ログインMenikah selama delapan tahun dengan suamiku, setiap tahun di hari ulang tahun pernikahan kami, dia selalu mengatakan maskapai sudah mengatur penerbangan untuknya dan memberiku sepasang anting-anting mahal untuk membujukku. Namun di hari ulang tahun pernikahan kami tahun ini, aku tidak sengaja mendengar candaannya dengan teman-temannya. “Kak Rio, setiap tahun di hari ulang tahun pernikahan, kamu selalu bersama Nadia, apa Jessica sama sekali tidak menyadarinya?” “Pantas saja dia tidak bisa hamil, bagaimana pun ketika giliran dia, kamu sudah kehabisan tenaga.” Rio Aditya menghembuskan asap rokok dan menjawab, “Nadia meninggalkan segalanya demiku, aku harus memberinya sebuah keluarga.” “Sedangkan Jessica, sejak dia keguguran aku sudah tidak mencintainya lagi. Jika waktunya sudah tiba aku akan mengajukan cerai, meskipun ini tidak adil baginya, tapi aku akan mencari cara untuk menebusnya dengan uang.” Sepertinya Rio tidak akan memiliki kesempatan itu lagi, di hari ulang tahun pernikahan kami, aku didiagnosis kanker ovarium stadium akhir. Jika sudah tidak cinta, aku juga sudah siap meninggalkannya. 'Rio, mulai sekarang kita akan berpisah dengan damai dan tidak akan bertemu lagi.'
もっと見るRachael POV
“Shut up, Racheal. You’re just too weak.”
The words hit me like a blade to the chest.
I stared at Ezekiel, blinking as if I hadn't heard right. My own husband. The Alpha of Blue Moon. The man I married….no, sacrificed myself to was now looking me in the face and calling me weak.
“Did you just tell me to shut up?” My voice trembled, not from fear, but from the weight of betrayal.
“After what you promised her? You gave your word that you'd be faithful to one mate. That you'd protect me.”
He turned his head slightly, refusing to meet my eyes.
“You came back from the battlefield,” I continued, “and now you show up with another woman claiming she’s your fated mate? Is this how you repay my loyalty?”
“Racheal…” he said, voice flat. “I’m the Alpha of the Blue Moon Pack. I can’t settle for someone like you.
You're not strong enough. You’re good with the people, yes. But I need a warrior beside me now. Someone who can stand equal to my power.”
My fists clenched by my side, nails digging into my palm. “I gave you everything, Ezekiel. My home.
I married you not because I loved you but because my dying mother believed you would keep me safe. Because we had nothing else left.”
His eyes flickered, but he said nothing.
That night burned into my memory like an old wound that never healed.
Kael and I had gone out for patrol in the Grey Moon Pack. My eldest brother and I had walked those woods hundreds of times. But that evening felt… different. The air was too still. A strange, bitter scent lingered clinging to the trees like a silent threat.
Before we could raise the alarm, the shadows broke open and spilled death.
Rogues.
They came in a silent wave, eyes wild, mouths snarling. No warning. No mercy. They tore through our borders with speed and cruelty, and by the time our pack caught on, they were already inside burning, slaughtering, destroying.
I fought like hell. Every blow I landed was for my family, for my people. But they kept coming.
I watched my second brother fall, pierced through the chest.
My youngest barely a boy died. He didn’t even cry out. Just dropped.
And then my father, Alpha Darius, the fiercest man I ever knew, stood his ground in the heart of the chaos. He fought like a storm but even storms fall. A blade found his back when he was distracted.
I reached him too late.
His blood stained my hands as I cradled him. His last words were simple. A whisper that would haunt me forever:
“Live. Protect what remains.”
My mother, Luna Myer wounded and barely standing dragged me through a hidden tunnel beneath the forest floor. Her face was streaked with ash and blood, but her eyes… her eyes held fire.
“You carry what’s left of us now,” she said, voice trembling but firm. “You are the legacy, Racheal.”
Only thirty of us survived that night.
Grey Moon Pack the pack that had ruled for three generations was reduced to nothing but ash and memory. Our lands were taken. Our warriors, gone. Our name… barely a whisper.
But my mother refused to let it die.
She arranged a deal with the one Alpha powerful enough to offer protection. Ezekiel of the Blue Moon Pack. A marriage, not of love, but of strategy.
I didn’t protest. There was no time for dreams. No space for love. I was the last flame of my family. I would marry him. I would protect the survivors. I would carry the weight.
I entered Blue Moon Pack with dignity and silence. I carried hidden treasures from Grey Moon , secrets only a daughter of Alpha Darius would know. I used my wealth in the making Ezekiel pack good and comfortable. I gave him loyalty.
I ruled beside him. I led his people when he was away. I raised his warriors. I gave this pack my life.
And now, he calls me weak.
“Ezekiel…” I whispered. “Is this how you betray me? Knowing my family is gone? Knowing I have no one left?”
He lowered his eyes. Because deep down, he knew I was right.
“But…” he started.
“But what?” I snapped, stepping forward. “Don’t even finish that sentence, Ezekiel. I have”
“How dare you speak to the Alpha that way!” he roared, voice booming through the hall.
He raised his hand like he meant to strike me.
I didn’t flinch. I looked him dead in the eye, my voice ice cold.
“I have taken care of this pack as if it were my own. I’ve given everything. Sacrificed everything. I..”
I paused, nearly revealing the one secret he still didn’t know. The one secret that would shake this pack to its bones.
But he cut in.
“Quiet, Racheal!” he barked. “You’re nothing but a housewife. You may keep your place as my mate but Lucy… Lucy is my fated. She’s strong. She’s a warrior. She isn’t like you.”
His voice softened oddly when he spoke her name. Like a boy talking about a goddess.
“Lucy,” he said again, almost proudly. “She’s everything I need in a Luna.”
Rage boiled inside me. I turned and stormed out of the hall, every footstep echoing with fury.
He would regret this...
With anger burning inside me, I turned away from Ezekiel. I wouldn’t let him see me break. I had given everything to this pack my loyalty, my strength, my silence and this was how he treated me.
Each step down the hall felt heavier than the last.
I reached the door to our room and hoped for a moment of peace. A place to collect myself.
But when I turned the corner, my heart stopped.
No. This can’t be.
My things were scattered all over the cold floor.
Not just moved. Thrown.
My dresses were crumpled and torn, stretched out like broken flags.
My mother’s old scarf the one she wrapped me in when we escaped the fire was crushed under a heavy boot.
The wooden box holding my father’s insignia? It was broken and empty.
My journals… ripped open, pages torn and fluttering in the wind, secrets left wide open.
Then I saw it the worst part.
A soft, light purple cloth
Lucy’s scent was on it. That smell she always wore. Soft but sharp. It wasn’t a mistake.
She did this.
She didn’t just take Ezekiel.
She wanted me to see.
To feel it.
A small piece of paper was pinned to the door with a dagger.
I pulled it off.
There were no words, just a jagged line cut across the paper like a scar.
The message was clear: You’re not welcome here.
My hands shook as I bent down to pick up the torn pages of my journal.
Click.
The door behind me moved.
My breath caught.
I didn’t
dare turn around.
I heard footsteps, a shadow maybe.
Someone was there.
Watching.
Waiting.
And as I reached for my things, the door slowly opened…
Aku pun bertumpu pada tongkatku, berjalan dengan pelan namun pasti menuju ruang kemoterapi.Setidaknya sekarang aku masih bisa berjalan, masih bisa makan.Tidak lama lagi, aku hanya akan bisa terbaring di tempat tidur dengan selang-selang tertancap di seluruh tubuhku.Di hari-hari terakhir, aku sama sekali tidak ingin bertemu Rio.Tiba-tiba, aku menghentikan langkah kaki, berbalik dan berkata padanya, “Rio, sekarang aku memberimu dua pilihan.”“Yang pertama adalah sekarang ikut denganku ke Dinas Catatan Sipil untuk mengambil akta cerai, yang kedua adalah melakukan gugatan perceraian, pilihlah sendiri.”Setelah aku mengatakan ini, Rio benar-benar hancur.Setelah beberapa menit, sekelompok polisi bergegas tiba di rumah sakit.Nadia dan Rio pun dibawa pergi.Ketika Nadia berjalan melewatiku, dia kembali berteriak dengan kata-kata kasar padaku.Rambutnya berantakan, terlihat kesehatan mentalnya sedikit tidak normal.Rio memohon untuk menemaniku menyelesaikan pemeriksaan kali ini, aku langs
Seluruh tubuh Rio bergemetar, Nadia memegangi tangannya, suaranya gemetar.“Rio, kamu jangan begini... Aku tidak bisa hidup tanpamu, kamu sudah tidak ingin menikahiku? Aku sedang hamil anakmu!”“Nadia, aku ingin menemani Jessica untuk mengobati penyakitnya.”Rio dengan tenang menatap Nadia.Nadia menggelengkan kepala, tidak bersedia menerima.“Rio, kamu bohong! Jadi semua janjimu padaku itu juga palsu? Aku melepaskan segalanya dan datang mencarimu, kamu malah begini padaku!”“Aku benci kamu! Aku benci kamu!”Aku menatap Nadia cukup lama, dia juga bisa dibilang adalah korban.Jika bukan karena semua janji Rio, bagaimana mungkin dia tanpa mempedulikan apapun datang mencarinya?Yang dicintai Rio hanya dirinya sendiri.Tidak peduli Nadia dan dia sudah menghabiskan berapa banyak waktu.Setelah dia tidak cinta lagi, seketika semua rasa cintanya bisa hilang.“Kenapa! Aku bersedia hamil karena kamu bilang menginginkan anak! Kamu bilang Jessica tidak bisa hamil anakmu, kamu sama sekali tidak me
Saat Nadia melihatku, seketika wajahnya masam, dengan tatapan menantang dia menatap seluruh tubuhku dari atas hingga bawah.Dia dengan sepatu hak tingginya, melangkah dengan sombong lalu mengambil topi di atas kepalaku, detik berikutnya, dia tertawa terbahak-bahak.Wajahnya tampak jelas olehku, rasa malu melandaku.Dia dengan jijik menutup hidungnya, menertawakanku.“Jessica, rambutmu rontok semua? Hahaha… Kamu tidak bercermin dan melihat seperti apa dirimu sekarang?”“Dasar jalang, kenapa kamu tidak langsung mati saja? Kamu pasti sengaja!”“Aku sangat membencimu, sejak kamu pergi dari rumah, Rio terus melamun setiap hari.”“Kenapa kamu tidak mati saja!”Nadia marah sambil menunjukku, dadanya terlihat naik turun karena marah.Sementara aku meringkuk karena perut bagian bawahku sakit.Sialnya kali ini aku datang ke rumah sakit untuk pemeriksaan, malah bertemu Nadia.Aku memaksakan diri untuk berdiri, bertatapan dengan Nadia.“Kembalikan topiku, aku tidak ada waktu untuk disia-siakan den
“Jessica, kita tidak seharusnya berakhir seperti ini, sekarang aku hanya ingin menemanimu menjalani pengobatan dengan baik.”Sekarang apa pun yang dia katakan terdengar lemah dan tidak berdaya, aku menatap wajahnya yang kebingungan.Bibir Rio bergetar, jangan-jangan dia benar-benar merasa bersalah kepadaku?“Aku memang pernah berpikir untuk bercerai, tetapi aku tidak pernah benar-benar memutuskan, Jessica, jika aku benar tidak mencintaimu, aku pasti sudah mengeluarkan surat perjanjian perceraian sejak awal! Hubungan kita selama sembilan tahun, apa bisa begitu saja kamu buang?”“Ditambah kamu sekarang sedang sakit parah, kamu tidak bisa hidup tanpaku! Bagaimana mungkin aku tega meninggalkanmu sendirian?”“Tapi bukankah kamu sudah bilang, Nadia meninggalkan segalanya dan datang mencarimu, kamu harus memberinya sebuah keluarga, sekarang dia mengandung anakmu, kamu rela meninggalkannya?”“Tekadku sudah bulat, kamu jangan membujukku lagi, ambil saja akta cerai hari ini.”Melihatnya tidak be






Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.