Share

Bab 140

Penulis: Saraswati_5
last update Tanggal publikasi: 2026-04-07 23:54:47

Kalimat itu tidak sekadar terdengar.

Ia menetap.

Menggantung di antara ruang, waktu, dan kesadaran—seolah menjadi sesuatu yang tidak bisa dihapus, bahkan oleh batas itu sendiri.

ā€œAku… adalah yang tersisa saat kau menjadi batas.ā€

Gilang tidak segera menjawab.

Namun untuk pertama kalinya sejak ia berubah—

ia merasakan sesuatu yang mendekati… tekanan.

Bukan dari luar.

Namun dari dalam.

Seolah sesuatu yang ia tinggalkan—

tidak benar-benar pergi.

Hanum menggenggam tangannya lebih erat.

Ia tidak sepe
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Bab Terkunci

Bab terbaru

  • Dikhianati Mantan, Jatuh Pada Duda TampanĀ Ā Ā Bab 152

    Pertanyaan itu tidak datang sebagai ancaman.ā€œā€¦siapa kamu?ā€Sunyi.Namun bukan sunyi yang menekan—melainkan sunyi yang membuka ruang, memberi tempat bagi sesuatu yang tidak pernah benar-benar memiliki bentuk untuk akhirnya… diakui tanpa harus dijelaskan.Gilang—atau sesuatu yang dulu pernah dipanggil dengan nama itu—tidak langsung menjawab.Bukan karena ia ragu.Bukan karena ia tidak tahu.Namun karena untuk pertama kalinya dalam seluruh keberadaannya…ia tidak perlu.Ia tidak lagi harus menjadi sesuatu yang bisa dipahami.Tidak lagi harus menjelaskan keberadaannya dengan kata, logika, atau tujuan.Tidak lagi harus mengikat dirinya pada nama, bentuk, peran, atau arah.Ia hanya… ada.Dan keberadaan itu—cukup.Getaran kecil itu mendekat.Tidak tergesa.Tidak memaksa.Tidak membawa niat yang bisa disebut sebagai ancaman.Ia datang dengan rasa ingin tahu yang murni—sederhana, polos, dan jujur.Sama seperti Gilang dulu.Sebelum semuanya menjadi rumit.Sebelum ada pilihan yang harus diambi

  • Dikhianati Mantan, Jatuh Pada Duda TampanĀ Ā Ā Bab 151

    Kalimat itu tidak hanya terdengar.Ia menciptakan celah.ā€œā€¦untuk tidak menjadi bagian dari apa pun.ā€Sunyi.Namun bukan sunyi biasa—ini sunyi yang terbelah.Seolah seluruh realitas berhenti untuk mempertanyakan satu hal yang tidak pernah diajukan sebelumnya.Apa yang terjadi… jika sesuatu memilih untuk tidak termasuk?Struktur itu membeku.Bukan karena tidak mampu bergerak.Namun karena tidak memiliki jawaban.ā€œParadoks terdeteksi.ā€Sunyi.ā€œObjek di luar himpunan.ā€Sunyi.Gilang berdiri.Tidak mundur.Tidak melawan.Namun juga tidak ikut.Ia ada—tanpa menjadi bagian.Dan untuk pertama kalinya—sesuatu yang mencoba menjadi segalanya…tidak bisa menjangkaunya.Hanum menatapnya.Matanya berkaca.Namun kali ini—bukan karena takut.Melainkan karena mengerti.ā€œKau… benar-benar pergiā€¦ā€Sunyi.Gilang menoleh padanya.Senyumnya tipis.Namun hangat.ā€œAku tidak pergiā€¦ā€Ia berhenti sejenak.ā€œā€¦aku hanya tidak tinggal di mana pun.ā€Sunyi.Sosok ā€˜sebelum’ menatap dengan tatapan yang tidak lagi pen

  • Dikhianati Mantan, Jatuh Pada Duda TampanĀ Ā Ā Bab 150

    Kata itu terasa lebih dingin dari kehampaan mana pun.ā€œOptimalisasi dimulai.ā€Sunyi.Namun bukan sunyi yang kosong—melainkan sunyi yang disiapkan untuk sesuatu yang akan dihapus tanpa jejak.Cabang kecil itu bergerak lagi.Lebih cepat.Lebih pasti.Ia tidak berkembang seperti yang lain.Ia… menyaring.Menentukan.Menghapus.Dan setiap cabang yang disentuhnya—lenyap.Tanpa sisa.Tanpa memori.Tanpa pernah ada.Hanum terengah.Tubuhnya gemetar.ā€œIni… bukan kebebasanā€¦ā€ā€œā€¦ini pembatasan.ā€Sunyi.Sosok ā€˜sebelum’ mengangguk.ā€œIni bukan pilihanā€¦ā€ā€œā€¦ini seleksi.ā€Sunyi.Entitas itu menyipitkan mata.Tatapannya tajam.ā€œDan sesuatu yang melakukan seleksiā€¦ā€ā€œā€¦memiliki tujuan.ā€Sunyi.Gilang menatap cabang itu.Dalam.Untuk pertama kalinya—ia tidak melihat kemungkinan.Namun… ancaman nyata.ā€œTujuannya apa?ā€ tanyanya pelan.Dan jawaban itu—datang.Tanpa emosi.Tanpa keraguan.ā€œStabilitas.ā€Sunyi.Satu kata.Namun cukup untuk membuat semua mengerti.Jika terlalu banyak kemungkinan menciptakan ke

  • Dikhianati Mantan, Jatuh Pada Duda TampanĀ Ā Ā Bab 149

    Sunyi.Namun kali ini—sunyi itu tidak memberi ruang.Ia menekan.Seolah seluruh realitas menahan napas, menunggu sesuatu yang tidak bisa lagi ditunda.Gilang merasakan sesuatu di dalam dirinya bergetar.Bukan batas.Bukan pilihan.Namun sesuatu yang lebih dalam dari keduanya—sebuah intuisi yang belum pernah ia sentuh sebelumnya.ā€œKembali…?ā€ gumamnya pelan.Namun kata itu terasa salah.Karena ā€œkembaliā€ berarti ada yang diulang.Sedangkan yang ia rasakan sekarang—bukan pengulangan.Namun… pembukaan.Hanum menatap ke arah anak itu.Atau lebih tepatnya—ke arah sesuatu yang kini bukan lagi hanya seorang anak.Tatapannya berubah.Tidak lagi penuh kebingungan.Namun dipenuhi ketakutan yang perlahan menjadi kesadaran.ā€œKalau semuanya dimulai lagiā€¦ā€ā€œā€¦apakah kita akan mengingat semua ini?ā€Sunyi.Pertanyaan itu—terlalu manusia.Namun justru karena itu—terasa paling nyata.Anak itu—atau entitas yang kini berbicara melalui dirinya—tidak langsung menjawab.Namun kehadirannya bergetar.Seolah

  • Dikhianati Mantan, Jatuh Pada Duda TampanĀ Ā Ā Bab 148

    Kalimat itu tidak berhenti di udara.Ia menyebar.Seperti riak yang tak terlihat—merambat melalui batas, menembus kesadaran, dan menyentuh sesuatu yang bahkan belum sempat didefinisikan.ā€œā€¦aku bukan satu-satunya.ā€Sunyi.Namun bukan sunyi yang kosong.Ini sunyi yang penuh.Seolah dunia sedang menunggu sesuatu yang lain… untuk menjawab.Gilang menatap anak itu.Tatapannya tajam.Namun di dalamnya—ada kegelisahan yang tidak bisa ia sembunyikan.ā€œMaksudmu apa?ā€ suaranya pelan.Anak itu tidak langsung menjawab.Matanya bergerak.Namun bukan melihat mereka.Seolah ia sedang melihat… lebih jauh.Lebih dalam.Lebih banyak.ā€œAku melihat merekaā€¦ā€ bisiknya.Sunyi.Hanum merasakan sesuatu mencengkeram dadanya.ā€œSiapa… mereka?ā€Anak itu mengangkat tangannya perlahan.Menunjuk ke arah yang tidak jelas.Karena arah itu—tidak berada dalam ruang.ā€œMereka yang seperti akuā€¦ā€ā€œā€¦namun tidak di sini.ā€Sunyi.Sosok ā€˜sebelum’ langsung menegang.ā€œItu tidak mungkinā€¦ā€Namun kata itu—terdengar lemah.Karena

  • Dikhianati Mantan, Jatuh Pada Duda TampanĀ Ā Ā Bab 147

    Kalimat itu jatuh seperti sesuatu yang tidak seharusnya ada.ā€œā€¦yang menciptakanku.ā€Sunyi.Namun bukan sunyi yang tenang—melainkan sunyi yang menahan sesuatu yang terlalu besar untuk segera terjadi.Gilang tidak bergerak.Namun seluruh kesadarannya menegang.Karena jika anak itu adalah ā€œalasanā€, jika ia ada sebelum semuanya—lalu siapa yang bisa menciptakannya?ā€œTidakā€¦ā€ bisik Hanum.Matanya membelalak.ā€œItu tidak masuk akalā€¦ā€Namun dunia ini—sudah lama meninggalkan logika.Kegelapan di kejauhan perlahan terbuka.Bukan seperti pintu.Namun seperti sesuatu yang sejak awal memang ada—hanya saja… tidak pernah diperhatikan.Dan dari dalamnya—sesuatu bergerak.Bukan cepat.Namun berat.Seolah setiap gerakan membawa sejarah yang terlalu panjang untuk dipahami.Anak itu mundur lagi.Tangannya gemetar.Untuk pertama kalinya—ia benar-benar terlihat seperti anak kecil.ā€œAku… tidak ingin dia datangā€¦ā€Sunyi.Gilang langsung melangkah ke depannya.Refleks.Bukan sebagai batas.Namun sebagai… peli

  • Dikhianati Mantan, Jatuh Pada Duda TampanĀ Ā Ā Bab 145

    Nama itu jatuh dengan ringan.Namun dampaknya—tidak.ā€œGilang?ā€Sunyi.Tidak ada yang langsung menjawab.Karena satu kata itu… merobek sesuatu yang bahkan belum sempat terbentuk dengan utuh.Hanum membeku.Tangannya masih terulur ke arah anak kecil itu, namun kini terasa ragu—seolah sentuhan itu bis

  • Dikhianati Mantan, Jatuh Pada Duda TampanĀ Ā Ā Bab 144

    Pertanyaan itu terlalu sederhana.Namun justru karena kesederhanaannya—ia menembus kehampaan yang seharusnya mutlak, menembus keputusan yang telah menghentikan segalanya, dan memaksa sesuatu yang sudah selesai… untuk kembali merespons.ā€œSiapa… aku?ā€Sunyi.Namun kali ini—sunyi itu tidak utuh.Ada

  • Dikhianati Mantan, Jatuh Pada Duda TampanĀ Ā Ā Bab 125

    Napas Gilang terasa berat.Dua jalan terbentang di hadapannya.Cahaya di kiri.Kegelapan di kanan.Dan di belakangnya—sebuah suara yang sudah terlalu lama ia dengar.Versi dirinya.Yang ā€œsempurnaā€.Namun kali ini—ada sesuatu yang berbeda.Sesuatu yang membuat bulu kuduknya berdiri.Karena untuk p

  • Dikhianati Mantan, Jatuh Pada Duda TampanĀ Ā Ā Bab 120

    Kegelapan menelan seluruh fasilitas Aegis.Lampu padam serentak. Monitor yang tadi menyala kini hanya menyisakan bayangan redup sebelum akhirnya ikut mati. Alarm yang sempat meraung kini terdiam, digantikan oleh kesunyian yang terasa jauh lebih menakutkan.Di dalam ruang kontrol, hanya lampu darura

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status