LOGINBab 280 — BentengElena mengepalkan tangannya. Menatap ke langit — tujuh titik cahaya semakin menjauh."Sial..."Dia mengangkat tangannya.[Summon Familiar — Frost]Udara mendingin. Butiran salju berputar. Dari balik angin beku — seekor burung hantu salju mendarat di lengan Elena. Bulu putih bersih. Mata kuning keemasan. Sayapnya lebar, anggun.Tapi...Elena menatap Frost. Frost menatap Elena.Ukurannya hanya sebesar lengan Elena."...Sial. Aku tidak bisa menungganginya."Seraphina memiringkan kepala."Kau kan bisa sihir terbang. Untuk apa menunggangi familiar?"Elena menoleh. Matanya MENYALA."Itu BERBEDA, Seraphina!"Dia menunjuk ke langit — ke Alaric di punggung Griffin, Richard di punggung naga petir, Valerian di punggung elang es."LIHAT mereka! Mereka naik familiar mereka! Keren! Gagah! Epik!"Tangannya turun. Menatap Frost di lengannya."Aku? Terbang sendiri dengan sihir? Seperti... balon yang melayang?"Frost mengerjap. Tidak tersinggung.Marco mengangkat tangannya dari bawah.
Bab 279 — Generasi BaruKael menatap Bima."Ayo kita juga."Bima menyeringai.[Light Wing]Cahaya MELEDAK dari punggung Kael. Dua sayap transparan terbentuk — bukan bulu, tapi lapisan cahaya padat yang berkilau seperti kristal. Udara di sekitarnya bergetar.Bima mengangkat tangannya."Blaze!"[Summon Familiar — Blaze]Api merah berputar di udara. Dari dalam pusaran — seekor naga api muncul. Sisik merah menyala. Mata oranye berkobar. Ukurannya... sebesar anjing besar.Marco — yang masih duduk di tanah dengan onesie beruang — menatap datar."...Itu naganya?"Blaze mendengus. Asap keluar dari lubang hidungnya. Kesal.[Passive Skill — Sizeshifter]Tubuh Blaze MEMBESAR. Sisiknya berderak. Sayapnya membentang. Dalam tiga detik — Blaze seukuran kuda perang. Api berkobar di sepanjang punggungnya. Cukup besar untuk ditunggangi.Bima melompat ke punggung Blaze.Kael melirik."Kenapa tidak pakai mode manusia naga?""Masih cooldown." Bima menjawab sambil menepuk leher Blaze. "Resonansi penuh tadi
Bab 278 — PerangHelios berdiri di antara reruntuhan. Tangan kosong. Api neraka berkobar tipis di sekitar tubuhnya — terkendali. Bukan lagi amukan liar seperti saat dia dikontrol Aldhelm.Tapi ada satu masalah.Dia masih memakai POPOK.Saat Helios keluar dari reruntuhan, Raka sempat menjentikkan jari.[Instant Diaper Change]Popok motif kucing terpasang. Kaos kuning. Topi kucing.Helios menatap dirinya sendiri. "...Serius?"Raja Aldric menatap putranya dari kejauhan. Armornya hancur separuh. Darah kering di pelipisnya. Tapi matanya... menatap popok itu."Helios.""Ya, Ayahanda?""...Kenapa pakaianmu begitu?"Hening.Helios menatap ayahnya datar."Jangan tanya, Ayah." Hellfire berkobar di telapak tangannya. "Ini bukan saatnya untuk bercanda."Dia menunjuk ke arah Raja Iblis. Ke cahaya merah yang berdenyut di dadanya."Lima orang temanku — jiwanya dikurung di sana."Suaranya bergetar. Bukan karena takut. Tapi karena MARAH."Lucian yang mengajariku pedang. Darius yang selalu menemani lat
Bab 277: TargetGelombang kegelapan menerjang Raka.Bukan serangan area. Bukan ledakan acak. Ini TOMBAK — kegelapan terkompresi menjadi satu titik, melesat lurus ke dada Raka.[Frozen Shell]Levi bergerak lebih dulu. Es membentuk kubah di sekeliling Raka.KRAKKKK.Tombak kegelapan menghantam kubah es. Retakan menjalar seperti jaring laba-laba. Levi menggeram — cakarnya mencengkeram tanah, menahan tekanan."Tuan Muda — TURUN dari Nox!" Levi berteriak."Tidak." Raka menjawab datar. "Kalau aku turun, dia menang."[Demon's Insight — Phase 2]Raja Iblis memiringkan kepalanya. Matanya menyala lebih terang."Menarik. Kau tahu aku mengincarmu — tapi kau tidak lari." Seringai lebar. "Bodoh. Atau berani. Atau... kau BUTUH tetap di atas."Raka tidak menjawab. Tapi rahangnya mengeras.Dia membaca strategiku.Raja Iblis mengangkat tangannya.[Shadow Fist — Barrage]PULUHAN tinju kegelapan melesat dari segala arah. Bukan ke Nox. Bukan ke Levi.Semua menuju RAKA."NOX!" Raka berteriak.[Hellfire Bre
Bab 276: Pertarungan Langit dan LautRaja Iblis terhuyung.Satu langkah mundur. Langkah PERTAMA yang dia ambil sejak muncul di dunia ini — bukan untuk maju.Tapi dia tidak jatuh."...Menarik." Dia mengusap sudut bibirnya. Menatap bekas Hellfire yang masih membakar tanah di sekelilingnya. Lalu mendongak — ke Nox yang mengepakkan sayap di atas. Ke Levi yang berdiri kokoh di darat. "Dua Calamity sekaligus. Dan kalian memilih pihak MANUSIA?"Nox mendesis dari atas. "Banyak bicara kau." "Ayo kita bertarung." "Cakarku sudah gatal dari tadi."Raja Iblis menyeringai.[Abyssal Pulse]Kegelapan MELEDAK dari tubuhnya — gelombang hitam menyapu segala arah. Levi menghentak bumi.[Tidal Stomp]Es membentuk dinding pelindung di belakangnya — menutupi Amanda, Alaric, Helios, dan semua yang tersisa."Kalau begitu..." Raja Iblis merenggangkan lehernya. "Rasakan ini."[Dark Blink]Dia MENGHILANG.Nox membelalak. "Di mana—"DUAKKK.[Shadow Fist]Tinju kegelapan menghantam rahang Nox DARI BAWAH. Kepala na
Bab 275: Dua Bencana yang Melindungi[Nox dan Levi meminta persetujuan anda kembali ke wujud asli ?][yes] [No]"Tuan muda cepatlah!""Tidak ada cara lain.""Cakarku sudah gatal ingin memukul Raja Iblis"Raka menekan [Yes]'Baiklah."Nox bergerak duluan.Tubuh kecilnya terangkat ke udara. Sisik hitamnya BERKILAT — lalu RETAK. Bukan rusak. MELEPASKAN sesuatu yang tersegel di dalamnya.Cahaya hitam MELEDAK.Gelombang energi menyapu padang rumput. Rumput menghitam. Udara bergetar. Amanda, Alaric, Helios — semua terdorong mundur.Tubuh Nox MEMBESAR. Satu meter. Tiga meter. Sepuluh. Tiga puluh. Lima puluh — tidak berhenti.Sisik-sisik hitam tumbuh — setiap sisik sebesar perisai knight. Sayap membentang menutupi setengah langit. Tanduk melengkung dari kepalanya. Ekor memanjang — ujungnya berduri seperti morning star raksasa.Cakar menancap ke tanah. BUMI RETAK.Calamity of Dragon — Nox.Lalu Levi.Kura-kura kecil itu menutup matanya. Cangkangnya bersinar biru — retak — PECAH. Air muncul dar
Bab 11: Bangsawan Di sudut gelap kandang kuda akademi yang berbau jerami dan tanah basah, Kael mengerang frustrasi. Urat-urat di leher dan lengannya menonjol ekstrem, memancarkan aura emas kemerahan khas ksatria Rank A yang sedang memusatkan seluruh energinya. Tangannya mencengkeram erat ujung pop
Bab 3 Aura Sepanjang lorong menuju Menara Utama, Ratusan murid Akademi Aethelgard yang tadi berada di aula kini berkerumun. Tidak ada satu pun dari mereka yang berani menatap mata Raka Nightfall secara langsung. Pemuda berusia 20 tahun itu berjalan dengan langkah santai, posturnya tegap dan tenang
Bab 2 Kekuatan "Kresek... kresek..." Bunyi aneh itu terdengar begitu nyaring di tengah keheningan aula yang mencekam. Marco menundukkan kepalanya ke bawah dengan gerakan patah-patah. "Gyahahaha!" Seseorang di kejauhan meledak tertawa, memecah keheningan. Dalam sekejap, seluruh aula dipenuhi oleh
Bab 1: Anugerah Di Aula Besar Akademi Aethelgard, sebuah monolit kristal kuno berdiri tegak, siap memancarkan takdir bagi setiap orang berusia 20 tahun. Hari ini adalah Upacara Manifestasi. Hari di mana para murid akademi akan diberikan "Anugerah”. Di barisan paling depan, tiga sahabat karib b







