Se connecterBab 282 — Legenda Turun TanganEnam orang melayang di udara. Napas berat. Luka di mana-mana.Raja Iblis berdiri di tempat yang sama. Tidak bergerak satu langkah pun."Sudah?"Helios mengepalkan tinjunya. Hellfire berkobar — tapi lebih lemah dari sebelumnya. Stamina terkuras karena menjadi manusia api.Bima di punggung Blaze, mengusap darah dari sudut bibirnya. Leonidas masih berdiri — tapi sayapnya berkedip.Viper, Mantis, Crow — di punggung Blacky. Senjata mereka retak.Raja Iblis mengangkat satu tangan. Bola kegelapan terbentuk di telapaknya. Besar. Menelan cahaya di sekitarnya."Kalau sudah — mati."BRAK!Sebuah pedang raksasa menghantam bola kegelapan itu dari samping.[Heaven Splitter]Gelombang energi MEMBELAH langit — garis emas sepanjang ratusan meter memotong udara.Raja Iblis menoleh.Alaric.Jenderal terkuat umat manusia berdiri di punggung Griffin-nya. Armor emas berkilat. Pedang raksasanya masih bergetar dari tebasan barusan."Kalian sudah cukup." Suara Alaric tenang. Teg
Bab 281 — Gelombang Pertama Raja Iblis berdiri di atas tanah Aethelgard. Aura kegelapan mengalir dari tubuhnya seperti asap hidup. Matanya merah. Dingin. Menatap ke bawah seperti menatap serangga. Di belakangnya — kota Aethelgard yang tinggal puing. Tujuh titik cahaya melesat ke arahnya. Yang pertama sampai — Helios. Blacky menukik dari atas. Crow mencengkeram punggung gagak raksasa tanpa ekspresi. Helios berdiri di kepala Blacky — Hellfire membara di kedua tangan. "Crow. Sekarang." [Shadow Bind] Bayangan Crow MELEDAK — menjalar di udara, membentuk rantai hitam yang mengikat kaki Raja Iblis.Helios melemparkan rantai api hitam.[Hellfire Chain] Raja Iblis melirik ke bawah. Rantai itu bergetar. Retak. Tapi satu detik cukup. "VIPER!" Dari bawah Blacky — tiga bayangan melesat. Viper. Mantis. Crow sudah di posisi. [Triple Formation — As
Bab 280 — BentengElena mengepalkan tangannya. Menatap ke langit — tujuh titik cahaya semakin menjauh."Sial..."Dia mengangkat tangannya.[Summon Familiar — Frost]Udara mendingin. Butiran salju berputar. Dari balik angin beku — seekor burung hantu salju mendarat di lengan Elena. Bulu putih bersih. Mata kuning keemasan. Sayapnya lebar, anggun.Tapi...Elena menatap Frost. Frost menatap Elena.Ukurannya hanya sebesar lengan Elena."...Sial. Aku tidak bisa menungganginya."Seraphina memiringkan kepala."Kau kan bisa sihir terbang. Untuk apa menunggangi familiar?"Elena menoleh. Matanya MENYALA."Itu BERBEDA, Seraphina!"Dia menunjuk ke langit — ke Alaric di punggung Griffin, Richard di punggung naga petir, Valerian di punggung elang es."LIHAT mereka! Mereka naik familiar mereka! Keren! Gagah! Epik!"Tangannya turun. Menatap Frost di lengannya."Aku? Terbang sendiri dengan sihir? Seperti... balon yang melayang?"Frost mengerjap. Tidak tersinggung.Marco mengangkat tangannya dari bawah.
Bab 279 — Generasi BaruKael menatap Bima."Ayo kita juga."Bima menyeringai.[Light Wing]Cahaya MELEDAK dari punggung Kael. Dua sayap transparan terbentuk — bukan bulu, tapi lapisan cahaya padat yang berkilau seperti kristal. Udara di sekitarnya bergetar.Bima mengangkat tangannya."Blaze!"[Summon Familiar — Blaze]Api merah berputar di udara. Dari dalam pusaran — seekor naga api muncul. Sisik merah menyala. Mata oranye berkobar. Ukurannya... sebesar anjing besar.Marco — yang masih duduk di tanah dengan onesie beruang — menatap datar."...Itu naganya?"Blaze mendengus. Asap keluar dari lubang hidungnya. Kesal.[Passive Skill — Sizeshifter]Tubuh Blaze MEMBESAR. Sisiknya berderak. Sayapnya membentang. Dalam tiga detik — Blaze seukuran kuda perang. Api berkobar di sepanjang punggungnya. Cukup besar untuk ditunggangi.Bima melompat ke punggung Blaze.Kael melirik."Kenapa tidak pakai mode manusia naga?""Masih cooldown." Bima menjawab sambil menepuk leher Blaze. "Resonansi penuh tadi
Bab 278 — PerangHelios berdiri di antara reruntuhan. Tangan kosong. Api neraka berkobar tipis di sekitar tubuhnya — terkendali. Bukan lagi amukan liar seperti saat dia dikontrol Aldhelm.Tapi ada satu masalah.Dia masih memakai POPOK.Saat Helios keluar dari reruntuhan, Raka sempat menjentikkan jari.[Instant Diaper Change]Popok motif kucing terpasang. Kaos kuning. Topi kucing.Helios menatap dirinya sendiri. "...Serius?"Raja Aldric menatap putranya dari kejauhan. Armornya hancur separuh. Darah kering di pelipisnya. Tapi matanya... menatap popok itu."Helios.""Ya, Ayahanda?""...Kenapa pakaianmu begitu?"Hening.Helios menatap ayahnya datar."Jangan tanya, Ayah." Hellfire berkobar di telapak tangannya. "Ini bukan saatnya untuk bercanda."Dia menunjuk ke arah Raja Iblis. Ke cahaya merah yang berdenyut di dadanya."Lima orang temanku — jiwanya dikurung di sana."Suaranya bergetar. Bukan karena takut. Tapi karena MARAH."Lucian yang mengajariku pedang. Darius yang selalu menemani lat
Bab 277: Target Gelombang kegelapan menerjang Raka. Bukan serangan area. Bukan ledakan acak. Ini TOMBAK — kegelapan terkompresi menjadi satu titik, melesat lurus ke dada Raka. [Frozen Shell] Levi bergerak lebih dulu. Es membentuk kubah di sekeliling Raka. KRAKKKK. Tombak kegelapan menghantam kubah es. Retakan menjalar seperti jaring laba-laba. Levi menggeram — cakarnya mencengkeram tanah, menahan tekanan. "Tuan Muda — TURUN dari Nox!" Levi berteriak. "Tidak." Raka menjawab datar. "Kalau aku turun, dia menang." [Demon's Insight — Phase 2] Raja Iblis memiringkan kepalanya. Matanya menyala lebih terang. "Menarik. Kau tahu aku mengincarmu — tapi kau tidak lari." Seringai lebar. "Bodoh. Atau berani. Atau... kau BUTUH tetap di atas." Raka tidak menjawab. Tapi rahangnya mengeras. Dia membaca strategiku. Raja Iblis mengangkat tangannya. [Shadow Fist — Barrage] PULUHAN tinju kegelapan melesat dari segala arah. Bukan ke Nox. Bukan ke Levi. Semua menuju RAKA. "NOX!" Raka berteri
Bab 7: playpen Cahaya keemasan dan biru safir meledak dari tubuh Bima dan Elena saat partikel cahaya Nightmare Behemoth yang hancur terserap ke dalam inti mana mereka. Di dunia Aethelgard, mengalahkan monster Rank S bukan sekadar kemenangan, melainkan lonjakan evolusi yang masif bagi para pe
Bab 6: dungeonSuasana di Akademi Aethelgard yang biasanya tenang mendadak pecah oleh raungan memekakkan telinga yang seolah merobek langit. Di tengah lapangan upacara, sebuah retakan dimensi berwarna hitam pekat muncul, memuntahkan hawa dingin yang mencekam Dungeon Break Rank S."Se
Bab 5: Anak AsuhSore itu, Raka duduk di bangku taman akademi yang tenang, membuka antarmuka sistem miliknya yang selama ini ia abaikan karena dianggap sampah. Namun, ada yang berbeda kali ini. Sebuah jendela transparan berkedip di depan matanya.> [System Update: Management List]> A
Bab 4: Negosiasi di Ruang MenaraPintu kayu jati raksasa dengan ukiran naga itu tertutup rapat, namun tidak cukup tebal untuk menghalangi pendengaran tajam dua siswa Rank SS yang menempelkan telinga mereka di luar."Bisa dengar sesuatu?" bisik Bima, tangannya masih gemetar memegang gagang







