Share

Dia Bukan Lagi Bintangku
Dia Bukan Lagi Bintangku
Author: Mohini

Bab 1

Author: Mohini
Setengah jam telah berlalu setelah aku kembali membeli rokok.

Selain menyuruhku beli milk tea tadi, Billy bahkan tak melirikku lagi.

Dia mengobrol dengan Clara tentang kasus yang baru saja mereka menangkan minggu lalu, lalu beralih membahas rencana masa depan firma hukum.

Aku bahkan sudah tak ingat ini sudah keberapa kalinya diriku hanya menjadi figuran di antara mereka berdua.

Hingga Clara membalas sebuah pesan, Billy baru menoleh padaku dengan heran.

“Kok masih belum pergi?”

Sejak acara reuni dimulai hingga sekarang, aku sudah keluar tiga kali untuk membantunya membeli barang.

Hujan deras di luar sudah mengguyurku berkali-kali, sampai seluruh tubuhku basah kuyup.

Begitu melihat bekas air di wajahku, Billy terdiam sejenak.

Sahabatku, Clara, buru-buru mencairkan suasana.

“Aku hanya asal bilang saja. Masih hujan di luar, nggak perlu dibeli.”

Sambil berkata begitu, Clara dengan cekatan mengambil sapu tangan dari dalam tasnya.

Itu motif yang sama dengan yang milik Billy.

Sejak aku kembali setelah berhenti kuliah selama setengah tahun, sarapan yang dibawa Billy berubah dari dua porsi menjadi tiga.

Setelah kami lulus, bukan hanya sarapan, bahkan tiket bioskop pun selalu dibelikan tiga.

Namun, keseimbangan itu perlahan mulai berubah.

Entah sejak kapan, Billy terbiasa hanya membawa satu porsi untuk Clara.

“Sudahlah, jangan merokok lagi. Herli paling nggak suka bau rokok.”

Clara merebut rokok dari tangan Billy, lalu mematikannya.

Pria itu hanya terkekeh, lalu menggelengkan kepala dengan pasrah.

Selama tujuh tahun mengenalnya, aku adalah orang yang paling tahu seperti apa wajahnya ketika memanjakan seseorang tanpa syarat.

Dulu, aku berkali-kali menyuruhnya berhenti merokok karena tak tahan dengan bau rokok.

Namun, dia hanya bilang bahwa aku tidak mengerti kesulitannya dan bahkan tidak memberinya sedikit pun kebebasan.

Pria yang paling benci dikekang dan diatur itu, ternyata kini juga sudah terbiasa membiarkan Clara mengaturnya.

Suasana di meja kembali ramai.

Aku langsung berbalik dan meninggalkan ruang VIP.

Aku menarik napas dalam-dalam, lalu menelepon kepala bagian personalia untuk mengajukan pengunduran diri.

Dia sangat terkejut.

“Selama ini kamu yang mengurus hampir semua urusan sehari-hari di firma. Kalau kamu pergi, kami bisa kacau.”

“Bagaimana kalau aku diskusikan dengan Pak Billy dan meminta dia memindahkanmu ke divisi lain?”

Sejak tahun pertama bekerja di firma hukum, aku sudah berkali-kali mengajukan permintaan untuk pindah divisi.

Aku membantu rekan kerja memenangkan kasus, tetapi Billy bilang itu hanya karena aku sedang beruntung.

Aku mengajukan permohonan untuk diangkat sebagai pegawai tetap, tetapi dia bilang pengalamanku belum cukup.

Saat pembagian bonus akhir tahun, dia bahkan menghitung penilaianku sampai sedetail mungkin.

Dia bilang, “Kamu itu pacarku, jadi harus menghindari ketidakadilan.”

Sementara itu, dalam setahun Clara naik jabatan dua kali. Dia bilang itu karena kemampuan dan pengalamannya memang luar biasa.

Di acara tahunan perusahaan, Clara mendapatkan hampir semua penghargaan. Dia bilang itu hanya bentuk perhatian kepada teman lama.

Selama tujuh tahun bekerja dengan tekun, aku tetap saja menjadi sosok yang transparan.

Aku menatap kedua orang itu yang sampai sekarang bahkan tidak menoleh sedikit pun kepadaku, lalu tiba-tiba tersenyum.

Kemudian aku menjawab,

“Kak Sherly, tolong urus proses pengunduran diriku, nggak perlu kasih tahu ke dia.”

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Dia Bukan Lagi Bintangku   Bab 8

    Kelopak bunga putih berserakan di lantai, waktu seolah berhenti seketika.Senyuman di wajah Billy menghilang, menyisakan kecanggungan.“Herli, kamu benar-benar begitu benci denganku sekarang?”“Selama mencarimu, hari-hariku terasa begitu berat. Rasanya hidupku tiba-tiba kehilangan arah.”“Jadi, aku harus menemukanmu dan membawamu pulang.”Tanganku tetap sibuk membungkus bunga. Aku bahkan tidak meliriknya.“Sudah kubilang, aku nggak akan pulang bersamamu.”“Mulai sekarang, jalani hidupmu sendiri dan aku akan menjalani hidupku. Kita nggak perlu saling mengganggu.”“Herli!” Dia akhirnya tidak tahan lagi dan langsung mencengkeram pergelangan tanganku.“Kalau begitu ikut aku pulang. Kamu sudah berjanji akan menikah denganku.”Aku berusaha melepaskan tanganku dengan susah payah, lalu mengernyitkan kening.“Billy, sejak kapan kamu jadi begitu kekanak-kanakan?”“Kamu nggak paham apa arti putus? Aku sudah bersusah payah mendapatkan kembali hidupku sendiri, tapi kamu masih nggak mau melepaskanku

  • Dia Bukan Lagi Bintangku   Bab 7

    Meninggalkan kota yang telah kutinggali selama hampir sepuluh tahun, aku memulai perjalanan menuju tempat yang sama sekali tidak kukenal.Selama bertahun-tahun itu, aku menemani Billy merintis usahanya dan menyaksikan firma hukumnya berkembang perlahan-lahan.Di balik layar, aku belajar keras hingga larut malam dan akhirnya mendapatkan izin praktik pengacara yang selama ini kuimpikan.Awalnya kupikir, setelah semua yang kulakukan, akhirnya aku bisa berdiri di sisi Billy dan menjadi pasangan yang pantas untuknya.Namun, kenyataannya membuktikan bahwa sepertinya aku tidak akan pernah bisa mengejarnya.Bintang yang paling bersinar di sisinya akan selalu menjadi Clara.Sementara aku hanyalah figuran yang menjadi latar belakang mereka.Selama beberapa hari ini, aku menikmati berbagai macam pemandangan, seolah-olah telah meninggalkan semua masalahku di belakang.Sesekali Billy mengirimiku pesan.Dia memberitahuku bahwa dirinya pergi ke restoran yang dulu sering kami datangi untuk berkencang

  • Dia Bukan Lagi Bintangku   Bab 6

    Barulah saat itu dia melihat surat pengunduran diri Herli dengan lebih teliti.Tanggal yang tercantum ternyata tepat pada hari acara reuni teman sekelas.Saat itu dia sedang mabuk. Ketika pergi mencarinya ke lorong, dia samar-samar mendengar Herli berkata, “Nggak perlu kasih tahu ke dia.”Ternyata, sejak saat itulah Herli sudah memutuskan untuk pergi.Namun sebenarnya karena apa?Karena dia menyuruhnya beli barang? Atau karena Clara merebut tempat duduknya?Namun, bukankah semua itu hanyalah hal-hal sepele yang biasa terjadi?Dengan susah payah menahan tubuhnya yang lemas, Billy pergi mencari Clara di ruangannya.Namun, dari luar dia justru mendengar Clara sedang berbicara dengan seseorang.“Bu Clara, pihak yang kita wakili sangat marah. Mereka nggak menyangka kasus sebesar ini pun bisa sampai kalah.”“Tapi memang aneh. Dengan kemampuanmu, bukannya seharusnya kasus ini pasti bisa dimenangkan?”Mendengar itu, Clara mencibir.“Berapa pun ganti rugi yang mereka minta, sebutkan saja. Aku y

  • Dia Bukan Lagi Bintangku   Bab 5

    [Billy, kita putus!]Billy kembali mengambil ponselnya dan menatap kalimat itu cukup lama.Dia tak tahu apa yang terjadi pada Herli akhir-akhir ini. Entah kenapa terus mengungkit putus.Menekan rasa gelisah di dalam hati, dia mengetik,[Bisa nggak jangan buat masalah terus? Aku sudah pesan restoran kesukaanmu, kamu di mana? Cepat telepon aku.]Dia menelan tombol kirim, tapi yang muncul malah tanda seru berwarna merah.Ternyata, Herli sudah memblokirnya.Billy terdiam, keningnya langsung berkerut dalam.Tiba-tiba, Clara datang dan melirik layar ponselnya.“Billy, akhir-akhir ini Clara benar-benar keterlaluan. Bagaimana bisa dia memperlakukanmu seperti ini?”“Kamu sudah berniat baik memesan restoran kesukaannya, tapi dia nggak menghargainya sama sekali.Semakin Clara berkata begitu, Billy semakin merasa sikap Herli tak masuk akal.Dia sudah bersusah payah mencarikan pekerjaan sebagai resepsionis untuknya, bahkan sudah berusaha membujuk dan membuatnya senang.Namun, yang dia dapatkan just

  • Dia Bukan Lagi Bintangku   Bab 4

    Sehari sebelum pergi, aku membawa surat pengunduran diri ke kantor Billy.Di depan pintunya sudah dipenuhi para karyawan.Begitu melihatku, mereka langsung menatapku dengan pandangan penuh cibiran.Aku menerobos masuk. Clara sedang duduk di dalam kantor sambil mengusap air matanya.Billy berjalan menghampiriku. Wajahnya penuh kekecewaan.“Seberapa besar sebenarnya kebencianmu terhadap Clara sampai tega menjebaknya seperti ini?”Aku mengernyit, “Apa maksudmu?”Tiba-tiba, Clara mengangkat sebuah dokumen agar semua orang bisa melihatnya.Dia menatapku sambil menangis tersedu-sedu.“Semua bukti yang susah payah kukumpulkan dipalsukan dalam semalam. Pengadilan memutuskan pihak kami kalah. Bisa jadi aku bahkan akan dicabut izin praktiknya...”Mendengar itu, orang-orang di sekitar pun tidak ada yang meragukannya.Bagaimanapun, pekerjaanku sehari-hari adalah mengurus dan merapikan dokumen. Aku memang orang yang paling mudah melakukan manipulasi semacam itu.“Bukan aku yang melakukannya!”Aku

  • Dia Bukan Lagi Bintangku   Bab 3

    Dengan alasan ‘anggaran tak cukup’, Billy memintaku tetap di rumah dan menunggu sampaii mereka pulang dari perjalanan dinas.Meskipun katanya perjalanan dinas, unggahan Clara di media sosial justru sangat ramai.Kadang dia mengunggah foto di kota kuno yang asri, kadang menikmati teh di sebuah kedai setelah hujan reda.Billy yang selama ini paling tidak suka melakukan hal-hal merepotkan, ternyata bahkan menemani Clara membuat keramik selama tiga jam di sebuah studio kerajinan.Sampai seorang rekan yang ikut dalam perjalanan tak sengaja salah mengirim ke grup kerja.[Berita besar! Tadi hotel tiba-tiba kasih tahu kalau nggak ada kamar yang tersedia. Bos dan Clara akhirnya menginap di kamar yang sama!]Pesan itu segera ditarik beberapa detik kemudian, Billy pun langsung meneleponku.“Hotel benar-benar nggak punya kamar lain. Aku takut kamu malah menyalahkanku karena nggak menjaga sahabatmu dengan baik, jadi mau nggak mau harus menginap di satu kamar dengannya.”Suara keluhan Clara terus te

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status