LOGINMereka mengikat sebuah 'perjanjian'. Vinna menyuruh Zavy 'berpura-pura' sebagai orang kaya dan bakal menjadi suaminya untuk melepaskan semua problem yang melanda mereka berdua. Tak disangka, keluarga Vinna malah menerima kehadiran Zavy meski awalnya sempat ragu. Namun, bagaimana sikap dan langkah Zavy ketika pada akhirnya terungkap bahwa ternyata dia merupakan Sang Penerus yang selama ini hilang? Apakah cinta di antara mereka akan tumbuh dan tak akan terpisahkan? [Rock Series 03 : Zavy]
View More“Nadya!” Indra berteriak memanggil anak sulungnya untuk segera menghadapnya. Pria paruh baya itu terlihat marah dan tangannya yang sedang memegang sepucuk surat terlihat bergetar. Wajahnya terlihat merah padam.
“Iya, Papa. Ada apa?” tanya Nadya dengan napas yang memburu karena dia berlari untuk memenuhi panggilan orangtuanya.
“Baca ini!” seru Indra. Dia lalu menyerahkan sepucuk surat yang ada di tangannya.
Nadya meraih sepucuk surat itu dan membacanya dengan seksama. Matanya seketika membulat setelah membaca surat yang ternyata dari adiknya, Amelia.
Surat itu berisi tentang permintaan maaf dari Amelia kepada keluarganya karena dia telah pergi untuk menjalani hidup dengan kekasihnya, Reza. Amelia meminta supaya keluarganya tidak mencarinya karena dia tidak ingin kembali, dia ingin hidup mandiri dengan pujaan hatinya.
“Papa percaya dengan surat ini?” tanya Nadya. Dia memicingkan mata serta melipat surat itu, lalu dimasukkannya kembali ke dalam amplop.
“Kenapa kamu bertanya seperti itu?” tanya Indra. Pria paruh baya itu mengernyitkan dahinya, merasa bingung dengan pertanyaan putri sulungnya itu.
“Ini jelas bukan Amelia yang menulis, Pa. Papa tahu sendiri kalau Amelia itu anaknya manja, sehingga tidak mungkin dia pergi begitu saja dari rumah.” Nadya mengemukakan penilaiannya sendiri yang membuat Indra terdiam memikirkan ucapan anaknya itu yang terdengar masuk akal.
Nadya adalah anak sulung dari keluarga Darmawan yang dikenal karena kecantikan dan kepintarannya. Karena itu ayahnya, Indra Darmawan menjadikan Nadya sebagai wakil di perusahaan yang dia pimpin. Indra memang menyiapkan Nadya sebagai penggantinya kelak apabila dia sudah memasuki masa pensiun.
Indra sering bertukar pikiran dengan Nadya untuk mendapatkan solusi dari permasalahan yang datang silih berganti. Seperti saat ini saat Indra menemukan surat dari anak bungsunya yang sudah pergi dari rumah.
Perilaku Nadya sangat berbeda dengan adiknya, Amelia. Amelia adalah seorang anak yang cantik tapi manja, sehingga kadang membuat kesulitan bagi orangtuanya. Seperti saat ini dia pergi dari rumah yang membuat orangtua mereka panik.
Nadya mengernyitkan dahinya. Dia memikirkan sesuatu yang dapat menjadi bahan pertimbangan Indra untuk melakukan tindakan selanjutnya.
“Kalau Papa tidak keberatan, aku akan mencari Amelia dengan bantuan seseorang.” Nadya mengemukakan idenya yang seketika membuat Indra menatapnya dengan tatapan tajam.
“Seseorang?” tanyanya tidak mengerti maksud dari perkataan Nadya.
“Aku akan mencari Amelia dengan didampingi seseorang dari perusahaan jasa keamanan yang akan aku sewa untuk mendampingi aku. Aku akan mencari Amelia sampai ketemu. Aku akan membawanya kembali pulang ke rumah.” Nadya menatap wajah Indra lekat, seolah minta persetujuan pria paruh baya itu untuk langkah yang akan dia ambil.
“Kenapa kamu tidak menyewa orang saja? dan suruh dia membawa Amelia pulang! jadi kamu tidak perlu ikut dalam pencarian.” Indra memberikan saran kepada putrinya itu, karena dia khawatir akan keselamatan Nadya.
“Aku ikut dalam pencarian karena aku ingin membujuk Amelia secara langsung, Pa.” Nadya menatap Indradengan tatapan penuh permohonan, agar diijinkan ikut serta secara langsung dalam pencarian Amelia.
Indra diam sesaat untuk mempertimbangkan permintaan putrinya itu. Setelah berpikir cukup lama, akhirnya dia mengijinkan putrinya itu untuk ikut serta dalam pencarian Amelia.
“Lalu apa rencanamu untuk melakukan pencarian adikmu itu? harus diingat, kalau Papa tidak ingin berita perginya Amelia dengan pacarnya itu diketahui oleh publik. Papa tidak mau hal ini menjadi konsumsi publik yang bisa mencoreng nama baik keluarga.” Indra berkata dengan tegas sebelum melangkahkan kakinya keluar dari ruang kerjanya meninggalkan Nadya seorang diri di sana.
“Baik, Pa,” ucap Nadya lirih.
***
Keesokan harinya, Nadya pergi ke kantor seperti biasanya seolah tidak terjadi sesuatu dalam keluarganya. Hal ini sudah biasa dilakukannya semenjak dia remaja. Kedua orangtuanya mengajarkan kepadanya dan Amelia untuk tidak pernah menunjukkan kesedihan mereka atau masalah mereka kepada orang lain. Kedua orangtuanya tidak ingin kalau masalah mereka sampai diketahui oleh publik dan menjadi perbincangan di mana-mana. Mereka hanya boleh menceritakan tentang kebahagiaan mereka di depan umum. Kedua orangtuanya ingin menunjukkan kalau keluarga mereka adalah keluarga yang harmonis.
Nadya menghempaskan tubuhnya di kursi kebesarannya di kantor. Kemudian dipanggilnya asisten pribadi Indra yang merangkap asistennya juga. Tak lama Andi, sang asisten memasuki ruangannya dengan langkah yang lebar menuju tempat Nadya duduk saat ini.
“Ada apa, Bu Nadya? ada yang bisa saya bantu?” tanya Andi sopan.
“Kamu tahu tentang perusahaan jasa keamanan terbaik di Jakarta? bisa diinformasikan kalau kamu tahu tentang perusahaan itu?” Nadya berkata dengan raut wajah yang serius.
“Ibu mau menyewa seorang bodyguard?” tanya Andi memastikan keinginan Nadya.
“Bisa diartikan seperti itu.” Nadya menjawab sambil tersenyum tipis.
“Saya tahu, Bu. Nama perusahaannya PT. Jasa Utama. Kalau nomor teleponnya nanti saya kirim melalui pesan.” Andi kemudian mencari sebuah nomor yang telah tersimpan di telepon genggamnya.
Ting.
Bunyi notifikasi pesan masuk di telepon genggam Nadya, membuat wanita itu meraih benda pipih yang tergeletak di atas meja. Nadya kemudian membuka pesan itu yang ternyata dari Andi. Kemudian dia simpan nomor itu untuk dia gunakan dalam rangka mencari adiknya dengan menggunakan jasa bodyguard.
“Ada lagi yang bisa saya bantu, Bu?” tanya Andi.
Nadya menggelengkan kepalanya seraya berucap, “Tidak ada. Terima kasih atas bantuannya, Ndi.”
Andi kemudian pamit untuk pergi dari hadapan Nadya setelah wanita cantik itu menggelengkan kepalanya.
Sepeninggal Andi, Nadya termenung memandang nomor yang bisa dihubungi untuk membantunya menemukan Amelia.
Ditekannya tombol nomor sesuai dengan yang tertera di telepon genggamnya. Dalam hitungan detik panggilan teleponnya diangkat. Kemudian terdengar suara bariton di seberang sana, yang seketika membuat Nadya teringat seseorang di masa lalunya.
Nadya memejamkan mata dan menangkup wajahnya, mencoba menghilangkan bayangan seseorang dari masa lalunya.
“Devan,” gumam Nadya bermonolog.
Tiba-tiba matanya berkaca-kaca saat menyebut nama itu. Nama itu yang sudah dua tahun lamanya tidak pernah terucap dari bibirnya. Dan kini di saat dia ada masalah, Nadya merindukan seseorang yang memiliki nama tersebut.
[Halo...halo...halo!] sapa seseorang dari seberang sana. Dan membuat Nadya tersadar dari lamunannya, bahwa saat ini dia sedang melakukan panggilan telepon dengan seseorang.
“I-iya, halo. Ini dengan PT. Jasa Utama?” tanya Nadya tergagap ketika menjawab sapaan seseorang dari seberang sana.
[Iya, benar. Ada yang bisa dibantu?] tanya orang yang ada di seberang sana, yang membuat Nadya kembali fokus pada tujuannya menelepon kantor itu.
“Saya ingin menyewa jasa bodyguard untuk menjaga saya dan adik saya.” Nadya sedikit berbohong karena sebelum mencapai kesepakatan, dia tidak mau mengungkapkan masalah sebenarnya pada orang lain yang belum dia kenal.
[Oh baik, kalau begitu silakan datang ke kantor kami agar dapat berbincang langsung di sini. Nanti saat anda sudah tiba di kantor kami, katakan kalau anda ingin bertemu dengan Pak Devan. Dia yang akan menangani masalah operasional.]
Ucapan orang di seberang sana membuat tubuh Nadya membeku. Namun, hal itu tidak berlangsung lama. Dia segera melanjutkan kembali pembicaraannya dengan orang di telepon itu.
“Baik saya akan datang ke kantor anda siang ini, setelah jam makan siang,” ucap Nadya tegas, menunjukkan kesungguhan hatinya.
[Baik kami tunggu kedatangan anda siang ini.] sahut orang yang ada di seberang sana.
Setelah panggilan telepon berakhir, Nadia termenung. Dia memikirkan ucapan orang tadi.
“Devan, apakah itu kamu?” ujarnya bermonolog.
Minggu pagi di Istana Rock!Hari di mana puncak dari segala kesuksesan dan kebahagiaan. Sukses dan bahagia karena Zavy sudah melewati banyak sekali ujian berat di dalam kehidupannya. Selama lebih dari dua puluh tahun lamanya dia hidup di dalam kemiskinan dan kemelaratan. Selama lebih dari dua dekade dia hidup tanpa kasih sayang orang tua, tidak punya kerabat, dan kerap termarginalkan karena statusnya yang tidak jelas. Dalam waktu tersebut, lebih banyak tragedi dari pada komedi, lebih sering berduka ketimbang bersuka, serta lebih banyak merasakan payah dari pada gembira.Zavy menganggap bahwa perjalanan panjang nan pahit dan getir itu jelas punya hikmah besar bagi dirinya. Jika saja dia hidup dari kecil dalam bergelimang harta, besar kemungkinan dia bakal jadi anak mama. Namun, karena dia besar di jalanan, nyalinya lebih tinggi dari pada sepuluh preman, dan kekuatannya lebih tangguh dari pada petarung profesional. Hidup yang sulit dan berat telah membentuknya jadi pribadi yang kokoh dan
Russel Winston punya dua saudara kandung, yakni Axel Winston dan Gennifer Winston.Russel dan Axel membawa semua keluarga mereka. Kini Russel sudah terang-terangan kepada keluarga dan kerabatnya tentang posisi Zavy di lingkungan mereka.Marvin Rock punya satu saudara kandung yang bernama Harven Rockwell. Dia juga membawa keluarganya ke sini.Tidak hanya itu, ada beberapa Rock dari luar negeri juga menyempatkan hadir di sini, sekalian mereka ingin menyaksikan hari penobatan Raja Glora di hari Minggu nanti.Saking ramai dan meriahnya, sampai-sampai Luis Charlton pun turun gunung. Meskipun sudah tua dan agak kesulitan berjalan, dia menggagahkan diri menyambut semua orang-orang besar itu. Ferdy, Shane, dan Edward sigap. Mereka tidak mau menyia-nyiakan momen paling mengesankan ini.Selama Keluarga Charlton mengadakan pesta, perjamuan, atau pertemuan, baru kali ini mereka bisa bergabung bersama dua nama besar, Rock dan Winston!Luis Charlton memberi hormat yang begitu spesial kepada semua
Vinna ingin ngakak tapi takut dosa lalu dia menjitak kepala Zavy tapi Zavy langsung mengelak dari serangan mendadak itu.Zavy tersenyum geli. “Maaf, Kek. Cuma bercanda kok. Mana mungkin Kakek suka Americano. Minuman itu ibarat obat pusing kepala dicampur arang. Pahit dan tiada arti. Hehe.”Tapi, spekulasi dari Zavy nyatanya meleset. Luis Charlton malah suka kopi pahit, secara dia sudah tua jadi tidak suka gula dan susu. “Aku pesan yang jumbo. Americano adalah kesukaanku.”Vinna membuang muka sambil menghembuskan napas panjang. “Aku baru saja mau bilang kalau Kakek suka kopi pahit. Eh, kau malah banyak oceh, Zavy!” ketus Vinna menyeringai tipis.Ops!Kalau saja bukan Zavy yang bergurau barusan, pastilah Luis Charlton berang, hanya saja yang bercanda barusan adalah Zavy!Sebagaimana orang tua yang sudah berumur, Luis Charlton tertawa seperti pohon beringin yang daun-daunnya bergoyang karena disapu angin, tetap tegar dan bersahaja. Begitu teduh, enak dipandang.Luis Charlton tidak marah
Pada malam harinya di ZV Cafe.Zavy sudah mengganti nama cafe miliknya jadi ZV Cafe, gabungan inisial nama dia dan Vinna.Zavy menyuruh manager cafe untuk mengosongkan semua tempat dan menutup cafe pada jam tujuh malam. Khusus malam ini semua sisi tempat digunakan untuk berkumpulnya tiga keluarga besar. Dua nama sudah melambung tinggi : Rock dan Winston. Sekarang bakalan ada satu nama lagi yang bakalan melambung tinggi juga : Charlton!Sebenarnya ini bukanlah sebuah pesta ulang tahun atau perayaan sejenisnya, tetapi Zavy mengumpulkan keluarga dan kerabatnya untuk mempersatukan dan mempererat hubungan. Selain itu, mungkin rasa syukurnya kepada Tuhan setelah lepas dari ujian besar dan kini, dia bisa kembali menikmati hari-harinya bersama Vinna.Luis Charlton datang paling awal dan tidak mau terlambat meski hanya sebentar saja. Walaupun usianya paling tua, dia yang paling bersemangat untuk datang, mengalahkan semangat anak dan para cucunya yang masih juga belum nongol.Zavy yang berada d
Zavy mengangguk setuju. “Lagi pula, setelah meninggalnya ayahku, dia akan jauh lebih leluasa. Aku harap Paman tidak lengah. Aku pastikan dia akan kembali bergerak dan menjalankan rencana selanjutnya.”“Kau benar, Zavy. Aku pun mengira demikian. Target selanjutnya adalah diri mu. Setelah itu, dia akan
Pagi hari itu langit Gloriston gelap. Awan hitam bergulung-gulung dan bertebaran menutupi cahaya terang sang mentari. Hari yang begitu kelam, pahit, dan memilukan.Semua orang, siapa pun, sedih mendengar kabar bahwa Raja Glora mereka wafat, apalagi isu yang beredar mengatakan bahwa beliau meninggal k
Keesokan harinya pada saat Russel berjumpa dengan Gavi, Russel berupaya untuk melakukan interogasi secara diam-diam. Ada sejumlah pertanyaan yang dia berikan kepada Gavi mengenai aktivitasnya beberapa hari ini dan juga tentang topik investasi di CPG.Dan inilah salah satu kelebihan dan kecerdasan Gav
“Tapi, wasiat itu belum final. Tuan Marvin pernah menyampaikannya kepada orang terdekat. Seperti padaku, Gavi, dan orang kepercayaan lainnya. Suratnya belum tertulis dan ditandatangani, dan itu pun belum pasti. Sebab beliau pun sempat bilang kalau seandainya beliau bisa menemukan putranya yang hilan






Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
reviews