LOGINHari demi hari berganti, Arumi yang tahu akan balas budi membalas semua sikap baik Paris padanya dengan memberikan makan siang. Hampir setiap hari dia mengantarkan makanan dan menitipkannya pada Security.
Hanya menu sederhana, tidak istimewa. Tapi sedikit bisa menyentuh hati Paris yang paling dalam. Kata orang jika mau menaklukan pria harus dari perutnya, kan? Nah Paris jadi ketagihan masakan Arumi. Siang ini, di kehamilannya yang"Bagus kalau begitu! Itu artinya kamu tahu diri. Jadi menyingkirlah dan jangan mencari perhatian mas Alvin. Aku tahu dia sering diam-diam menemuimu di kontrakan itu!" Raisa jadi kesal jika mengingat itu. Suaminya sudah tak jujur padanya.Dengan mata yang memerah, Arumi tersenyum lagi. Di depan wanita ini, dia harus menguatkan mentalnya."Iya. Akan kulakukan. Aku akan pergi dari kehidupan kalian selamanya." Jawab Arumi tercekat.Raisa memandang tajam seolah meneliti kejujuran Arumi. Setelah itu, dia melenggang pergi begitu saja."Sombong banget perempuan itu! Siapa sih dia???" Wati sampai kesal melihat tingkah laku Raisa tadi."Bukannya itu perempuan yang waktu itu sempat kesini? Yang ngelabrak mbak Arumi itu, kan?" Lilis mengingat-ingat."Astaga!" Wati baru teringat. "Aduh, Arumi. Coba kamu bilang dari tadi. Supaya bisa ibu hajar itu mukanya. Ngeselin banget!""Nggak apa-apa, bu. Yang dia bilang benar, kok. Dia cuma ing
"Menikahlah denganku." Arumi terkejut. Dia memandang pria itu begitu lekat. "Jangan bercanda, mas." "Aku nggak bercanda. Daripada kamu hidup susah seperti ini.." "Jadi kamu ingin menikahiku karena rasa kasihan?" Arumi tersenyum pahit. "Tidak perlu, mas. Jangan mengkhawatirkan kami. Aku bisa menghidupi anakku sendiri." "Arumi.." Paris sudah tak mampu merangkai kata. Bagaimana caranya dia jujur akan perasaannya selama ini? Bahwa sejak dulu, Arumi adalah cinta pertamanya. Wanita yang ia cari dari bangku sekolah menengah namun ketika bertemu malah sudah menjadi milik orang lain. Salahkah jika dia begitu mengharapkan wanita ini? Sebab itulah, Paris begitu totalitas membantu Arumi. Memperhatikan dirinya sekaligus kehamilannya. Paris hanya ingin Arumi tahu bahwa dia tak sendirian. Ada dirinya yang akan selalu berada di samping Arumi. Ketika mulu
"Ternyata benar kamu menjadi pengemis disini." Nurlela sengaja menginjak makanan yang diambil oleh Arumi dan melewatinya begitu saja. Melihat itu, Alvin jadi meradang. "Ibu keterlaluan banget!" Pria ini ikut duduk membantu mantan istrinya mengambil makanan yang tercecer. "Alvin!" Seru Nurlela kesal. "Nggak usah, mas. Biar aku aja." Arumi mencegah Alvin membantunya. "Aku ganti makananmu." Ujar Alvin. "Alvin! Astaga! Nggak usah! Jangan kemakan umpannya!" Nurlela menarik Alvin berdiri. Membuang bungkusan makanan yang ada di tangan Alvin ke bawah dan tak sengaja mengenai wajah Arumi yang tengah menunduk. "Arumi!" Panggil seseorang cemas ketika makanan itu menodai wajahnya.Ibu!" Tangan Alvin memegang tangan Nurlela dengan kuat. Sembarangan saja Nurlela main melempar bungkusan makanan ini hingga mengenai wajah Arumi.Sementara, Lesti menatap marah akan
Hari demi hari berganti, Arumi yang tahu akan balas budi membalas semua sikap baik Paris padanya dengan memberikan makan siang. Hampir setiap hari dia mengantarkan makanan dan menitipkannya pada Security. Hanya menu sederhana, tidak istimewa. Tapi sedikit bisa menyentuh hati Paris yang paling dalam. Kata orang jika mau menaklukan pria harus dari perutnya, kan? Nah Paris jadi ketagihan masakan Arumi. Siang ini, di kehamilannya yang menginjak 6 bulan Arumi pergi lagi mengantar makan siang ke kantor Paris. Padahal, Paris sudah mencegah. Kelamaan ia takut Arumi kelelahan karena terus memasak. Tapi, Arumi tidak perduli. Sebagai timbal balik, Paris akan mengirimkan buah-buahan, roti, susu ataupun vitamin hamil. Nah, pria ini memang lebih cerewet dari dokter kandungan Arumi sendiri. "Arumi, ya?" Tanya seorang wanita paruh baya ketika Arumi baru saja keluar dari kant
Jika Arumi tersentuh akan kebaikan Paris maka berbeda lagi dengan pengantin baru, Raisa dan Alvin. Wajah wanita ini tak sedap dipandang. Jika di ruangan usg tadi kesedihan begitu membebaninya. Sekarang malah terlihat kemarahan. Alvin pun tak mengerti apa yang dipikirkan oleh istrinya ini. "Mau cari dimana lagi kita obatnya, mas? Setiap apotik yang kamu kunjungi selalu kosong obat itu!" Gerutu Raisa sebal. "Ke tengah kota aja. Ada apotik legend disana, pasti lebih dekat dan murah." Jawab Alvin. "Oh.. sekarang aku ngerti. Kamu rupanya nyari obat yang lebih murah begitu? Perhitungan banget kamu sama istri sendiri!" Mata Raisa ingin keluar. "Bukan perhitungan." Sanggah Alvin. "Tapi kalau ada yang lebih murah kenapa kita nggak beli disana aja?" Raisa mendengkus. "Kalau sampai terjadi sesuatu dengan rahimku maka kamu yang harus bertanggung jawab!" "Loh kenapa jadi
"Kamu tunggu disini. Aku akan mengambil obatnya."Raisa duduk di kursi tunggu setelah Alvin pergi ke apotik. Dengan jari-jarinya, ia menyeka air mata yang sejak tadi ditahannya.Sambil menangis, Raisa memperhatikan satu per satu ibu hamil yang tengah menunggu panggilan untuk diperiksa.Perut-perut buncit itu nampak indah di wanita yang tepat, terlebih ada suami mereka yang setia menjaga.Kini giliran kursi belakang yang tak luput dari sapuan indera penglihatan wanita ini, hingga akhirnya matanya berbenturan dengan seorang wanita yang sejak tadi memperhatikannya.Reflek, Raisa menghapus air matanya."Sedang disini kamu?" Tatap Raisa sinis. Matanya lalu menangkap buku pemeriksaan hamil yang ditangan Arumi."Iya." Ucap Arumi pelan. "Mbak juga disini?""Seperti yang kamu lihat!" Raisa berdecak kesal sambil memalingkan wajahnya.Ia terbalut emosi terlebih melihat buku hamil yang dipegang oleh mantan istri su







