Share

Bab 2

Author: Cupcake
Baru saja Marissa hendak angkat bicara, Arka sudah menariknya berdiri dengan wajah dingin.

"Mau pura-pura sampai kapan?" Suara Arka terdengar sedingin es. "Shalia jatuh dari lantai lima. Sementara kamu cuma terguling jatuh dari lantai dua."

"Bangun. Pergi ke rumah sakit untuk minta maaf padanya."

Pria itu menyeret Marissa keluar tanpa ampun. Dia sama sekali tidak peduli pada dahi Marissa yang masih bersimbah darah atau luka di lutut Marissa yang kembali robek. Setiap langkah yang diambil Marissa terasa begitu menyakitkan.

Marissa dipaksa masuk ke mobil. Dia hanya terdiam membisu sepanjang perjalanan.

Marissa menatap pemandangan yang melintas di luar jendela. Dalam hatinya, dia hanya berpikir, 'Tahan sebentar lagi.'

'Tahan sebentar lagi. Sebentar lagi akan terbebas.'

Di dalam ruang perawatan rumah sakit, Shalia tampak bersandar lemah di kepala ranjang. Wajahnya pucat dan pergelangan tangannya terbalut perban.

Begitu melihat Marissa, Shalia segera meringkuk ketakutan dan matanya langsung memerah.

"Arka …." Suara Shalia bergetar, seperti seekor rusa kecil yang ketakutan. "Aku, aku nggak mau ketemu dia …."

Arka segera mendekat dan menggenggam tangan Shalia dengan lembut. "Jangan takut. Aku ada di sini. Nggak ada yang berani mengganggumu."

Setelah berkata seperti itu, Arka menoleh dan menatap Marissa dengan dingin. "Untuk apa berdiri saja di sana? Minta maaf."

Marissa tampak begitu lelah, tetapi dia begitu tenang.

Marissa menatap Shalia lekat-lekat, lalu bertanya dengan suara pelan, "Bu Shalia, benarkah aku yang mendorongmu waktu kamu jatuh dari jendela?"

Bulu mata Shalia bergetar dan air matanya langsung menetes. "Kalau Bu Marissa nggak mau minta maaf, ya sudah. Aku juga nggak pernah berniat buat cari masalah denganmu."

Shalia terisak. Suaranya terdengar begitu menderita. "Aku tahu, beberapa hari ini Arka selalu bersamaku. Wajar kalau kamu merasa kesal. Tapi, hubungan kalian sejak awal cuma karena dijodohkan. Dia juga nggak mencintaimu. Kalau bukan karena keluargaku yang nggak setara dengannya, dia nggak akan pernah jadi milikmu …."

Makin Shalia bicara, tangisnya makin keras. Wajah Arka juga tampak makin muram.

"Marissa!" bentak Arka memotong pembicaraan. "Aku bawa kamu ke sini untuk minta maaf, bukan untuk memprovokasinya! Kamu mau minta maaf atau nggak?"

Marissa memejamkan matanya sejenak.

Dia tahu betul, Shalia sedang menjebaknya.

Namun … Marissa akan segera pergi.

Marissa tidak boleh membiarkan kerja sama antara kedua keluarga mereka mengalami masalah. Jika tidak, dia tidak akan mendapatkan 60 miliar itu, juga tidak akan mendapatkan kebebasannya.

"Maaf," ucap Marissa lirih. "Aku yang salah."

Setelah mengatakannya, Marissa berbalik untuk segera pergi.

"Berhenti," panggil Arka dengan suara dingin. "Karena kamu yang mendorongnya, tetaplah di sini untuk merawatnya sampai dia keluar dari rumah sakit."

Jari-jari Marissa sedikit mengepal. Namun, pada akhirnya dia tetap menganggukkan kepalanya. "Baik."

Hari-hari berikutnya, Marissa tidak pernah beranjak dari ruang perawatan Shalia.

Arka sendiri juga hampir menetap di rumah sakit, meninggalkan semua urusan perusahaannya demi menyuapi bubur, menyeka tangan, hingga menidurkan Shalia sendiri ….

Semua itu, tidak pernah sekali pun dia lakukan untuk Marissa.

Namun, Marissa sama sekali tidak cemburu. Dia hanya diam menjaga dan merawat Shalia di sisinya dengan raut wajah tenang. Seakan-akan, semua itu tidak ada hubungannya dengan dirinya.

Para perawat saling berbisik di belakang mereka.

"Astaga, baru kali ini aku melihat seorang istri yang begitu murah hati!"

"Kamu nggak ngerti. Inilah tingkat tertinggi dalam mencintai seseorang," sahut perawat lain sambil menghela napas. "Karena terlalu mencintai Pak Arka, dia rela merawat orang yang disukai suaminya, hanya demi mendapatkan sedikit perhatian darinya. Benar-benar malang."

Ucapan itu kebetulan terdengar oleh Arka yang sedang lewat.

Langkah Arka terhenti sejenak. Tatapannya tanpa sadar mendarat pada sosok ramping yang berada di dalam ruang perawatan itu.

Marissa sedang menundukkan kepala, mengupas apel dengan saksama. Wajahnya dari samping terlihat tenang dan patuh.

Tiba-tiba saja, muncul perasaan aneh di hati Arka.

Pada hari Shalia keluar dari rumah sakit, Arka langsung berkata kepada Marissa, "Beberapa hari ke depan, aku akan membawa Shalia berlibur. Jangan hubungi aku, kalau nggak ada urusan penting."

Marissa menganggukkan kepalanya. "Baik."

Marissa menatap punggung Arka yang menggandeng Shalia pergi. Di dalam hatinya, Marissa justru merasa sedikit lega.

Akhirnya, dia tidak perlu lagi berhadapan dengan mereka.

Sesampainya di rumah, Marissa mulai mengemasi barang-barangnya, mempersiapkan kepergiannya yang tidak lama lagi.

Beberapa hari kemudian, Marissa melihat unggahan di akun media sosial Shalia.

Arka membawa Shalia ke Malinka, dia rela keluar uang tanpa batas demi memenangkan barang lelang untuk Shalia dan menghabiskan banyak uang demi membeli perhiasan yang disukai Shalia ….

Marissa hanya meliriknya sekilas, lalu menggeser layar ponselnya dengan tenang.

Marissa tidak peduli.

Dia memang tidak pernah peduli sejak awal ....

Patuloy na basahin ang aklat na ito nang libre
I-scan ang code upang i-download ang App

Pinakabagong kabanata

  • Di Ujung Kabut Itu, Dia Tak Kembali   Bab 24

    Salju di Kota Nolam turun dengan tiba-tiba.Arka berdiri di depan pintu penginapan milik Marissa. Lapisan tipis salju menempel pada jaket hitamnya. Ujung jarinya memerah karena kedinginan, tetapi dia tetap menggenggam erat amplop dokumen itu.Arka menatap nanar ke arah pintu yang tertutup rapat itu. Jakunnya bergerak naik turun, sebelum akhirnya dia mengangkat tangan dan mengetuk pintu itu.Pintu pun terbuka.Marissa berdiri di depan pintu. Saat melihat pria itu, ekspresinya tidak menunjukkan emosi sedikit pun. "Ada apa?"Napas Arka tertahan sejenak.Arka mengira, saat kembali bertemu dengan Marissa, akan ada banyak hal yang ingin disampaikan. Namun, ketika momen itu benar-benar tiba, Arka justru merasa tenggorokannya seperti tersumbat. Tidak ada satu kata pun yang mampu dia ucapkan."Aku …." Suara Arka terdengar serak. Dia menyodorkan amplop dokumen di tangannya. "Ingin kamu mau melihatnya sebentar."Pandangan Marissa tertuju pada dokumen itu. Namun, dia tidak menerimanya. "Apa ini?"

  • Di Ujung Kabut Itu, Dia Tak Kembali   Bab 23

    Arka berdiri di halaman. Tetesan darah dari buku jarinya menetes ke tanah. Namun, dia sama sekali tidak merasakan sakit.Tatapannya tertuju ke arah perginya Marissa, sementara dadanya dipenuhi amarah dan penyesalan yang belum pernah dia rasakan sebelumnya."Pak Arka!" Asisten Arka buru-buru mendekat sambil memegang sebuah map dokumen dengan ekspresi wajah yang serius. "Sudah ketemu."Arka perlahan menarik kembali pandangannya. Suaranya terdengar sedingin es. "Apa itu?"Asisten itu sempat ragu untuk sesaat, tetapi tetap menyerahkan map itu. "Ini … semua hal yang sudah dilakukan Bu Shalia kepada Bu Marissa selama bertahun-tahun ini."Arka menyambar map dokumen itu dan membukanya dengan kasar.Di dalamnya terdapat setumpuk foto, tangkapan layar kamera pengawas dan berkas rekaman suara. Arka membolak-balik beberapa lembar secara acak dan seketika itu juga matanya langsung terbelalak.Di foto-foto itu, Shalia berdiri di ujung tangga. Saat tidak ada orang di sekitar, dia dengan sengaja menum

  • Di Ujung Kabut Itu, Dia Tak Kembali   Bab 22

    Arka tidak siap dan terhuyung mundur beberapa langkah hingga sudut bibirnya mengeluarkan sedikit darah."Jauh-jauh darinya!" Yoga berdiri menghalang di depan Marissa. Tatapannya tajam bagaikan pisau. Suaranya mengandung peringatan yang tidak dia sembunyikan, "Sentuh dia sekali lagi, aku akan langsung lapor polisi."Arka mengangkat tangan untuk menyeka darah di sudut bibirnya. Dia menatap Yoga dengan pandangan muram, sebelum kemudian beralih menatap Marissa.Ekspresi wanita itu tetap tenang, seakan semua yang baru saja terjadi sama sekali tidak ada hubungannya dengan dirinya."Jadi begitu rupanya …." Arka tertawa dingin, matanya dipenuhi gejolak emosi yang rumit. "Kamu meninggalkanku karena dia?"Marissa berdiri, menepuk-nepuk debu yang sebenarnya tidak ada di gaunnya, lalu berkata dengan acuh tak acuh, "Arka, apa kamu nggak ngerasa terlalu percaya diri?""Aku pergi darimu, sama sekali bukan karena siapa pun."Mata Arka langsung terbelalak. Dadanya terasa seperti dihantam palu godam, ba

  • Di Ujung Kabut Itu, Dia Tak Kembali   Bab 21

    Sore itu, badai tiba-tiba datang.Marissa sedang menyeduh kopi di dapur. Guntur menggelegar di luar jendela dan tetesan hujan menghantam kaca dengan keras.Baru saja Marissa selesai menutup jendela, tiba-tiba terdengar suara ketukan pintu yang terburu-buru."Siapa?" Marissa membuka pintu. Yoga berdiri di sana dalam keadaan basah kuyup, sementara tangannya mendekap sesuatu dengan erat di pelukannya."Cepat masuk!" Marissa segera bergeser ke samping untuk membiarkan Yoga masuk ke rumah.Yoga buru-buru melangkah masuk dan membuka jaketnya dengan hati-hati. Seekor anak kucing putih yang kurus tampak meringkuk di dalam pelukannya, gemetar kedinginan."Aku menemukannya di persimpangan gang, hampir saja hanyut terbawa air," kata Yoga dengan suara rendah, tersirat rasa iba yang mendalam.Marissa segera mengambil handuk dan membungkus anak kucing itu dengan lembut. "Keringkan dulu, aku akan ambil pengering rambut."Baru saja Marissa hendak berbalik, pergelangan tangannya mendadak ditarik oleh Y

  • Di Ujung Kabut Itu, Dia Tak Kembali   Bab 20

    Arka berdiri di sudut jalan Kota Nolam. Embusan angin laut yang membawa aroma asin dan lembap menerpa wajahnya.Arka menatap kota yang asing, tetapi makmur di hadapannya itu dengan tatapan muram dan lelah.Sudah satu bulan berlalu. Dia sudah hampir menyisir setiap sudut Kota Nolam, tetapi tetap saja tidak menemukan jejak Marissa sedikit pun.Petunjuk yang dikirimkan asistennya hanya menyebutkan bahwa wanita itu membeli tiket pesawat menuju Kota Nolam. Namun, kota ini begitu luas, di manakah sebenarnya Marissa bersembunyi?Arka memijat pelipisnya. Kelelahan akibat mencari selama berhari-hari membuat matanya tampak merah.Arka mengangkat tangan untuk melirik jam tangannya. Sudah pukul sembilan malam dan pejalan kaki di jalanan mulai berangsur sepi.Arka berjalan tanpa tujuan. Tatapannya menyapu setiap sosok yang melintas, takut jika melewatkan kemungkinan sekecil apa pun.Tiba-tiba, langkah kaki Arka terhenti.Tidak jauh di depan, seorang wanita yang mengenakan gaun putih sedang berdiri

  • Di Ujung Kabut Itu, Dia Tak Kembali   Bab 19

    Di sisi lain, Marissa berdiri di tepi laut. Angin laut yang lembap dan asin membelai pipinya, membuat helai rambutnya berkibar lembut.Di kejauhan, matahari terbenam mewarnai permukaan laut dengan warna oranye kemerahan. Deburan ombak menggulung ke pantai lapis demi lapis, lalu perlahan kembali menyurut.Marissa menarik napas dalam-dalam, memejamkan mata dan merasakan ketenangan yang sudah lama tidak dia rasakan."Bu Marissa?"Terdengar suara pria yang lembut dari arah belakang.Marissa menoleh dan melihat seorang pria bertubuh tinggi dan tegap, berdiri tidak jauh darinya, sambil menjinjing sekantong makanan laut segar.Pria itu mengenakan kemeja putih sederhana dan celana santai. Wajahnya tampak bersih dan tampan, dengan senyum tipis tersungging di bibirnya."Aku Yoga Diratama, tinggal di sebelah rumahmu." Yoga melangkah mendekat. Suaranya terdengar hangat. "Kudengar kamu baru pindah hari ini. Jadi, aku bawakan sedikit hasil laut sebagai salam kenal antar tetangga."Marissa agak terte

  • Di Ujung Kabut Itu, Dia Tak Kembali   Bab 8

    Setelah berkata seperti itu dengan wajah dingin, Arka lalu berbalik dan meninggalkan ruang bawah tanah.Marissa mendengarkan langkah kaki Arka yang perlahan menjauh, lalu baru berani berdiri perlahan sambil berpegangan pada dinding.Selama tiga hari berikutnya, Marissa mengurung diri di dalam kamar

  • Di Ujung Kabut Itu, Dia Tak Kembali   Bab 7

    Pandangan Arka menyapu sekujur tubuh Marissa, seolah ingin memastikan apakah Marissa terluka atau tidak. Akhirnya, Arka pun menghela napas lega. "Apa yang terjadi selama tiga hari ini?"Marissa tersenyum tipis, membuat bibirnya yang pecah-pecah merembeskan darah. "Nggak ada apa-apa."Marissa langsun

  • Di Ujung Kabut Itu, Dia Tak Kembali   Bab 6

    Saat Marissa kembali terbangun, yang terlihat di depan matanya adalah langit-langit rumah sakit yang berwarna putih pucat."Akhirnya kamu sadar juga!" Perawat itu menghela napas lega. "Luka-lukamu begitu parah. Kami harus segera menghubungi keluargamu."Perawat itu terdiam sejenak, lalu tidak tahan

  • Di Ujung Kabut Itu, Dia Tak Kembali   Bab 5

    Marissa membuka matanya karena kesakitan dan mendapati dirinya sudah kembali ke kediaman Keluarga Kivandra.Arka tengah duduk di tepi tempat tidur. Dia menatap Marissa dengan muram. "Apa yang barusan kamu katakan soal pergi?"Jantung Marissa berdegap kencang. Dengan suara serak, dia mencoba berpura-

Higit pang Kabanata
Galugarin at basahin ang magagandang nobela
Libreng basahin ang magagandang nobela sa GoodNovel app. I-download ang mga librong gusto mo at basahin kahit saan at anumang oras.
Libreng basahin ang mga aklat sa app
I-scan ang code para mabasa sa App
DMCA.com Protection Status