Share

BAB 35

Penulis: Chouw
last update Tanggal publikasi: 2026-09-12 14:28:24

Pagi berikutnya, Rama sudah bangun lebih awal dari biasanya. Bukan karena rajin, tapi karena semalaman ia sibuk menghitung-hitung di kepalanya. Kalau saja ia bisa kerja beberapa jam sehari di kebun Pak Karman, paling tidak dalam seminggu atau dua minggu ia sudah punya cukup uang buat beli ponsel bekas di pasar kecamatan.

Ia melangkah keluar rumah sebelum Nenek Ratna sempat menyuruhnya macam-macam, lalu berjalan menyusuri jalan setapak menuju kebun pisang yang kini terasa familiar baginya meski
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Bab Terkunci

Bab terbaru

  • Dihukum ke Pelukan Kembang Desa   BAB 37

    Sejak kejadian di sudut kebun itu, ada yang berubah dari cara Pak Karman memperlakukan Rama. Bukan berubah jadi dingin atau menjauh, justru sebaliknya bapak tua itu jadi jauh lebih perhatian, bahkan menurut Rama hampir berlebihan. "Mas Rama, udah capek? Istirahat dulu gih, di sana ada kelapa muda," ujar Pak Karman pagi itu, buru-buru menyodorkan gelas berisi air kelapa segar bahkan sebelum Rama sempat mengeluh kehausan. Rama menerimanya dengan senyum polos, seolah tidak menyadari kalau perlakuan istimewa ini muncul tepat sehari setelah insiden di sudut kebun. "Wah, makasih, Pak. Pak Karman baik banget deh emang." "Ya... namanya juga pekerja rajin, harus dihargai," jawab Pak Karman gelagapan, matanya menghindar dari tatapan Rama. Rama menyesap air kelapanya pelan-pelan, menikmati momen di mana Pak Karman berdiri kikuk di depannya, tidak tahu harus bicara apa lagi. Sebenarnya, ada seribu pertanyaan yang ingin ia lontarkan. Soal kemarin, soal Mbak Jun, soal yang terjadi di sudut keb

  • Dihukum ke Pelukan Kembang Desa   BAB 36

    Tiga hari sudah Rama bekerja di kebun Pak Karman. Tangannya mulai terbiasa memegang golok, punggungnya juga sudah tidak sakit dan pegal seperti hari pertama. Bahkan kulitnya yang dulu putih pucat khas anak kota kini mulai kecoklatan terbakar matahari, membuatnya terlihat lebih kekar dari biasanya. Pagi itu, Pak Karman menyuruhnya menyortir tandan-tandan pisang yang sudah dipanen kemarin, memisahkan yang bagus untuk dijual ke pasar dan yang agak lecet untuk dijual murah ke pengepul. Pekerjaan itu cukup memakan waktu, membuat Rama harus mondar-mandir dari gudang ke tumpukan pisang yang letaknya cukup jauh, tak jauh dari sudut kebun yang kemarin diperingatkan Pak Karman. "Pak Karman ke mana sih? Dari tadi gak keliatan batang hidungnya. Udah capek banget nih gue," keluh Rama sambil mengelap keringat di dahinya. Biasanya bapak tua itu selalu ikut membantu, tapi sejak setengah jam lalu ia menghilang begitu saja tanpa pamit. Rama celingukan, mencari sosok Pak Karman di antara deretan poho

  • Dihukum ke Pelukan Kembang Desa   BAB 35

    Pagi berikutnya, Rama sudah bangun lebih awal dari biasanya. Bukan karena rajin, tapi karena semalaman ia sibuk menghitung-hitung di kepalanya. Kalau saja ia bisa kerja beberapa jam sehari di kebun Pak Karman, paling tidak dalam seminggu atau dua minggu ia sudah punya cukup uang buat beli ponsel bekas di pasar kecamatan. Ia melangkah keluar rumah sebelum Nenek Ratna sempat menyuruhnya macam-macam, lalu berjalan menyusuri jalan setapak menuju kebun pisang yang kini terasa familiar baginya meski karena alasan yang agak memalukan untuk diakui. Pak Karman sudah ada di sana, sedang memeriksa satu-persatu pohon pisangnya sambil sesekali menepuk-nepuk batangnya seperti sedang menyapa teman lama. "Pak Karman!" panggil Rama dari kejauhan. Pak Karman menoleh, lalu tersenyum lebar begitu melihat siapa yang datang. "Lah, Mas Rama. Mau lari pagi lagi apa mau berjemur lagi di kebun saya?" godanya sambil terkekeh. Rama nyengir kikuk. Bapak satu ini ternyata masih ingat alasan konyolnya kemarin.

  • Dihukum ke Pelukan Kembang Desa   Bab 34

    "Mas Rama? Lagi ngapain, Mas?" Rama sontak saja menegakkan tubuhnya, ia terkejut bukan main saat melihat keberadaan Pak Karman yang tiba-tiba muncul di belakangnya. "Dia liat gue gak ya tadi? Mampus dah gue kalo dia sampai liat gue sama Mbak Jun di sini," batin Rama. Sedangkan Pak Karman masih berdiri menatap Rama dengan bingung. Sedang apa pemuda itu di kebun pisang miliknya? Apa dia mau mencuri pisang? "Eh, Pak. Anu, saya lagi berjemur," jawab Rama sambil menggaruk belakang kepalanya.Pak Karman mengernyitkan keningnya, "Berjemur? Di kebun saya? Orang-orang mah berjemur di lapangan toh, Mas."Pak Karman menggelengkan kepalanya tak habis pikir. Jujur, ia benar-benar bingung dengan kelakuan anak muda zaman sekarang. Ada-ada saja tingkah lakunya yang jauh berbeda dengan anak muda di zamannya."Oh, ini kebunnya Pak Karman?" Rama menganggukkan kepalanya. "Sialan banget tuh tukang jamu. Bisa-bisanya dia bawa gue ke kebun Pak Karman.""Saya tadi habis lari pagi, Pak. Capek juga kelili

  • Dihukum ke Pelukan Kembang Desa   Bab 33

    Rama masih memegang pergelangan tangan Mbak Jun. Tapi tarikannya mulai melemah. Hampir tidak ada kekuatan untuk menghentikan aksi wanita itu. Jari-jari wanita itu tetap menekan di atas celananya, merasakan denyutan yang semakin kencang.Mbak Jun tersenyum lebar. Ia tahu pemuda di hadapannya itu sudah goyah.“Lepas, Mas ganteng…” bisiknya pelan, hampir seperti membujuk anak kecil. “Biar Mbak Jun yang urus semuanya, kamu cukup duduk manis aja.”Rama tidak melepaskan tangannya, tapi juga tidak menyingkirkan tangan wanita itu. Mbak Jun memanfaatkan keraguan itu. Ia memutar pergelangan tangannya pelan hingga telapak tangannya menghadap ke bawah, lalu menekan lebih tegas tepat di bagian yang sudah menegang.Rama menarik napas tajam. Rahangnya mengeras. “Mbak… cukup.”“Belum cukup, ah! Masa segini doang?” jawab Mbak Jun tanpa ragu. “Baru di luar saja sudah sekeras ini. Gimana kalau udah di dalam…” Ia tidak menyelesaikan kalimatnya. Hanya tertawa pelan sambil menggesekkan telapak tangannya na

  • Dihukum ke Pelukan Kembang Desa   Bab 32

    Rama mengikuti langkah Mbak Jun masuk ke dalam deretan pohon pisang yang berdiri rapat. Tempat itu cukup tersembunyi dari jalan utama. Tanahnya agak rata, ditutupi rumput liar yang masih basah oleh embun.Beberapa batu besar tergeletak di bawah naungan daun pisang yang lebar, menciptakan bayangan teduh meski matahari sudah agak tinggi. Bau tanah basah, getah pisang, dan sedikit aroma rempah dari bakul jamu Mbak Jun bercampur di udara.Mbak Jun meletakkan bakulnya di salah satu batu, lalu berbalik menatap Rama. Senyumnya masih sama seperti tadi, tapi sekarang ada sesuatu yang berbeda di matanya. Lebih dalam. Lebih berani. Dan lebih... Rama memalingkan wajahnya, tak sanggup melihat kecantikan wanita itu lebih lama."Tukang jamu spek bidadari ini mah namanya," batin Rama sembari terus berusaha memfokuskan perhatiannya. Tubuh kencang dan padat milik Mbak Jun benar-benar membuatnya hilang akal.“Sini, Mas ganteng. Duduk dulu,” ujarnya sambil menepuk permukaan batu di sebelahnya.Rama menga

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status