Share

4. Tekad untuk Merubah

Author: Ravelyn Ash
last update Last Updated: 2026-03-06 11:15:52

Hari pertama Yuha datang ke studio pribadi milik keluarga suho, tangannya sedikit berkeringat.‎

Pintu terbuka.‎

Seorang pria muda berdiri di depan piano.‎

Posturnya tegap. ‎

Wajahnya tenang. ‎

Tatapannya fokus.‎

‎“Nama kamu Yuha?”‎

“Iya.”‎

Ia membungkuk dalam.‎

‎“Tolong bantu aku jadi lebih baik.”‎

Suho menatapnya beberapa detik.‎

‎“Nyanyikan satu lagu.”‎

Yuha mengangguk.‎

Ia memilih lagu sederhana.‎

Suara pertamanya sedikit gemetar.‎

Nada kedua lebih stabil.‎

Dan ketika ia mencapai bagian tinggi—‎

Ruang latihan itu seperti berubah.‎

Suho berhenti menekan tuts piano.‎

Tangannya menggantung di udara, sementara ia mendengarkan

Suara itu belum sempurna.‎

Beberapa nada masih goyah.‎

Tapi ada sesuatu di dalamnya,

Sesuatu yang jujur.

Emosi yang terasa nyata.

Dan yang paling jelas…

Ada tekad

Yuha menatapnya setelah selesai, sedikit terengah.‎

‎“Aku tahu aku masih kurang,” katanya cepat. “Tapi aku akan latihan sampai bisa.”‎

Suho biasanya tidak mudah terkesan.‎

Ia perfeksionis.‎

Ia kritis.‎

Tapi hari itu,

Sudut bibirnya terangkat.‎

Senyum kecil.‎

Bukan karena suaranya sempurna.‎

Tapi karena matanya.‎

Karena gadis itu benar-benar ingin berjuang.‎

“Baik,” katanya akhirnya. “Kalau begitu, mulai hari ini kamu tidak boleh menyerah sampai keinginanmu tercapai.”‎

Yuha tersenyum lebar.‎

‎“Aku nggak akan menyerah.”‎

Dan Suho tidak tahu

Bahwa gadis itu akan menjadi orang yang akan sangat mempengaruhi masa depannya,‎

Flashback end-‎

Suho berdiri sendirian di ruang latihan kecil Haneul Music Lab.‎

Metronom berdetak pelan.‎

Kalender di dinding membuat dadanya menegang.‎

Dia mulai mengingat tulisan-tulisan di Diary biru

Tahun ini.‎

Setahun Yuha menjadi trainee.‎

Dan tahun ini pula… kebencian Dahyun mulai tumbuh.‎

Ia mengingatnya dengan jelas.‎

Hari ini pelatih akan memuji Yuha terlalu terang-terangan.‎

Hari ini Dahyun akan tersenyum… tapi ada sesuatu yang berubah di matanya.‎

Suho menutup mata sebentar.‎

Aku tidak boleh terlambat lagi.‎

Ia tidak bisa langsung menghentikan semuanya. ‎

Tidak bisa terang-terangan melindungi Yuha tanpa menimbulkan kecurigaan.‎

Tapi ia bisa melakukan dua hal:‎

Membuat Yuha tidak memendam sendirian.‎

Dan membuatnya tidak lemah Ketika disudutkan

‎—‎

Sore hari.‎

Gerbang sekolah terbuka.‎

Yuha melangkah keluar sambil melambaikan tangan pada temannya.‎

‎“Sampai jumpa lagi!”‎

Angin musim semi meniup rambut panjangnya pelan.‎

Dan ketika ia menoleh ke depan—‎

Ia berhenti.‎

‎“Kak Suho?”‎

Suho berdiri beberapa meter darinya, bersandar santai pada mobil.‎

Ia masih mengenakan kemeja putih sederhana, lengan digulung sedikit.‎

Tatapannya langsung melunak saat melihat Yuha.‎

“Kakak membuatku terkejut,” Yuha mendekat cepat. “Kakak ngapain kesini?”‎

‎“Menjemputmu.”‎

Yuha berkedip.‎

Biasanya suho tidak pernah datang kesekolah untuk menjemputnya

‎“Berapa jam lagi ke tempat latihanmu?”‎

Yuha melirik jam kecil di pergelangan tangannya.‎

‎“Em… sekitar dua jam lagi.”‎

Suho tersenyum kecil.‎

‎“Jalan-jalan bentar yuk.”‎

‎—‎

Langit jingga memantul di sungai Han.‎

Yuha berdiri di samping Suho, jarak mereka tidak terlalu jauh.‎

Bukan jarak guru dan murid.‎

Bukan jarak teman.‎

Lebih seperti jarak dua orang yang diam-diam sudah saling menggenggam tangan.‎

Suho teringat,

Satu bulan sebelum tanggal ini, Suho dengan canggung dan wajah memerah, berkata:‎

‎“Kalau aku bukan cuma pelatihmu… boleh nggak aku jadi seseorang yang lebih di hidupmu?”‎

Dan Yuha yang saat itu tertawa gugup sambil berkata:‎

‎“Kalau Kakak serius… boleh”‎

Hubungan mereka masih rahasia.‎

Masih polos.‎

Masih dipenuhi rasa malu yang manis.‎

‎“Kakak jarang banget ngajak aku jalan,” kata Yuha sambil menggoyang-goyangkan tangan Suho pelan. ‎Tangannya sudah otomatis menggenggam lengan Suho, seperti kebiasaan kecil yang tanpa sadar ia ‎lakukan sejak mereka resmi berpacaran.‎

Suho menatap tangan itu.‎

Terasa hangat, dulu tangan ini terlihat dingin dan pucat Ketika di ICU.‎

Yuha dan Suho berhenti menatap sungai.

Mereka menyandarkan tangan di pagar, menikmati angin yang lewat.

Suho tersenyum lembut.‎

‎“Pacarku lagi capek nggak? Gimana latihannya selama ini di trainee?”‎

Yuha langsung memalingkan wajah, malu.‎

‎“Kenapa tiba-tiba ngomong gitu…”‎

‎“Jawab dulu.”‎

Yuha menghela napas kecil.‎

‎“Capek sih… tapi masih bisa.”‎

Masih bisa.‎

Kalimat itu membuat dada Suho sedikit sesak.‎

‎“Yuha,” suaranya lebih dalam sekarang,

“kalau ada apa-apa, kamu harus cerita ke aku. Jangan cuma ‎bilang masih bisa.”‎

Yuha menatapnya beberapa detik.‎

Lalu tersenyum kecil.‎

‎“Iya, Kak.”‎

Ia memang belum terbiasa sepenuhnya terbuka.‎

Tapi ada kehangatan di matanya.‎

Suho merapikan rambut yang jatuh di wajah Yuha.‎

Menatap yuha sejenak, Senyum Yuha membuatnya sulit mengalihkan pandangan.

‎“Kamu cantik banget sih kalo senyum”‎

‎“Apa sih, Kak…”‎

Ia memalingkan wajah, malu.‎

Suho tersenyum kecil.‎

Sudah terlalu lama ia tidak sempat mengatakan hal-hal sederhana seperti ini.‎

‎“Boleh nggak aku cium?”‎

Yuha langsung menoleh cepat.‎

‎“Nggak boleh! Kak, aku masih 17 tahun.”‎

Nada suaranya campuran antara protes dan malu.‎

Suho tertawa kecil.‎

‎“Cuma sebentar.”‎

Yuha menunduk, menggigit bibir bawahnya.‎

‎“Kakak ini…”‎

Ia tidak benar-benar menjauh.‎

Tidak benar-benar menolak.‎

Hanya malu.‎

Suho mengangkat dagunya pelan.‎

‎“Kalau nggak mau, bilang nggak.”‎

Yuha menatapnya.‎

Degup jantungnya terdengar jelas di telinganya sendiri.‎

Sebenarnya ia mau.‎

Hanya saja ia belum pernah merasa segugup ini.‎

Ia mengangguk kecil.‎

Hampir tak terlihat.‎

Suho mendekat perlahan.‎

Memberinya waktu untuk mundur.‎

Yuha tidak mundur.‎

Bibir mereka bertemu singkat.‎

Lembut.‎

Hangat.‎

Tidak tergesa.‎

Tidak dalam.‎

Hanya sentuhan yang cukup untuk membuat jantung keduanya berantakan.‎

Ketika Suho menjauh, Yuha menutup wajahnya dengan kedua tangan.‎

‎“Kak!”‎

Suho tertawa pelan.‎

Untuk pertama kalinya sejak ia kembali, tawanya terdengar ringan.‎

Ia menyentuh kening Yuha dengan lembut.‎

‎“Aku janji.”‎

‎“Janji apa?”‎

‎“Aku akan selalu ada.”‎

Yuha tersenyum lebar.‎

‎“Kan memang sudah ada.”‎

Suho menatapnya dalam.‎

Tidak.‎

Di timeline pertama, aku tidak selalu ada.‎

Tapi kali ini,

Aku akan mengubah itu.‎

_

Ruang Latihan AURORA Entertainment

Cermin besar memenuhi satu sisi ruangan.‎

Lantai kayu masih terasa bergetar setelah latihan dance.‎

Pelatih vokal berdiri di depan, tangan bersilang di dada.‎

‎“Sekarang Yuha.”‎

Yuha maju satu langkah.‎

Tangannya sedikit berkeringat.‎

Ia menarik napas… dan mulai bernyanyi.‎

Nada tinggi yang dulu goyah kini terdengar stabil. Lebih bulat. Lebih kuat.‎

Ruangan hening.‎

Bahkan Dahyun yang biasanya santai ikut terdiam.‎

Ketika lagu selesai, pelatih mengangguk pelan.‎

‎“Bagus.”‎

Satu kata.‎

Tapi cukup membuat jantung Yuha bergetar.‎

‎“Kamu berkembang cepat, Yuha.”‎

Ia menunduk sopan. “Terima kasih, sunbaenim.”‎

Pelatih lalu menoleh ke arah Dahyun.‎

‎“Dahyun, kamu sudah lebih lama jadi trainee. Tapi progresmu stagnan. Lihat Yuha. Dia baru setahun, ‎tapi perkembangannya sudah sebesar ini.”‎

Ruangan berubah tegang.‎

Yuha langsung menoleh ke Dahyun.‎

Ia tersenyum kecil.‎

Bukan meremehkan.‎

Bukan sombong.‎

Tapi penuh harapan.‎

Akhirnya aku bisa menyamai kamu…

Kita bisa debut bareng.‎

Namun di mata Dahyun—‎

Senyum itu berbeda.‎

Terlalu terang.‎

Terlalu percaya diri.‎

Seolah berkata: Aku sudah menyusulmu.‎

Dahyun mengepalkan tangan.‎

Dia pikir dia lebih baik?‎

Aku tahu aku tidak sehebat dia… tapi dia tidak perlu merasa hebat seperti itu kan?‎

Latihan selesai lebih cepat hari itu.‎

‎“Besok dan lusa kalian libur,” kata pelatih. “Aku sedang menyiapkan showing group.”‎

Beberapa trainee bersorak kecil.‎

Yuha langsung menoleh ke Dahyun.‎

‎“Akhirnya kita bisa istirahat besok!”‎

Dahyun hanya tersenyum tipis.‎

‎“Ya.”‎

Tapi senyum itu tidak sampai ke matanya.‎

_

Deretan loker berdiri rapat.‎

Yuha membuka lokernya.‎

Dahyun tepat di sebelahnya.‎

Suara pintu besi terdengar keras saat Dahyun menutupnya.‎

‎“Wow.”‎

Yuha tersentak dan langsung menoleh.‎

“Sekarang kau merasa bangga ya karena dipuji pelatih?”‎

Yuha terdiam.‎

‎“Apa?”‎

Dahyun menatapnya lurus.‎

‎“Kamu senyum tadi. Seolah-olah kamu sudah menang.”‎

Yuha langsung menggeleng cepat.‎

‎“Dahyun, bukan begitu… aku cuma senang karena akhirnya aku bisa—”‎

‎“Bisa apa? Menyamai aku?”‎

Nada suaranya pelan.‎

Tapi tajam.‎

Yuha menelan ludah.‎

‎“Aku cuma ingin kita debut bareng…”‎

‎“Jangan pura-pura polos.”‎

Kata itu menusuk.‎

Yuha membeku.‎

‎“Aku nggak pernah…”‎

‎“Kamu selalu kelihatan nggak sadar. Itu yang bikin orang kesal.”‎

Yuha tidak tahu harus menjawab apa.‎

Ia benar-benar tidak bermaksud menyakiti.‎

‎“Aku minta maaf kalau tadi terlihat salah.”‎

Dahyun tertawa kecil.‎

‎“Selalu minta maaf.”‎

Ia mengambil tasnya.‎

‎“Kamu nggak sadar kalau kamu menyakiti orang.”‎

Kalimat itu menggantung di udara.‎

Yuha berdiri terpaku beberapa detik.‎

Lalu perlahan menutup lokernya.‎

Hatinya terasa aneh.‎

Tidak sepenuhnya sedih.‎

Tapi seolah ada sesuatu yang berubah.‎

‎—‎

Di Depan Gedung AURORA

Yuha keluar dengan tas di pundak.‎

Dan di seberang jalan, Suho berdiri Menunggunya.‎

“Kak Suho?”‎

Wajah Yuha langsung cerah.‎

‎“Kakak menjemputku lagi?”‎

Suho tersenyum.‎

Tapi sebelum Yuha melihatnya—‎

Ia sudah melihat lebih dulu.‎

Wajah itu.‎

Ada sisa kesedihan yang belum hilang.‎

‎“Ada masalah di trainee tadi?” tanyanya lembut.‎

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Dibalik Panggung, Aku kehilanganmu   11. The First Recording

    Koper besar terbuka di lantai kamar.‎Ibu Yuha melipat pakaian dengan hati-hati, memasukkan satu per satu ke dalam koper.‎‎“Jangan lupa bawa jaket tebalmu. Di Studio biasanya dingin,” ucapnya lembut.‎Yuha tersenyum kecil.‎“Iya, Bu.”‎Hyunsik bersandar di kusen pintu, memperhatikan dalam diam. Suasana tidak tegang, tapi terasa berbeda...seolah satu fase hidup benar-benar telah berganti‎“Gimana rasanya bisa debut?” tanya ibunya pelan.‎Yuha terdiam sebentar.‎‎“Senang… tapi juga takut.”‎Ibu menghentikan tangannya, lalu mendekat dan merapikan rambut Yuha.‎‎“Takut itu emang wajar Yuha. Yang tidak wajar kalau kamu tidak berani melangkah.”‎Yuha menunduk, menahan emosi kecil yang muncul.‎Hyunsik akhirnya melangkah masuk.‎‎“Jadwalmu padat ya sampai harus siap-siap sekarang?”‎“Banget,” jawab Yuha sambil tersenyum tipis. “bayangin kak, Besok udah langsung rekaman.”‎Hyunsik mengangguk pelan.Tatapannya tidak lagi setegang dulu.Dalam hati ia berkata,Suho tidak berbohong.Ia teringat

  • Dibalik Panggung, Aku kehilanganmu   10. Cara Lain Untuk Menjaga

    Layar di ruang rapat menampilkan satu kalimat besar:‎‎3 WEEKS TO LAUNCH‎Direktur berdiri di ujung meja.‎‎“Tiga minggu dari sekarang. Kita rilis single debut dan video musik pertama.”‎Beberapa orang dari divisi pemasaran langsung membuka laptop.‎‎“Teaser harus mulai dua minggu sebelum rilis.”‎“Konsep visual harus final minggu ini.”‎“Lokasi MV paling lambat dikunci lima hari.”‎Divisi kreatif menyela,‎“Maaf direktur, tapi Kalau lagunya belum selesai kami tidak bisa mulai mengonsep MV.”‎Semua mata beralih ke Suho selaku tim produser yg bertanggung jawab atas lagu debut ini.‎Direktur menatapnya.‎“Bagaimana?”‎Suho berdiri tanpa terburu-buru.‎‎“Kita tidak punya waktu untuk menyiapkan lagu baru.”‎Beberapa orang terlihat bingung.‎‎“Aku punya satu lagu.”‎Sunyi.‎‎“Sudah kubuat sejak lama. Tinggal penyesuaian aransemen dan guide vokal.”‎‎“Kalau begitu timeline kita bisa maju seminggu.”‎Divisi pemasaran mengangguk.‎“Lebih aman untuk teaser.”‎Direktur menyipitkan mata.‎“K

  • Dibalik Panggung, Aku kehilanganmu   9. Harapan Baru

    Lalu Nama Itu Dipanggil‎“Yuha.”‎Ia masuk.‎Langkahnya tidak tergesa, Tidak juga terlalu percaya diri.‎Hanya stabil.‎Musik dimulai.‎Yuha menyanyikan bait pertama.‎Suasana ruangan masih biasa.‎Minjae masih menatap tanpa ekspresi.‎Tapi di baris kedua, Suaranya mulai terdengar berbeda.‎Bersih.‎Dalam.‎Bukan hanya Teknik bernyanyi nya.‎Caranya menari.‎Caranya meng-ekpresi kan wajah nyaSeperti ada pengalaman di sana.‎Ketika chorus datang, Nada tinggi itu tidak hanya stabil.‎Ia menggema.‎Dan untuk pertama kalinya hari itu, Minjae berhenti mencatat.‎Tangannya diam.‎tatapannya terangkat, penuh rasa kagum.‎Bukan karena terkejut.‎Tapi karena melihat sesuatu yang jarang muncul.‎Ia melihat potensi di dalam diri Yuha.Potensi yang bisa membawa agensi ini bangkit kembali.Lagu selesai.‎Sunyi.‎Bukan sunyi canggung.‎Tapi sunyi karena memproses.‎Minjae menutup mapnya.‎Wajahnya berubah.‎Tidak lagi lelah.‎Tapi ada harapan disana.‎_‎Pintu ditutup.‎Yuha dan trainee lain menun

  • Dibalik Panggung, Aku kehilanganmu   8. Haneul Music Lab

    “Kau tahu… dan membiarkannya?”‎Pertanyaan itu pelan.‎Menusuk.‎Suho tidak menghindar.‎“Aku tahu sebagian. Tidak semuanya.”‎Kejujuran itu berat.‎‎“Tapi kali ini aku tidak akan membiarkannya sendirian.”‎Suho melangkah sedikit lebih dekat.‎‎“Aku akan mencarikan agensi yang akan menghargai usahanya. Tempat yang tidak melihatnya sebagai ‎ancaman.”‎Hyunsik masih menatapnya.‎Mencari kebohongan.‎Mencari keraguan.‎Tidak ada.‎Hanya tekad.‎‎“Aku akan memastikan dia tetap jadi idol.”‎Suara Suho tidak keras.‎Tapi solid.‎“Dan aku akan selalu menjaganya.”‎Kalimat itu menggantung.‎Hyunsik akhirnya duduk perlahan.‎Ia menghela napas panjang.‎‎“Suho, Adikku itu tidak pernah pandai membela diri.”‎Ia menatap Suho.‎‎“Dia selalu memilih diam.”‎Suho mengangguk.‎‎“Aku tahu.”‎‎“Kalau kau serius dengan dia…”‎Hyunsik berhenti sebentar.‎Nada suaranya berubah lebih dalam.‎‎“Pastikan dia tidak pernah merasa sendirian lagi.”‎Itu bukan ancaman.‎Itu permintaan.‎Suho menjawab tanpa ra

  • Dibalik Panggung, Aku kehilanganmu   7. Dikeluarkan

    Tapi cara ia mengucapkannya sudah seperti vonis.‎‎“Maaf, Kami tidak bisa melanjutkan kontrakmu.”‎Dunia Yuha seperti berhenti.‎‎“Kamu akan dikeluarkan dari program trainee Aurora.”‎Kalimat itu terdengar jauh.‎Seolah tidak ditujukan padanya.‎‎“Saya… dikeluarkan?”‎Pelatih Lee mengangguk tegas.‎‎“Kamu bisa menganggap ini sebagai keputusan final.”‎Yuha menggigit bibirnya kuat-kuat.‎Tidak ada teriakan, tidak ada permohonan.Ia hanya berdiri diam, kaku.Tubuhnya terasa ringan seperti kehilangan pijakan.Pintu dibuka.‎Beberapa trainee masih berdiri di luar.‎Mereka semua melihatnya.‎Pelatih Lee berkata keras, cukup untuk didengar semua trainee:‎‎“Ini pelajaran untuk kalian. Walaupun kalian berbakat tapi kalau tidak jujur, jangan harap punya tempat di sini.”‎Bisik-bisik kembali terdengar.‎‎“Serius ya…”‎‎“Dia yang ambil USB?”‎‎“Padahal dia sangat berbakat…”‎Yuha mendengar semuanya.‎Setiap kata seperti jarum kecil.‎Dahyun berdiri di barisan belakang.‎Tatapannya lurus.‎Tid

  • Dibalik Panggung, Aku kehilanganmu   6. Tuduhan

    Beberapa trainee masih mengobrol.‎Yuha sedang tertawa kecil bersama dua trainee lain.‎‎“Pelatih tadi kelihatan kagum banget loh pas muji kamu.”‎Yuha tersenyum malu.‎‎“Ah, nggak juga…”‎Tawa itu.‎Nada rendah hati itu.‎Dahyun berdiri di depan cermin, pura-pura membereskan rambutnya.‎Tapi matanya menangkap sesuatu.‎USB di atas meja.‎Ia mengenalnya.‎Itu USB evaluasi.‎Ia pernah melihat pelatih memakainya untuk memutar video ranking trainee.‎Ruangan mulai sepi.‎Beberapa trainee keluar satu per satu.‎Yuha sedang membungkuk mengambil botol minumnya.‎Dahyun berjalan perlahan ke meja.‎Ia berhenti.‎Menatap USB itu.‎Tangannya tidak langsung bergerak.‎Ia menoleh ke arah Yuha.‎Yuha tidak melihatnya.‎Terlalu sibuk tersenyum.‎Dahyun teringat kalimat pelatih tadi.‎‎“Lihat Yuha. Dia baru setahun tapi perkembangannya sudah sebesar ini.”‎Tangannya bergerak.‎Perlahan.‎Ia mengambil USB itu.‎Ringan.‎Tapi terasa berat di tangannya.‎Tidak ada suara.‎Tidak ada yang memperhatikan.‎

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status