LOGINPacarku, Marko, akhirnya mengundangku untuk makan malam Natal bersama keluarganya. Tapi aku pingsan dalam perjalanan ke sana. Dalam keadaan setengah sadar, aku mendengar dia berbisik, “Maaf, Erin. Para preman itu bilang kau tipe bos mereka. Kau terlalu cantik, Sayang. Salahkan saja itu, bukan aku.” “Jangan takut. Kalau kau membantuku melunasi utang … mungkin mereka akan mengizinkanku mendapatkanmu kembali. Aku akan menebus semuanya seumur hidupmu, aku sumpah.” Dia membawaku melewati pintu belakang sebuah kasino. Kasino milik keluargaku. Ternyata bos yang dia maksudkan … adalah kakakku sendiri. Sejak orang tua kami meninggal dalam baku tembak, kakakku telah mengambil tanggung jawab penuh atas diriku. Lebih dari sekadar kakak, dia telah menjadi sosok ayah dan pelindungku. Pacarku yang bodoh itu seharusnya takut. Dia tidak tahu betapa keras kakakku melindungiku, atau betapa kejam dia terhadap siapa pun yang berani menyakitiku.
View MoreSudut Pandang Erin.Marko melanjutkan dengan tergesa-gesa, “Setelah kakakmu memberitahuku, aku baru tahu kalau Surya sengaja membuat orang kehilangan uang, lalu mengenakan bunga yang sangat tinggi. Aku benar-benar nggak tahu semua itu ....”Aku tertawa pelan dan memotongnya, “Berhenti berbohong, Marko. Aku nggak sepenuhnya pingsan waktu di mobilmu dan sudah mendengar semuanya.”Wajahnya pucat. “Kau bisa menyalahkan Surya atas utangmu,” lanjutku dengan tenang. “Tapi dia nggak mengantarku ke kasino, dan bukan dia yang menyerahkanku. Kaulah yang melakukan itu. Kau bukan korban, kau itu kaki tangan.”Marko pun menangis. “Nggak … bukan seperti itu .…”“Dan semua yang kau katakan,” lanjutku. “Tentang bagaimana berkencan denganku membuatmu terlihat keren dan bahwa kau sebenarnya nggak pernah menyukaiku.”“Itu hanya omong kosong!” serunya. “Aku mencintaimu, Erin. Aku bahkan berencana untuk menjagamu setelah ... setelah semuanya dan menikahimu.”“Iya, kau mencintaiku sampai meninggalkan memar d
Sudut Pandang Erin.Terano melepaskan pelukannya, matanya sedikit berkaca-kaca.“Aku sudah lama ingin memberitahumu ini,” katanya. “Terkadang, terlalu lembut pada orang lain justru membuatmu kehilangan sebagian dari dirimu sendiri.”“Aku mengerti sekarang. Tapi jangan khawatir, aku baik-baik saja.”Setelah itu, percakapan beralih ke hal-hal yang lebih ringan. Terano membahas apa yang mungkin ingin kulakukan setelah pulih sepenuhnya.Aku tahu dia masih khawatir aku akan kembali ke Bostana sendirian, tetapi aku juga belum siap untuk melepaskan mimpiku menjadi pianis. Itu juga mimpi Papa, terlebih lagi dialah yang pertama kali menuntun tanganku menyentuh tuts-tuts piano itu ketika aku masih kecil.Aku berkata lembut, “Kak, aku tahu kau khawatir, tapi aku tetap harus pergi karena aku nggak bisa menyerah pada mimpi ini.”“Aku tahu,” katanya sambil tersenyum kecil. “Itulah mengapa aku sudah menelepon beberapa tempat, termasuk salah satu sekolah musik terbaik di Jalasia.” Dia berhenti sejena
Sudut Pandang Erin.Tatapan Terano tidak goyah, dia menatap lurus ke dalam mataku, dan setelah beberapa saat, dia berbalik dan memberiku segelas air. “Apa yang ingin kau lakukan dengan bajingan-bajingan itu? Aku belum membuat keputusan akhir, kupikir kau mungkin ingin ikut menentukan.”Hanya mendengar nama Marko dan Surya saja, sudah membuat darahku mendidih. Aku melirik pergelangan kakiku yang dibalut perban, dan memar-memar yang muncul di telapak tanganku.“Marko berutang uang ke kasino?” tanyaku.Terano mengangguk. “Iya.”“Hanya tiga ratus dua puluh juta .…” Aku tertawa getir sambil menggerakkan jari-jariku yang masih nyeri. “Mengingat apa yang dia lakukan padaku, anggap saja jadi satu koma enam miliar sekarang.”“Hanya satu miliar saja, aku tadinya berpikir lebih dari itu.” Terano mengangkat alisnya.“Bahkan angka segitu pun sudah murah hati,” kataku dengan suara datar. “Dengan pekerjaan yang dia miliki, dia bahkan nggak akan mampu membayar bunganya.”Aku tersenyum tipis. “Bukannya
Sudut Pandang Erin.Surya tahu, apa pun yang menunggunya akan lebih buruk. Jadi, alih-alih memohon kepada Terano, dia merangkak ke arahku.Terano menangkap lengannya dan melemparkannya kembali. “Jangan berani-beraninya kau mendekati adikku.”Surya menjadi pucat pasi dan menatapku seperti melihat hantu. “Ku ... mohon, Bos … kau nggak pernah bilang kalau kau punya adik perempuan. Dan dia baru berusia dua puluh tahun ....”Terano menendangnya keras di perut. “Jadi, sekarang aku harus menjelaskan keluargaku padamu?”“Nggak ... bukan begitu. Tentu saja nggak ....”Terano lalu menoleh kepadaku. “Apa yang dia lakukan padamu, Erin?”“Bukan hanya wiski dan tamparan, dia juga memukulku dengan ikat pinggang.”Tangan Terano mengepal di kerah baju Surya. “Aku saja nggak tahan melihat adikku disentuh, tapi kau berani memukulnya?”“Bos, aku nggak tahu!” Surya terisak. “Aku hanya mengikuti protokol untuk melindungimu ....”Terano tersenyum dingin. Dia mengambil ikat pinggang dari anak buahnya dan bert


















Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.