Home / Romansa / Dibalik Panggung, Aku kehilanganmu / 2. Tragedi dan Penyesalan

Share

2. Tragedi dan Penyesalan

Author: Ravelyn Ash
last update Last Updated: 2026-03-05 18:40:46

Satu headline terpampang besar di layar.‎

‎“Maknae LUMIÈRE, Yuha, Ditemukan Tak Sadarkan Diri — Diduga Bunuh Diri.”‎

Dunia terasa berhenti.‎

Tangannya membeku.‎

Jantungnya seperti dijatuhkan dari ketinggian.‎

‎“Tidak...”‎

Ia langsung duduk.‎

Membuka berita itu dengan tangan gemetar.‎

Foto ambulans.

Foto apartemen yang ia kenal.

Nama Yuha tertulis jelas.‎

Tidak mungkin.‎

Ia baru saja membaca pesannya tadi malam.‎

Suho pun langsung menekan nomor Yuha.‎

Tidak aktif.‎

Ia bangkit begitu cepat.‎

Kunci mobil hampir terjatuh dari tangannya.‎

Sepanjang perjalanan menuju rumah sakit, Ia tidak menyadari lampu merah dan jalan yang dilewati‎nya.

Yang ia dengar hanya kalimat di kepalanya:‎

kak, Aku takut sendirian.‎

‎—‎

Rumah sakit dipenuhi wartawan.‎

Kamera.

Flash.

Bisikan.‎

‎“Ya ampun kasihan sekali…”‎

‎“apa?! Dia jatuh dari lantai 3?!‎

‎“Bukankah dia anggota termuda?”‎

‎“Skandalnya kemarin masih panas…”‎

‎“Tekanan netizen mungkin terlalu berat…”‎

Setiap kata terasa seperti pisau.‎

Suho menerobos masuk.‎

‎“Maaf, Anda tidak bisa—”‎

‎“Saya keluarga!” suaranya pecah seperti menahan tangis.

Baru pertama kali dalam hidupnya, ia tidak terdengar rasional.‎

Ia terdengar hancur.‎

‎—‎

Koridor ICU terasa terlalu putih.‎

Terlalu sunyi.‎

Ia hanya bisa melihat Yuha dari luar ruangan

Terbaring lemas

Para perawat terlihat masih membersihkan darahnya.

Suho gemetar, tidak sanggup melihat pemandangan itu.

Tatapannya bertemu dengan seorang dokter yang hendak masuk ruangan.

Hyunsik, Kakak kandung Yuha.

Jas dokternya masih terpakai.

Wajahnya pucat, tapi matanya menyala penuh amarah yang ditahan.‎

Dan Suho tahu.‎

Ia tidak akan pernah dimaafkan.‎

Hyunsik melangkah mendekat.‎

‎“Sekarang kamu datang?”‎

Suaranya rendah. Tenang. Tapi bergetar.‎

Suho tidak bisa menjawab.‎

Tenggorokannya terasa kering.‎

‎“Aku… aku nggak tahu…”‎

Hyunsik tertawa kecil.‎

Tawa yang menunjukkan ketidaksenangan.‎

‎“Tentu saja kamu nggak tahu.”‎

Setiap kata ditekan perlahan.‎

“Dia selalu bilang kamu sibuk.”‎

Suho merasa napasnya sesak.‎

Hyunsik melanjutkan, suaranya semakin dingin.‎

‎“Dia selalu membelamu. Bahkan saat dia gemetar tiap malam.”‎

Suho menggeleng pelan.‎

Tidak.

Tidak mungkin.‎

“Dia selalu bilang kamu sedang lelah.”‎

Hyunsik mendekat satu langkah.‎

“Padahal dia perlahan hancur sendirian.”‎

Kata-kata itu menampar lebih keras dari pukulan.‎

“Di mana kamu tadi malam?”‎

Pertanyaan itu sederhana.‎

Tapi menghancurkan.‎

Suho terdiam.‎

Gambar layar chat di kepalanya muncul jelas.‎

Dilihat 22.47.‎

Tidak dibalas.‎

Hyunsik mengeluarkan sesuatu dari tasnya.‎

Diary biru tua.‎

Sudutnya sedikit kusut.‎

‎“Aku menemukannya di meja kamarnya.”‎

Ia menahan diary itu di depan dada Suho.‎

‎“Baca.”‎

Suho menerimanya dengan tangan gemetar.‎

Hyunsik menatapnya lurus.‎

‎“Dan setelah itu… jangan pernah bilang kamu mencintainya kalau kamu bahkan tidak tahu dia menyimpan banyak masalah selama ini.”‎

‎—‎

Suho duduk sendirian di ruang tunggu.‎

Diary itu terbuka di pangkuannya.‎

Tulisan tangan Yuha memenuhi halaman-halaman.‎

Tulisannya sedikit buram karena air mata.‎

Hari ini coach membandingkan aku lagi.

Dahyun tidak menatapku.‎

Halaman berikutnya.‎

Aku takut mereka membenciku.

Tapi aku tidak mau merepotkan siapa pun.‎

Halaman berikutnya.‎

Kak suho bilang aku berbakat.

Aku senang sekali waktu itu.‎

Tangan Suho mulai gemetar lebih keras.‎

Halaman terakhir.‎

Tertulis tanggal tadi malam.‎

Kak, aku tadi mau cerita.

Tapi mungkin kakak terlalu sibuk‎

Aku lelah.

Aku benar-benar lelah.‎

Maaf karena tidak bisa lebih kuat.

Maaf karena mungkin aku selalu merepotkan.‎

Tulisan itu berhenti di tengah kalimat.‎

Seolah ia tidak sempat menyelesaikannya.‎

Air mata Suho jatuh tepat di atas tinta yang sudah mengering.‎

‎“Yuha…Kenapa kamu tidak pernah cerita…”‎

Suaranya pecah.‎

Tapi bahkan saat ia mengatakannya, ia sudah tahu jawabannya.‎

Karena setiap kali Yuha mencoba mendekat…‎

Ia yang menjaga jarak.‎

Setiap kali Yuha menunggu…‎

Ia yang memilih besok.‎

Setiap kali Yuha hampir bicara…‎

Ia yang memotong.‎

Suho menutup wajah dengan kedua tangannya.‎

Tangisnya akhirnya pecah.‎

Bukan tangis tenang.‎

Tapi tangis seseorang yang baru sadar bahwa ia adalah alasan terbesar dari penyesalannya sendiri.‎

Dan di kepalanya hanya ada satu kalimat yang terus berulang:‎

Tadi malam dia ingin cerita.‎

Dan Aku tidak datang.‎

‎—‎

Langit sore berwarna abu-abu ketika Suho keluar dari rumah sakit.‎

Wartawan masih memenuhi halaman depan.‎

Flash kamera menyilaukan.‎

‎“Apakah benar Anda memiliki hubungan dengan Yuha?”‎

‎“Apakah rumor kencan itu penyebabnya?”‎

‎“Apakah Anda merasa bertanggung jawab?”‎

Bertanggung jawab.‎

Kata itu menggema di kepalanya.‎

Ia tidak menjawab.‎

Tidak menatap siapa pun.‎

Ia berjalan lurus menuju mobilnya seperti seseorang yang kehilangan arah.‎

Pintu tertutup.‎

Sunyi.‎

Hanya napasnya sendiri yang bergetar.‎

Diary biru itu tergeletak di kursi penumpang.‎

Ia menatapnya lama.‎

Lalu mesin mobil menyala.‎

‎—‎

Ia tidak tahu ke mana ia mengemudi.‎

Jalanan Seoul berlalu seperti bayangan kabur.‎

Lampu lalu lintas berubah warna, tapi ia tak benar-benar melihatnya.‎

Yang ia lihat justru potongan-potongan masa lalu.‎

Yuha di ruang latihan, tersenyum lebar saat berhasil mencapai nada tinggi.‎

‎“Kak! Dengar nggak? Aku bisa!”‎

Yuha di studio, duduk di lantai sambil menunggu Suho selesai mixing.‎

Ia tertidur bersandar di sofa.‎

Yuha yang diam-diam menyelipkan kopi hangat ke mejanya.‎

‎“kak, Kamu pasti mengantuk kan.”‎

Yuha yang memeluknya dari belakang saat ia terlalu fokus bekerja.‎

‎“Kak jangan serius banget deh.”‎

Yuha yang tertawa kecil.

Yuha yang manja, bersandar di bahunya.‎

Yuha yang selalu terlihat kuat.‎

Yuha yang selalu bilang dia baik-baik saja.‎

Dan Yuha yang tadi malam berkata:‎

Aku takut sendirian.‎

Tangan Suho mencengkeram setir semakin kuat.‎

Air matanya mengaburkan pandangan.‎

‎“Andai aku datang…”‎

Suaranya pecah di dalam mobil yang sepi.‎

‎“Andai aku ke sana tadi malam.”‎

Lampu jalan berubah menjadi garis-garis cahaya kabur.‎

‎“Andai aku bertanya kenapa kamu takut.”‎

Napasnya terputus-putus.‎

‎“Andai aku membaca semua berita tentangmu…”‎

Ia bahkan tidak tahu seberapa kejam komentar yang diterima Yuha.‎

Ia terlalu sibuk menghindari skandal.‎

Terlalu sibuk menjaga reputasi.‎

Terlalu sibuk menjadi rasional.‎

“Andai aku lebih peduli…”‎

Klaxon mobil lain terdengar jauh, tapi ia tidak menyadarinya.‎

‎“Andai aku mencari tahu tentangmu lebih dalam…”‎

Suaranya hampir seperti bisikan.‎

‎“Andai aku tidak memilih pekerjaan.”‎

Air matanya jatuh tanpa henti.‎

‎“Andai aku tidak memotong ucapanmu malam itu…”‎

Lampu mobil dari arah berlawanan tiba-tiba terlalu dekat.‎

Terlalu terang.‎

Terlalu cepat.‎

Suho baru tersadar ketika suara klakson panjang menyentaknya dari lamunan.‎

Refleks.‎

Ia memutar setir terlalu keras.

Ban kehilangan kendali.

Mobil itu tergelincir menuju tepi jalan.

Aspal berakhir pada pembatas.

Dan setelah itu—

hanya kehampaan.

Dalam satu detik yang terasa seperti selamanya,

Suho melihat lautan di bawahnya.

‎—‎

Tubuhnya terhempas ketika mobil menghantam air.‎

Terdengar Suara kaca yang pecah.‎

Air laut yang dingin langsung menerobos masuk.

Segalanya menjadi gelap.

Segalanya terasa membeku.

Suho terperangkap di kursi pengemudi.‎

Sabuk pengaman menahan tubuhnya.‎

Air naik dengan cepat.‎

Dada terasa terbakar.‎

Napasnya makin tidak teratur.‎

Diary biru itu melayang di dalam mobil, halaman-halamannya terbuka dan terendam.‎

Tulisan Yuha perlahan memudar di air asin.‎

Suho menatapnya dengan mata yang hampir kehilangan fokus.‎

Di detik-detik terakhir kesadarannya

Ia tidak melihat air.‎

Ia tidak melihat kematian.‎

Ia melihat Yuha.‎

Tersenyum.‎

Mata berbinar.‎

‎“Kalau aku capek, aku boleh cerita ke kakak, kan?”‎

Dadanya terasa hancur.‎

“Aku minta maaf…”‎

Gelembung udara keluar dari bibirnya.‎

‎“Andai aku bisa kembali…”‎

Air menutup wajahnya.‎

Gelap.‎

Sunyi.‎

Dan untuk pertama kalinya, Suho benar-benar merasa sendirian.‎

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Dibalik Panggung, Aku kehilanganmu   11. The First Recording

    Koper besar terbuka di lantai kamar.‎Ibu Yuha melipat pakaian dengan hati-hati, memasukkan satu per satu ke dalam koper.‎‎“Jangan lupa bawa jaket tebalmu. Di Studio biasanya dingin,” ucapnya lembut.‎Yuha tersenyum kecil.‎“Iya, Bu.”‎Hyunsik bersandar di kusen pintu, memperhatikan dalam diam. Suasana tidak tegang, tapi terasa berbeda...seolah satu fase hidup benar-benar telah berganti‎“Gimana rasanya bisa debut?” tanya ibunya pelan.‎Yuha terdiam sebentar.‎‎“Senang… tapi juga takut.”‎Ibu menghentikan tangannya, lalu mendekat dan merapikan rambut Yuha.‎‎“Takut itu emang wajar Yuha. Yang tidak wajar kalau kamu tidak berani melangkah.”‎Yuha menunduk, menahan emosi kecil yang muncul.‎Hyunsik akhirnya melangkah masuk.‎‎“Jadwalmu padat ya sampai harus siap-siap sekarang?”‎“Banget,” jawab Yuha sambil tersenyum tipis. “bayangin kak, Besok udah langsung rekaman.”‎Hyunsik mengangguk pelan.Tatapannya tidak lagi setegang dulu.Dalam hati ia berkata,Suho tidak berbohong.Ia teringat

  • Dibalik Panggung, Aku kehilanganmu   10. Cara Lain Untuk Menjaga

    Layar di ruang rapat menampilkan satu kalimat besar:‎‎3 WEEKS TO LAUNCH‎Direktur berdiri di ujung meja.‎‎“Tiga minggu dari sekarang. Kita rilis single debut dan video musik pertama.”‎Beberapa orang dari divisi pemasaran langsung membuka laptop.‎‎“Teaser harus mulai dua minggu sebelum rilis.”‎“Konsep visual harus final minggu ini.”‎“Lokasi MV paling lambat dikunci lima hari.”‎Divisi kreatif menyela,‎“Maaf direktur, tapi Kalau lagunya belum selesai kami tidak bisa mulai mengonsep MV.”‎Semua mata beralih ke Suho selaku tim produser yg bertanggung jawab atas lagu debut ini.‎Direktur menatapnya.‎“Bagaimana?”‎Suho berdiri tanpa terburu-buru.‎‎“Kita tidak punya waktu untuk menyiapkan lagu baru.”‎Beberapa orang terlihat bingung.‎‎“Aku punya satu lagu.”‎Sunyi.‎‎“Sudah kubuat sejak lama. Tinggal penyesuaian aransemen dan guide vokal.”‎‎“Kalau begitu timeline kita bisa maju seminggu.”‎Divisi pemasaran mengangguk.‎“Lebih aman untuk teaser.”‎Direktur menyipitkan mata.‎“K

  • Dibalik Panggung, Aku kehilanganmu   9. Harapan Baru

    Lalu Nama Itu Dipanggil‎“Yuha.”‎Ia masuk.‎Langkahnya tidak tergesa, Tidak juga terlalu percaya diri.‎Hanya stabil.‎Musik dimulai.‎Yuha menyanyikan bait pertama.‎Suasana ruangan masih biasa.‎Minjae masih menatap tanpa ekspresi.‎Tapi di baris kedua, Suaranya mulai terdengar berbeda.‎Bersih.‎Dalam.‎Bukan hanya Teknik bernyanyi nya.‎Caranya menari.‎Caranya meng-ekpresi kan wajah nyaSeperti ada pengalaman di sana.‎Ketika chorus datang, Nada tinggi itu tidak hanya stabil.‎Ia menggema.‎Dan untuk pertama kalinya hari itu, Minjae berhenti mencatat.‎Tangannya diam.‎tatapannya terangkat, penuh rasa kagum.‎Bukan karena terkejut.‎Tapi karena melihat sesuatu yang jarang muncul.‎Ia melihat potensi di dalam diri Yuha.Potensi yang bisa membawa agensi ini bangkit kembali.Lagu selesai.‎Sunyi.‎Bukan sunyi canggung.‎Tapi sunyi karena memproses.‎Minjae menutup mapnya.‎Wajahnya berubah.‎Tidak lagi lelah.‎Tapi ada harapan disana.‎_‎Pintu ditutup.‎Yuha dan trainee lain menun

  • Dibalik Panggung, Aku kehilanganmu   8. Haneul Music Lab

    “Kau tahu… dan membiarkannya?”‎Pertanyaan itu pelan.‎Menusuk.‎Suho tidak menghindar.‎“Aku tahu sebagian. Tidak semuanya.”‎Kejujuran itu berat.‎‎“Tapi kali ini aku tidak akan membiarkannya sendirian.”‎Suho melangkah sedikit lebih dekat.‎‎“Aku akan mencarikan agensi yang akan menghargai usahanya. Tempat yang tidak melihatnya sebagai ‎ancaman.”‎Hyunsik masih menatapnya.‎Mencari kebohongan.‎Mencari keraguan.‎Tidak ada.‎Hanya tekad.‎‎“Aku akan memastikan dia tetap jadi idol.”‎Suara Suho tidak keras.‎Tapi solid.‎“Dan aku akan selalu menjaganya.”‎Kalimat itu menggantung.‎Hyunsik akhirnya duduk perlahan.‎Ia menghela napas panjang.‎‎“Suho, Adikku itu tidak pernah pandai membela diri.”‎Ia menatap Suho.‎‎“Dia selalu memilih diam.”‎Suho mengangguk.‎‎“Aku tahu.”‎‎“Kalau kau serius dengan dia…”‎Hyunsik berhenti sebentar.‎Nada suaranya berubah lebih dalam.‎‎“Pastikan dia tidak pernah merasa sendirian lagi.”‎Itu bukan ancaman.‎Itu permintaan.‎Suho menjawab tanpa ra

  • Dibalik Panggung, Aku kehilanganmu   7. Dikeluarkan

    Tapi cara ia mengucapkannya sudah seperti vonis.‎‎“Maaf, Kami tidak bisa melanjutkan kontrakmu.”‎Dunia Yuha seperti berhenti.‎‎“Kamu akan dikeluarkan dari program trainee Aurora.”‎Kalimat itu terdengar jauh.‎Seolah tidak ditujukan padanya.‎‎“Saya… dikeluarkan?”‎Pelatih Lee mengangguk tegas.‎‎“Kamu bisa menganggap ini sebagai keputusan final.”‎Yuha menggigit bibirnya kuat-kuat.‎Tidak ada teriakan, tidak ada permohonan.Ia hanya berdiri diam, kaku.Tubuhnya terasa ringan seperti kehilangan pijakan.Pintu dibuka.‎Beberapa trainee masih berdiri di luar.‎Mereka semua melihatnya.‎Pelatih Lee berkata keras, cukup untuk didengar semua trainee:‎‎“Ini pelajaran untuk kalian. Walaupun kalian berbakat tapi kalau tidak jujur, jangan harap punya tempat di sini.”‎Bisik-bisik kembali terdengar.‎‎“Serius ya…”‎‎“Dia yang ambil USB?”‎‎“Padahal dia sangat berbakat…”‎Yuha mendengar semuanya.‎Setiap kata seperti jarum kecil.‎Dahyun berdiri di barisan belakang.‎Tatapannya lurus.‎Tid

  • Dibalik Panggung, Aku kehilanganmu   6. Tuduhan

    Beberapa trainee masih mengobrol.‎Yuha sedang tertawa kecil bersama dua trainee lain.‎‎“Pelatih tadi kelihatan kagum banget loh pas muji kamu.”‎Yuha tersenyum malu.‎‎“Ah, nggak juga…”‎Tawa itu.‎Nada rendah hati itu.‎Dahyun berdiri di depan cermin, pura-pura membereskan rambutnya.‎Tapi matanya menangkap sesuatu.‎USB di atas meja.‎Ia mengenalnya.‎Itu USB evaluasi.‎Ia pernah melihat pelatih memakainya untuk memutar video ranking trainee.‎Ruangan mulai sepi.‎Beberapa trainee keluar satu per satu.‎Yuha sedang membungkuk mengambil botol minumnya.‎Dahyun berjalan perlahan ke meja.‎Ia berhenti.‎Menatap USB itu.‎Tangannya tidak langsung bergerak.‎Ia menoleh ke arah Yuha.‎Yuha tidak melihatnya.‎Terlalu sibuk tersenyum.‎Dahyun teringat kalimat pelatih tadi.‎‎“Lihat Yuha. Dia baru setahun tapi perkembangannya sudah sebesar ini.”‎Tangannya bergerak.‎Perlahan.‎Ia mengambil USB itu.‎Ringan.‎Tapi terasa berat di tangannya.‎Tidak ada suara.‎Tidak ada yang memperhatikan.‎

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status