Share

ke empat

Author: Dillah_whj
last update Petsa ng paglalathala: 2026-04-29 12:29:48

Sore ini adalah sore yang berbeda bagi Dira. Sebuah moment dimana ia akan kembali bertemu dengan ibu dari sang kekasih tercinta. Wanita paruh bayah yang selalu menatap tak suka kepada Dira setelah mengetahui fakta bahwa ia bersanding dengan anaknya tercinta.

Rasa gugup tentu saja tak bisa Dira tutupi begitu saja, terlihat sedari tadi gadis cantik dengan lesung pipi diwajahnya itu berulang-ulang kali melihat penampilan nya melalui layar ponsel yang menyala.

Oh ayolah Dira, sebagus apapun penampilan mu hal itu tak akan membuat ibunda Raffa itu untuk menyukai nya. Yahh semoga saja kali ini keberuntungan berpihak padanya.

Ekor mata Dira melirik kembali pada jam yang melingkar pada pergelangan tangan, jarum kecil jam itu sudah menunjukkan tepat pukul 17.15 WIB, yang artinya wanita paruh bayah itu terlambat datang untuk waktu yang sudah mereka tetapkan.

Baru saja Dira akan beranjak pergi, wanita paruh baya yang sedari tadi ia tunggu akhirnya tiba juga.

"Sorry Dira, ada beberapa hal penting yang harus saya urus"

Dira kembali duduk, mengulas senyuman termanisnya seperti biasa dalam melayani penumpang kabin " tidak masalah Tante. Lagipula saya juga baru saja tiba"

"Hmm oke, berarti saya tidak perlu merasa bersalah karena sudah membuat mu menunggu"

Dira mengangguk " iya Tante"

Arna- mama Raffa tampak menarik napas dalam, sebelum tangan nya meraih sebuah lembaran dari dalam tasnya itu.

"Untuk kamu" Arna menyondorkan sebuah undangan dengan desain klasik-modrn yang memancing reaksi heran dari Dira.

Tidak biasanya wanita paruh baya ini mengundang ia untuk acara-acara yang bersangkutan dengannya. Bentar apakah ini sebuah pertanda jika ia akan mendapatkan lampu hijau dari mama Raffa.

Meninggalkan kemungkinan demi kemungkinan, jemari Dira lantas meraih undangan yang sudah diatas meja itu.

Tepat pada saat ekor matanya membaca dengan ketelitian nama siapa yang tersemat dalam undangan tersebut.

Jantung Faldira terasa seperti mencolos begitu saja, kelopak matanya sampai berkedip berulang kali. Memastikan bahwa ada keliruan dalam penglihatan nya.

"Lihat Faldira. Bukankah kedua nama itu sangat cocok disandingkan dalam balutan undangan yang begitu indah itu"

Tanpa sadar tangan Dira meremas undangan yang berada ditangannya, tentu saja hal tersebut tidak luput dari penglihatan Arna.

"Bukankah sedari awal saya sudah memperingatkan kamu, Faldira. Mundur sedari awal seharusnya adalah pilihan yang tepat dibandingkan melihat takdir yang memaksa untuk renggang"

Cairan bening sudah dipastikan menggenang di pelupuk mata Faldira, dengan sisa tenaganya yang dimilikinya ia berusaha untuk menahan kristal bening itu untuk tidak luluh dihadapan wanita yang sekarang tengah mengejek dirinya.

Sisa-sisa keberanian masih ada pada dirinya, mengangkat wajah dengan raut datar sebagai topeng luka yang memenuhi hatinya. "Sebegitu tidak sukanya tante dengan saya sampai melakukan ini semua?"

Bukan langsung jawaban yang diberikan Arna, melainkan sebuah kekehan yang membuat harga diri Faldira terasa semakin diinjak injak oleh wanita paruh bayah yang aslinya adalah sosok nenek sihir yang tengah menjelma.

"Tanpa saya menjawabnya seharusnya kamu sudah tahu dan sadar akan hal itu, Faldira. Jauh sebelum ini semua terjadi, bukan kah saya sudah menentang hubungan kamu dengan anak saya. Sejak awal saya sudah memperingatkan kamu untuk menjauh dari anak saya, seharusnya kamu sadar dengan diri kamu dan anak saya yang jauh sangat berbeda. Keluarga kamu dan keluarga Raffa sangat bertolak belakang, lihat ayah kamu---"

"CUKUP TANTE". Amarah yang sudah tak tertahan membuat Dira tanpa sadar mengeluarkan bentakan, bahkan gadis itu sampai berdiri dari duduknya

Arana lantas kaget, tak menyangka jika gadis dihadapannya ini berani membentak nya ditempat umum seperti ini. Yant tentu saja sontak membuat mereka menjadi pusat perhatian.

Plakk

Satu tamparan mendarat mulus diwajah cantik milik Faldira, siapa pelakunya? Ya tentu saja nenek sihir yang menjelma sebagai ibu dari pacarnya itu, eh ralat mungkin sekarang sudah menjadi mantan pacar.

"Sudah saya duga, memang seperti ini karakter kamu yang sebenarnya Faldira" kekeh Arana

"Cihh, selama ini kamu berusaha memberikan kesan anggun dan sopan kepada saya, tapi nyatanya memang seperti ini karakter kamu aslinya yang tidak memiliki sopan santun kepada yang lebih tua. Sudah benar yang saya lakukan untuk menjauh Raffa dari wanita ular dan licik seperti kamu. Dasar gadis desa yang tidak punya sopan santun dan tata krama. Kemana selama ini orang tua kamu?sampai tidak bisa mengajari sopan santun, oh ya ibu kamu saja kabur ya? Pantesan tidak sempet mengajari tata krama ke anaknya"

Byurrr

Satu gelas americano sudah berpindah tempat diwajah Arna.

"K-kamuu" tunjuk Arana " Berani sekali kamu menyiram saya"

"Memang nya tante siapa? Sampai saya harus takut? Sedari tadi saya berusaha untuk tetap bersikap sopan kepada tante, tapi apa yang tante lakuin? Tante justru semakin injak-injak harga diri saya, Tante hina keluarga saya bahkan dengan mulut sampah Tante itu berani sekali menghina ibu saya" katakanlah saat ini Faldira sudah kehilangan tata krama nya terhadap orang yang lebih tua, persetan dengan itu semua yang terpenting ia bisa melampiaskan amarahnya terhadap kelakuan wanita tua ini.

"Saya tau kok tante, saya cuman orang kampung yang tidak tahu diri dengan memiliki hubungan bersama anak Tante yang level nya diatas saya. Saya sadar itu kok, tapi perlu Tante ingat lagi anak Tante yang mengejar saya, bukan saya yang mengejar anak Tante"

"Masalah tata krama yang diajarkan orang tua saya. Seperti nya Tante salah besar terhadap itu, justru orang tua saya selalu mengajarkan tata krama dan bersikap sopan kepada yang lebih tua, terlihat kan bagaimana selama ini saya bersikap kepada tante walaupun Tante tidak menghargai yang saya lakukan. Persetan ibu saya yang kabur, Tante tahu apa soal ibu saya?" Mata Faldira memerah, menatap tajam Arana yang membuat wanita paruh bayah itu menelan ludahnya. Sungguh saat ini gadis dihadapannya bukan seperti Faldira yang biasa, gadis itu benar-benar tampak sangat menakutkan seperti iblis yang baru saja bangun dari tidurnya.

"Saya tanya, Tante tahu apa soal ibu saya? Kenapa Tante berani sekali menghina ibu saya? Persetan ibu saya yang kabur. Lalu apa kabar dengan suami Tante yang tidur dengan wanita lain sampai memiliki anak? "

"Kurang ajar. Berani sekali kamu berbicara seperti itu kepada saya"

Faldira berdecih " Kenapa? Tante tidak terima dengan fakta yang ada? Memang seperti itukan faktanya. Ternyata benar apa kata pepatah, buah jatuh tidak jauh dari pohonnya. Tapi sepertinya kali ini buahnya jatuh sampai sepohon pohonnya "

"Faldira Winara. Cihh, seharusnya kamu ingat dengan siapa saat ini kamu berhadapan. Kamu itu hanya orang rendahan yang sudah melewati batasan. Berani sekali kamu menghina saya dan keluarga saya"

Faldira membuka layar ponselnya, membuka pada icon kamera yang ada diponsel. Lalu menunjukkannya tepat dihadapan Arana.

"Silakan tante. Sepertinya dari sini cukup membuat tante sadar tentang siapa yang lebih dahulu menghina. Lagipula yang saya katakan benar kan? Bukan justru hinaan seperti yang Tante katakan "

Marasa cukup atas lampiasan amarahnya yang selama ini terpendam, Faldira memutuskan untuk segera pergi. Tangannya meraih tas tangan miliknya dan kaca mata hitam yang sudah bertengger manis dihidung bangirnya.

"Siap-siap saja dengan kehancuranmu Faldira. Saya akan membawa ini kejalur hukum atas apa yang kamu lakukan kepada saya"

Sebelum benar-benar melangkah, Faldira membalik badannya menghadap Arana. Ditarik kacamatanya seraya tertawa geli " Sepertinya kamera saya tadi tidak cukup membuat tante untuk sadar"

Faldira menatap sekelilingnya yang menatapnya takjub,

"Tenang mbak, kami semua bakal jadi saksi mbak kalau Tante ini mau bawa kejalur hukum" salah satu pengunjung cafe bersuara

"Iya benar mbak, kami siap jadi saksi nantinya"

"Engga perlu khawatir mbak, semua kejadian dari awal sampai penyerangan sudah saya abadikan diponsel saya" kata pengunjung cafe yang lain, seraya memberikan bukti pada ponselnya.

Faldira tersenyum miring menatap Arana "Lihat Tante, ada banyak saksi dari kejadian hari ini bukan"

"Terimakasih" ucap Faldira mengulas senyuman dibalik kacamatanya

"Sama-sama mbak, mbaknya engga perlu terimakasih ke kita"

"Iya benar itu mbak. Mbak jangan terlalu sedih ya"

"Ingat mbak, cowok didunia ini ada banyak. Jadi engga perlu bersedih dengan modelan cowok seperti itu"

"Alhamdulillah mbak bersyukur, tandanya Allah saya ke mbaknya"

"Duh engga kebayang deh gimana nasib simbaknya kalau jadi menantu nya beneran "

Dan banyak lagi reaksi dan tanggapan dari pengunjung cafe

Patuloy na basahin ang aklat na ito nang libre
I-scan ang code upang i-download ang App

Pinakabagong kabanata

  • Diary Dira   kelima🍂

    Masih dengan kacamata hitam di hidung bangirnya, kedua kaki jenjang itu melangkah keluar dari restoran yang menjadi tempat Kramat dalam sejarah hidupnya.Pandangannya terlihat kabur, penuh dengan genangan butiran kristal yang dalan kedipan akan luluh begitu saja.Kamlimat demi kalimat dari wanita ular yang sayangnya adalah ibu dari orang yang pernah menjadi bagian hidupnya itu teringat jelas tanpa celah. Bagaimana tiap bait kata yang keluar sungguh menghujam hatinya dengan ribuan belati yang menancap tanpa melesat sedikit pun.Jika didalam sana tadi, ia terlihat tetap datar dalam membalas tiap perbuatan yang diterima. Lain halnya jika sekarang ini.Dibawah rintik hujan yang membasahi bumi, kaki itu tetep melangkah tak tau arah. Hujan turun semakin deras, seakan saat ini semesta juga mengambil andil atas sakit yang dialaminya.Bagaimana mungkin? Bagaimana mungkin ini semua terjadi? Kalimat itu selalu ia tanyakan pada dirinya sendiri.Kenapa pertunangan itu terjadi? Ralat kenapa ia meng

  • Diary Dira   ke empat

    Sore ini adalah sore yang berbeda bagi Dira. Sebuah moment dimana ia akan kembali bertemu dengan ibu dari sang kekasih tercinta. Wanita paruh bayah yang selalu menatap tak suka kepada Dira setelah mengetahui fakta bahwa ia bersanding dengan anaknya tercinta. Rasa gugup tentu saja tak bisa Dira tutupi begitu saja, terlihat sedari tadi gadis cantik dengan lesung pipi diwajahnya itu berulang-ulang kali melihat penampilan nya melalui layar ponsel yang menyala. Oh ayolah Dira, sebagus apapun penampilan mu hal itu tak akan membuat ibunda Raffa itu untuk menyukai nya. Yahh semoga saja kali ini keberuntungan berpihak padanya. Ekor mata Dira melirik kembali pada jam yang melingkar pada pergelangan tangan, jarum kecil jam itu sudah menunjukkan tepat pukul 17.15 WIB, yang artinya wanita paruh bayah itu terlambat datang untuk waktu yang sudah mereka tetapkan. Baru saja Dira akan beranjak pergi, wanita paruh baya yang sedari tadi ia tunggu akhirnya tiba juga. "Sorry Dira, ada beberapa hal p

  • Diary Dira   ketiga🍂

    Menikmati sejenak hari libur yang cukup menghibur dirinya, Saat ini Dira sudah harus kembali pada rutinitas awalnya yang ditemani oleh padatnya skeju terbang serta beberapa acara seminar peluncuran buku terbaru nya yang akan dilaksanakan minggu ini. Melirik jadwal yang sudah tersusun rapi pada catatan ipad nya itu membuat Dira memijat pelipis nya pusing, Jujur saja tubuh nya benar-benar merasa lelah dengan skeju yang amat padat ini, tapi disisi lain Dira juga bisa merasa senang melakoni pekerjaan yang sedang ia lakukan. Entah lah terkadang Dira juga merasa bingung dengan kemauan dirinya sendiri ini. "Mbak udah siap? Mobil udah nunggu di loby nih" teriakan dari Wita yang terdengar diruang Tv, membuat Dira segera bergegas untuk mengunci isi kopernya "Iya sebentar... " "Udah siap semua? Enggak ada yang ketinggalan lagi kan? " tanya Dira sambil tangannya merapikan sedikit tas yang tengah dipakai "Enggak ada sih kayaknya" jawab Wita pelan dengan raut seperti tengah berpikir "Oh

  • Diary Dira   kedua🍂

    Tangan Dira dengan cekatan meraih slingbag yang tergantung didalam lemari khusus tas milik nya. Dipoles nya sedikit lip cream untuk menambahkan kesempurnaan pada make up tipis yang sudah melekat pada wajahnya. "Loh mbak mau kemana? " tanya Wita yang baru saja tiba didalam kamar"Urusan orang gede" jawab Dira tersenyum geliAlis Wita terangkat sebelah "Dih, bilang aja yang mau ngedate" cibir Wita seraya merebahkan tubuh nya diatas sofa kamar Dira "Nanti kalau mau balik kunciin apartemen nya ya dek" pesan Dira sebelum ia benar-benar melangkah pergiWita hanya mengacungkan jempol sebagai tanggapan, usai itu gadis Jawa asal Solo itu sudah berkelana didalam dunia mimpinya. Dira sampai geleng-geleng kepala melihat tingkah adik angkat nya itu yang segampang itu terlelap dalam tidur, tak perduli ditempat apa ia tengah berada. Saat baru saja akan melangkah masuk kedalam lift, Raffa baru saja mengirimkan sebuah pesan mengenai dirinya yang sudah tiba di basement apartemen milik Dira. "I'

  • Diary Dira   Awal 🍂

    "Selamat malam. Seat berapa bapak?" Dira tersenyum ramah pada pria paruh bayah dengan setelan jas formal yang seperti nya tengah kebingungan mencari no tempat duduknya. "3F, mbak" "3F window seat di sebelah kiri. Mari saya antarkan" Pria tadi ikut berjalan dibelakang Dira untuk mencari tempat duduknya, Setibanya ditempat, Dira langsung mempersilahkan penumpang nya itu untuk segera duduk. "Terimakasih banyak mbak" ulas sang penumpang dengan senyuman lega Dira mengangguk dan tersenyum hangat membalas ulasan dari penumpang nya itu. Selanjutnya Dira segera kembali ke galery depan. Ada ratusan penumpang lagi yang harus ia sambut dengan ramah tamah, Sebenarnya secara spesifik ada 11 penumpang lagi yang harus ia tunggu, sebab pada hari ini Dira mendapat tanggungjawab 12 orang penumpang kelas bisnis. Faldira Winara, nama yang tersemat dalam name tag didada sebelah kirinya itu. Pramugari senior yang berkandang di business class dan telah mengudara selama sembilan tahun. Hamp

Higit pang Kabanata
Galugarin at basahin ang magagandang nobela
Libreng basahin ang magagandang nobela sa GoodNovel app. I-download ang mga librong gusto mo at basahin kahit saan at anumang oras.
Libreng basahin ang mga aklat sa app
I-scan ang code para mabasa sa App
DMCA.com Protection Status