Share

5. Pantaskah

Setelah selesai kelas periklanan, Almara tidak ada kegiatan lain selain melanjutkan progres tugas akhirnya di Perpustakaan Kampus. Memang di semester akhir ini tanggungan kuliah Almara hanya tersisa 14 SKS saja yang mana 8 SKS untuk tugas akhir dan 6 SKS sisanya untuk kelas Periklanan dan Managemen Desain masing - masing 3 SKS. 

Almara lumayan cepat mengerjakan tugas akhirnya, karena bagaimanapun Almara pernah mengerjakan tugas akhir ini dulu, dan sekarang hanya tinggal mengulang. Saat ini dia baru mengerjakan bab 2, jika dia berhasil menyetorkan bab ini ke dosen pembimbingnya tanpa revisi maka dia akan mulai mengerjakan bab selanjutnya. 

Mengingat hal itu tiba - tiba hati Almara mencelos. Dia baru sadar, bahwa dulu tugas akhirnya ini lah yang membuat dia pertama kali mengenal Rangga. Tugas akhir Almara adalah mengenai perancangan metode promosi visual untuk produk perawatan kulit wanita. Dan saat itu Almara mengajukan proposal ke PT. Natura Mega Chemica untuk simulasi rancangannya. Produk perusahaan tersebut adalah Lamora Skincare dan itu adalah milik Rangga. 

Almara menepuk dahinya. Kali ini dia tidak bisa melakukan apa - apa karena dosen sudah menyetujui, dan proposalnya juga sudah diterima oleh pihak Lamora. Seandainya Almara kembali ke semester 7 mungkin dia akan mencari perusahaan lain agar dirinya tidak perlu mengenal Rangga. 

Tapi nasi sudah menjadi bubur, dirinya bisa mengulang masa lalunya seperti ini saja sudah merupakan keberuntungan yang tak ternilai. Dirinya hanya perlu mengatur strategi agar dia tidak perlu berhubungan dengan Rangga sama sekali. Dengan begitu, Rangga tidak akan pernah jatuh cinta kepadanya. 

Mungkin itu akan jadi misi keduanya. Namun sekarang dia harus fokus pada misi pertamanya dulu, yaitu memperoleh restu dari orang tua Ardan. 

Menjelang pukul 5 sore, Almara merasa kelelahan dan memutuskan untuk pulang ke rumah kos saja. Dia akan beristirahat sampai sekitar jam 7 lalu menyiapkan segala sesuatu untuk pertemuannya dengan orang tua Ardan besok. Bajunya haruslah yang elegan dan terlihat berkelas walaupun tidak mahal. 

***

Almara tersentak bangun dari tidurnya. Diliriknya jam pada ponselnya, sudah pukul 9 malam. Saat jam 6 malam tadi dia merasa sangat mengantuk dan berniat tidur 1 jam saja, namun tubuhnya yang kelelahan menginginkan lebih sehingga dia baru bangun pukul 9 malam. 

Di ponselnya sudah ada sederet chat dari Ardan yang menanyakan Almara sedang apa, dan apakah dia sudah yakin akan menemui orang tuanya besok. Setelah membalas pesan Ardan dengan yakin, Almara segera menyiapkan baju yang dia anggap layak untuk besok. 

Di deretan gantungan gaun, terdapat sebuah gaun satin hitam yang sangat anggun dan elegan. Gaun yang harganya pasti jutaan karena itu adalah rancangan Sandy Anggoro, seorang desainer terkenal. Almara ingat Ardan memberinya gaun itu seminggu sebelum ulang tahunnya. Tentu saja untuk Almara kenakan pada acara ulang taun tersebut. 

Almara membelai singkat gaun itu. Almara juga ingat bahwa dulu saat mengenakan gaun indah ini, dia mengakhiri hubungannya dengan Ardan secara sepihak, tepat saat ulang tahun kekasihnya itu. Namun pada kesempatan kedua ini, Almara akan pastikan itu tidak terjadi. 

Setelah hampir 5 menit mencari - cari pakaian yang cocok akhirnya Almara menemukan juga kombinasi yang menurutnya bagus. Sebuah rok lipit katun selutut berwarna abu - abu muda, atasan berbahan sifon berwarna putih yang dipadukan dengan blazer semi formal sesiku berwarna biru tosca. Tak lupa almara juga menyiapkan flatshoesnya yang juga berwarna biru tosca. 

Setelah yakin pada pilihannya Almara memutuskan untuk tidur saja agar badannya cukup istirahat. 

***

"Sayang, Aku udah di depan kos kamu nih," ucap Ardan saat menelepon Almara keesokan harinya jam 7 pagi. Pertemuan mereka dengan orang tua Ardan memang diatur jam 8 pagi karena kebetulan tidak ada jadwal kuliah pagi hari ini. 

"Oke ini aku udah turun kok," Almara berbegas menghampiri Ardan begitu mendapat telepon dari kekasihnya itu. 

Ardan cukup takjub dengan dandanan Almara yang terlihat berkelas dan anggun. Hatinya tiba - tiba menjadi lebih bersemangat dari sebelumnya. Dengan gaya sok pangeran dia membukakan pintu mobil untuk Almara. 

"Silahkan Tuan Puteri," Wajah Almara menjadi bersemu menerima perlakuan romantis kekasihnya. 

Walaupun bersemangat, sebetulnya Almara sangat grogi. Semakin mobil melaju dan mendekati rumah Ardan, detak jantungnya pun semakin cepat. Memang Almara optimis, namun beberapa kali pikiran buruk akan segala kemungkinan tetap saja lewat di otaknya tanpa permisi. 

"Ya ampun, ini udah mau sampai ya. Sayang aku deg - deg an banget nih," Almara mengungkapkan perasaannya berharap mendapat kalimat motivasi dari Ardan. 

Ardan yang melihat kekasihnya begitu grogi, berusaha menenangkan Almara sambil memegang tangannya. 

Namun rasa grogi Almara justru menjadi - jadi dan membuatnya meracau kesana kemari. Ardan membiarkan saja Almara berbicara secara random, dia pikir mungkin itu cara Almara menenangkan dirinya. 

Hingga akhirnya mobil Ardan pun berhenti di depan gerbang sebuah rumah mewah. Satpam yang sudah mengenali mobil Ardan dengan segera membuka pintu. 

Mobil Ardan pun melaju sampai ke area parkiran. Saking besarnya rumah ini, butuh mengemudi hampir 1 menit dari gerbang menuju parkiran mobil. Almara yang sudah takjub dengan mewahnya gerbang rumah Ardan, semakin takjub saat melewati panjangnya deretan tanaman mahal yang ditanam di kanan kiri jalan utama. 

"Gila ini rumah apa TMII sih. Gila gede banget, kamu tinggal di sini? Kaya banget ya Kamu. Mampuslah, kita seperti pangeran dan cinderella banget. Oh Tuhan habis lah aku, orang tuamu pasti geli lihat aku. Ya Tuhan gimana ini ... " racau Almara

Ciiit... 

Akhirnya Ardan menghentikan mobilnya juga. Sebelum keluar, diraihnya tangan kanan Almara, disentuhnya pipi kiri Almara hingga Almara pun menoleh ke arahnya. Ardan tersenyum lalu mengecup kening Almara. 

"Tenang ya, kita hadapi sama – sama," Almara yang masih membeku setelah menerima kecupan ringan tersebut merasa tiba - tiba tubuhnya menghangat dan lebih tenang. 

"Oke," Hanya itu yang bisa Almara ucapkan. Bagaimanapun, sudah terlanjur sejauh ini, dia tidak boleh mundur, dan memang ini adalah tujuannya kembali ke masa lalu. Dia harus membangun masa depan yang jauh dari kata penyesalan. 

Memasuki pintu utama, Almara akhirnya mampu menguasai dirinya. Dia berjalan dengan tenang menuju ruang tamu. 

Di ruang tamu, ternyata kedua orang tua Ardan, Billy dan Melissa telah menunggu. Saat Almara dan Ardan datang, mereka terlihat sedang membicarakan sesuatu namun segera berhenti saat menyadari kedatangan anak dan kekasihnya. 

Almara menorehkan senyum kepada Billy dan Melissa sekalipun dia merasakan aura dingin menyelimuti mereka berempat. Melissa tidak berhenti menatap Almara sejak dia menyadari kedatangan Almara. 

"Ma, Pa, ini Almara, yang aku ceritain kemarin," Ardan memperkenalkan Almara sekaligus memecahkan es di antara mereka. 

"Oh ya ya, Almara, silahkan silahkan, silahkan duduk," Kali ini Billy yang merespon. 

Melissa masih tetap diam. Sejauh ini Almara menduga mungkin Melissa akan lebih sulit ditakhlukkan daripada Billy. 

Dan dugaan Almara itu semakin diperkuat ketika Melissa tanpa basa - basi terlebih dahulu langsung menodong Almara dengan sebuah pertanyaan begitu Almara duduk.

"Almara, apakah kamu merasa pantas mendampingi anak saya?"

Related chapters

Latest chapter

DMCA.com Protection Status