Short
Pacar Bodohku Salah Memilih Korban

Pacar Bodohku Salah Memilih Korban

By:  KarenWCompleted
Language: Bahasa_indonesia
goodnovel4goodnovel
9Chapters
1.7Kviews
Read
Add to library

Share:  

Report
Overview
Catalog
SCAN CODE TO READ ON APP

Pacarku, Marko, akhirnya mengundangku untuk makan malam Natal bersama keluarganya. Tapi aku pingsan dalam perjalanan ke sana. Dalam keadaan setengah sadar, aku mendengar dia berbisik, “Maaf, Erin. Para preman itu bilang kau tipe bos mereka. Kau terlalu cantik, Sayang. Salahkan saja itu, bukan aku.” “Jangan takut. Kalau kau membantuku melunasi utang … mungkin mereka akan mengizinkanku mendapatkanmu kembali. Aku akan menebus semuanya seumur hidupmu, aku sumpah.” Dia membawaku melewati pintu belakang sebuah kasino. Kasino milik keluargaku. Ternyata bos yang dia maksudkan … adalah kakakku sendiri. Sejak orang tua kami meninggal dalam baku tembak, kakakku telah mengambil tanggung jawab penuh atas diriku. Lebih dari sekadar kakak, dia telah menjadi sosok ayah dan pelindungku. Pacarku yang bodoh itu seharusnya takut. Dia tidak tahu betapa keras kakakku melindungiku, atau betapa kejam dia terhadap siapa pun yang berani menyakitiku.

View More

Chapter 1

Bab 1

Sudut Pandang Erin.

Pacarku mencoba menjualku untuk membayar utangnya, masalahnya adalah bos mafia yang dia pilih itu ternyata kakakku sendiri. Dan si idiot itu tidak tahu betapa protektifnya kakakku itu … atau betapa brutalnya dia terhadap siapa pun yang berani menyakiti keluarganya.

Apa pun yang ada di dalam mobil itu membuatku pingsan begitu aku masuk. Waktu berlalu, aku bisa merasakannya, tetapi tubuhku tetap lemas, tak berdaya. Akhirnya, kesadaranku perlahan mulai kembali. Memang belum sepenuhnya, tetapi cukup untuk bisa mendengar.

Marko sedang menelepon. Panggilan pertama, dia berteriak pada seseorang karena sudah memaksanya untuk segera membayar utang. Kemudian panggilan kedua, dia menelepon ibunya untuk memberitahu bahwa dia tidak akan pulang untuk makan malam Natal.

Panggilan ketiga berbeda. Nada suara Marko merendah, lembut dan penuh kepatuhan. “Bos, aku tahu kau sudah sangat murah hati karena sudah mengizinkanku pergi dan mengumpulkan uang untuk membayar utangku ke kasino, tapi aku masih belum bisa mengumpulkan semuanya. Jadi, seperti yang kau bilang, malam ini aku membawa pacarku. Mungkin kita bisa mencoba saran yang kau berikan .… Yah, kau tahu, menyerahkannya pada Bos Besar.”

Dia ragu-ragu sejenak. “Aku bersedia melakukan apa pun untuk melunasi utangku.”

Hening sejenak. “Tentu saja, aku akan pastikan dia bersikap baik. Aku akan katakan padanya bahwa ini adalah suatu kehormatan karena sudah dipilih. Aku paham betapa besar kebaikanmu karena sudah memberiku kesempatan ini. Sampai jumpa nanti.”

Kepanikan merayap ke dalam diriku.

Aku mencoba bergerak, berusaha duduk, tetapi aku bahkan tidak memiliki kekuatan untuk mengangkat tubuhku sedikit pun. Tak lama kemudian, mobil berhenti mendadak. Marko mencondongkan tubuhnya ke arahku, dan memegang pipiku. Aku buru-buru memejamkan mata rapat-rapat.

“Erin, kau terlihat sangat menakjubkan malam ini. Aku tahu kau mengenakan gaun itu karena aku bilang akan membawamu pulang untuk bertemu keluargaku ....” Dia merendahkan suaranya. “Kau tahu utang kuliahku berantakan. Kupikir mungkin aku bisa beruntung di kasino. Aku nggak pernah berniat kehilangan semuanya … tapi sekarang aku berutang ke seorang preman yang mengancam akan membunuhku dan keluargaku. Tapi untungnya, dia bilang kau tipe bosnya. Aku berutang tiga ratus dua puluh juta, Erin. Aku nggak bisa membiarkan dia mengejarku dan ibuku ....”

Suaranya merendah, hampir merasa bersalah. “Jangan salahkan aku, Erin. Salahkan saja dirimu sendiri, karena terlalu cantik.”

“Hanya satu malam. Pak Surya bilang hanya untuk satu malam saja. Nanti, aku akan menjemputmu. Aku bersumpah, aku akan menjagamu seumur hidup. Aku akan membawamu bertemu ibuku, dan akan menikahimu. Jadi, Erin kumohon … jangan benci aku.” Dia menghela napas, seolah beban itu menghimpitnya.

"Lalu yang terpenting, saat tiba di kasino, jangan melawan. Tolonglah. Kalau kau melawan, kau cuma bakal berakhir lebih parah."

Aku berhasil menggerakkan jari-jariku. Jariku menyentuh ujung gaun yang kupakai malam itu. Marko benar. Aku memakainya hanya karena dia akhirnya mengundangku untuk merayakan Natal bersama keluarganya.

Aku ingat bagaimana aku tersenyum lebar, betapa berharapnya aku, dan juga betapa bodohnya aku karena berpikir hubungan kami benar-benar akan melangkah maju. Ternyata, dia hanya ingin menjualku.

Tiga ratus dua puluh juta, hanya sebesar itu harga diriku.

Marko bisa saja meminta bantuanku, aku pasti akan memberikannya. Tetapi sebaliknya, harga dirinya lebih memilih pengkhianatan karena itu terasa lebih mudah.

Pikiranku berputar-putar, mencoba menyusun rencana. Aku ingat gelang di pergelangan tanganku memiliki alarm tersembunyi. Hanya dengan satu kali tekan, itu akan mengirimkan sinyal SOS ke kakakku, lengkap beserta lokasinya.

Masalahnya adalah aku masih terlalu lemah untuk bergerak.

Jadi, aku memutuskan untuk menunggu saat ini, sambil mengumpulkan sedikit kekuatan yang tersisa.

Siapa pun bos yang Marko maksudkan itu, jika aku punya kesempatan untuk menyebutkan nama kakakku, mereka tidak akan berani menyentuhku.

Dan jika itu tidak berhasil, maka aku masih punya gelang itu.

Beberapa menit kemudian, pintu mobil terbuka di sampingku. Tangan-tangan kasar menarikku keluar dari mobil.

“Aku sudah membawanya, seperti yang kau minta,” kata Marko. Suaranya bergetar karena kebanggaan palsu.

Sebuah suara kasar menjawab, bercampur dengan rasa geli, “Harus kuakui, bahkan dalam pekerjaanku, aku nggak menyangka kalau kau akan benar-benar menjual pacarmu. Tapi .…”

Sebuah tangan mencengkeram daguku, dan menengadahkan wajahku. “Kau benar. Dia sangat cantik.”

“Bukan hanya cantik,” tambah Marko cepat, terdengar sangat bersemangat juga menyedihkan. “Yang tercantik. Dia bahkan terpilih sebagai yang tercantik di kelas kami, tapi terlalu sombong dan angkuh. Aku saja butuh waktu hampir setahun untuk bisa menaklukkannya.”

“Dan kau rela menyerahkannya padaku?” Pria itu mencibir.

“Aku memang peduli padanya,” kata Marko sambil tertawa menjijikkan, berusaha bergabung dengan Surya. “Hanya saja nggak sebanyak aku peduli pada diriku sendiri. Lagipula, lihat saja tubuhnya dan jari-jarinya itu. Dia seorang pianis. Sangat lentur juga … kau pasti ngerti maksudku. Dia akan membuat Bosmu sangat bahagia.”

Orang-orang di sekitar kami tertawa, kasar dan menjijikkan.

“Kalau Bos kami senang, utangmu lunas,” kata pria itu dingin.

“Terima kasih. Terima kasih banyak, Pak Surya.” Marko tergagap.

“Jangan berterima kasih dulu!” bentak pria itu. “Semoga saja dia mau menerimanya. Bos suka pilih-pilih, dia nggak pernah suka perempuan yang dikirimkan padanya. Itu sebabnya aku menyuruhmu membawanya ke kasino malam ini agar dia bisa memutuskan sendiri, dia sudah dalam perjalanan.”

Dadaku terasa sesak.

Surya.

Aku pernah mendengar nama itu sebelumnya, kakakku baru-baru ini pernah cerita bahwa dia merekrut seseorang bernama Surya untuk membantu menjalankan kasino keluarga kami.

Jadi, Marko tidak hanya menjualku kepada orang asing, dia mencoba menjualku pada Surya itu.

Dan, bos yang terus disebut Surya itu adalah kakakku.

Kebetulan sekali.

Aku memaksa membuka mata sedikit. Dan di sana, terlihat jelas papan nama kasino milik keluargaku.

Marko dan semua orang di sekitarku tidak pernah tahu bahwa aku sebenarnya adalah bagian dari salah satu keluarga mafia paling terkenal di kota ini.

Sebelum aku berangkat ke sekolah, Terano membuatku berjanji untuk tidak pernah menceritakan apa pun tentang keluarga kami kepada siapa pun. Dia takut jika orang sampai tahu siapa aku sebenarnya, mereka akan mencoba memanfaatkanku.

Jadi, aku menggunakan marga ibuku, Sinatrya, bukan Himawan.

Namun, semua ini tidak terasa seperti keberuntungan, karena Surya belum pernah melihatku sebelumnya, jadi ada kemungkinan dia tidak akan menyelamatkanku.

Dan karena aku mengenal kakakku dengan baik, bahkan aku mulai khawatir kalau aku mungkin tidak akan mendapat kesempatan untuk bertemu dengannya malam ini.

Surya salah paham. Kakakku menolak wanita bukan karena dia pemilih. Dia menolak mereka karena dia setia kepada gadis yang dicintainya, gadis yang sudah meninggal sepuluh tahun yang lalu.

Apa pun rencana mereka, semuanya tidak akan berhasil.

Jadi, satu-satunya harapanku sekarang adalah tombol kecil di gelangku. Jika aku menekannya, kakakku akan tahu aku berada di kasino. Dan jika instingnya masih setajam biasanya, dia akan menyadari ada sesuatu yang tidak beres, karena aku tidak pernah datang ke kasino sendirian.
Expand
Next Chapter
Download

Latest chapter

More Chapters

To Readers

Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.

No Comments
9 Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status