Home / Rumah Tangga / Diceraikan Usai Hajatan / 19. Beda Istri, Beda Watak!

Share

19. Beda Istri, Beda Watak!

Author: Stary Dream
last update publish date: 2026-06-09 20:47:18

Jika Arumi tersentuh akan kebaikan Paris maka berbeda lagi dengan pengantin baru, Raisa dan Alvin. Wajah wanita ini tak sedap dipandang. Jika di ruangan usg tadi kesedihan begitu membebaninya. Sekarang malah terlihat kemarahan. Alvin pun tak mengerti apa yang dipikirkan oleh istrinya ini.

"Mau cari dimana lagi kita obatnya, mas? Setiap apotik yang kamu kunjungi selalu kosong obat itu!" Gerutu Raisa sebal.

"Ke tengah kota aja. Ada apotik legend disana,
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter
Comments (1)
goodnovel comment avatar
Adfazha
Smg Alvin gk bkln bs pya anak lg selain dr anaknya Arumi biar jd penyesalan terdalamnya mak Lampir sm grandong kna udh buang berlian demi pchn kaca yg cm bs membuatnya terluka hmm Raisa mengandung pykt bkn anak ya mak Lampir
VIEW ALL COMMENTS

Latest chapter

  • Diceraikan Usai Hajatan   21. Lamaran Paris

    "Ternyata benar kamu menjadi pengemis disini." Nurlela sengaja menginjak makanan yang diambil oleh Arumi dan melewatinya begitu saja. Melihat itu, Alvin jadi meradang. "Ibu keterlaluan banget!" Pria ini ikut duduk membantu mantan istrinya mengambil makanan yang tercecer. "Alvin!" Seru Nurlela kesal. "Nggak usah, mas. Biar aku aja." Arumi mencegah Alvin membantunya. "Aku ganti makananmu." Ujar Alvin. "Alvin! Astaga! Nggak usah! Jangan kemakan umpannya!" Nurlela menarik Alvin berdiri. Membuang bungkusan makanan yang ada di tangan Alvin ke bawah dan tak sengaja mengenai wajah Arumi yang tengah menunduk. "Arumi!" Panggil seseorang cemas ketika makanan itu menodai wajahnya.Ibu!" Tangan Alvin memegang tangan Nurlela dengan kuat. Sembarangan saja Nurlela main melempar bungkusan makanan ini hingga mengenai wajah Arumi.Sementara, Lesti menatap marah akan

  • Diceraikan Usai Hajatan   20. Disangka Pengemis

    Hari demi hari berganti, Arumi yang tahu akan balas budi membalas semua sikap baik Paris padanya dengan memberikan makan siang. Hampir setiap hari dia mengantarkan makanan dan menitipkannya pada Security. Hanya menu sederhana, tidak istimewa. Tapi sedikit bisa menyentuh hati Paris yang paling dalam. Kata orang jika mau menaklukan pria harus dari perutnya, kan? Nah Paris jadi ketagihan masakan Arumi. Siang ini, di kehamilannya yang menginjak 6 bulan Arumi pergi lagi mengantar makan siang ke kantor Paris. Padahal, Paris sudah mencegah. Kelamaan ia takut Arumi kelelahan karena terus memasak. Tapi, Arumi tidak perduli. Sebagai timbal balik, Paris akan mengirimkan buah-buahan, roti, susu ataupun vitamin hamil. Nah, pria ini memang lebih cerewet dari dokter kandungan Arumi sendiri. "Arumi, ya?" Tanya seorang wanita paruh baya ketika Arumi baru saja keluar dari kant

  • Diceraikan Usai Hajatan   19. Beda Istri, Beda Watak!

    Jika Arumi tersentuh akan kebaikan Paris maka berbeda lagi dengan pengantin baru, Raisa dan Alvin. Wajah wanita ini tak sedap dipandang. Jika di ruangan usg tadi kesedihan begitu membebaninya. Sekarang malah terlihat kemarahan. Alvin pun tak mengerti apa yang dipikirkan oleh istrinya ini. "Mau cari dimana lagi kita obatnya, mas? Setiap apotik yang kamu kunjungi selalu kosong obat itu!" Gerutu Raisa sebal. "Ke tengah kota aja. Ada apotik legend disana, pasti lebih dekat dan murah." Jawab Alvin. "Oh.. sekarang aku ngerti. Kamu rupanya nyari obat yang lebih murah begitu? Perhitungan banget kamu sama istri sendiri!" Mata Raisa ingin keluar. "Bukan perhitungan." Sanggah Alvin. "Tapi kalau ada yang lebih murah kenapa kita nggak beli disana aja?" Raisa mendengkus. "Kalau sampai terjadi sesuatu dengan rahimku maka kamu yang harus bertanggung jawab!" "Loh kenapa jadi

  • Diceraikan Usai Hajatan   18. Janji Paris

    "Kamu tunggu disini. Aku akan mengambil obatnya."Raisa duduk di kursi tunggu setelah Alvin pergi ke apotik. Dengan jari-jarinya, ia menyeka air mata yang sejak tadi ditahannya.Sambil menangis, Raisa memperhatikan satu per satu ibu hamil yang tengah menunggu panggilan untuk diperiksa.Perut-perut buncit itu nampak indah di wanita yang tepat, terlebih ada suami mereka yang setia menjaga.Kini giliran kursi belakang yang tak luput dari sapuan indera penglihatan wanita ini, hingga akhirnya matanya berbenturan dengan seorang wanita yang sejak tadi memperhatikannya.Reflek, Raisa menghapus air matanya."Sedang disini kamu?" Tatap Raisa sinis. Matanya lalu menangkap buku pemeriksaan hamil yang ditangan Arumi."Iya." Ucap Arumi pelan. "Mbak juga disini?""Seperti yang kamu lihat!" Raisa berdecak kesal sambil memalingkan wajahnya.Ia terbalut emosi terlebih melihat buku hamil yang dipegang oleh mantan istri su

  • Diceraikan Usai Hajatan   17. Tak Mau Hutang Budi

    Beralih pada Paris yang mengajak Arumi makan malam di kedai nasi goreng kemangi yang tak jauh dari kost sewanya. Dengan berjalan kaki, mereka tiba disana dan mengambil tempat duduk."Pasti berat di tengah mual muntah ini kamu harus berjualan.." Paris membuka pembicaraan."Ya.. begitulah. Terkadang aku harus menutup hidung waktu memasak.""Kamu mau bekerja di Royal Energy? Nanti aku bisa minta tolong untuk dicarikan tempat yang pas untukmu.""Royal Energy?" Arumi langsung menggeleng. "Nggak usah, mas. Biar aku jualan aja.""Gajinya lebih besar dari hasil kamu berjualan, Arumi."Arumi tersenyum getir. "Memang aku bisa mendapatkan posisi apa, mas? Aku cuma tamatan SMA tanpa pengalaman kerja. Paling aku cuma cocok jadi office girlnya aja." Wanita ini menghela nafas panjang. "Kehamilanku semakin besar.. aku ngga bisa bekerja terlalu berat."Paris lalu memandang Arumi lekat."Setelah melahirkan kamu akan tinggal diman

  • Diceraikan Usai Hajatan   16. Dua Wanita Tidak Akur

    Raisa mengomel lagi karena masakan Nurlela keasinan. Dia pun memuntahkannya secara terang-terangan. "Ibu kayaknya mau buat semua orang di rumah ini jadi darah tinggi kayaknya!" Seru Raisa. "Cukup ibu aja yang sakit! Jangan kami!" "Raisa! Tinggal tambahkan kecap manis aja!" Balas Alvin ikut kesal akan sikap istrinya. "Nggak enak, mas. Aku mau makan diluar aja!" "Raisa.." tegur Alvin lagi. Raisa yang tak perduli lalu bangkit dari duduknya. Namun sebelum mencapai pintu kamar, Nurlela mengeluarkan rasa sakit hatinya. "Ibu bukan pembantu di rumah ini. Kalau kamu mau makan sana masak sendiri! Kalau masakan ibu nggak enak, kamu nggak usah menghinanya." "Yang bilang kalau ibu pembantu siapa?" Raisa lalu berbalik lagi. "Sikapmu itu semena-mena pada ibu!" Desis Nurlela. "Di rumah ini ada tiga orang, kenapa hanya ibu yang disuruh membereskan rumah, memasak sampai mencuci."

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status