Share

Sikap dingin Rania

last update Last Updated: 2025-10-03 09:57:33

Dasar pria egois!

“Silakan kamu keluar dari kamar ini, Mas!” sentak Rania, suaranya bergetar menahan emosi. Tangannya teracung menunjuk pintu, wajahnya pucat tapi sorot matanya tajam menusuk.

Ia tidak ingin lagi mendengar alibi suaminya yang memuakkan itu. Kata-kata Bima hanya membuat luka di hatinya makin bernanah.

“Tapi, Dek…” Bima mencoba mendekat, nada suaranya memelas. “Kita belum selesai bicara. Mas mohon, terima Rini di rumah ini. Anggap saja dia seperti adikmu, ya.”

Ucapan itu bagai petir yang menyambar tepat di telinga Rania. Ia menahan napas, menatap Bima dengan pandangan penuh amarah bercampur getir. Bagaimana mungkin seorang suami yang sudah menikahinya selama sepuluh tahun tega mengatakan hal itu?

Dengan langkah tegas, Rania justru melenggang keluar kamar. Ia tahu, jika terus mendengarkan ucapan Bima, ia bisa benar-benar kehilangan kewarasannya.

---

Aroma bawang putih yang ditumis memenuhi dapur kecil. Rania berdiri di depan wajan, tangannya cekatan mengaduk nasi goreng. Memasak biasanya menjadi rutinitas yang menenangkan, tapi kali ini, setiap gerakan terasa berat. Dadanya masih penuh dengan sesak.

“ Hai, Mbak.” Suara lembut tapi asing terdengar dari arah pintu dapur. Rini berdiri di sana, mengenakan daster baru yang tampak sengaja dipilih untuk memamerkan kesegaran dirinya. “Kenalin aku Rini. Semalam kita belum berkenalan dengan benar.”

Rania tak menoleh, tak menjawab. Ia tetap fokus pada nasi gorengnya, spatula di tangannya bergerak dengan ritme yang kaku.

Rini mencebik, wajahnya seketika masam. Tidak terbiasa diabaikan, apalagi oleh perempuan yang baru saja ia gantikan posisinya.

Wanita itu lalu duduk santai di kursi meja makan, menatap lekat setiap gerakan Rania. Aroma harum nasi goreng membuat perutnya keroncongan, tapi sikap dingin tuan rumah membuatnya merasa tidak nyaman.

Beberapa saat kemudian, langkah berat terdengar dari ruang tamu. Bima muncul dengan senyum lebar, seolah-olah tidak ada badai yang melanda rumah tangga mereka.

“Wah… aromanya harum sekali!” ucapnya antusias, duduk di meja makan tanpa ragu. “Mas rindu banget sama masakanmu, Dek.”

Kata-kata itu dibiarkan menggantung di udara. Rania sama sekali tidak merespon. Ia hanya menurunkan api kompor, lalu memindahkan nasi goreng ke sebuah piring.

Bima menunggu, Rini ikut menatap penuh harap.

Namun yang terjadi selanjutnya membuat keduanya tertegun.

Rania membawa hanya satu piring nasi goreng.

“Loh, Dek… kok nasi gorengnya cuma satu piring?” tanya Bima keheranan, berusaha tetap tersenyum meski wajahnya mulai tegang.

Rania menoleh sebentar, matanya dingin menusuk. “Kalau mau, ya suruh istri mudamu masakin, lah.”

Ucapannya tajam, penuh sindiran, lalu ia berbalik. Nasi goreng itu dibawanya masuk ke kamar, meninggalkan aroma harum yang kini justru terasa pahit di udara.

Bima terdiam, wajahnya kaku. Rini menunduk, pura-pura sibuk dengan jemarinya, meski senyum tipis sempat terlukis di sudut bibirnya, senyum kemenangan yang membuat darah Bima mendidih.

Di balik pintu kamar, Rania duduk di tepi ranjang, menatap piring nasi goreng yang baru ia letakkan. Nafsu makannya hilang seketika. Bagaimana mungkin ia bisa menelan makanan, jika harus satu meja dengan dua orang munafik yang sudah meruntuhkan hidupnya?

Di dapur, aroma nasi goreng yang masih tersisa di wajan membuat suasana semakin menyesakkan.

“Mas… lihat kan istri kamu?” Rini bersuara manja tapi nadanya menyimpan keluhan. Ia menyilangkan tangan di dada, wajahnya dipasang penuh ekspresi sedih. “Dia nggak suka sama aku. Bayangin aja, dia cuma masak buat dirinya sendiri, padahal aku udah lapar banget loh, Mas.”

Matanya yang dibuat berkaca-kaca menatap Bima, seakan-akan ingin menunjukkan betapa tidak adilnya sikap Rania terhadapnya.

Bima mengusap wajahnya kasar. Baru satu hari ia membawa Rini pulang, suasana rumah sudah seperti neraka. Realita sungguh tidak semanis ekspektasi. Ia kira Rania akan tetap patuh seperti dulu, istrinya yang penurut, lembut, selalu mengalah. Tapi kali ini? Yang ia lihat hanyalah dingin, tajam, dan sikap membentengi diri.

Ah! Kepala ini rasanya mau pecah!

“Sudahlah, Rin.” suara Bima akhirnya terdengar letih. “Mungkin Rania masih belum terbiasa sama kehadiran kamu. Sabar dulu, ya.”

Rini memanyunkan bibirnya, jelas tidak puas dengan jawaban itu. Ia ingin lebih. Ia ingin Bima membelanya habis-habisan, menegur Rania, bahkan jika perlu membuat Rania tunduk padanya.

“Tapi Mas…” Rini mencoba lagi, nada suaranya seperti benang halus yang siap memerangkap, “aku ini istri kamu juga kan sekarang? Kenapa aku harus diperlakukan kayak orang asing di rumah sendiri?”

Kata-kata itu membuat dada Bima semakin sesak. Ia ingin berteriak, ingin menumpahkan semua kekesalannya, tapi yang keluar hanya helaan napas panjang.

“Kita pesan makan online saja.” potong Bima singkat. Ia bangkit dari kursi, mencoba mengakhiri drama pagi itu.

Langkahnya berat saat menuju kamar, setiap derap seperti membawanya semakin jauh dari sosok Rania yang dulu ia kenal. Sosok istri yang selalu ada untuknya, yang rela menahan lapar demi memastikan ia kenyang, yang dulu menyambutnya dengan senyum hangat setiap pulang kerja.

Kini? Semua sudah berubah. Dan ia tahu betul, perubahan itu karena dirinya sendiri.

Di ruang tamu, Rini menatap punggung Bima dengan sorot mata kesal. Lalu ia melirik dapur yang sunyi, di mana aroma nasi goreng masih tercium samar. Bibirnya terangkat sedikit, menyunggingkan senyum tipis yang lebih mirip ejekan.

‘Tenang aja, Mbak Rania. Lambat laun, aku yang bakal jadi ratu di rumah ini.’

Sementara itu, di kamar, Rania duduk di tepi ranjang. Telinganya samar mendengar percakapan mereka di dapur. Bibirnya menekan kuat, menahan segala rasa pahit yang mendesak keluar.

Air mata nyaris jatuh, tapi ia buru-buru menegakkan kepala.

Tidak! Ia tidak boleh terlihat rapuh lagi.

‘Biar mereka berpikir aku diam. Biar mereka merasa menang. Tapi suatu hari nanti… semua akan berbalik. Aku akan tunjukkan rasa sakit ini bukan untuk ditelan sendirian. Mereka akan tahu, apa artinya menghancurkan hati seorang perempuan.’

Tring!

Suara notifikasi ponsel memecah keheningan kamar. Rania yang sejak tadi duduk termenung segera menoleh. Tangannya refleks meraih ponsel di meja samping ranjang.

Layar menyala, menampilkan sebuah nama.

Ardi.

Jantungnya berdetak sedikit lebih cepat. Tanpa pikir panjang langsung membuka pesan yang baru masuk.

(Aku sudah mendapatkan informasi yang kamu minta. Apa kamu sudah siap melihatnya nanti?)

(Kita ketemu di cafe biasa jam sembilan, kamu bisa?)

Rania cepat mengetik balasan. (Ok, kita ketemu disana.)

Rania terdiam sejenak, lalu senyum tipis perlahan merekah di bibirnya.

Bukan senyum manis yag biasa ia tunjukan pada Bima, namun senyuman kesedihan dan bangkitan.

Tangannya mengepal, matanya berkilat tajam menatap layar ponsel. Ia membisikkan kata-kata yang tak seorang pun di rumah itu bisa dengar.

‘Permainan ini baru saja dimulai, Mas. Aku ingin tahu… seberapa tangguhnya kamu nanti.’

Suara itu lirih, tapi menusuk, seperti sebilah belati yang ditusukkan perlahan.

Di luar kamar, suara tawa Rini terdengar samar, berpadu dengan langkah Bima yang baru keluar dari kamar mandi. Rania mengangkat wajahnya, menatap ke arah pintu.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Dikhianati Diranjang Pernikahan   45

    Waktu terasa seakan berhenti di ruangan sederhana itu.Udara mendadak terasa lebih berat, seolah semua yang hadir menahan napas di saat yang bersamaan.Suara derap langkah pelan terdengar dari arah kamar, langkah yang ragu, namun nyata.Satu… dua… tiga…Semua mata tertuju ke arah yang sama.Detik berikutnya, sosok itu muncul.Rania berdiri di ambang pintu. Wajahnya pucat, tubuhnya terlihat lebih kurus, pakaian yang ia kenakan sederhana dan lusuh, jauh dari citra Rania yang selama ini mereka kenal. Namun meski begitu, matanya tetap sama. Mata yang selama berminggu-minggu hanya bisa mereka lihat lewat bayangan dan doa.“Rania…,” gumam Gunawan lirih, suaranya nyaris tak terdengar.Diana tak mampu lagi menahan dirinya.“RANIA!!!” teriaknya penuh luapan emosi.Wanita itu berlari, tubuhnya bergetar hebat saat memeluk putrinya erat-erat, seolah takut jika ia melepasnya, Rania akan kembali menghilang. Tangis Diana pecah, membasahi bahu Rania.“Ya Allah… Raniaku… kamu masih hidup… kamu benar

  • Dikhianati Diranjang Pernikahan   44

    Mobil melambat hingga akhirnyaberhenti total.Ardi mematikan mesin, bukan karena ingin, tapi karena jalan di depan mereka benar-benar tak bisa dilewati. Sebuah batang pohon besar melintang, tumbang entah karena usia atau sengaja ditebang.Udara terasa semakin dingin meski matahari sudah tinggi.“Ada apa, Di?” tanya Gunawan dari kursi belakang.“Sepertinya kita harus jalan kaki,” jawab Ardi pelan, matanya menyapu sekeliling. “Mobil tidak bisa lewat.”Diana menelan ludah. Tangannya mencengkeram tas di pangkuannya. “Tempat ini… benar-benar sepi.”Tak ada suara burung.Tak ada tanda kehidupan manusia di sekitar sini.Ardi turun lebih dulu, membuka bagasi dan mengambil tas kecil berisi air minum dan kebutuhan seadanya. Ia menatap ponselnya sekali lagi. Titik lokasi masih sama.“Masih sekitar dua kilometer dari sini,” katanya berusaha tenang. “Kita jalan pelan-pelan saja.”Mereka melangkah masuk ke jalur tanah sempit yang hanya cukup dilewati satu orang. Pepohonan rapat membuat cahaya mat

  • Dikhianati Diranjang Pernikahan   43

    “Kamu tidak boleh masuk, Pak. Pak Ardi sedang ada tamu,” ucap sekretaris Ardi dengan suara tegas sambil berdiri menghadang pintu.“Aku harus bertemu Pak Ardi sekarang. Ini penting,” balas Bima tanpa menurunkan nada suaranya. Tangannya sudah lebih dulu mendorong pintu.“Pak…!” sekretaris itu panik, berusaha menahan, namun tenaga Bima jauh lebih kuat.Bima tidak peduli lagi. Detik ini, yang ada di kepalanya hanya satu nama, Rania.Ia tidak peduli bila setelah ini ia dipecat, dimaki, atau diusir. Selama sepuluh tahun ia gagal melindungi wanita itu. Kali ini, ia tidak akan mundur.“Pak Ardi…!” teriak Bima begitu kakinya menginjak ruangan wakil direktur.Di dalam ruangan, suasana mendadak membeku.“Pak Ardi, maaf… saya tidak bisa menahannya,” ucap sang sekretaris terengah, wajahnya pucat karena panik.Ardi yang sedang berdiri di dekat meja kerjanya menoleh tajam.“Tak apa. Keluarlah,” titahnya dingin.Sekretaris itu mengangguk cepat lalu menutup pintu dari luar, meninggalkan tiga orang

  • Dikhianati Diranjang Pernikahan   42

    Tok…tok…“Nak, apa kamu sudah bangun? Ini anak Nenek sudah datang,” suara Nek Darmi terdengar lembut dari balik pintu.Rania terbangun setengah kaget. Matanya yang masih berat langsung terbuka lebih lebar, jantungnya berdegup lebih cepat dari biasanya.“Ah… iya, Nek. Aku segera keluar,” sahutnya cepat.“Baiklah,” balas Nek Darmi sebelum melangkah kembali ke depan.Rania bangkit dari dipan sederhana. Dengan tangan sedikit gemetar, ia merapikan rambut dan membasuh wajah seadanya. Napasnya ditarik dalam-dalam, berusaha menenangkan diri. Hari yang ia tunggu akhirnya tiba.Begitu keluar, udara pagi yang sejuk langsung menyapa. Di teras rumah gubuk itu, sudah duduk Nek Darmi bersama suaminya dan seorang pria paruh baya yang wajahnya tampak ramah.“Selamat pagi,” sapa Rania sopan, meski suaranya terdengar sedikit gugup.Mereka menoleh hampir bersamaan.“Kemarilah, Nak,” ujar Nek Darmi sambil menepuk dipan kosong di sampingnya.Rania mengangguk dan melangkah mendekat. Ia duduk perlahan, menya

  • Dikhianati Diranjang Pernikahan   41

    “Kamu masih lemah, jangan terlalu banyak bergerak dulu,” ucap wanita tua itu lembut. Keriput di wajahnya justru membuat sorot matanya tampak hangat. “Nanti lukanya bisa makin sakit.” ucap wanita yang memperkenalkan diri bernama Nenek Darmi.“Gak apa-apa, Nek. Ini sudah jauh lebih baik,” sahut gadis itu pelan, berusaha tersenyum meski tubuhnya masih terasa nyeri.Wanita tua itu tersenyum lega. “Syukurlah kalau begitu.”Rania menarik napas dalam, lalu mengumpulkan keberanian.“Emm… Nek, apa saya boleh pinjam ponsel? Saya mau hubungi keluarga saya. Mereka pasti sedang mencari saya.”Wajah wanita itu berubah ragu.“Aduh, cu…”“Panggil saja Rania, Nek,” potongnya cepat, seolah ingin menegaskan jati dirinya yang hampir terasa samar setelah kejadian itu.Wanita tua itu mengangguk pelan. “Iya, Rania. Begini, Nenek tidak punya ponsel, Nak. Di desa ini jarang yang pakai. Tapi dua hari lagi anak Nenek akan pulang dari kota. Kamu bisa pinjam ponselnya nanti.”Jawaban itu bagai angin segar bagi Ra

  • Dikhianati Diranjang Pernikahan   40

    Tok… tok…Bima mengetuk pintu ruangan wakil direktur dengan ragu. Jantungnya berdegup kencang, telapak tangannya terasa dingin oleh keringat. Tidak lama kemudian, suara dari dalam terdengar mempersilahkannya masuk.“Selamat sore, Pak Ardi. Maaf mengganggu waktunya,” ucap Bima dengan kepala sedikit menunduk begitu masuk.Ardi mengangkat wajahnya dari berkas yang sedang ia baca, lalu mengangguk singkat. “Tidak masalah. Silahkan duduk.”“Terima kasih,” sahut Bima pelan. Ia duduk di kursi yang berhadapan langsung dengan Ardi, punggungnya terasa kaku, nafasnya tidak teratur.Ardi menyilangkan tangan di dada. Tatapannya tajam, tanpa sedikit pun kehangatan.“Ada perlu apa kamu mencari saya?” tanyanya lugas, tanpa basa-basi.Bima menelan ludah. “Maaf sebelumnya, Pak… saya hanya ingin memastikan. Kabar yang beredar itu… apa benar Rania mengalami kecelakaan pesawat?” tanyanya hati-hati, suaranya nyaris bergetar.Raut wajah Ardi mengeras. “Iya, itu benar.” Ia berhenti sejenak, lalu menatap Bima

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status