เข้าสู่ระบบBab 132: Pelayanan Sat-Set
Pintu utama Momo Cafe baru saja dibuka.Namun suasana di dalam langsung berubah menjadi medan perang.Bukan perang pedang.Bukan perang sihir.Melainkan—perang memperebutkan meja terbaik."Meja dekat jendela!""Itu tempatku!""Aku datang lebih dulu!"Para bangsawan yang biasanya menjaga citra elegan mulai saling sikut secara halus.Karena aroma makanan dari dalam dapuBab 142: Pelayanan⚡ DENTING!!Bel kecil di atas pintu berbunyi pelan."Selamat datang di Momo Cafe."Lady Veronica melangkah masuk.Dayangnya mengikuti di belakang.Matanya langsung menyapu seluruh ruangan.Tidak besar.Tidak mewah.Namun...sangat hidup.Amanda tersenyum lebar."Lady.""Silakan."Veronica mengangguk pelan.Namun sebelum ia sempat memilih tempat—seorang gadis berambut putih sudah berdiri di depannya.Senyumnya lembut."Selamat pagi.""Selamat datang di Momo Cafe.""Lima orang baru saja selesai makan.""Kalau Lady tidak keberatan...""Tempat dekat jendela sedang kosong."Amanda langsung mengangguk."Iya!""Itu tempat favoritku!"Veronica berkedip."..."Dalam hati—'Aku bahkan belum sempat melihat seluruh rua
Bab 141: Tidak Masuk AkalMatahari pagi baru saja terbit.Distrik Satu Aethelgard sudah mulai ramai.Namun di salah satu sudut jalan—seorang wanita berambut hitam panjang berhenti melangkah.Lady Veronica.Di belakangnya berdiri seorang dayang pribadi.Keduanya sama-sama terdiam."...""..."Hening.Dayang itu berkedip beberapa kali."Nona...""Iya.""Restorannya...""...belum buka."Veronica mengangguk pelan."Iya."Dayang itu kembali melihat ke depan.Puluhan orang sudah berbaris rapi.Ada petualang.Pedagang.Mahasiswa Akademi.Bahkan beberapa bangsawan.Semuanya mengantre dengan tertib.Padahal...papan bertuliskanMomo Cafe - Buka Pukul 08.00masih tergantung di pintu.Sementara sekarang...baru pukul tujuh.
Bab 140: LogikaMatahari sore mulai menghangatkan taman Istana Aethelgard.Di bawah gazebo putih—Putri Amanda masih menikmati pesta minum teh bersama para lady bangsawan.Di atas meja tersusun berbagai macam kue.Namun perhatian semua orang justru tertuju pada sebuah keranjang kecil.Keranjang stroberi.Amanda memeluknya erat.Sangat erat.Seolah takut direbut.Salah seorang pelayan membungkuk."Yang Mulia.""Apakah stroberi ini akan disajikan?"Amanda mengangguk."Iya."Pelayan mengambil keranjang itu.Namun Amanda segera menambahkan."Tapi..."Hening."Setiap lady hanya boleh satu buah."⚡ ZAP.Seluruh lady langsung saling berpandangan."Satu buah?""Putri pelit sekali.""Kenapa cuma satu?"Amanda langsung memeluk kembali keranjang itu."Bukan begitu
Bab 139: Mansion GoldglaveMatahari sore mulai tenggelam.Kereta keluarga Goldglave perlahan meninggalkan Distrik Satu.Di dalam kereta—Rose Goldglave duduk anggun sambil memangku valerian..Di sampingnya duduk Kael dan Alaric.Alaric terus memandang tajam Valerian terus memaki dalam hati.'Enak ya tidur dipangkuan istriku, Sialan'Valerian Masih mengenakan jumper lumba-lumba.Masih memegang kerincing bintang.Masih memasang wajah pasrah.'Kalau cemburu kenapa kau setuju aku dibawa kemansionmu, sialan!'Di atas pangkuannya—Nox sedang tidur sambil melilitkan ekornya.Dalam hati Valerian—'Aku benar-benar dibawa.''Aku benar-benar dijual demi sebuah gaun.'⚡ MENTAL DAMAGE.---Rose memandang bayi itu dengan senyum lembut."Dede Ian.""Hmph?""Ada tante sekarang."Valerian hanya mengan
Bab 138: Hak AsuhHening.Tidak ada seorang pun berbicara.Semua mata tertuju kepada satu orang.Atau lebih tepatnya—satu bayi besar.Valerian.Masih duduk di dalam stroller.Masih memegang kerincing bintang.Masih mengenakan jumper lumba-lumba.Dan masih menatap langit-langit dengan ekspresi pasrah.Dalam hati—'Apa...''Pendapatku benar-benar tidak penting?'⚡ MENTAL DAMAGE.Nyonya Goldglave tersenyum puas."Kalau begitu sudah diputuskan."Valerian langsung menggeleng sekuat tenaga."Mmph!"(Tidak!)Amanda langsung mengangkat tangan."Tunggu!"Semua menoleh.Amanda memonyongkan bibir."Kenapa cuma mansion Goldglave?""Aku juga mau Dede Ian menginap di istana."⚡ BOOOOM!!Raja Aethelgard hampir tersedak teh."...Amanda.""Ap
Bab 137: Gaun "Hiks..." Hening. Suara itu terdengar lagi. Lebih jelas kali ini. "Hiks..." Seluruh ruangan perlahan menoleh. Amanda berkedip. "Elena?" Elena menundukkan kepala. Bahunya sedikit bergetar. Air mata mulai menggenang di sudut matanya. "..." "..." "..." Hening. Amanda langsung panik. "Eh?" "Kenapa?" "Aku salah bicara ya?" Elena menggeleng. Cepat. Sangat cepat. "Tidak." "Lalu kenapa kau menangis?" Elena menggigit bibir. Sangat pelan. Kemudian akhirnya berkata. "...Aku tidak punya gaun." ⚡ CRITICAL DAMAGE. Hening. Selu
Bab 90 juara Putri Amanda seketika mendekap erat tubuh Duke Valerian Isabella ke dalam dadanya, mencoba melindunginya dari sisa-sisa getaran ledakan. "Dede Ian jangan takut ya, Kakak Amanda ada di sini," bisik Putri Amanda dengan nada super gemas, sembari mengusap-usap rambut perak sang Arch
Bab 89: Pertarungan Sengit Melihat putranya berhasil meluncurkan serangan smash udara yang sangat epik, Panglima Perang Alaric Gold Glave langsung melompat beringas dari atas sofa Balkon VIP. Wajah maskernya memerah jumawa, kedua tangan kekarnya berkepak di udara penuh kemenangan, meskipun d
Bab 88 Grand Final Sinar matahari pagi menyinari Colosseum Aethelgard yang penuh sesak oleh ratusan ribu penonton yang histeris. Namun, di dalam Balkon VIP Utama, pemandangan absurd yang kembali tersaji bener-bener merusak seluruh hukum logika politik kerajaan. Entah bagaimana caranya—
Bab 87 Strategi Malam HariWUUUUUUSHHH!Pendaran cahaya sihir teleportasi perak memudar di tengah aula utama kediaman megah keluarga Isabella. Duke Valerian Isabella melangkah keluar dari lingkaran sihir, langsung meregangkan kedua tangannya dengan kelegaan yang luar biasa."Ahh...







