LOGINGimana episode kali ini teman-teman? jangan lupa vote ya kalo kalian suka, tulis pendapat kalian di kolom komentar.
Flashback_“Aku punya rencana.”Ara langsung menoleh.“Rencana?”Nada suaranya penuh curiga.“Kamu tidak pernah bilang apa-apa selama ini.”Suho akhirnya mengangkat wajahnya.Matanya terlihat jauh lebih dingin dari biasanya.“Aku sudah mengumpulkan bukti.”Ara mengerutkan kening.“Bukti?”“Bukti apa?”Suho tidak menjawab.Ia justru mengambil ponselnya dari meja.Lalu menekan sebuah nomor.Beberapa detik kemudian—panggilan itu terhubung.Suara perempuan terdengar dari ujung telepon.“Halo, Suho!”“Bagus kamu menelepon.”Suara itu milik Seorin.“Semua rekaman sudah aku kumpulkan.”Ara langsung menoleh ke arah Suho.Seorin melanjutkan di telepon.“Kesaksian para korban Jaemin juga sudah siap.”“Awalnya aku pikir rekaman di ruang meeting itu sudah cukup.”“Tapi ternyata kita dapat satu bukti lagi.”Suho menatap lantai sebentar.“Yang di lorong?”Seorin tertawa kecil.“Iya.”“Yang itu malah lebih jelas.”Nada suaranya terdengar puas.“Kalau
Ia menatap Yuha tanpa berkedip.“Ara… dia makin susah napas…”Ara tetap berusaha tenang.“Yuha… dengarkan aku. Tarik napas sampai hitungan tiga… lalu hembuskan pelan.”Detik terasa sangat lama.Akhirnya—staf yang tadi berlari kembali.“Ini!”Ara langsung mengambil alat bantu pernapasan itu.Ia menempelkannya ke mulut Yuha.“Tarik napas pelan… iya… seperti itu…”Ruangan mendadak sunyi.Semua orang menahan napas.Yuha menarik udara melalui alat itu.Sekali.Dadanya mengembang lebih dalam.Dua kali.Napasnya masih berat, namun mulai stabil.“Ha…”Udara keluar perlahan dari paru-parunya.Ara terus mengusap rambutnya.“Bagus… sekali lagi.”Yuha menarik napas lagi.Kali ini lebih dalam.Dadanya tidak lagi bergerak secepat tadi.Ritmenya mulai kembali normal.Ketegangan di ruangan itu akhirnya sedikit mereda.Suho menghela napas panjang.Baru sekarang ia sadar bahwa sejak tadi ia menahan napasnya sendiri.Ara mengusap rambut Yuha dengan lembut.“Kamu sudah lebih baik?”Yuha membuka m
Yuha berkata pelan—“Aku punya buktinya.”Host terlihat kaget.“Bukti?”Yuha mengangguk pelan.Ia menoleh ke arah layar besar di belakang panggung.“Silakan putar video pertama.”Beberapa kru terlihat saling pandang sebentar.Lalu layar besar menyala.Studio langsung sunyi.Video Pertama – Ruang Meeting VeltroRekaman CCTV memperlihatkan ruangan meeting.Jaemin dan yuha duduk berhadapan.Suara tidak terdengar, tapi gestur mereka jelas.Yuha tampak menggelengkan kepala—menolak sesuatu, lalu beranjak.Tiba-tiba—Jaemin meraih pergelangan tangan Yuha.Penonton mulai berbisik.Yuha mencoba menarik tangannya.Jaemin justru menariknya kembali.Tubuh Yuha terdorong mundur.Punggungnya menyentuh sofa di belakangnya.Jaemin mendekat.Terlalu dekat.Lalu Ia mendorongnya dan bergegas ke arah pintuNamun Jaemin menariknya lagi lebih keras.Tubuh Yuha kehilangan keseimbangan.Ia jatuh ke lantai.Beberapa penonton langsung berseru.“Hah?!”Di detik berikutnya pintu te
Host menoleh ke arah dua tamu di kursi mereka.“Baiklah, siapa yang ingin menjawab dulu?”Jaemin langsung mengangkat tangan dengan santai.“Aku saja.”Host tersenyum.“Baik, kita mulai dari Jaemin.”Di layar besar di belakang mereka muncul tulisan:Pertanyaan 1Host membaca perlahan.“Jaemin, saat kejadian di red carpet itu terjadi, banyak orang yang langsung berdebat di internet. Ada yang menyalahkan Yuha, ada juga yang membela. Sebagai orang yang berada tepat di situ, apa yang sebenarnya kamu rasakan saat itu?”Jaemin tertawa kecil.“Jujur aku juga kaget.”Ia mengangkat bahu ringan.“Acara seperti itu besar. Banyak kamera, banyak orang.”Ia melirik Yuha sebentar.“Mungkin karena terlalu gugup… dia kehilangan keseimbangan dan langsung menyentuhku.”Beberapa penonton mulai berbisik.“Gugup sampai kehilangan keseimbangan?”“Emang bisa?”“Apalagi sampai nabrak orang…”Seseorang berbisik lebih keras.“Kayaknya sengaja deh.”Yuha yang duduk di kursinya me
Mata Suho mulai memerah.Suaranya berubah dingin.“Aku akan hancurkan dia.”Suho menatap kembali ke arah lorong.Jaemin sudah tidak terlihat.Tapi kemarahannya belum hilang.Lihat saja, Jaemin. Kali ini bukan cuma soal reputasi.Ia menoleh ke Yuha.Suara Suho jauh lebih lembut sekarang.“Kita pulang.”Yuha masih gemetar.Tapi kali ini ia tidak sendirian._Ruangan itu sudah diisi tiga orang.Suho berdiri dekat meja. Ara duduk di kursi, tablet di tangannya. Yuha di sofa, diam sejak tadi.Ponsel Ara berbunyi.Notifikasi email masuk.Ara membukanya.Wajahnya langsung berubah.“Undangan acara.”Suho menoleh. “Acara apa?”Ara memutar layar.“True Stage: Speak Without Script.” Live talk show. Tanpa skrip. Tanpa sensor. Topiknya: klarifikasi rumor dan hubungan antar idol.Nama bintang tamu: Jaemin. Yuha.Ruangan langsung terasa lebih dingin.Ara menghela napas Panjang.“Ini jelas jebakan.”Suho membaca detailnya perlahan.Ia tahu.Acara se
Tumit Yuha hampir menyentuh dinding.Jaemin mendekat lagi.“Seharusnya kau berhutang padaku, bukan?”Yuha menatapnya.Tangannya sedikit gemetar.“Untuk apa aku berhutang?”Ia menelan ludah.“Kau yang menciptakan rumor ini.”Suara Yuha tidak keras.Tapi jelas.“Sudah seharusnya kau bertanggung jawab atas semua ini.”Untuk sesaat lorong itu sunyi.Lalu Jaemin tersenyum.Tipis.Dingin.Ia melangkah satu langkah lagi.“Makin lama makin berani ya kamu.”Tangannya tiba-tiba mencengkeram pergelangan Yuha.Yuha tersentak dan berusaha menarik tangannya.“Lepas.”Jaemin tidak melepas.Ia justru melangkah lebih dekat.“Tanpaku…”Napasnya terdengar jelas sekarang.“…seharusnya kamu tidak bisa berdiri di panggung.”Tangannya bergerak naik.Jarinya menyentuh dagu Yuha.Memaksa wajahnya mendongak.Yuha menegang.Lalu Jaemin berhenti.Ia menatap wajah Yuha beberapa detik.Tatapannya turun perlahan ke bibir Yuha.Ujung ibu jarinya menyapu dagu Yuha pelan.Gestu
Gedung agensi Veltro terlihat megah.Dinding kaca tinggi.Lantai marmer mengilap.Poster-poster besar idol mereka terpajang rapi.Termasuk Jaemin.Wajahnya tersenyum sempurna dari berbagai sudut.Yuha berjalan masuk bersama Ara.Beberapa staf menoleh.Bisik-bisik pelan terdengar.Tatapan yang
“Paman… kalau begitu bagaimana kalau kita membawa Yuha menemui Jaemin untuk membicarakan kolaborasi yang dia minta.”Ruangan langsung riuh.“Apa kau gila, Suho?”“Kita baru saja hampir kehilangan dia!”“Bagaimana kalau dia membuat keadaan lebih buruk lagi?”Suho tidak terpancing.“Aku tida
Yuha sudah tertidur pulas di kursi belakang, kepalanya bersandar pada bahu Ara.Tangannya sudah dibalut perban tipis.Napasnya teratur.Damai untuk pertama kalinya hari itu.D kursi depan, Suho menyetir.Tangannya masih menggenggam setir lebih erat dari biasanya.Sunyi beberapa menit.Ara me
“Ara.”Suara Suho berusaha stabil.Di seberang sana, napas Ara tidak teratur.“Suho… cepat kesini.”Dunia terasa berhenti.“Ada apa?.”Kalimat itu keluar pelan, tapi tajam.“Dia… dia mencoba…”Napasnya terdengar terputus.“Dia mengiris tangannya.”Sunyi.Detik itu terasa panjang.Suh







