Share

5. Awal Retakan

Author: Ravelyn Ash
last update Last Updated: 2026-03-06 11:17:25

‎“Ada masalah di trainee tadi?” tanyanya lembut.‎

Yuha langsung menggeleng.‎

‎“Nggak kok. Tadi pelatih memujiku. Katanya aku banyak berkembang.”‎

Ia terdengar bahagia.‎

Terlalu bahagia.‎

Suho menatapnya tenang.‎

‎“Kau yakin tidak ada yang kau sembunyikan?”‎

Yuha sedikit terdiam.‎

‎“Kenapa kakak nanya begitu?”‎

‎“Karena aku kenal wajahmu.”‎

Yuha menunduk sebentar.‎

Ia ingin bilang tidak apa-apa.‎

Kata itu sudah di ujung lidahnya.‎

Tapi kali ini—‎

Ia ingat perkataan Suho di bukit kemarin.‎

Jangan simpan sendiri.‎

“Dahyun marah padaku.”‎

Suho tidak bereaksi berlebihan.‎

Ia hanya menunggu.‎

“Dia pikir aku merasa lebih baik dari dia karena dipuji.”‎

Suara Yuha lebih kecil sekarang.‎

“Aku nggak bermaksud begitu. Aku cuma senang karena aku pikir… aku bisa debut bareng dia.”‎

Itu pertama kalinya ia mengaku.‎

Suho merasa dadanya menghangat.‎

Ia berhasil.‎

Ia berhasil membuat Yuha tidak memendamnya sendirian.‎

‎“Kamu nggak salah kok kalau berkembang,” katanya tegas tapi lembut.‎

“Tapi kalau dia makin benci?”‎

‎“Kalau mereka menyakitimu, kamu harus bilang.”‎

Suho menatapnya dalam.‎

‎“Yuha, kau harus tunjukkan bahwa kau memang berbakat.”‎

Yuha berkedip.‎

‎“Besok kau libur?”‎

‎“Iya.”‎

‎“Kita latihan lagu vokal yang paling sulit yang kamu tahu.”‎

‎“Apa?”‎

Suho tersenyum kecil.‎

‎“Kau harus benar-benar berkembang. Bukan Cuma dipuji hari ini.”‎

Yuha masih terlihat bingung.‎

Suho melanjutkan.‎

‎“Kau tidak boleh lemah terhadap makian mereka.”‎

Nadanya berubah lebih serius.‎

‎“Kalau mereka keterlaluan, kau harus berani melawan.”‎

Yuha menatapnya.‎

Ada api kecil di matanya.‎

‎“Kalau aku melawan… nanti aku dibilang sombong.”‎

‎“Kalau kau diam, mereka akan semakin berani.”‎

Sunyi sejenak.‎

Angin sore meniup rambut Yuha.‎

Ia menarik napas.‎

‎“Kakak yakin aku bisa?”‎

Suho tersenyum lembut.‎

‎“Aku yakin kamu bisa.”‎

Yuha menggenggam ujung jaketnya.‎

Lalu mengangguk.‎

‎“Baik. Besok kita latihan.”‎

Senyumnya kembali muncul.‎

Kali ini bukan hanya senyum ceria.‎

Tapi senyum seseorang yang mulai belajar untuk tidak selalu menyalahkan diri sendiri.‎

Dan Suho tahu, Ini baru langkah pertama.‎

Perundungan tidak akan berhenti hanya dengan satu latihan.‎

Tapi setidaknya sekarang, Yuha tidak lagi memendamnya sendirian.

Dan dia bisa melawan.‎

Pagi di Sekolah

Lorong kelas masih riuh oleh percakapan siswa yang baru datang.‎

Yuha berjalan cepat, tasnya sedikit bergoyang di bahu. Matanya langsung mencari satu sosok yang ‎biasanya berdiri menunggunya.‎

Dahyun ada di dekat jendela, sedang menatap ponselnya.‎

‎“Dahyun!”‎

Yuha tersenyum dan mendekat.‎

Tidak ada senyum balasan.‎

Dahyun bahkan tidak mengangkat wajahnya.‎

Yuha berhenti tepat di depannya.‎

‎“Kamu kenapa?”‎

Tidak ada jawaban.‎

Hanya suara notifikasi ponsel yang terdengar.‎

Yuha mengernyit.‎

‎“Dahyun, Aku lagi ngomong sama kamu.”‎

Dahyun mendesah pelan, seolah terganggu.‎

‎“Kenapa sih?”‎

Nada itu dingin. Tidak seperti biasanya.‎

Yuha merasa sesuatu mengganjal di dadanya.‎

‎“Mengapa Kamu menjauh?.”‎

‎“Kamu terlalu sensitif.”‎

Kalimat itu seperti tembok.‎

Yuha menarik napas, mencoba tetap tenang. Ia ingat kata-kata Suho.‎

Jangan diam. Kalau ada masalah, hadapi.‎

Ia melangkah lebih dekat.‎

‎“Kalau aku salah, bilang.”‎

Dahyun tetap cuek dan mulai berjalan melewatinya.

Refleks, Yuha menarik pergelangan tangan Dahyun.‎

Sedikit lebih keras dari yang ia maksud.‎

‎“Jangan kayak gini.”‎

Dahyun menoleh cepat. Tatapannya berubah.‎

‎“Lepas.”‎

‎“Enggak sebelum kamu jawab.”‎

Suara Yuha bergetar, bukan karena marah, tapi karena panik kehilangan.‎

‎“Kita kan mau debut bareng. Kenapa kamu jadi kayak orang asing sekarang?”‎

Dahyun tertawa kecil.‎

Tawa yang tidak mengandung hangat sedikit pun.‎

‎“Debut bareng?”‎

Ia menepis tangan Yuha.‎

‎“Kamu pikir aku nggak tahu?”‎

Yuha membeku.‎

“Kamu senang banget waktu pelatih bandingin kita.”‎

‎“Aku nggak…”‎

‎“Berhenti pura-pura polos!”‎

Beberapa siswa menoleh.‎

Yuha tersentak.‎

“Aku cuma senang karena akhirnya aku bisa…”‎

‎“Bisa apa? Nyusul aku? Ngelewatin aku?”‎

Suara Dahyun rendah tapi penuh tekanan.‎

‎“Kamu datang belakangan. Setahun doang. Tapi sekarang semua orang ngomongin kamu.”‎

‎“Itu bukan salahku…”‎

‎“Justru itu.”‎

Kata itu keluar seperti pisau.‎

“Kamu nggak pernah merasa bersalah. Kamu cuma berdiri di sana dengan wajah lugu itu, seolah-olah ‎semuanya terjadi sendiri.”‎

Yuha menatapnya tak percaya.‎

“Aku selalu kerja keras…”‎

‎“Aku juga kerja keras!”‎

Suara Dahyun pecah untuk pertama kalinya.‎

“Tapi waktu aku gagal, nggak ada yang bilang aku berkembang. Waktu kamu berhasil, semua orang ‎bilang kamu luar biasa.”‎

Yuha tidak tahu harus menjawab apa.‎

Ia tidak pernah ingin bersaing.‎

Ia hanya ingin berjalan berdampingan.‎

‎“Aku cuma mau kita sukses bareng…”‎

Dahyun tersenyum tipis.‎

‎“Tolong jangan bersikap seolah-olah kamu masih di belakangku.”‎

Kalimat itu menusuk dalam.‎

‎“Kamu tahu apa yang paling menyebalkan?”‎

Yuha hanya bisa diam.‎

‎“Kamu bahkan nggak sadar kalau kamu bikin orang merasa kecil.”‎

Sunyi.‎

“Dan kamu tetap berdiri di sana, seakan kamu peduli.”‎

Air mata mulai menggenang di mata Yuha.‎

“Aku nggak pernah mau bikin kamu merasa kecil…”‎

‎“Tapi kamu sudah melakukannya.”‎

Tatapan Dahyun berubah.‎

Bukan sekadar marah.‎

Tapi terluka.‎

“Dan yang paling menyakitkan… kamu terlihat seperti nggak merasa bersalah sedikit pun.”‎

Yuha kehilangan kata-kata.‎

Dahyun melangkah mundur.‎

‎“Jangan sentuh aku lagi.”‎

Ia berjalan pergi.‎

Meninggalkan Yuha berdiri sendiri di tengah lorong.‎

Tangannya masih sedikit terangkat.‎

Seolah belum menerima bahwa seseorang yang dulu menggenggamnya erat…‎

Baru saja melepaskannya dengan kasar.‎

Dan untuk pertama kalinya—‎

Di hati Dahyun muncul sesuatu yang berbahaya.‎

Bukan hanya iri.‎

Tapi keinginan untuk menghentikan langkah Yuha.‎

Dengan cara apa pun.‎

_

Ruang latihan kecil itu kembali dipenuhi suara piano.‎

Yuha berdiri di depan mikrofon.‎

Ia menarik napas dalam dan memutuskan satu hal:‎

Ia tidak akan membawa masalah sekolah ke sini.‎

Ia tidak mau Suho melihatnya lemah lagi.‎

“Mulai dari pre-chorus,” kata Suho tenang.‎

Yuha mengangguk.‎

Ia bernyanyi.‎

Nada tinggi terdengar lebih kuat dari sebelumnya.‎

Ada tekad dalam suaranya.‎

Seakan ia ingin membuktikan sesuatu.‎

Suho memperhatikan dengan serius.‎

Fokusnya sekarang satu:‎

Membuat Yuha lebih kuat dari timeline pertama.‎

Ia tidak bertanya soal Dahyun hari ini.‎

Ia ingin membuat Yuha percaya diri dulu.‎

‎“Bagus. Ulangi. Pertahankan nada terakhirnya.”‎

Yuha mengangguk lagi.‎

Ia mencoba.‎

Dan mencoba lagi.‎

Dan lagi.‎

Keringat mulai mengalir di pelipisnya.‎

Tapi ia tidak berhenti.‎

Di dalam hatinya ada dua perasaan bertabrakan:‎

Sedih karena Dahyun menjauh.‎

Dan ambisi untuk tidak tertinggal lagi.‎

Suho berdiri mendekat.‎

‎“Yuha.”‎

‎“Iya, Kak?”‎

‎“Kamu nggak boleh setengah-setengah. Kalau kamu mau jadi main vocal, kamu harus jauh lebih kuat ‎dari yang lain.”‎

Yuha menatapnya.‎

‎“Aku akan berusaha.”‎

Ia tersenyum.‎

Senyum profesional.‎

Senyum yang berusaha stabil.‎

Suho sempat menangkap satu hal.‎

Nada suaranya terasa tertahan, tidak mengalir seperti biasanya.‎

Tapi ia tidak mau terlalu menekannya.‎

Ia hanya berkata pelan,‎

‎“Kamu berkembang cepat.”‎

Kalimat sederhana itu membuat Yuha menunduk malu.‎

Ia ingin mengatakan sesuatu tentang Dahyun.‎

Tentang perasaan aneh di dadanya.‎

Tapi ia menahannya.‎

Karena hari ini ia ingin terlihat kuat.‎

Dan Suho…‎

Terlalu fokus pada ambisinya mengubah masa depan.‎

Ia tidak sadar bahwa retakan kecil itu, Sudah mulai membesar.‎

‎—‎

Ruang Latihan AURORA

Latihan hampir selesai.‎

Pelatih terlihat tergesa-gesa. Ponselnya terus berdering.‎

‎“Latihan kita cukup hari ini ya. Besok kita lanjut seperti biasa. Jangan malas latihan sendiri.”‎

Ia berjalan ke meja kecil di sudut ruangan, mengambil tasnya.‎

Ponsel berdering lagi.‎

‎“Ya? Sekarang? Baik, saya ke kantor.”‎

Ia keluar cepat.‎

USB hitam kecil tertinggal di atas meja.‎

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Dibalik Panggung, Aku kehilanganmu   11. The First Recording

    Koper besar terbuka di lantai kamar.‎Ibu Yuha melipat pakaian dengan hati-hati, memasukkan satu per satu ke dalam koper.‎‎“Jangan lupa bawa jaket tebalmu. Di Studio biasanya dingin,” ucapnya lembut.‎Yuha tersenyum kecil.‎“Iya, Bu.”‎Hyunsik bersandar di kusen pintu, memperhatikan dalam diam. Suasana tidak tegang, tapi terasa berbeda...seolah satu fase hidup benar-benar telah berganti‎“Gimana rasanya bisa debut?” tanya ibunya pelan.‎Yuha terdiam sebentar.‎‎“Senang… tapi juga takut.”‎Ibu menghentikan tangannya, lalu mendekat dan merapikan rambut Yuha.‎‎“Takut itu emang wajar Yuha. Yang tidak wajar kalau kamu tidak berani melangkah.”‎Yuha menunduk, menahan emosi kecil yang muncul.‎Hyunsik akhirnya melangkah masuk.‎‎“Jadwalmu padat ya sampai harus siap-siap sekarang?”‎“Banget,” jawab Yuha sambil tersenyum tipis. “bayangin kak, Besok udah langsung rekaman.”‎Hyunsik mengangguk pelan.Tatapannya tidak lagi setegang dulu.Dalam hati ia berkata,Suho tidak berbohong.Ia teringat

  • Dibalik Panggung, Aku kehilanganmu   10. Cara Lain Untuk Menjaga

    Layar di ruang rapat menampilkan satu kalimat besar:‎‎3 WEEKS TO LAUNCH‎Direktur berdiri di ujung meja.‎‎“Tiga minggu dari sekarang. Kita rilis single debut dan video musik pertama.”‎Beberapa orang dari divisi pemasaran langsung membuka laptop.‎‎“Teaser harus mulai dua minggu sebelum rilis.”‎“Konsep visual harus final minggu ini.”‎“Lokasi MV paling lambat dikunci lima hari.”‎Divisi kreatif menyela,‎“Maaf direktur, tapi Kalau lagunya belum selesai kami tidak bisa mulai mengonsep MV.”‎Semua mata beralih ke Suho selaku tim produser yg bertanggung jawab atas lagu debut ini.‎Direktur menatapnya.‎“Bagaimana?”‎Suho berdiri tanpa terburu-buru.‎‎“Kita tidak punya waktu untuk menyiapkan lagu baru.”‎Beberapa orang terlihat bingung.‎‎“Aku punya satu lagu.”‎Sunyi.‎‎“Sudah kubuat sejak lama. Tinggal penyesuaian aransemen dan guide vokal.”‎‎“Kalau begitu timeline kita bisa maju seminggu.”‎Divisi pemasaran mengangguk.‎“Lebih aman untuk teaser.”‎Direktur menyipitkan mata.‎“K

  • Dibalik Panggung, Aku kehilanganmu   9. Harapan Baru

    Lalu Nama Itu Dipanggil‎“Yuha.”‎Ia masuk.‎Langkahnya tidak tergesa, Tidak juga terlalu percaya diri.‎Hanya stabil.‎Musik dimulai.‎Yuha menyanyikan bait pertama.‎Suasana ruangan masih biasa.‎Minjae masih menatap tanpa ekspresi.‎Tapi di baris kedua, Suaranya mulai terdengar berbeda.‎Bersih.‎Dalam.‎Bukan hanya Teknik bernyanyi nya.‎Caranya menari.‎Caranya meng-ekpresi kan wajah nyaSeperti ada pengalaman di sana.‎Ketika chorus datang, Nada tinggi itu tidak hanya stabil.‎Ia menggema.‎Dan untuk pertama kalinya hari itu, Minjae berhenti mencatat.‎Tangannya diam.‎tatapannya terangkat, penuh rasa kagum.‎Bukan karena terkejut.‎Tapi karena melihat sesuatu yang jarang muncul.‎Ia melihat potensi di dalam diri Yuha.Potensi yang bisa membawa agensi ini bangkit kembali.Lagu selesai.‎Sunyi.‎Bukan sunyi canggung.‎Tapi sunyi karena memproses.‎Minjae menutup mapnya.‎Wajahnya berubah.‎Tidak lagi lelah.‎Tapi ada harapan disana.‎_‎Pintu ditutup.‎Yuha dan trainee lain menun

  • Dibalik Panggung, Aku kehilanganmu   8. Haneul Music Lab

    “Kau tahu… dan membiarkannya?”‎Pertanyaan itu pelan.‎Menusuk.‎Suho tidak menghindar.‎“Aku tahu sebagian. Tidak semuanya.”‎Kejujuran itu berat.‎‎“Tapi kali ini aku tidak akan membiarkannya sendirian.”‎Suho melangkah sedikit lebih dekat.‎‎“Aku akan mencarikan agensi yang akan menghargai usahanya. Tempat yang tidak melihatnya sebagai ‎ancaman.”‎Hyunsik masih menatapnya.‎Mencari kebohongan.‎Mencari keraguan.‎Tidak ada.‎Hanya tekad.‎‎“Aku akan memastikan dia tetap jadi idol.”‎Suara Suho tidak keras.‎Tapi solid.‎“Dan aku akan selalu menjaganya.”‎Kalimat itu menggantung.‎Hyunsik akhirnya duduk perlahan.‎Ia menghela napas panjang.‎‎“Suho, Adikku itu tidak pernah pandai membela diri.”‎Ia menatap Suho.‎‎“Dia selalu memilih diam.”‎Suho mengangguk.‎‎“Aku tahu.”‎‎“Kalau kau serius dengan dia…”‎Hyunsik berhenti sebentar.‎Nada suaranya berubah lebih dalam.‎‎“Pastikan dia tidak pernah merasa sendirian lagi.”‎Itu bukan ancaman.‎Itu permintaan.‎Suho menjawab tanpa ra

  • Dibalik Panggung, Aku kehilanganmu   7. Dikeluarkan

    Tapi cara ia mengucapkannya sudah seperti vonis.‎‎“Maaf, Kami tidak bisa melanjutkan kontrakmu.”‎Dunia Yuha seperti berhenti.‎‎“Kamu akan dikeluarkan dari program trainee Aurora.”‎Kalimat itu terdengar jauh.‎Seolah tidak ditujukan padanya.‎‎“Saya… dikeluarkan?”‎Pelatih Lee mengangguk tegas.‎‎“Kamu bisa menganggap ini sebagai keputusan final.”‎Yuha menggigit bibirnya kuat-kuat.‎Tidak ada teriakan, tidak ada permohonan.Ia hanya berdiri diam, kaku.Tubuhnya terasa ringan seperti kehilangan pijakan.Pintu dibuka.‎Beberapa trainee masih berdiri di luar.‎Mereka semua melihatnya.‎Pelatih Lee berkata keras, cukup untuk didengar semua trainee:‎‎“Ini pelajaran untuk kalian. Walaupun kalian berbakat tapi kalau tidak jujur, jangan harap punya tempat di sini.”‎Bisik-bisik kembali terdengar.‎‎“Serius ya…”‎‎“Dia yang ambil USB?”‎‎“Padahal dia sangat berbakat…”‎Yuha mendengar semuanya.‎Setiap kata seperti jarum kecil.‎Dahyun berdiri di barisan belakang.‎Tatapannya lurus.‎Tid

  • Dibalik Panggung, Aku kehilanganmu   6. Tuduhan

    Beberapa trainee masih mengobrol.‎Yuha sedang tertawa kecil bersama dua trainee lain.‎‎“Pelatih tadi kelihatan kagum banget loh pas muji kamu.”‎Yuha tersenyum malu.‎‎“Ah, nggak juga…”‎Tawa itu.‎Nada rendah hati itu.‎Dahyun berdiri di depan cermin, pura-pura membereskan rambutnya.‎Tapi matanya menangkap sesuatu.‎USB di atas meja.‎Ia mengenalnya.‎Itu USB evaluasi.‎Ia pernah melihat pelatih memakainya untuk memutar video ranking trainee.‎Ruangan mulai sepi.‎Beberapa trainee keluar satu per satu.‎Yuha sedang membungkuk mengambil botol minumnya.‎Dahyun berjalan perlahan ke meja.‎Ia berhenti.‎Menatap USB itu.‎Tangannya tidak langsung bergerak.‎Ia menoleh ke arah Yuha.‎Yuha tidak melihatnya.‎Terlalu sibuk tersenyum.‎Dahyun teringat kalimat pelatih tadi.‎‎“Lihat Yuha. Dia baru setahun tapi perkembangannya sudah sebesar ini.”‎Tangannya bergerak.‎Perlahan.‎Ia mengambil USB itu.‎Ringan.‎Tapi terasa berat di tangannya.‎Tidak ada suara.‎Tidak ada yang memperhatikan.‎

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status