu yang mendorong Shalia jatuh?"

Marissa menengadah dengan tatapan kosong. "Apa?"

"Jangan pura-pura!" Arka menuruni tangga satu demi satu. "Berpura-pura murah hati selama beberapa bulan ini, ternyata cuma demi menunggu hari ini, 'kan? Apa kamu tahu, kamu mendorong Shalia dari jendela, membuatnya patah tulang di sekujur tubuh dan hampir saja mati!"

"Aku nggak …." Marissa menggelengkan kepala dengan lemah. Namun, gerakan itu memicu luka di kepalanya, sehingga dia merasakan pusing yang begitu hebat.

Arka berjongkok dan mencengkeram dagu Marissa kuat-kuat. "Marina, apa kebaikanku padamu selama beberapa tahun terakhir ini bikin kamu berhalusinasi? Biar kuberi tahu sekali lagi, kita ini cuma menikah demi kepentingan, nggak ada perasaan."

Arka pun mendekatkan wajahnya ke telinga Marissa, lalu menekankan tiap kata yang dia ucapkan, "Cinta yang kamu inginkan itu, nggak akan pernah bisa kuberikan selamanya!"

Pandangan Marissa mulai menjadi gelap karena rasa sakit. Namun, tiba-tiba dia merasa ingin tertawa.

Namun, sejak awal … dia memang tidak pernah menginginkan cinta Arka.

อ่านหนังสือเล่มนี้ต่อได้ฟรี
สแกนรหัสเพื่อดาวน์โหลดแอป

บทล่าสุด

  • Di Ujung Kabut Itu, Dia Tak Kembali   Bab 24

    Salju di Kota Nolam turun dengan tiba-tiba.Arka berdiri di depan pintu penginapan milik Marissa. Lapisan tipis salju menempel pada jaket hitamnya. Ujung jarinya memerah karena kedinginan, tetapi dia tetap menggenggam erat amplop dokumen itu.Arka menatap nanar ke arah pintu yang tertutup rapat itu. Jakunnya bergerak naik turun, sebelum akhirnya dia mengangkat tangan dan mengetuk pintu itu.Pintu pun terbuka.Marissa berdiri di depan pintu. Saat melihat pria itu, ekspresinya tidak menunjukkan emosi sedikit pun. "Ada apa?"Napas Arka tertahan sejenak.Arka mengira, saat kembali bertemu dengan Marissa, akan ada banyak hal yang ingin disampaikan. Namun, ketika momen itu benar-benar tiba, Arka justru merasa tenggorokannya seperti tersumbat. Tidak ada satu kata pun yang mampu dia ucapkan."Aku …." Suara Arka terdengar serak. Dia menyodorkan amplop dokumen di tangannya. "Ingin kamu mau melihatnya sebentar."Pandangan Marissa tertuju pada dokumen itu. Namun, dia tidak menerimanya. "Apa ini?"

  • Di Ujung Kabut Itu, Dia Tak Kembali   Bab 23

    Arka berdiri di halaman. Tetesan darah dari buku jarinya menetes ke tanah. Namun, dia sama sekali tidak merasakan sakit.Tatapannya tertuju ke arah perginya Marissa, sementara dadanya dipenuhi amarah dan penyesalan yang belum pernah dia rasakan sebelumnya."Pak Arka!" Asisten Arka buru-buru mendekat sambil memegang sebuah map dokumen dengan ekspresi wajah yang serius. "Sudah ketemu."Arka perlahan menarik kembali pandangannya. Suaranya terdengar sedingin es. "Apa itu?"Asisten itu sempat ragu untuk sesaat, tetapi tetap menyerahkan map itu. "Ini … semua hal yang sudah dilakukan Bu Shalia kepada Bu Marissa selama bertahun-tahun ini."Arka menyambar map dokumen itu dan membukanya dengan kasar.Di dalamnya terdapat setumpuk foto, tangkapan layar kamera pengawas dan berkas rekaman suara. Arka membolak-balik beberapa lembar secara acak dan seketika itu juga matanya langsung terbelalak.Di foto-foto itu, Shalia berdiri di ujung tangga. Saat tidak ada orang di sekitar, dia dengan sengaja menum

  • Di Ujung Kabut Itu, Dia Tak Kembali   Bab 22

    Arka tidak siap dan terhuyung mundur beberapa langkah hingga sudut bibirnya mengeluarkan sedikit darah."Jauh-jauh darinya!" Yoga berdiri menghalang di depan Marissa. Tatapannya tajam bagaikan pisau. Suaranya mengandung peringatan yang tidak dia sembunyikan, "Sentuh dia sekali lagi, aku akan langsung lapor polisi."Arka mengangkat tangan untuk menyeka darah di sudut bibirnya. Dia menatap Yoga dengan pandangan muram, sebelum kemudian beralih menatap Marissa.Ekspresi wanita itu tetap tenang, seakan semua yang baru saja terjadi sama sekali tidak ada hubungannya dengan dirinya."Jadi begitu rupanya …." Arka tertawa dingin, matanya dipenuhi gejolak emosi yang rumit. "Kamu meninggalkanku karena dia?"Marissa berdiri, menepuk-nepuk debu yang sebenarnya tidak ada di gaunnya, lalu berkata dengan acuh tak acuh, "Arka, apa kamu nggak ngerasa terlalu percaya diri?""Aku pergi darimu, sama sekali bukan karena siapa pun."Mata Arka langsung terbelalak. Dadanya terasa seperti dihantam palu godam, ba

  • Di Ujung Kabut Itu, Dia Tak Kembali   Bab 21

    Sore itu, badai tiba-tiba datang.Marissa sedang menyeduh kopi di dapur. Guntur menggelegar di luar jendela dan tetesan hujan menghantam kaca dengan keras.Baru saja Marissa selesai menutup jendela, tiba-tiba terdengar suara ketukan pintu yang terburu-buru."Siapa?" Marissa membuka pintu. Yoga berdiri di sana dalam keadaan basah kuyup, sementara tangannya mendekap sesuatu dengan erat di pelukannya."Cepat masuk!" Marissa segera bergeser ke samping untuk membiarkan Yoga masuk ke rumah.Yoga buru-buru melangkah masuk dan membuka jaketnya dengan hati-hati. Seekor anak kucing putih yang kurus tampak meringkuk di dalam pelukannya, gemetar kedinginan."Aku menemukannya di persimpangan gang, hampir saja hanyut terbawa air," kata Yoga dengan suara rendah, tersirat rasa iba yang mendalam.Marissa segera mengambil handuk dan membungkus anak kucing itu dengan lembut. "Keringkan dulu, aku akan ambil pengering rambut."Baru saja Marissa hendak berbalik, pergelangan tangannya mendadak ditarik oleh Y

  • Di Ujung Kabut Itu, Dia Tak Kembali   Bab 20

    Arka berdiri di sudut jalan Kota Nolam. Embusan angin laut yang membawa aroma asin dan lembap menerpa wajahnya.Arka menatap kota yang asing, tetapi makmur di hadapannya itu dengan tatapan muram dan lelah.Sudah satu bulan berlalu. Dia sudah hampir menyisir setiap sudut Kota Nolam, tetapi tetap saja tidak menemukan jejak Marissa sedikit pun.Petunjuk yang dikirimkan asistennya hanya menyebutkan bahwa wanita itu membeli tiket pesawat menuju Kota Nolam. Namun, kota ini begitu luas, di manakah sebenarnya Marissa bersembunyi?Arka memijat pelipisnya. Kelelahan akibat mencari selama berhari-hari membuat matanya tampak merah.Arka mengangkat tangan untuk melirik jam tangannya. Sudah pukul sembilan malam dan pejalan kaki di jalanan mulai berangsur sepi.Arka berjalan tanpa tujuan. Tatapannya menyapu setiap sosok yang melintas, takut jika melewatkan kemungkinan sekecil apa pun.Tiba-tiba, langkah kaki Arka terhenti.Tidak jauh di depan, seorang wanita yang mengenakan gaun putih sedang berdiri

  • Di Ujung Kabut Itu, Dia Tak Kembali   Bab 19

    Di sisi lain, Marissa berdiri di tepi laut. Angin laut yang lembap dan asin membelai pipinya, membuat helai rambutnya berkibar lembut.Di kejauhan, matahari terbenam mewarnai permukaan laut dengan warna oranye kemerahan. Deburan ombak menggulung ke pantai lapis demi lapis, lalu perlahan kembali menyurut.Marissa menarik napas dalam-dalam, memejamkan mata dan merasakan ketenangan yang sudah lama tidak dia rasakan."Bu Marissa?"Terdengar suara pria yang lembut dari arah belakang.Marissa menoleh dan melihat seorang pria bertubuh tinggi dan tegap, berdiri tidak jauh darinya, sambil menjinjing sekantong makanan laut segar.Pria itu mengenakan kemeja putih sederhana dan celana santai. Wajahnya tampak bersih dan tampan, dengan senyum tipis tersungging di bibirnya."Aku Yoga Diratama, tinggal di sebelah rumahmu." Yoga melangkah mendekat. Suaranya terdengar hangat. "Kudengar kamu baru pindah hari ini. Jadi, aku bawakan sedikit hasil laut sebagai salam kenal antar tetangga."Marissa agak terte

  • Di Ujung Kabut Itu, Dia Tak Kembali   Bab 8

    Setelah berkata seperti itu dengan wajah dingin, Arka lalu berbalik dan meninggalkan ruang bawah tanah.Marissa mendengarkan langkah kaki Arka yang perlahan menjauh, lalu baru berani berdiri perlahan sambil berpegangan pada dinding.Selama tiga hari berikutnya, Marissa mengurung diri di dalam kamar

  • Di Ujung Kabut Itu, Dia Tak Kembali   Bab 7

    Pandangan Arka menyapu sekujur tubuh Marissa, seolah ingin memastikan apakah Marissa terluka atau tidak. Akhirnya, Arka pun menghela napas lega. "Apa yang terjadi selama tiga hari ini?"Marissa tersenyum tipis, membuat bibirnya yang pecah-pecah merembeskan darah. "Nggak ada apa-apa."Marissa langsun

  • Di Ujung Kabut Itu, Dia Tak Kembali   Bab 6

    Saat Marissa kembali terbangun, yang terlihat di depan matanya adalah langit-langit rumah sakit yang berwarna putih pucat."Akhirnya kamu sadar juga!" Perawat itu menghela napas lega. "Luka-lukamu begitu parah. Kami harus segera menghubungi keluargamu."Perawat itu terdiam sejenak, lalu tidak tahan

  • Di Ujung Kabut Itu, Dia Tak Kembali   Bab 5

    Marissa membuka matanya karena kesakitan dan mendapati dirinya sudah kembali ke kediaman Keluarga Kivandra.Arka tengah duduk di tepi tempat tidur. Dia menatap Marissa dengan muram. "Apa yang barusan kamu katakan soal pergi?"Jantung Marissa berdegap kencang. Dengan suara serak, dia mencoba berpura-

บทอื่นๆ
สำรวจและอ่านนวนิยายดีๆ ได้ฟรี
เข้าถึงนวนิยายดีๆ จำนวนมากได้ฟรีบนแอป GoodNovel ดาวน์โหลดหนังสือที่คุณชอบและอ่านได้ทุกที่ทุกเวลา
อ่านหนังสือฟรีบนแอป
สแกนรหัสเพื่ออ่านบนแอป
DMCA.com Protection Status