LOGINTangan Tuan Malik melayang ke udara, hendak menampar mulut lancang Marlena karena sudah menuduh calon istrinya itu telah melakukan perbuatan hina. Namun, sekuat tenaga ia menahan amarahnya. Ia tidak ingin terbawa arus gelombang hasutan yang sengaja diciptakan Marlena untuk mematik api cemburunya sekaligus membakar emosinya.“Jaga ucapanmu, Lena! Jangan pernah merendahkan Lisa seperti itu! Kau tahu sendiri, dia bukan seperti itu.” Peringatan keras diberikan Tuan Malik pada Marlena lalu mengganti tamparan itu menjadi cengkeraman kuat di rahangnya. “Akh, aku tidak bohong, Bos! Kalau kau tidak percaya padaku, aku punya buktinya. Bukti rencana pelarian mereka!” Sambil merintih, tangan Marlena dengan susah payah bergerak mengambil ponselnya dari dalam tas kecil, dan memperlihatkan semua pesan chat persekongkolan Alisa, Farel serta bantuan dirinya ke arah Tuan Malik. “Bacalah sendiri kalau Bos tidak percaya!”Dengan gusar, Tuan Malik meraih ponsel Marlena dan terpaksa membacanya karena ras
“Cari Marlena sampai dapat!” Titah Tuan Malik dengan suara menggelegar pada semua pengawalnya, termasuk Thomas.Tuan Malik begitu kesal saat mengetahui bahwa Marlena lah yang membawa Farel ke sekolah.Berdasarkan rekaman CCTV yang ada di pintu masuk gerbang sekolah, yang memperlihatkan bahwa Farel datang berboncengan dengan Marlena. Dari situlah Tuan Malik bisa mengambil kesimpulan dengan yakin bahwa Penculikan terhadap Alisa sudah direncanakan sebelumnya oleh dua orang tersebut.Tidak ingin tinggal diam, Tuan Malik menelpon Riko, manajer operasionalnya yang ada di Club untuk mencari tahu dimana alamat rumah Farel, untuk selanjutnya memerintahkan beberapa penjaganya yang ada di kelab untuk menggeledah tempat tinggal bartendernya tersebut.Sambil menunggu hasil pencarian yang dilakukan Riko bersama pengawalnya, Tuan Malik ikut bergerak mencari keberadaan Marlena yang kemungkinan saat ini sedang bersembunyi di area sekolah, mencari di sisi lain dari area sekolah yang belum dijangkau pen
Mulut Alisa menganga tidak percaya usai mendengar ucapan Farel. “Apa? Kita akan menginap disini? Di Vila ini?” Mata Alisa mengamati vila besar dan megah didepannya itu yang jauh dari rumah penduduk dan sepertinya berada di tengah hutan.“Tentu saja, Babe! Kenapa?” Farel membawa motornya memasuki halaman vila yang ternyata cukup luas itu. Ada beberapa kendaraan roda empat yang terparkir disana.“Tidak! Aku tidak mau, Rel! Aku ingin pulang saja!” Tegas Alisa yang menolak mentah-mentah ajakan Farel.Dengan santai, Farel turun dari kendaraannya setelah memarkir motor balapnya di halaman vila yang tidak berpagar. Menekan bel yang ada didepan pintu masuk.“Jangan membuat keributan disini, Babe! Ini sudah malam. Kalau kamu minta pulang, besok saja! Aku harus istirahat. Punggungku capek berkendara hampir dua jam. Tidak bisakah kamu mengerti?” Farel memperingatkan Alisa penuh dengan penekanan sekaligus meminta pengertian Alisa.Pintu terbuka, sayup-sayup terdengar suara house musik didalam san
Begitu murkanya Tuan Malik, saat melihat Thomas kembali menghadapnya tanpa membawa Alisa disampingnya.BUGH!“Bodoh! Bagaimana bisa kamu kehilangan jejaknya didalam toilet putri, Thomas?” Hardik Tuan Malik begitu kesal setelah mendaratkan Pukulan keras ke rahang Thomas.Tuan Malik tidak perlu memusingkan tatapan aneh yang ditujukan padanya karena memperlakukan pengawalnya seperti seorang penjahat.Berusaha tegar dan tidak mengaduh, Thomas memberikan penjelasan. “Ada seorang gadis yang menabrak dan menumpahkan makanan di tubuh saya, Tuan!”“Hanya karena pakaianmu kotor ketumpahan makanan, dan kamu jadi melalaikan tugasmu? What the fuck of you, Thomas? Kamu bukan pengawalku kemaren sore!” Ucapnya begitu murka ke arah Thomas. Tangannya bahkan reflek mendorong kesal tubuh pengawalnya hingga mundur selangkah darinya. Ia tidak percaya pengawalnya itu tidak becus mengawal calon istrinya, hingga hilang begitu saja tanpa jejak. Padahal dia sengaja mengandalkan Thomas untuk mengawal Alisa, kar
Kegelisahan menyergap diri Alisa. Ia duduk tidak tenang disamping Tuan Malik. Matanya selalu awas menatap siapa saja yang lalu-lalang didepannya. Mencari-cari keberadaan Marlena dan Farel disekitar sana. Ia takut melewatkan isyarat yang akan diberikan oleh dua orang teman dekatnya tersebut.Sudah setengah jam menunggu, dan ia masih belum melihat tanda-tanda keberadaan dua orang itu. Namun, ia baru menyadari bahwa ada satu sosok ganjil yang berada cukup jauh darinya. Tepatnya pria bertopeng anjing berwarna coklat yang berdiri diujung koridor, persis di sebelah kanan bagian belakang panggung, yang pandangannya terus melihat ke arahnya. Apakah dia Farel?Dengan takut-takut, Alisa segera meraih ponselnya yang sedari tadi ia simpan dalam tas kecil dan ia kondisikan dengan mode silent. Berusaha untuk membaca pesan yang dikirimkan oleh Farel untuknya.[Kau bisa melihatku dari sana, Babe? Aku memakai topeng anjing warna coklat] Isi pesan dari Farel yang ternyata sudah terkirim sekitar 20 men
Malam ini acara Pentas Seni Pelepasan kelas XII pun digelar.Alisa meletakkan tas olah raganya yang berisikan seragam cheerleader beserta pom-pom miliknya ke dalam bagasi mobil. Didalamnya tak lupa ia membawa serta rambut palsu serta pakaian ganti yang akan ia gunakan untuk mengibuli para pengawal Tuan Malik nantinya.Apa pun yang terjadi, rencana tetap harus berjalan sesuai dengan kesepakatan awal. Meskipun hal-hal tidak terduga terjadi bersusulan.“Kamu sudah siap, sayang?” Tanya Tuan Malik yang sudah duduk di kursi penumpang. Ia menyambut tangan Alisa saat memasuki kendaraannya dengan mata penuh binar bahagia.“Huh, sok romantis segala!” Dengus Alisa didalam hati. Jengah melihat kepalsuan yang ditunjukkan pria didepannya.Namun, sikapnya justru mengkhianati keinginannya, yaitu malah melakukan hal yang sebaliknya.Alhasil, seulas senyum manis pun disunggingkannya untuk pria itu. “Sudah, Tuan!” Ucapnya tersipu malu.Setelah tangan pria itu hinggap dan memeluk pinggang Alisa yang meng