LOGINSuho terbangun dengan napas terengah.
Bukan karena air. Bukan karena dingin. Tapi karena suara piano. Nada C mayor. Sedikit meleset di bagian akhir. Ia membuka matanya. Langit-langit studio. Bukan air laut. Bukan kaca pecah. Bukan kegelapan. Studio latihan lamanya. Bau kayu dan kopi yang familiar. Metronom berdetak pelan di meja. Ia duduk tegak. Jantungnya berdetak terlalu cepat. Tangannya menyentuh wajahnya sendiri seakan tidak percaya. Kering. Tidak ada air. Tidak ada luka. Pintu studio terbuka pelan. Langkah ringan masuk. “Kak, ayo bantu aku latihan.” Suara itu. Jernih. Hidup. Suho membeku. Di depan pintu berdiri Yuha. Seragam trainee. Rambut panjang bergelombang. Wajah polos tanpa makeup panggung. Usianya tujuh belas. Matanya masih penuh cahaya. Masih belum retak. Ia tersenyum lebar. Senyum yang dulu selalu ia kira akan selalu ada. “Kak? Kenapa bengong gitu?” Suho tidak menjawab. Ia hanya menatapnya. Setiap detail. Cara rambutnya jatuh di bahu. Cara ia menggigit bibir bawah saat bingung. Cara matanya menyipit sedikit ketika tersenyum. Hidup. Dia hidup. Bukan tubuh dingin di rumah sakit. Bukan nama di headline berita. Yuha berjalan mendekat. “Kak? Kamu sakit ya?” Langkahnya semakin dekat. Dan tanpa berpikir— Suho berdiri dan menarik Yuha ke dalam pelukannya. Keras. Sangat keras. Seolah jika ia melepas sedikit saja, Yuha akan menghilang lagi. Yuha terkejut kecil. “Eh—kak?” Tangan Suho gemetar di punggungnya. Napasnya tidak stabil. Aroma shampoo Yuha yang familiar memenuhi inderanya. Hangat. Tubuhnya hangat. Ia nyata. “Kumohon…” suaranya pecah di antara napasnya sendiri, “jangan tinggalkan aku.” Yuha tertawa kecil, bingung. “Kak? Kangen banget ya? Padahal kita baru ketemu kemarin.” Suho tidak tertawa. Tangannya semakin mengerat. Seolah ia memeluk seseorang yang hampir ia hancurkan dengan tangannya sendiri. “Aku sangat merindukanmu.” Suaranya bergetar. Tidak stabil. Tidak seperti dirinya yang biasa. Yuha menepuk punggungnya pelan. “Aku nggak akan ke mana-mana kok kak.” Kalimat sederhana. Tapi bagi Suho— Itu seperti seseorang menariknya keluar dari lautan. “Kakak seperti bertahun-tahun nggak ketemu aku tau.” Suho menutup mata. Bertahun-tahun. Ya. Dalam satu malam, ia telah kehilangan seluruh hidupnya. Dan sekarang ia berdiri di sini. Dengan kesempatan kedua. Ia perlahan melepaskan pelukan. Menatap Yuha lagi. Kulitnya tidak pucat. Matanya tidak kosong. Tidak ada luka. Tidaka ada darah. Ia benar-benar kembali. Suho menoleh ke arah meja. Kalender dinding. Tahun. Tanggal. Enam tahun sebelum kematian Yuha. Tangannya mulai gemetar lagi. Bukan karena takut kehilangan. Tapi karena sadar— Ia diberi kesempatan untuk memperbaiki segalanya. Yuha mengerutkan kening. “Kak, kamu kenapa sih? Kok tatapannya serem banget.” Air mata tiba-tiba jatuh dari mata Suho. Tanpa suara. Tanpa peringatan. Yuha panik kecil. “Eh? Kak? Aku salah ngomong ya?” Suho menggeleng cepat. Tidak. Kamu tidak pernah salah. Aku yang salah. Ia mengangkat tangan dan menyentuh pipi Yuha pelan. Hangat. Benar-benar hangat. Dalam hatinya hanya satu kalimat yang bergema: Kali ini aku akan mendengarmu. Apa pun yang terjadi. Apa pun harganya. Aku tidak akan terlambat lagi. Yuha masih menatapnya bingung. “Kak, kamu aneh banget sih hari ini.” Suho menarik napas dalam. Untuk pertama kalinya sejak ia kembali— Ia tersenyum. Bukan senyum profesional. Bukan senyum dingin. Tapi senyum seseorang yang baru saja diselamatkan. “Latihan apa yang kamu mau?” Yuha langsung bersinar lagi. “Bagian bridge! Aku nggak bisa stabil di nada tinggi.” Suho menatapnya lembut. Bridge. Di timeline pertama, ia memilih menyelesaikan bridge lagu daripada mendatangi Yuha. Sekarang… Ia memilih Yuha. “Baik. Kita latihan pelan-pelan.” Saat Yuha mulai bernyanyi— Suho tidak hanya mendengar nada. Ia mendengar detak hidup yang dulu hampir hilang. Dalam diam, ia membuat janji pada dirinya sendiri. Takdir boleh datang lagi. Tapi kali ini— ia akan melawannya. _ FLASHBACK Tiga Tahun Sebelum Debut Musim semi di tahun terakhir SMP terasa lebih hangat dari biasanya. Yuha duduk di kursi dekat jendela kelas 3-2, dagunya bertopang di tangan, mendengarkan seseorang berbicara tanpa henti di sebelahnya. “Tau nggak sih, kemarin aku latihan sampai jam dua belas malam!” Dahyun berseru, matanya berbinar. “Pelatih ku bilang aku memiliki ekspresi yang bagus!” Yuha menoleh dengan mata penuh kagum. “Jam dua belas malam? Kamu nggak capek?” “Capek banget!” Dahyun tertawa. “Tapi waktu aku berdiri di ruang latihan, pakai mic, lampu nyala… rasanya kayak dunia cuma punya aku.” Yuha terdiam. Kalimat itu menancap dalam. Dahyun selalu seperti itu. Terlihat Ceria. Berani. Penuh mimpi. Ia sudah menjadi trainee hampir dua tahun di Aurora Entertaiment Dan setiap cerita yang ia bawa ke sekolah seperti potongan dunia lain yang berkilau. “Kamu juga harus coba Yuha,” Dahyun tiba-tiba menatap Yuha serius. “Suara kamu kan bagus banget, Kamu bisa lebih cepat berkembang dari aku.” Yuha tertawa kecil. “Jangan bercanda.” “Aku serius.” Baru pertama kalinya, Dahyun tidak terdengar bercanda. “Kalau kamu masuk, kita bisa debut bareng.” Debut bareng. Kata itu terdengar seperti janji. Dan malam itu, Yuha tidak bisa tidur. Ia berdiri di depan cermin kamarnya. Menyanyikan lagu pelan-pelan. Membayangkan panggung. Membayangkan lampu. Membayangkan dirinya berdiri di samping Dahyun. Untuk pertama kalinya, jantungnya berdetak karena mimpi yang besar. — Di meja makan malam, Yuha duduk dengan tangan yang bertaut. Ayahnya sedang membaca berita. Ibunya menyendok sup. Hyunsik baru pulang dari rumah sakit, masih mengenakan kemeja dokter muda. Yuha menarik napas. “Ayah… Ibu… aku mau jadi trainee.” Sendok ibunya berhenti di udara. Ayahnya menurunkan koran perlahan. Hyunsik langsung menoleh dengan tatapan tidak percaya. “Jadi apa?” “Trainee idol.” Sunyi beberapa detik. Jantung Yuha terasa seperti ingin melompat keluar. Ia sudah menyiapkan banyak kalimat. Tentang latihan. Tentang kerja keras. Tentang peluang. Tapi sebelum ia sempat menjelaskan panjang lebar— Ibunya tersenyum lembut. “Kalau kamu benar-benar mau, Ibu percaya kamu.” Ayahnya mengangguk pelan. “iya, Asal kamu tetap sekolah dengan baik.” Yuha membeku. “Hah? Boleh?” “Kami tahu kamu nggak pernah setengah-setengah kalau sudah punya impian,” kata ayahnya tenang. Air mata langsung menggenang di mata Yuha. Tapi sebelum ia bisa merasa sepenuhnya bahagia— Hyunsik bersandar di kursinya. “Kamu Yakin?” “Jadi idol itu berat, Yuha.” Suaranya tidak keras. Tapi tegas. “Jangan cuma lihat enaknya aja. Punya Fans, terkenal.” Yuha menoleh ke kakaknya. “Kamu harus latihan berjam-jam. Kamu harus mengejar ketertinggalanmu. Kamu harus siap dikritik.” Tatapan Hyunsik lembut tapi penuh kekhawatiran. “Apa kamu yakin bisa?” Pertanyaan itu tidak terdengar meremehkan. Itu terdengar takut. Takut adiknya terluka. Yuha menggenggam ujung rok seragamnya. Tangannya gemetar. Tapi suaranya tidak. “Aku tahu itu berat.” Ia menatap kakaknya lurus. “Aku tahu aku mungkin nggak langsung bagus. Aku mungkin akan tertinggal.” Napasnya sedikit bergetar. “Tapi aku mau mencoba.” Matanya berbinar. “Kalau aku nggak coba sekarang, aku akan menyesal seumur hidup.” Hyunsik terdiam. Yuha menunduk sedikit. “Aku berjanji akan berusaha keras. Aku akan menggapai cita-citaku. Kumohon.” Itu bukan rengekan manja. Itu tekad. Dan Hyunsik bisa melihatnya. Mimpi itu nyata di mata adiknya. Ia menghela napas panjang. “Baiklah.” Yuha mendongak cepat. “Tapi aku tetap akan carikan seseorang untuk bantu kamu. Seseorang yang benar-benar serius di bidang musik. Kamu harus serius mulai sekarang.” Yuha langsung berdiri dari kursinya dan membungkuk dalam “Terima kasih semua aku tidak akan mengecewakan kalian.” Senyuman pun menghiasi wajah keluarga tersebut — Beberapa hari kemudian, di sebuah kafe dekat Haneul Music Lab, Hyunsik bertemu temannya. Minhyuk, Stylist senior di Haneul Music Lab. Minhyuk Memukul meja karena terkejut “Adikmu mau masuk Aurora?! Itu agensi besar. Tekanannya juga besar.” “Itu yang aku takutkan,” jawab Hyunsik jujur. “Dia berbakat, tapi belum terlatih. Aku cuma mau dia punya fondasi yang kuat.” Minhyuk berpikir sebentar. “Ada satu anak dari agensiku. Lagi pelatihan produser di Haneul Music Lab. Sangat jenius dalam bidang musik. Vokalnya juga stabil, orang tuanya adalah seorang composer, ia sudah belajar music dari kecil.” Hyunsik mengangkat alis. “Masih muda?” “Sembilan belas tahun. Tapi dia sangat berbakat. Namanya Han Suho.” Nama itu pertama kalinya disebut hari itu.Koper besar terbuka di lantai kamar.Ibu Yuha melipat pakaian dengan hati-hati, memasukkan satu per satu ke dalam koper.“Jangan lupa bawa jaket tebalmu. Di Studio biasanya dingin,” ucapnya lembut.Yuha tersenyum kecil.“Iya, Bu.”Hyunsik bersandar di kusen pintu, memperhatikan dalam diam. Suasana tidak tegang, tapi terasa berbeda...seolah satu fase hidup benar-benar telah berganti“Gimana rasanya bisa debut?” tanya ibunya pelan.Yuha terdiam sebentar.“Senang… tapi juga takut.”Ibu menghentikan tangannya, lalu mendekat dan merapikan rambut Yuha.“Takut itu emang wajar Yuha. Yang tidak wajar kalau kamu tidak berani melangkah.”Yuha menunduk, menahan emosi kecil yang muncul.Hyunsik akhirnya melangkah masuk.“Jadwalmu padat ya sampai harus siap-siap sekarang?”“Banget,” jawab Yuha sambil tersenyum tipis. “bayangin kak, Besok udah langsung rekaman.”Hyunsik mengangguk pelan.Tatapannya tidak lagi setegang dulu.Dalam hati ia berkata,Suho tidak berbohong.Ia teringat
Layar di ruang rapat menampilkan satu kalimat besar:3 WEEKS TO LAUNCHDirektur berdiri di ujung meja.“Tiga minggu dari sekarang. Kita rilis single debut dan video musik pertama.”Beberapa orang dari divisi pemasaran langsung membuka laptop.“Teaser harus mulai dua minggu sebelum rilis.”“Konsep visual harus final minggu ini.”“Lokasi MV paling lambat dikunci lima hari.”Divisi kreatif menyela,“Maaf direktur, tapi Kalau lagunya belum selesai kami tidak bisa mulai mengonsep MV.”Semua mata beralih ke Suho selaku tim produser yg bertanggung jawab atas lagu debut ini.Direktur menatapnya.“Bagaimana?”Suho berdiri tanpa terburu-buru.“Kita tidak punya waktu untuk menyiapkan lagu baru.”Beberapa orang terlihat bingung.“Aku punya satu lagu.”Sunyi.“Sudah kubuat sejak lama. Tinggal penyesuaian aransemen dan guide vokal.”“Kalau begitu timeline kita bisa maju seminggu.”Divisi pemasaran mengangguk.“Lebih aman untuk teaser.”Direktur menyipitkan mata.“K
Lalu Nama Itu Dipanggil“Yuha.”Ia masuk.Langkahnya tidak tergesa, Tidak juga terlalu percaya diri.Hanya stabil.Musik dimulai.Yuha menyanyikan bait pertama.Suasana ruangan masih biasa.Minjae masih menatap tanpa ekspresi.Tapi di baris kedua, Suaranya mulai terdengar berbeda.Bersih.Dalam.Bukan hanya Teknik bernyanyi nya.Caranya menari.Caranya meng-ekpresi kan wajah nyaSeperti ada pengalaman di sana.Ketika chorus datang, Nada tinggi itu tidak hanya stabil.Ia menggema.Dan untuk pertama kalinya hari itu, Minjae berhenti mencatat.Tangannya diam.tatapannya terangkat, penuh rasa kagum.Bukan karena terkejut.Tapi karena melihat sesuatu yang jarang muncul.Ia melihat potensi di dalam diri Yuha.Potensi yang bisa membawa agensi ini bangkit kembali.Lagu selesai.Sunyi.Bukan sunyi canggung.Tapi sunyi karena memproses.Minjae menutup mapnya.Wajahnya berubah.Tidak lagi lelah.Tapi ada harapan disana._Pintu ditutup.Yuha dan trainee lain menun
“Kau tahu… dan membiarkannya?”Pertanyaan itu pelan.Menusuk.Suho tidak menghindar.“Aku tahu sebagian. Tidak semuanya.”Kejujuran itu berat.“Tapi kali ini aku tidak akan membiarkannya sendirian.”Suho melangkah sedikit lebih dekat.“Aku akan mencarikan agensi yang akan menghargai usahanya. Tempat yang tidak melihatnya sebagai ancaman.”Hyunsik masih menatapnya.Mencari kebohongan.Mencari keraguan.Tidak ada.Hanya tekad.“Aku akan memastikan dia tetap jadi idol.”Suara Suho tidak keras.Tapi solid.“Dan aku akan selalu menjaganya.”Kalimat itu menggantung.Hyunsik akhirnya duduk perlahan.Ia menghela napas panjang.“Suho, Adikku itu tidak pernah pandai membela diri.”Ia menatap Suho.“Dia selalu memilih diam.”Suho mengangguk.“Aku tahu.”“Kalau kau serius dengan dia…”Hyunsik berhenti sebentar.Nada suaranya berubah lebih dalam.“Pastikan dia tidak pernah merasa sendirian lagi.”Itu bukan ancaman.Itu permintaan.Suho menjawab tanpa ra
Tapi cara ia mengucapkannya sudah seperti vonis.“Maaf, Kami tidak bisa melanjutkan kontrakmu.”Dunia Yuha seperti berhenti.“Kamu akan dikeluarkan dari program trainee Aurora.”Kalimat itu terdengar jauh.Seolah tidak ditujukan padanya.“Saya… dikeluarkan?”Pelatih Lee mengangguk tegas.“Kamu bisa menganggap ini sebagai keputusan final.”Yuha menggigit bibirnya kuat-kuat.Tidak ada teriakan, tidak ada permohonan.Ia hanya berdiri diam, kaku.Tubuhnya terasa ringan seperti kehilangan pijakan.Pintu dibuka.Beberapa trainee masih berdiri di luar.Mereka semua melihatnya.Pelatih Lee berkata keras, cukup untuk didengar semua trainee:“Ini pelajaran untuk kalian. Walaupun kalian berbakat tapi kalau tidak jujur, jangan harap punya tempat di sini.”Bisik-bisik kembali terdengar.“Serius ya…”“Dia yang ambil USB?”“Padahal dia sangat berbakat…”Yuha mendengar semuanya.Setiap kata seperti jarum kecil.Dahyun berdiri di barisan belakang.Tatapannya lurus.Tid
Beberapa trainee masih mengobrol.Yuha sedang tertawa kecil bersama dua trainee lain.“Pelatih tadi kelihatan kagum banget loh pas muji kamu.”Yuha tersenyum malu.“Ah, nggak juga…”Tawa itu.Nada rendah hati itu.Dahyun berdiri di depan cermin, pura-pura membereskan rambutnya.Tapi matanya menangkap sesuatu.USB di atas meja.Ia mengenalnya.Itu USB evaluasi.Ia pernah melihat pelatih memakainya untuk memutar video ranking trainee.Ruangan mulai sepi.Beberapa trainee keluar satu per satu.Yuha sedang membungkuk mengambil botol minumnya.Dahyun berjalan perlahan ke meja.Ia berhenti.Menatap USB itu.Tangannya tidak langsung bergerak.Ia menoleh ke arah Yuha.Yuha tidak melihatnya.Terlalu sibuk tersenyum.Dahyun teringat kalimat pelatih tadi.“Lihat Yuha. Dia baru setahun tapi perkembangannya sudah sebesar ini.”Tangannya bergerak.Perlahan.Ia mengambil USB itu.Ringan.Tapi terasa berat di tangannya.Tidak ada suara.Tidak ada yang memperhatikan.







