LOGINHari pertama Yuha datang ke studio pribadi milik keluarga suho, tangannya sedikit berkeringat.
Pintu terbuka. Seorang pria muda berdiri di depan piano. Posturnya tegap. Wajahnya tenang. Tatapannya fokus. “Nama kamu Yuha?” “Iya.” Ia membungkuk dalam. “Tolong bantu aku jadi lebih baik.” Suho menatapnya beberapa detik. “Nyanyikan satu lagu.” Yuha mengangguk. Ia memilih lagu sederhana. Suara pertamanya sedikit gemetar. Nada kedua lebih stabil. Dan ketika ia mencapai bagian tinggi— Ruang latihan itu seperti berubah. Suho berhenti menekan tuts piano. Tangannya menggantung di udara, sementara ia mendengarkan Suara itu belum sempurna. Beberapa nada masih goyah. Tapi ada sesuatu di dalamnya, Sesuatu yang jujur. Emosi yang terasa nyata. Dan yang paling jelas… Ada tekad Yuha menatapnya setelah selesai, sedikit terengah. “Aku tahu aku masih kurang,” katanya cepat. “Tapi aku akan latihan sampai bisa.” Suho biasanya tidak mudah terkesan. Ia perfeksionis. Ia kritis. Tapi hari itu, Sudut bibirnya terangkat. Senyum kecil. Bukan karena suaranya sempurna. Tapi karena matanya. Karena gadis itu benar-benar ingin berjuang. “Baik,” katanya akhirnya. “Kalau begitu, mulai hari ini kamu tidak boleh menyerah sampai keinginanmu tercapai.” Yuha tersenyum lebar. “Aku nggak akan menyerah.” Dan Suho tidak tahu Bahwa gadis itu akan menjadi orang yang akan sangat mempengaruhi masa depannya, Flashback end- Suho berdiri sendirian di ruang latihan kecil Haneul Music Lab. Metronom berdetak pelan. Kalender di dinding membuat dadanya menegang. Dia mulai mengingat tulisan-tulisan di Diary biru Tahun ini. Setahun Yuha menjadi trainee. Dan tahun ini pula… kebencian Dahyun mulai tumbuh. Ia mengingatnya dengan jelas. Hari ini pelatih akan memuji Yuha terlalu terang-terangan. Hari ini Dahyun akan tersenyum… tapi ada sesuatu yang berubah di matanya. Suho menutup mata sebentar. Aku tidak boleh terlambat lagi. Ia tidak bisa langsung menghentikan semuanya. Tidak bisa terang-terangan melindungi Yuha tanpa menimbulkan kecurigaan. Tapi ia bisa melakukan dua hal: Membuat Yuha tidak memendam sendirian. Dan membuatnya tidak lemah Ketika disudutkan — Sore hari. Gerbang sekolah terbuka. Yuha melangkah keluar sambil melambaikan tangan pada temannya. “Sampai jumpa lagi!” Angin musim semi meniup rambut panjangnya pelan. Dan ketika ia menoleh ke depan— Ia berhenti. “Kak Suho?” Suho berdiri beberapa meter darinya, bersandar santai pada mobil. Ia masih mengenakan kemeja putih sederhana, lengan digulung sedikit. Tatapannya langsung melunak saat melihat Yuha. “Kakak membuatku terkejut,” Yuha mendekat cepat. “Kakak ngapain kesini?” “Menjemputmu.” Yuha berkedip. Biasanya suho tidak pernah datang kesekolah untuk menjemputnya “Berapa jam lagi ke tempat latihanmu?” Yuha melirik jam kecil di pergelangan tangannya. “Em… sekitar dua jam lagi.” Suho tersenyum kecil. “Jalan-jalan bentar yuk.” — Langit jingga memantul di sungai Han. Yuha berdiri di samping Suho, jarak mereka tidak terlalu jauh. Bukan jarak guru dan murid. Bukan jarak teman. Lebih seperti jarak dua orang yang diam-diam sudah saling menggenggam tangan. Suho teringat, Satu bulan sebelum tanggal ini, Suho dengan canggung dan wajah memerah, berkata: “Kalau aku bukan cuma pelatihmu… boleh nggak aku jadi seseorang yang lebih di hidupmu?” Dan Yuha yang saat itu tertawa gugup sambil berkata: “Kalau Kakak serius… boleh” Hubungan mereka masih rahasia. Masih polos. Masih dipenuhi rasa malu yang manis. “Kakak jarang banget ngajak aku jalan,” kata Yuha sambil menggoyang-goyangkan tangan Suho pelan. Tangannya sudah otomatis menggenggam lengan Suho, seperti kebiasaan kecil yang tanpa sadar ia lakukan sejak mereka resmi berpacaran. Suho menatap tangan itu. Terasa hangat, dulu tangan ini terlihat dingin dan pucat Ketika di ICU. Yuha dan Suho berhenti menatap sungai. Mereka menyandarkan tangan di pagar, menikmati angin yang lewat. Suho tersenyum lembut. “Pacarku lagi capek nggak? Gimana latihannya selama ini di trainee?” Yuha langsung memalingkan wajah, malu. “Kenapa tiba-tiba ngomong gitu…” “Jawab dulu.” Yuha menghela napas kecil. “Capek sih… tapi masih bisa.” Masih bisa. Kalimat itu membuat dada Suho sedikit sesak. “Yuha,” suaranya lebih dalam sekarang, “kalau ada apa-apa, kamu harus cerita ke aku. Jangan cuma bilang masih bisa.” Yuha menatapnya beberapa detik. Lalu tersenyum kecil. “Iya, Kak.” Ia memang belum terbiasa sepenuhnya terbuka. Tapi ada kehangatan di matanya. Suho merapikan rambut yang jatuh di wajah Yuha. Menatap yuha sejenak, Senyum Yuha membuatnya sulit mengalihkan pandangan. “Kamu cantik banget sih kalo senyum” “Apa sih, Kak…” Ia memalingkan wajah, malu. Suho tersenyum kecil. Sudah terlalu lama ia tidak sempat mengatakan hal-hal sederhana seperti ini. “Boleh nggak aku cium?” Yuha langsung menoleh cepat. “Nggak boleh! Kak, aku masih 17 tahun.” Nada suaranya campuran antara protes dan malu. Suho tertawa kecil. “Cuma sebentar.” Yuha menunduk, menggigit bibir bawahnya. “Kakak ini…” Ia tidak benar-benar menjauh. Tidak benar-benar menolak. Hanya malu. Suho mengangkat dagunya pelan. “Kalau nggak mau, bilang nggak.” Yuha menatapnya. Degup jantungnya terdengar jelas di telinganya sendiri. Sebenarnya ia mau. Hanya saja ia belum pernah merasa segugup ini. Ia mengangguk kecil. Hampir tak terlihat. Suho mendekat perlahan. Memberinya waktu untuk mundur. Yuha tidak mundur. Bibir mereka bertemu singkat. Lembut. Hangat. Tidak tergesa. Tidak dalam. Hanya sentuhan yang cukup untuk membuat jantung keduanya berantakan. Ketika Suho menjauh, Yuha menutup wajahnya dengan kedua tangan. “Kak!” Suho tertawa pelan. Untuk pertama kalinya sejak ia kembali, tawanya terdengar ringan. Ia menyentuh kening Yuha dengan lembut. “Aku janji.” “Janji apa?” “Aku akan selalu ada.” Yuha tersenyum lebar. “Kan memang sudah ada.” Suho menatapnya dalam. Tidak. Di timeline pertama, aku tidak selalu ada. Tapi kali ini, Aku akan mengubah itu. _ Ruang Latihan AURORA Entertainment Cermin besar memenuhi satu sisi ruangan. Lantai kayu masih terasa bergetar setelah latihan dance. Pelatih vokal berdiri di depan, tangan bersilang di dada. “Sekarang Yuha.” Yuha maju satu langkah. Tangannya sedikit berkeringat. Ia menarik napas… dan mulai bernyanyi. Nada tinggi yang dulu goyah kini terdengar stabil. Lebih bulat. Lebih kuat. Ruangan hening. Bahkan Dahyun yang biasanya santai ikut terdiam. Ketika lagu selesai, pelatih mengangguk pelan. “Bagus.” Satu kata. Tapi cukup membuat jantung Yuha bergetar. “Kamu berkembang cepat, Yuha.” Ia menunduk sopan. “Terima kasih, sunbaenim.” Pelatih lalu menoleh ke arah Dahyun. “Dahyun, kamu sudah lebih lama jadi trainee. Tapi progresmu stagnan. Lihat Yuha. Dia baru setahun, tapi perkembangannya sudah sebesar ini.” Ruangan berubah tegang. Yuha langsung menoleh ke Dahyun. Ia tersenyum kecil. Bukan meremehkan. Bukan sombong. Tapi penuh harapan. Akhirnya aku bisa menyamai kamu… Kita bisa debut bareng. Namun di mata Dahyun— Senyum itu berbeda. Terlalu terang. Terlalu percaya diri. Seolah berkata: Aku sudah menyusulmu. Dahyun mengepalkan tangan. Dia pikir dia lebih baik? Aku tahu aku tidak sehebat dia… tapi dia tidak perlu merasa hebat seperti itu kan? Latihan selesai lebih cepat hari itu. “Besok dan lusa kalian libur,” kata pelatih. “Aku sedang menyiapkan showing group.” Beberapa trainee bersorak kecil. Yuha langsung menoleh ke Dahyun. “Akhirnya kita bisa istirahat besok!” Dahyun hanya tersenyum tipis. “Ya.” Tapi senyum itu tidak sampai ke matanya. _ Deretan loker berdiri rapat. Yuha membuka lokernya. Dahyun tepat di sebelahnya. Suara pintu besi terdengar keras saat Dahyun menutupnya. “Wow.” Yuha tersentak dan langsung menoleh. “Sekarang kau merasa bangga ya karena dipuji pelatih?” Yuha terdiam. “Apa?” Dahyun menatapnya lurus. “Kamu senyum tadi. Seolah-olah kamu sudah menang.” Yuha langsung menggeleng cepat. “Dahyun, bukan begitu… aku cuma senang karena akhirnya aku bisa—” “Bisa apa? Menyamai aku?” Nada suaranya pelan. Tapi tajam. Yuha menelan ludah. “Aku cuma ingin kita debut bareng…” “Jangan pura-pura polos.” Kata itu menusuk. Yuha membeku. “Aku nggak pernah…” “Kamu selalu kelihatan nggak sadar. Itu yang bikin orang kesal.” Yuha tidak tahu harus menjawab apa. Ia benar-benar tidak bermaksud menyakiti. “Aku minta maaf kalau tadi terlihat salah.” Dahyun tertawa kecil. “Selalu minta maaf.” Ia mengambil tasnya. “Kamu nggak sadar kalau kamu menyakiti orang.” Kalimat itu menggantung di udara. Yuha berdiri terpaku beberapa detik. Lalu perlahan menutup lokernya. Hatinya terasa aneh. Tidak sepenuhnya sedih. Tapi seolah ada sesuatu yang berubah. — Di Depan Gedung AURORA Yuha keluar dengan tas di pundak. Dan di seberang jalan, Suho berdiri Menunggunya. “Kak Suho?” Wajah Yuha langsung cerah. “Kakak menjemputku lagi?” Suho tersenyum. Tapi sebelum Yuha melihatnya— Ia sudah melihat lebih dulu. Wajah itu. Ada sisa kesedihan yang belum hilang. “Ada masalah di trainee tadi?” tanyanya lembut.Koper besar terbuka di lantai kamar.Ibu Yuha melipat pakaian dengan hati-hati, memasukkan satu per satu ke dalam koper.“Jangan lupa bawa jaket tebalmu. Di Studio biasanya dingin,” ucapnya lembut.Yuha tersenyum kecil.“Iya, Bu.”Hyunsik bersandar di kusen pintu, memperhatikan dalam diam. Suasana tidak tegang, tapi terasa berbeda...seolah satu fase hidup benar-benar telah berganti“Gimana rasanya bisa debut?” tanya ibunya pelan.Yuha terdiam sebentar.“Senang… tapi juga takut.”Ibu menghentikan tangannya, lalu mendekat dan merapikan rambut Yuha.“Takut itu emang wajar Yuha. Yang tidak wajar kalau kamu tidak berani melangkah.”Yuha menunduk, menahan emosi kecil yang muncul.Hyunsik akhirnya melangkah masuk.“Jadwalmu padat ya sampai harus siap-siap sekarang?”“Banget,” jawab Yuha sambil tersenyum tipis. “bayangin kak, Besok udah langsung rekaman.”Hyunsik mengangguk pelan.Tatapannya tidak lagi setegang dulu.Dalam hati ia berkata,Suho tidak berbohong.Ia teringat
Layar di ruang rapat menampilkan satu kalimat besar:3 WEEKS TO LAUNCHDirektur berdiri di ujung meja.“Tiga minggu dari sekarang. Kita rilis single debut dan video musik pertama.”Beberapa orang dari divisi pemasaran langsung membuka laptop.“Teaser harus mulai dua minggu sebelum rilis.”“Konsep visual harus final minggu ini.”“Lokasi MV paling lambat dikunci lima hari.”Divisi kreatif menyela,“Maaf direktur, tapi Kalau lagunya belum selesai kami tidak bisa mulai mengonsep MV.”Semua mata beralih ke Suho selaku tim produser yg bertanggung jawab atas lagu debut ini.Direktur menatapnya.“Bagaimana?”Suho berdiri tanpa terburu-buru.“Kita tidak punya waktu untuk menyiapkan lagu baru.”Beberapa orang terlihat bingung.“Aku punya satu lagu.”Sunyi.“Sudah kubuat sejak lama. Tinggal penyesuaian aransemen dan guide vokal.”“Kalau begitu timeline kita bisa maju seminggu.”Divisi pemasaran mengangguk.“Lebih aman untuk teaser.”Direktur menyipitkan mata.“K
Lalu Nama Itu Dipanggil“Yuha.”Ia masuk.Langkahnya tidak tergesa, Tidak juga terlalu percaya diri.Hanya stabil.Musik dimulai.Yuha menyanyikan bait pertama.Suasana ruangan masih biasa.Minjae masih menatap tanpa ekspresi.Tapi di baris kedua, Suaranya mulai terdengar berbeda.Bersih.Dalam.Bukan hanya Teknik bernyanyi nya.Caranya menari.Caranya meng-ekpresi kan wajah nyaSeperti ada pengalaman di sana.Ketika chorus datang, Nada tinggi itu tidak hanya stabil.Ia menggema.Dan untuk pertama kalinya hari itu, Minjae berhenti mencatat.Tangannya diam.tatapannya terangkat, penuh rasa kagum.Bukan karena terkejut.Tapi karena melihat sesuatu yang jarang muncul.Ia melihat potensi di dalam diri Yuha.Potensi yang bisa membawa agensi ini bangkit kembali.Lagu selesai.Sunyi.Bukan sunyi canggung.Tapi sunyi karena memproses.Minjae menutup mapnya.Wajahnya berubah.Tidak lagi lelah.Tapi ada harapan disana._Pintu ditutup.Yuha dan trainee lain menun
“Kau tahu… dan membiarkannya?”Pertanyaan itu pelan.Menusuk.Suho tidak menghindar.“Aku tahu sebagian. Tidak semuanya.”Kejujuran itu berat.“Tapi kali ini aku tidak akan membiarkannya sendirian.”Suho melangkah sedikit lebih dekat.“Aku akan mencarikan agensi yang akan menghargai usahanya. Tempat yang tidak melihatnya sebagai ancaman.”Hyunsik masih menatapnya.Mencari kebohongan.Mencari keraguan.Tidak ada.Hanya tekad.“Aku akan memastikan dia tetap jadi idol.”Suara Suho tidak keras.Tapi solid.“Dan aku akan selalu menjaganya.”Kalimat itu menggantung.Hyunsik akhirnya duduk perlahan.Ia menghela napas panjang.“Suho, Adikku itu tidak pernah pandai membela diri.”Ia menatap Suho.“Dia selalu memilih diam.”Suho mengangguk.“Aku tahu.”“Kalau kau serius dengan dia…”Hyunsik berhenti sebentar.Nada suaranya berubah lebih dalam.“Pastikan dia tidak pernah merasa sendirian lagi.”Itu bukan ancaman.Itu permintaan.Suho menjawab tanpa ra
Tapi cara ia mengucapkannya sudah seperti vonis.“Maaf, Kami tidak bisa melanjutkan kontrakmu.”Dunia Yuha seperti berhenti.“Kamu akan dikeluarkan dari program trainee Aurora.”Kalimat itu terdengar jauh.Seolah tidak ditujukan padanya.“Saya… dikeluarkan?”Pelatih Lee mengangguk tegas.“Kamu bisa menganggap ini sebagai keputusan final.”Yuha menggigit bibirnya kuat-kuat.Tidak ada teriakan, tidak ada permohonan.Ia hanya berdiri diam, kaku.Tubuhnya terasa ringan seperti kehilangan pijakan.Pintu dibuka.Beberapa trainee masih berdiri di luar.Mereka semua melihatnya.Pelatih Lee berkata keras, cukup untuk didengar semua trainee:“Ini pelajaran untuk kalian. Walaupun kalian berbakat tapi kalau tidak jujur, jangan harap punya tempat di sini.”Bisik-bisik kembali terdengar.“Serius ya…”“Dia yang ambil USB?”“Padahal dia sangat berbakat…”Yuha mendengar semuanya.Setiap kata seperti jarum kecil.Dahyun berdiri di barisan belakang.Tatapannya lurus.Tid
Beberapa trainee masih mengobrol.Yuha sedang tertawa kecil bersama dua trainee lain.“Pelatih tadi kelihatan kagum banget loh pas muji kamu.”Yuha tersenyum malu.“Ah, nggak juga…”Tawa itu.Nada rendah hati itu.Dahyun berdiri di depan cermin, pura-pura membereskan rambutnya.Tapi matanya menangkap sesuatu.USB di atas meja.Ia mengenalnya.Itu USB evaluasi.Ia pernah melihat pelatih memakainya untuk memutar video ranking trainee.Ruangan mulai sepi.Beberapa trainee keluar satu per satu.Yuha sedang membungkuk mengambil botol minumnya.Dahyun berjalan perlahan ke meja.Ia berhenti.Menatap USB itu.Tangannya tidak langsung bergerak.Ia menoleh ke arah Yuha.Yuha tidak melihatnya.Terlalu sibuk tersenyum.Dahyun teringat kalimat pelatih tadi.“Lihat Yuha. Dia baru setahun tapi perkembangannya sudah sebesar ini.”Tangannya bergerak.Perlahan.Ia mengambil USB itu.Ringan.Tapi terasa berat di tangannya.Tidak ada suara.Tidak ada yang memperhatikan.







