Share

Bab 32

Author: Chouw
last update publish date: 2026-08-24 19:50:11

Rama mengikuti langkah Mbak Jun masuk ke dalam deretan pohon pisang yang berdiri rapat. Tempat itu cukup tersembunyi dari jalan utama. Tanahnya agak rata, ditutupi rumput liar yang masih basah oleh embun.

Beberapa batu besar tergeletak di bawah naungan daun pisang yang lebar, menciptakan bayangan teduh meski matahari sudah agak tinggi. Bau tanah basah, getah pisang, dan sedikit aroma rempah dari bakul jamu Mbak Jun bercampur di udara.

Mbak Jun meletakkan bakulnya di salah satu batu, lalu berbal
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Dihukum ke Pelukan Kembang Desa   Bab 33

    Rama masih memegang pergelangan tangan Mbak Jun. Tapi tarikannya mulai melemah. Hampir tidak ada kekuatan untuk menghentikan aksi wanita itu. Jari-jari wanita itu tetap menekan di atas celananya, merasakan denyutan yang semakin kencang.Mbak Jun tersenyum lebar. Ia tahu pemuda di hadapannya itu sudah goyah.“Lepas, Mas ganteng…” bisiknya pelan, hampir seperti membujuk anak kecil. “Biar Mbak Jun yang urus semuanya, kamu cukup duduk manis aja.”Rama tidak melepaskan tangannya, tapi juga tidak menyingkirkan tangan wanita itu. Mbak Jun memanfaatkan keraguan itu. Ia memutar pergelangan tangannya pelan hingga telapak tangannya menghadap ke bawah, lalu menekan lebih tegas tepat di bagian yang sudah menegang.Rama menarik napas tajam. Rahangnya mengeras. “Mbak… cukup.”“Belum cukup, ah! Masa segini doang?” jawab Mbak Jun tanpa ragu. “Baru di luar saja sudah sekeras ini. Gimana kalau udah di dalam…” Ia tidak menyelesaikan kalimatnya. Hanya tertawa pelan sambil menggesekkan telapak tangannya na

  • Dihukum ke Pelukan Kembang Desa   Bab 32

    Rama mengikuti langkah Mbak Jun masuk ke dalam deretan pohon pisang yang berdiri rapat. Tempat itu cukup tersembunyi dari jalan utama. Tanahnya agak rata, ditutupi rumput liar yang masih basah oleh embun.Beberapa batu besar tergeletak di bawah naungan daun pisang yang lebar, menciptakan bayangan teduh meski matahari sudah agak tinggi. Bau tanah basah, getah pisang, dan sedikit aroma rempah dari bakul jamu Mbak Jun bercampur di udara.Mbak Jun meletakkan bakulnya di salah satu batu, lalu berbalik menatap Rama. Senyumnya masih sama seperti tadi, tapi sekarang ada sesuatu yang berbeda di matanya. Lebih dalam. Lebih berani. Dan lebih... Rama memalingkan wajahnya, tak sanggup melihat kecantikan wanita itu lebih lama."Tukang jamu spek bidadari ini mah namanya," batin Rama sembari terus berusaha memfokuskan perhatiannya. Tubuh kencang dan padat milik Mbak Jun benar-benar membuatnya hilang akal.“Sini, Mas ganteng. Duduk dulu,” ujarnya sambil menepuk permukaan batu di sebelahnya.Rama menga

  • Dihukum ke Pelukan Kembang Desa   Bab 31

    Suasana di ruang makan rumah Sinta pagi itu terasa sedikit canggung, meski semua yang kini duduk di depan meja makan berusaha terlihat biasa saja.Sinta menyajikan nasi goreng dan telur ceplok dengan gerakan yang sedikit kaku. Wajahnya masih menyisakan rasa malu dari kejadian tadi pagi. Rina duduk di seberang meja, pura-pura fokus mengaduk nasinya, padahal sesekali matanya melirik ke arah Rama lalu cepat-cepat menunduk sebelum Sinta melihatnya.Rama makan dengan tenang, seolah tidak ada yang aneh. Padahal di kepalanya terus bergantian muncul bayangan-bayangan kejadian tadi. Wajah Sinta yang panik berusaha menutupinya yang telanjang dari Rina, dan ekspresi Rina saat pintu kamar terbuka lebar.“Enak, Mbak,” puji Rama tiba-tiba sambil terus menyuap nasi ke mulutnya. “Nasi goreng buatan kamu enak banget.”Sinta tersenyum senang mendapatkan pujian seperti itu. Apalagi saat melihat Rama yang makan dengan lahap, makin berbunga-bunga saja hatinya."Kalau gitu cepat habiskan. Kalau masih kuran

  • Dihukum ke Pelukan Kembang Desa   Bab 30

    “Astaga, Mas Rama! Kenapa gak pake celana?!” Sinta langsung memalingkan wajah, tapi matanya sempat tertuju ke arah yang seharusnya tidak dilihat pagi-pagi begini. Pipinya langsung merah padam. Ia hampir menumpahkan kopi di tangannya. Matanya terbelalak, buru-buru menutup mata dengan kedua tangan, namun celah di sela-sela jarinya tetap terbuka lebar. Jantungnya berpacu kencang, pipinya terasa panas membara seketika itu juga. Rama melirik ke bawah, baru menyadari apa yang baru saja ia perbuat. Ia terkekeh pelan, bukannya menutup malah membusungkan dadanya dengan bangga. "Kan gak ada orang lain, Mbak. Cuma kamu sama saya," ucapnya santai sambil membiarkan selimut jatuh sepenuhnya. "Lagian kemarin malam kamu udah lihat semuanya, malah dipegang-pegang. Sekarang pura-pura kaget lagi?" Sinta mendengus kesal, namun suaranya terdengar gemetar menahan malu. "Itu... itu kan malam, gelap! Sekarang kan terang benderang! Kamu... kamu ini gak tau malu ya!" Wanita itu berusaha terlihat marah, t

  • Dihukum ke Pelukan Kembang Desa   Bab 29

    Rama menutup pintu kamar Rina dengan pelan, berusaha sebisa mungkin tidak menimbulkan suara. Ia berdiri di koridor yanh gelap, hanya cahaya bulan yang masuk dari celah jendela. Ia diam sejenak, menempelkan punggung di dinding, mengatur napasnya yang masih belum stabil.Dua dini hari.Beberapa jam yang lalu ia masih bersama Sinta, bercinta selayaknya sepasang kekasih. Sekarang ia baru saja keluar dari kamar adiknya.Ia mengusap wajahnya kasar. Aroma tubuh Rina masih menempel di kulitnya. Di jari manisnya, cincin itu terasa hangat, seolah ikut mengingatkannya bahwa malam ini bukan mimpi.Rama melangkah menuju balkon rumah Sinta. Udara pagi yang dingin langsung menyerbu tubuh, dan membuat wajahnya kebas. Tangannya menggenggam besi yang dingin, menatap lurus kearah desa yang begitu tenang, sepi dan sunyi.Awan berarak di langit, bertaburan bintang dan bulan yang bersinar terang. Sungguh, pemandangan indah itu jarang sekali ia temukan di kota. Ditambah lagi dengan suara-suara hewan malam s

  • Dihukum ke Pelukan Kembang Desa   Bab 28

    "Mas, pelan-pelan. Aku belum pernah soalnya." Kalimat itu melayang begitu pelan, namun seketika membuat seluruh tubuh Rama menegang. Rama tertegun. Tatapannya yang sedari tadi liar seketika melembut. Menatap wajah Rina yang memerah padam, mata bulatnya yang menatapnya lekat-lekat, penuh harap, tapi juga terselip seperti rasa takut. Ia menatap tubuh mungil gadis itu yang sepenuhnya terpampang di hadapannya. "Sial! Dia beneran masih perawan ternyata." Rama mengusap wajahnya gusar. Bagaimana mungkin ia bisa melakukan ini. Sebrengsek-brengseknya dia, Rama belum pernah berhubungan dengan gadis yang belum pernah di sentuh orang. Alias masih perawan. Entahlah ia harus senang atau tidak dengan kesempatan ini. Lanjut berarti ia akan merusak gadis yang polos ini, tapi jika ia berhenti, ia takut gadis itu sakit hati padanya. "Kenapa Mas? Kok bengong," ucap Rina membuyarkan lamunan Rama. Ia menatap heran Rama yang terlihat gelisah. Rama menggeleng, menatap Rina yang kini menyerahkan segal

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status