LOGIN“Ada masalah di trainee tadi?” tanyanya lembut.
Yuha langsung menggeleng. “Nggak kok. Tadi pelatih memujiku. Katanya aku banyak berkembang.” Ia terdengar bahagia. Terlalu bahagia. Suho menatapnya tenang. “Kau yakin tidak ada yang kau sembunyikan?” Yuha sedikit terdiam. “Kenapa kakak nanya begitu?” “Karena aku kenal wajahmu.” Yuha menunduk sebentar. Ia ingin bilang tidak apa-apa. Kata itu sudah di ujung lidahnya. Tapi kali ini— Ia ingat perkataan Suho di bukit kemarin. Jangan simpan sendiri. “Dahyun marah padaku.” Suho tidak bereaksi berlebihan. Ia hanya menunggu. “Dia pikir aku merasa lebih baik dari dia karena dipuji.” Suara Yuha lebih kecil sekarang. “Aku nggak bermaksud begitu. Aku cuma senang karena aku pikir… aku bisa debut bareng dia.” Itu pertama kalinya ia mengaku. Suho merasa dadanya menghangat. Ia berhasil. Ia berhasil membuat Yuha tidak memendamnya sendirian. “Kamu nggak salah kok kalau berkembang,” katanya tegas tapi lembut. “Tapi kalau dia makin benci?” “Kalau mereka menyakitimu, kamu harus bilang.” Suho menatapnya dalam. “Yuha, kau harus tunjukkan bahwa kau memang berbakat.” Yuha berkedip. “Besok kau libur?” “Iya.” “Kita latihan lagu vokal yang paling sulit yang kamu tahu.” “Apa?” Suho tersenyum kecil. “Kau harus benar-benar berkembang. Bukan Cuma dipuji hari ini.” Yuha masih terlihat bingung. Suho melanjutkan. “Kau tidak boleh lemah terhadap makian mereka.” Nadanya berubah lebih serius. “Kalau mereka keterlaluan, kau harus berani melawan.” Yuha menatapnya. Ada api kecil di matanya. “Kalau aku melawan… nanti aku dibilang sombong.” “Kalau kau diam, mereka akan semakin berani.” Sunyi sejenak. Angin sore meniup rambut Yuha. Ia menarik napas. “Kakak yakin aku bisa?” Suho tersenyum lembut. “Aku yakin kamu bisa.” Yuha menggenggam ujung jaketnya. Lalu mengangguk. “Baik. Besok kita latihan.” Senyumnya kembali muncul. Kali ini bukan hanya senyum ceria. Tapi senyum seseorang yang mulai belajar untuk tidak selalu menyalahkan diri sendiri. Dan Suho tahu, Ini baru langkah pertama. Perundungan tidak akan berhenti hanya dengan satu latihan. Tapi setidaknya sekarang, Yuha tidak lagi memendamnya sendirian. Dan dia bisa melawan. Pagi di Sekolah Lorong kelas masih riuh oleh percakapan siswa yang baru datang. Yuha berjalan cepat, tasnya sedikit bergoyang di bahu. Matanya langsung mencari satu sosok yang biasanya berdiri menunggunya. Dahyun ada di dekat jendela, sedang menatap ponselnya. “Dahyun!” Yuha tersenyum dan mendekat. Tidak ada senyum balasan. Dahyun bahkan tidak mengangkat wajahnya. Yuha berhenti tepat di depannya. “Kamu kenapa?” Tidak ada jawaban. Hanya suara notifikasi ponsel yang terdengar. Yuha mengernyit. “Dahyun, Aku lagi ngomong sama kamu.” Dahyun mendesah pelan, seolah terganggu. “Kenapa sih?” Nada itu dingin. Tidak seperti biasanya. Yuha merasa sesuatu mengganjal di dadanya. “Mengapa Kamu menjauh?.” “Kamu terlalu sensitif.” Kalimat itu seperti tembok. Yuha menarik napas, mencoba tetap tenang. Ia ingat kata-kata Suho. Jangan diam. Kalau ada masalah, hadapi. Ia melangkah lebih dekat. “Kalau aku salah, bilang.” Dahyun tetap cuek dan mulai berjalan melewatinya. Refleks, Yuha menarik pergelangan tangan Dahyun. Sedikit lebih keras dari yang ia maksud. “Jangan kayak gini.” Dahyun menoleh cepat. Tatapannya berubah. “Lepas.” “Enggak sebelum kamu jawab.” Suara Yuha bergetar, bukan karena marah, tapi karena panik kehilangan. “Kita kan mau debut bareng. Kenapa kamu jadi kayak orang asing sekarang?” Dahyun tertawa kecil. Tawa yang tidak mengandung hangat sedikit pun. “Debut bareng?” Ia menepis tangan Yuha. “Kamu pikir aku nggak tahu?” Yuha membeku. “Kamu senang banget waktu pelatih bandingin kita.” “Aku nggak…” “Berhenti pura-pura polos!” Beberapa siswa menoleh. Yuha tersentak. “Aku cuma senang karena akhirnya aku bisa…” “Bisa apa? Nyusul aku? Ngelewatin aku?” Suara Dahyun rendah tapi penuh tekanan. “Kamu datang belakangan. Setahun doang. Tapi sekarang semua orang ngomongin kamu.” “Itu bukan salahku…” “Justru itu.” Kata itu keluar seperti pisau. “Kamu nggak pernah merasa bersalah. Kamu cuma berdiri di sana dengan wajah lugu itu, seolah-olah semuanya terjadi sendiri.” Yuha menatapnya tak percaya. “Aku selalu kerja keras…” “Aku juga kerja keras!” Suara Dahyun pecah untuk pertama kalinya. “Tapi waktu aku gagal, nggak ada yang bilang aku berkembang. Waktu kamu berhasil, semua orang bilang kamu luar biasa.” Yuha tidak tahu harus menjawab apa. Ia tidak pernah ingin bersaing. Ia hanya ingin berjalan berdampingan. “Aku cuma mau kita sukses bareng…” Dahyun tersenyum tipis. “Tolong jangan bersikap seolah-olah kamu masih di belakangku.” Kalimat itu menusuk dalam. “Kamu tahu apa yang paling menyebalkan?” Yuha hanya bisa diam. “Kamu bahkan nggak sadar kalau kamu bikin orang merasa kecil.” Sunyi. “Dan kamu tetap berdiri di sana, seakan kamu peduli.” Air mata mulai menggenang di mata Yuha. “Aku nggak pernah mau bikin kamu merasa kecil…” “Tapi kamu sudah melakukannya.” Tatapan Dahyun berubah. Bukan sekadar marah. Tapi terluka. “Dan yang paling menyakitkan… kamu terlihat seperti nggak merasa bersalah sedikit pun.” Yuha kehilangan kata-kata. Dahyun melangkah mundur. “Jangan sentuh aku lagi.” Ia berjalan pergi. Meninggalkan Yuha berdiri sendiri di tengah lorong. Tangannya masih sedikit terangkat. Seolah belum menerima bahwa seseorang yang dulu menggenggamnya erat… Baru saja melepaskannya dengan kasar. Dan untuk pertama kalinya— Di hati Dahyun muncul sesuatu yang berbahaya. Bukan hanya iri. Tapi keinginan untuk menghentikan langkah Yuha. Dengan cara apa pun. _ Ruang latihan kecil itu kembali dipenuhi suara piano. Yuha berdiri di depan mikrofon. Ia menarik napas dalam dan memutuskan satu hal: Ia tidak akan membawa masalah sekolah ke sini. Ia tidak mau Suho melihatnya lemah lagi. “Mulai dari pre-chorus,” kata Suho tenang. Yuha mengangguk. Ia bernyanyi. Nada tinggi terdengar lebih kuat dari sebelumnya. Ada tekad dalam suaranya. Seakan ia ingin membuktikan sesuatu. Suho memperhatikan dengan serius. Fokusnya sekarang satu: Membuat Yuha lebih kuat dari timeline pertama. Ia tidak bertanya soal Dahyun hari ini. Ia ingin membuat Yuha percaya diri dulu. “Bagus. Ulangi. Pertahankan nada terakhirnya.” Yuha mengangguk lagi. Ia mencoba. Dan mencoba lagi. Dan lagi. Keringat mulai mengalir di pelipisnya. Tapi ia tidak berhenti. Di dalam hatinya ada dua perasaan bertabrakan: Sedih karena Dahyun menjauh. Dan ambisi untuk tidak tertinggal lagi. Suho berdiri mendekat. “Yuha.” “Iya, Kak?” “Kamu nggak boleh setengah-setengah. Kalau kamu mau jadi main vocal, kamu harus jauh lebih kuat dari yang lain.” Yuha menatapnya. “Aku akan berusaha.” Ia tersenyum. Senyum profesional. Senyum yang berusaha stabil. Suho sempat menangkap satu hal. Nada suaranya terasa tertahan, tidak mengalir seperti biasanya. Tapi ia tidak mau terlalu menekannya. Ia hanya berkata pelan, “Kamu berkembang cepat.” Kalimat sederhana itu membuat Yuha menunduk malu. Ia ingin mengatakan sesuatu tentang Dahyun. Tentang perasaan aneh di dadanya. Tapi ia menahannya. Karena hari ini ia ingin terlihat kuat. Dan Suho… Terlalu fokus pada ambisinya mengubah masa depan. Ia tidak sadar bahwa retakan kecil itu, Sudah mulai membesar. — Ruang Latihan AURORA Latihan hampir selesai. Pelatih terlihat tergesa-gesa. Ponselnya terus berdering. “Latihan kita cukup hari ini ya. Besok kita lanjut seperti biasa. Jangan malas latihan sendiri.” Ia berjalan ke meja kecil di sudut ruangan, mengambil tasnya. Ponsel berdering lagi. “Ya? Sekarang? Baik, saya ke kantor.” Ia keluar cepat. USB hitam kecil tertinggal di atas meja.Koper besar terbuka di lantai kamar.Ibu Yuha melipat pakaian dengan hati-hati, memasukkan satu per satu ke dalam koper.“Jangan lupa bawa jaket tebalmu. Di Studio biasanya dingin,” ucapnya lembut.Yuha tersenyum kecil.“Iya, Bu.”Hyunsik bersandar di kusen pintu, memperhatikan dalam diam. Suasana tidak tegang, tapi terasa berbeda...seolah satu fase hidup benar-benar telah berganti“Gimana rasanya bisa debut?” tanya ibunya pelan.Yuha terdiam sebentar.“Senang… tapi juga takut.”Ibu menghentikan tangannya, lalu mendekat dan merapikan rambut Yuha.“Takut itu emang wajar Yuha. Yang tidak wajar kalau kamu tidak berani melangkah.”Yuha menunduk, menahan emosi kecil yang muncul.Hyunsik akhirnya melangkah masuk.“Jadwalmu padat ya sampai harus siap-siap sekarang?”“Banget,” jawab Yuha sambil tersenyum tipis. “bayangin kak, Besok udah langsung rekaman.”Hyunsik mengangguk pelan.Tatapannya tidak lagi setegang dulu.Dalam hati ia berkata,Suho tidak berbohong.Ia teringat
Layar di ruang rapat menampilkan satu kalimat besar:3 WEEKS TO LAUNCHDirektur berdiri di ujung meja.“Tiga minggu dari sekarang. Kita rilis single debut dan video musik pertama.”Beberapa orang dari divisi pemasaran langsung membuka laptop.“Teaser harus mulai dua minggu sebelum rilis.”“Konsep visual harus final minggu ini.”“Lokasi MV paling lambat dikunci lima hari.”Divisi kreatif menyela,“Maaf direktur, tapi Kalau lagunya belum selesai kami tidak bisa mulai mengonsep MV.”Semua mata beralih ke Suho selaku tim produser yg bertanggung jawab atas lagu debut ini.Direktur menatapnya.“Bagaimana?”Suho berdiri tanpa terburu-buru.“Kita tidak punya waktu untuk menyiapkan lagu baru.”Beberapa orang terlihat bingung.“Aku punya satu lagu.”Sunyi.“Sudah kubuat sejak lama. Tinggal penyesuaian aransemen dan guide vokal.”“Kalau begitu timeline kita bisa maju seminggu.”Divisi pemasaran mengangguk.“Lebih aman untuk teaser.”Direktur menyipitkan mata.“K
Lalu Nama Itu Dipanggil“Yuha.”Ia masuk.Langkahnya tidak tergesa, Tidak juga terlalu percaya diri.Hanya stabil.Musik dimulai.Yuha menyanyikan bait pertama.Suasana ruangan masih biasa.Minjae masih menatap tanpa ekspresi.Tapi di baris kedua, Suaranya mulai terdengar berbeda.Bersih.Dalam.Bukan hanya Teknik bernyanyi nya.Caranya menari.Caranya meng-ekpresi kan wajah nyaSeperti ada pengalaman di sana.Ketika chorus datang, Nada tinggi itu tidak hanya stabil.Ia menggema.Dan untuk pertama kalinya hari itu, Minjae berhenti mencatat.Tangannya diam.tatapannya terangkat, penuh rasa kagum.Bukan karena terkejut.Tapi karena melihat sesuatu yang jarang muncul.Ia melihat potensi di dalam diri Yuha.Potensi yang bisa membawa agensi ini bangkit kembali.Lagu selesai.Sunyi.Bukan sunyi canggung.Tapi sunyi karena memproses.Minjae menutup mapnya.Wajahnya berubah.Tidak lagi lelah.Tapi ada harapan disana._Pintu ditutup.Yuha dan trainee lain menun
“Kau tahu… dan membiarkannya?”Pertanyaan itu pelan.Menusuk.Suho tidak menghindar.“Aku tahu sebagian. Tidak semuanya.”Kejujuran itu berat.“Tapi kali ini aku tidak akan membiarkannya sendirian.”Suho melangkah sedikit lebih dekat.“Aku akan mencarikan agensi yang akan menghargai usahanya. Tempat yang tidak melihatnya sebagai ancaman.”Hyunsik masih menatapnya.Mencari kebohongan.Mencari keraguan.Tidak ada.Hanya tekad.“Aku akan memastikan dia tetap jadi idol.”Suara Suho tidak keras.Tapi solid.“Dan aku akan selalu menjaganya.”Kalimat itu menggantung.Hyunsik akhirnya duduk perlahan.Ia menghela napas panjang.“Suho, Adikku itu tidak pernah pandai membela diri.”Ia menatap Suho.“Dia selalu memilih diam.”Suho mengangguk.“Aku tahu.”“Kalau kau serius dengan dia…”Hyunsik berhenti sebentar.Nada suaranya berubah lebih dalam.“Pastikan dia tidak pernah merasa sendirian lagi.”Itu bukan ancaman.Itu permintaan.Suho menjawab tanpa ra
Tapi cara ia mengucapkannya sudah seperti vonis.“Maaf, Kami tidak bisa melanjutkan kontrakmu.”Dunia Yuha seperti berhenti.“Kamu akan dikeluarkan dari program trainee Aurora.”Kalimat itu terdengar jauh.Seolah tidak ditujukan padanya.“Saya… dikeluarkan?”Pelatih Lee mengangguk tegas.“Kamu bisa menganggap ini sebagai keputusan final.”Yuha menggigit bibirnya kuat-kuat.Tidak ada teriakan, tidak ada permohonan.Ia hanya berdiri diam, kaku.Tubuhnya terasa ringan seperti kehilangan pijakan.Pintu dibuka.Beberapa trainee masih berdiri di luar.Mereka semua melihatnya.Pelatih Lee berkata keras, cukup untuk didengar semua trainee:“Ini pelajaran untuk kalian. Walaupun kalian berbakat tapi kalau tidak jujur, jangan harap punya tempat di sini.”Bisik-bisik kembali terdengar.“Serius ya…”“Dia yang ambil USB?”“Padahal dia sangat berbakat…”Yuha mendengar semuanya.Setiap kata seperti jarum kecil.Dahyun berdiri di barisan belakang.Tatapannya lurus.Tid
Beberapa trainee masih mengobrol.Yuha sedang tertawa kecil bersama dua trainee lain.“Pelatih tadi kelihatan kagum banget loh pas muji kamu.”Yuha tersenyum malu.“Ah, nggak juga…”Tawa itu.Nada rendah hati itu.Dahyun berdiri di depan cermin, pura-pura membereskan rambutnya.Tapi matanya menangkap sesuatu.USB di atas meja.Ia mengenalnya.Itu USB evaluasi.Ia pernah melihat pelatih memakainya untuk memutar video ranking trainee.Ruangan mulai sepi.Beberapa trainee keluar satu per satu.Yuha sedang membungkuk mengambil botol minumnya.Dahyun berjalan perlahan ke meja.Ia berhenti.Menatap USB itu.Tangannya tidak langsung bergerak.Ia menoleh ke arah Yuha.Yuha tidak melihatnya.Terlalu sibuk tersenyum.Dahyun teringat kalimat pelatih tadi.“Lihat Yuha. Dia baru setahun tapi perkembangannya sudah sebesar ini.”Tangannya bergerak.Perlahan.Ia mengambil USB itu.Ringan.Tapi terasa berat di tangannya.Tidak ada suara.Tidak ada yang memperhatikan.







