Share

Dibalik Panggung, Aku kehilanganmu
Dibalik Panggung, Aku kehilanganmu
Author: Ravelyn Ash

1. Panggung Terakhir

Author: Ravelyn Ash
last update Last Updated: 2026-03-05 18:29:47

Lampu panggung menyala‎

Stadion Seoul ramai karena banyaknya penonton.

Puluhan ribu lightstick membentuk lautan cahaya.‎

“Selamat datang di ECLIPSE: United Stage Festival!”‎

Nama AURORA ENTERTAINMENT terpampang besar di layar LED raksasa.‎

Dan di tengah sorakan itu—

Yuha tersenyum.‎

Senyum yang sempurna.

Senyum yang telah ia latih selama bertahun-tahun.‎

“Yuha! Lihat ke kamera tengah!”‎

Ia menoleh dengan wajah yang bersinar dan mata yang berbinar.

Tak ada yang tahu sebenarnya Ia menanggung banyak masalah.‎

‎—‎

Di sisi lain backstage, Suho berdiri dengan headset di lehernya.‎

Ia adalah bagian dari tim produksi musik di Agensi yang berbeda dengan Yuha.‎

Tangan kirinya memegang tablet berisi revisi aransemen.

Deadline minggu ini hampir membunuhnya.‎

Tapi matanya tetap mencari satu orang.‎

Yuha.‎

Dan ketika mata mereka bertemu dalam keramaian, dunia terasa mengecil.‎

Yuha menatap kekasihnya tersebut dengan senyum yang ramah,

berjalan mendekat, masih dengan mic di tangan.‎

‎“Kak.”‎

Suho menunduk sedikit agar tak terlalu mencolok.‎

‎“Kamu kelihatan cantik banget hari ini.”‎

“Terima kasih kak”

Yuha menatapnya beberapa detik lebih lama dari biasanya.‎

‎“Kak… ada sesuatu yang mau Aku ceritakan. Bisakah kamu datang ke rumahku besok malam? Aku benar-benar berharap kamu bisa datang”‎

Suaranya pelan, nyaris hilang di Tengah keramaian staf.‎

Suho terdiam.‎

Beberapa hari terakhir, dia mulai merasa ada tatapan aneh ke arahnya.

Rumor juga mulai beredar di antara para staf.

Beberapa dari mereka bahkan berbisik pelan setiap kali ia lewat

“Yuha… sepertinya kita harus membatasi hubungan kita mulai sekarang. Nampaknya Agensiku mulai mencurigaiku.”‎

Wajah Yuha sempat membeku sesaat.‎

‎“Tapi kak, aku—”‎

“YUHA! Siap posisi! Lima menit lagi!”‎

Manager memanggil keras.‎

Yuha tersentak.‎

Tatapannya tertuju pada Suho, seolah ingin mengatakan sesuatu lagi.‎

Tapi pada akhirnya, Ia hanya tersenyum.‎

Senyum yang muncul terlalu cepat.‎

‎“Aku nggak papa. Nanti aja.”‎

Dan ia berlari kembali ke panggung.‎

Suho berdiri di tempatnya.‎

Tidak mengejarnya.‎

Tidak bertanya.‎

Tidak menyadari itu adalah kesempatan terakhirnya untuk mendengarkannya.‎

‎—‎

Konser selesai dengan gemuruh yang luar biasa.‎

Aurora mendapat sorakan meriah dari penonton

Nama Yuha bahkan trending di berbagai platform.‎

Namun di ruang ganti…‎

Ruang ganti LUMIÈRE dipenuhi bau hairspray dan keringat panggung.‎

Sorakan penonton masih terdengar samar dari luar stadion.‎

Yuha baru saja melepas in-ear monitor-nya ketika pintu dibelakangnya tertutup lebih keras dari biasanya.‎

Sunyi.‎

Lalu suara Mira terdengar lebih dulu.‎

‎“Kamu puas sekarang?”‎

Yuha menoleh dengan bingung. “Maksud kakak apa?”‎

Minji menyilangkan tangan. “Kamu ketemu cowok itu lagi kan? Di saat skandal lagi panas-panasnya?.”‎

Haein tertawa kecil, sinis. “Bagus, Yuha. Kamu benar-benar tau ya cara bikin masalah?”‎

Jantung Yuha berdegup lebih cepat.‎

‎“Aku cuma—”‎

‎“Cuma apa?” Dahyun memotong. Suaranya tenang, tapi tajam. “Kita semua lagi berusaha jaga nama ‎grup. Kamu malah sibuk pacaran.”‎

“Tunggu, itu bukan seperti yang kalian pikir—”‎

‎“Jangan bohong!” Mira membentak. “Staff aja udah mulai ngomong. Sponsor bisa cabut gara-gara ‎skandalmu!”‎

Yuha menggeleng pelan. “Aku nggak bermaksud bikin masalah…”‎

Minji mendekat satu langkah. “Tapi masalahnya tetap terjadi kan.”‎

Haein menambahkan, lebih pelan tapi lebih menusuk, “Dan itu selalu karena kamu.”‎

Ruangan terasa menyempit.‎

Lampu putih di atas kepala terasa terlalu terang.‎

Dahyun menatap Yuha lama. Tidak marah. Tidak berteriak. Hanya dingin.‎

‎“Kamu tahu nggak kenapa orang-orang benci kamu?”‎

Yuha terdiam.‎

“Karena kamu selalu terlihat sempurna. selalu dianggap berbakat. Seolah-olah semuanya memang milikmu.”‎

Haein melanjutkan

‎“ya, Aku tau bukan salahmu kamu selalu yang paling bersinar. Tapi bukan berarti kamu bisa egois.”‎

Egois.‎

Kata itu menggema di kepala Yuha.‎

‎“Aku nggak pernah—”‎

‎“Berhenti pura-pura polos!” Mira mendecih. “Dari dulu coach selalu bandingin kita sama kamu, sekarang publik juga ikut-ikutan dan kamu malah sempet-sempet nya ketemu cowokmu?!”‎

Yuha menunduk.‎

Tangannya gemetar.‎

Sebenarnya ini bukan salah Yuha, hanya saja para member terlalu iri, dan mereka mulai mengaitkan semuanya dengan rumor tentang hubungan Yuha.

Dahyun melangkah lebih dekat. Sangat dekat hingga hanya ada beberapa sentimeter di antara mereka.‎

‎“Kalau grup ini hancur,” bisiknya pelan, “itu gara-gara kamu.”‎

Kalimat itu terasa lebih menyakitkan daripada teriakan.‎

Lebih berat daripada bentakan.‎

Napas Yuha seakan tercekat di dadanya.‎

‎“Aku… minta maaf.”‎

Hanya itu yang keluar.‎

Ia membungkuk.‎

Dalam.‎

Sangat dalam.‎

Bukan karena ia merasa bersalah sepenuhnya.‎

Tapi karena ia takut.‎

Takut benar-benar sendirian.‎

Takut mereka membencinya lebih jauh.‎

Mira menghela napas keras. “Selalu saja minta maaf.”‎

Minji menggeleng. “Kalau kamu memang peduli sama kita, kamu harusnya tahu kapan harus berhenti.”‎

Haein memalingkan wajah. “Kadang aku mikir… mungkin tanpa kamu grup ini lebih tenang.”‎

Itu yang paling menghancurkan.‎

Bukan teriakan.‎

Bukan hinaan.‎

Tapi kemungkinan bahwa keberadaannya adalah beban.‎

Yuha mengangguk kecil.‎

‎“Aku benar-benar minta maaf.”‎

Ia pun berbalik pergi

Tapi…

Tidak ada yang menahannya

Tidak ada yang merasa bersalah

‎—‎

Kamar mandi backstage kosong.‎

Pintu tertutup pelan.‎

Yuha berdiri di depan wastafel.‎

Cahaya putih neon memantul di cermin besar.‎

Ia menatap dirinya sendiri.‎

Makeup masih sempurna.‎

Eyeliner tajam. Glitter masih berkilau di kelopak matanya.‎

Namun matanya sudah berkaca-kaca

Bibirnya bergetar.‎

Tangannya mencengkeram pinggiran wastafel kuat-kuat sampai buku jarinya memutih.‎

Ia menarik napas.‎

Sekali.‎

Dua kali.‎

Jangan menangis.‎

Kalau mascara luntur, stylist akan tahu.‎

Kalau stylist tahu, manager tahu.‎

Kalau manager tahu, semua orang tahu.‎

Ia tersenyum pada cermin.‎

Senyum tipis.‎

Senyum yang dipaksakan

“Kamu harus professional Yuha,” bisiknya pada bayangannya sendiri.‎

Air mata jatuh sebelum sempat ia tahan.‎

Cepat-cepat ia menyekanya.‎

“Ini cuma capek.”‎

Ia menegakkan tubuhnya.‎

Menatap lagi pantulan dirinya.‎

‎“Semua orang juga capek.”‎

Suaranya hampir tak terdengar.‎

‎“Jangan jadi orang lemah.”‎

Satu air mata lagi jatuh.‎

Ia tersenyum lagi.‎

Lebih lebar.‎

Lebih palsu.‎

“Maaf.”‎

Tak ada siapapun di ruangan itu.‎

Tapi ia tetap meminta maaf.‎

Seolah keberadaannya sendiri adalah kesalahan.‎

Dan malam itu…‎

adalah terakhir kalinya ia berdiri di depan cermin untuk berusaha terlihat kuat.‎

‎—‎

Malam di studio Haneul Music Lab, suasananya selalu terasa sama.‎

Dingin.

Sepi.

Dan dipenuhi suara metronom yang tak pernah berhenti.‎

Suho duduk di depan layar monitor, headphone menempel di telinga.

File aransemen untuk penampilan Music Show terbuka dengan puluhan layer suara.‎

String section belum seimbang.

Bridge terasa kosong.

Deadline tinggal tiga hari.‎

Lalu..

Ponselnya bergetar pelan di meja.‎

Ia tidak langsung melihatnya.‎

Sampai getaran kedua datang.‎

Akhirnya ia menoleh.‎

Nama itu.‎

Yuha.‎

Dadanya menghangat seketika.‎

Ia membuka pesan itu.‎

“Kak, bisa datang sekarang?”

“Aku takut sendirian.”‎

Jantungnya berhenti satu detik.‎

Takut?‎

Yuha jarang sekali menggunakan kata itu.‎

Jarang sekali meminta.‎

Ia menatap layar lebih lama dari yang seharusnya.‎

Jari-jarinya mulai mengetik.‎

‎“Aku lagi sibuk. Besok ya.”‎

Ia berhenti.‎

Menghapus.‎

Mengetik lagi.‎

‎“Kenapa? Ada apa?”‎

Menghapus lagi.‎

Kalau ia bertanya begitu, Yuha pasti akan merasa diinterograsi.‎

Ia tahu Yuha.‎

Yuha tidak suka membuat orang khawatir.‎

Suho menghela napas.‎

Mungkin ini hanya efek skandal.

Mungkin Yuha hanya lelah setelah konser.

Mungkin ini hanya overthinking.‎

Ia mencoba bersikap rasional.‎

Besok ia bisa menemuinya.‎

Besok ia bisa mendengarkan.‎‎

Ia meletakkan ponselnya dengan posisi terbalik.‎

Memaksa fokus ke layar komputer

Metronom kembali berdetak.‎

Tapi pikirannya tidak lagi stabil.‎

Beberapa menit berlalu.‎

Tangannya berhenti di atas keyboard MIDI.‎

Ia mengambil ponselnya lagi.‎

Layar masih menunjukkan pesan itu.‎

Dilihat 22.47.‎

Tidak ada pesan lanjutan.‎

Ia menggigit bibirnya.‎

Haruskah ia pergi?‎

Tapi kalau ia keluar sekarang dan seseorang melihatnya…‎

Rumor akan semakin panas.‎

Dan jika rumor membesar, karier Yuha bisa lebih hancur.‎

Ia meyakinkan dirinya sendiri:‎

Menjaga jarak adalah cara melindunginya.‎

Ia menaruh ponsel sekali lagi.‎

Dan kali ini benar-benar memaksakan diri bekerja.‎

‎—‎

Di apartemen lantai tiga yang terasa sunyi, Yuha duduk di tepi tempat tidur.‎

Layar ponselnya menyala redup di tangannya.‎

Tidak ada balasan.‎

Ia menatap status “dibaca” cukup lama.‎

Tidak marah.‎

Tidak kesal.‎

Hanya… kosong.‎

Ia mengetik lagi.‎

‎“Kak, aku cuma mau cerita bentar.”‎

Ia menatap kalimat itu.‎

Menghapusnya.‎

Mengetik lagi.‎

‎“Aku baik-baik saja kok.”‎

Ia berhenti.‎

Menutup mata.‎

Menghapus lagi.‎

Akhirnya ia mematikan layar ponselnya.‎

Karena ia tahu.‎

Kalau ia meminta sekali lagi, dan tetap tidak dijawab…‎

Itu akan jauh lebih menyakitkan.‎

Ia berdiri perlahan.‎

Apartemen itu terasa terlalu luas untuk satu orang.‎

Suasana sangat sepi.‎

Ia membuka laci meja kecilnya.‎

Mengambil diary biru tua.‎

Hadiah dari Suho.‎

Tangannya sedikit gemetar saat membukanya.‎

Tinta mengalir pelan di atas kertas.‎

Kak, aku tadi mau cerita. ‎

Tapi mungkin kakak terlalu sibuk‎

Aku lelah. ‎

Aku benar-benar lelah.‎

Maaf karena tidak bisa lebih kuat. ‎

Maaf karena mungkin aku selalu merepotkan.‎

Tetes air jatuh memburamkan tinta.‎

Ia mengingat jelas perkataan member lain padanya

‎“…mungkin tanpa kamu, grup ini lebih tenang”‎

Apakah jika aku pergi, semuanya akan lebih tenang?

Semuanya akan lebih baik?

Ia menutup diary itu pelan.‎

Lalu menatap ke arah balkon.‎

Langit malam yang gelap.‎

Angin dingin masuk dari celah pintu kaca yang sedikit terbuka.‎

Yuha melangkah mendekat.‎

Langkahnya ringan.‎

Seolah tidak ada beban.‎

Padahal seluruh dunia terasa menekan pundaknya‎

‎“Maafkan aku semua…”‎

‎—‎

Di studio, Suho akhirnya menyelesaikan bagian bridge.‎

Ia pun bersandar lelah.‎

Refleks membuka ponsel lagi.‎

Tidak ada pesan baru.‎

Ia hampir mengetik sesuatu.‎

“Habis ini aku ke sana.”‎

Jarinya menggantung di atas layar.‎

Tapi jam menunjukkan 01.12.‎

Terlalu larut.‎

Ia berpikir:‎

Besok pagi aku masih bisa temui dia.‎

Ia mematikan ponselnya.‎

Dan malam itu…‎

Suho lebih memilih pekerjaan.‎

Tanpa tahu bahwa di saat yang sama,‎

Yuha memilih menyerah.‎

‎—‎

Suho terbangun dari tidurnya karena suara notifikasi yang tak berhenti.‎

Satu.

Dua.

Tiga.‎

Ponselnya bergetar di atas meja samping tempat tidur suho.‎

Ia mengerjap pelan. Kepalanya terasa masih berat karena tidur hanya dua jam.‎

Ia pun menyalakan layer ponselnya.‎

Puluhan notifikasi berita.‎

Grup chat industri musik meledak.‎

Satu headline terpampang besar di layar.‎

‎“Maknae LUMIÈRE, Yuha, Ditemukan Tak Sadarkan Diri — Diduga Bunuh Diri.”‎

Ponsel itu terjatuh dari tangannya.

Dan untuk pertama kalinya dalam hidupnya,

Suho berharap ia tidak pernah berpikir rasional.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Dibalik Panggung, Aku kehilanganmu   11. The First Recording

    Koper besar terbuka di lantai kamar.‎Ibu Yuha melipat pakaian dengan hati-hati, memasukkan satu per satu ke dalam koper.‎‎“Jangan lupa bawa jaket tebalmu. Di Studio biasanya dingin,” ucapnya lembut.‎Yuha tersenyum kecil.‎“Iya, Bu.”‎Hyunsik bersandar di kusen pintu, memperhatikan dalam diam. Suasana tidak tegang, tapi terasa berbeda...seolah satu fase hidup benar-benar telah berganti‎“Gimana rasanya bisa debut?” tanya ibunya pelan.‎Yuha terdiam sebentar.‎‎“Senang… tapi juga takut.”‎Ibu menghentikan tangannya, lalu mendekat dan merapikan rambut Yuha.‎‎“Takut itu emang wajar Yuha. Yang tidak wajar kalau kamu tidak berani melangkah.”‎Yuha menunduk, menahan emosi kecil yang muncul.‎Hyunsik akhirnya melangkah masuk.‎‎“Jadwalmu padat ya sampai harus siap-siap sekarang?”‎“Banget,” jawab Yuha sambil tersenyum tipis. “bayangin kak, Besok udah langsung rekaman.”‎Hyunsik mengangguk pelan.Tatapannya tidak lagi setegang dulu.Dalam hati ia berkata,Suho tidak berbohong.Ia teringat

  • Dibalik Panggung, Aku kehilanganmu   10. Cara Lain Untuk Menjaga

    Layar di ruang rapat menampilkan satu kalimat besar:‎‎3 WEEKS TO LAUNCH‎Direktur berdiri di ujung meja.‎‎“Tiga minggu dari sekarang. Kita rilis single debut dan video musik pertama.”‎Beberapa orang dari divisi pemasaran langsung membuka laptop.‎‎“Teaser harus mulai dua minggu sebelum rilis.”‎“Konsep visual harus final minggu ini.”‎“Lokasi MV paling lambat dikunci lima hari.”‎Divisi kreatif menyela,‎“Maaf direktur, tapi Kalau lagunya belum selesai kami tidak bisa mulai mengonsep MV.”‎Semua mata beralih ke Suho selaku tim produser yg bertanggung jawab atas lagu debut ini.‎Direktur menatapnya.‎“Bagaimana?”‎Suho berdiri tanpa terburu-buru.‎‎“Kita tidak punya waktu untuk menyiapkan lagu baru.”‎Beberapa orang terlihat bingung.‎‎“Aku punya satu lagu.”‎Sunyi.‎‎“Sudah kubuat sejak lama. Tinggal penyesuaian aransemen dan guide vokal.”‎‎“Kalau begitu timeline kita bisa maju seminggu.”‎Divisi pemasaran mengangguk.‎“Lebih aman untuk teaser.”‎Direktur menyipitkan mata.‎“K

  • Dibalik Panggung, Aku kehilanganmu   9. Harapan Baru

    Lalu Nama Itu Dipanggil‎“Yuha.”‎Ia masuk.‎Langkahnya tidak tergesa, Tidak juga terlalu percaya diri.‎Hanya stabil.‎Musik dimulai.‎Yuha menyanyikan bait pertama.‎Suasana ruangan masih biasa.‎Minjae masih menatap tanpa ekspresi.‎Tapi di baris kedua, Suaranya mulai terdengar berbeda.‎Bersih.‎Dalam.‎Bukan hanya Teknik bernyanyi nya.‎Caranya menari.‎Caranya meng-ekpresi kan wajah nyaSeperti ada pengalaman di sana.‎Ketika chorus datang, Nada tinggi itu tidak hanya stabil.‎Ia menggema.‎Dan untuk pertama kalinya hari itu, Minjae berhenti mencatat.‎Tangannya diam.‎tatapannya terangkat, penuh rasa kagum.‎Bukan karena terkejut.‎Tapi karena melihat sesuatu yang jarang muncul.‎Ia melihat potensi di dalam diri Yuha.Potensi yang bisa membawa agensi ini bangkit kembali.Lagu selesai.‎Sunyi.‎Bukan sunyi canggung.‎Tapi sunyi karena memproses.‎Minjae menutup mapnya.‎Wajahnya berubah.‎Tidak lagi lelah.‎Tapi ada harapan disana.‎_‎Pintu ditutup.‎Yuha dan trainee lain menun

  • Dibalik Panggung, Aku kehilanganmu   8. Haneul Music Lab

    “Kau tahu… dan membiarkannya?”‎Pertanyaan itu pelan.‎Menusuk.‎Suho tidak menghindar.‎“Aku tahu sebagian. Tidak semuanya.”‎Kejujuran itu berat.‎‎“Tapi kali ini aku tidak akan membiarkannya sendirian.”‎Suho melangkah sedikit lebih dekat.‎‎“Aku akan mencarikan agensi yang akan menghargai usahanya. Tempat yang tidak melihatnya sebagai ‎ancaman.”‎Hyunsik masih menatapnya.‎Mencari kebohongan.‎Mencari keraguan.‎Tidak ada.‎Hanya tekad.‎‎“Aku akan memastikan dia tetap jadi idol.”‎Suara Suho tidak keras.‎Tapi solid.‎“Dan aku akan selalu menjaganya.”‎Kalimat itu menggantung.‎Hyunsik akhirnya duduk perlahan.‎Ia menghela napas panjang.‎‎“Suho, Adikku itu tidak pernah pandai membela diri.”‎Ia menatap Suho.‎‎“Dia selalu memilih diam.”‎Suho mengangguk.‎‎“Aku tahu.”‎‎“Kalau kau serius dengan dia…”‎Hyunsik berhenti sebentar.‎Nada suaranya berubah lebih dalam.‎‎“Pastikan dia tidak pernah merasa sendirian lagi.”‎Itu bukan ancaman.‎Itu permintaan.‎Suho menjawab tanpa ra

  • Dibalik Panggung, Aku kehilanganmu   7. Dikeluarkan

    Tapi cara ia mengucapkannya sudah seperti vonis.‎‎“Maaf, Kami tidak bisa melanjutkan kontrakmu.”‎Dunia Yuha seperti berhenti.‎‎“Kamu akan dikeluarkan dari program trainee Aurora.”‎Kalimat itu terdengar jauh.‎Seolah tidak ditujukan padanya.‎‎“Saya… dikeluarkan?”‎Pelatih Lee mengangguk tegas.‎‎“Kamu bisa menganggap ini sebagai keputusan final.”‎Yuha menggigit bibirnya kuat-kuat.‎Tidak ada teriakan, tidak ada permohonan.Ia hanya berdiri diam, kaku.Tubuhnya terasa ringan seperti kehilangan pijakan.Pintu dibuka.‎Beberapa trainee masih berdiri di luar.‎Mereka semua melihatnya.‎Pelatih Lee berkata keras, cukup untuk didengar semua trainee:‎‎“Ini pelajaran untuk kalian. Walaupun kalian berbakat tapi kalau tidak jujur, jangan harap punya tempat di sini.”‎Bisik-bisik kembali terdengar.‎‎“Serius ya…”‎‎“Dia yang ambil USB?”‎‎“Padahal dia sangat berbakat…”‎Yuha mendengar semuanya.‎Setiap kata seperti jarum kecil.‎Dahyun berdiri di barisan belakang.‎Tatapannya lurus.‎Tid

  • Dibalik Panggung, Aku kehilanganmu   6. Tuduhan

    Beberapa trainee masih mengobrol.‎Yuha sedang tertawa kecil bersama dua trainee lain.‎‎“Pelatih tadi kelihatan kagum banget loh pas muji kamu.”‎Yuha tersenyum malu.‎‎“Ah, nggak juga…”‎Tawa itu.‎Nada rendah hati itu.‎Dahyun berdiri di depan cermin, pura-pura membereskan rambutnya.‎Tapi matanya menangkap sesuatu.‎USB di atas meja.‎Ia mengenalnya.‎Itu USB evaluasi.‎Ia pernah melihat pelatih memakainya untuk memutar video ranking trainee.‎Ruangan mulai sepi.‎Beberapa trainee keluar satu per satu.‎Yuha sedang membungkuk mengambil botol minumnya.‎Dahyun berjalan perlahan ke meja.‎Ia berhenti.‎Menatap USB itu.‎Tangannya tidak langsung bergerak.‎Ia menoleh ke arah Yuha.‎Yuha tidak melihatnya.‎Terlalu sibuk tersenyum.‎Dahyun teringat kalimat pelatih tadi.‎‎“Lihat Yuha. Dia baru setahun tapi perkembangannya sudah sebesar ini.”‎Tangannya bergerak.‎Perlahan.‎Ia mengambil USB itu.‎Ringan.‎Tapi terasa berat di tangannya.‎Tidak ada suara.‎Tidak ada yang memperhatikan.‎

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status