LOGINKakak, done 3 bab buat hari ini ya. makasih atas support kalian buat buku ini. Komentar dan dukungan kalian, benar-benar bikin aku menikmati menulis kisah ini.
Kiran baru saja selesai mandi.Dia mengambil ponsel di atas meja, tatapannya tertuju ke panggilan tak terjawab dari Elvano.Kiran buru-buru mendudukkan tubuhnya di tepian ranjang.Penuh semangat Kiran menekan tombol panggil di layar ponselnya.Begitu ponsel menyentuh telinga, dering panggilan yang didengarnya.Kiran sabar menunggu, sampai dia mendengar suara Elvano.“Maaf, aku baru saja selesai mandi dan tidak tahu kamu menghubungiku.” Kiran langsung bicara setelah Elvano menyapa.“Kenapa minta maaf? Aku hanya menghubungimu, bukan memarahimu.”Senyum Kiran ditahan mendengar ucapan Elvano.Dia minta maaf karena cemas kalau Elvano mengira dia mengabaikan atau sedang melakukan hal-hal yang tidak baik.“Kamu sampai rumah dengan selamat, ‘kan? Aku yang seharusnya minta maaf karena tidak bisa mengantarmu pulang dan bahkan baru bisa menghubungimu lagi.”Napas Kiran diembuskan pelan. “Kenapa harus minta maaf? Kamu juga sibuk dan aku memahaminya.” Tangan Kiran menyeret bantal di atas pangkuann
Yessica masuk ke dalam rumah setelah melihat Kiran pergi.Begitu tiba di dalam ruang keluarga, Yessica langsung menghampiri Kamila dan Raihan.“Dari mana kamu? Kenapa tadi pergi begitu saja?” Kamila menatap Yessica yang baru saja duduk di sampingnya.“Tadi hanya cari angin saja, Ma.” Yessica bicara dengan nada manja. “Kiran di mana?” tanyanya berpura-pura peduli.“Dia tidak mau menginap di sini, jadi pulang ke rumahnya yang ada di seberang sana.”Sorot mata Yessica berubah licik. Sebelum dia menutupinya dengan senyum di wajah.“Oh, begitu.” Yessica mengangguk-angguk.“Yess, Mama lihat-lihat kamu sepertinya tidak suka melihat Kiran? Apa kamu tidak mau Kiran kembali?” Kamila jelas sangat paham bagaimana sikap Yessica biasanya, kali ini Kamila melihat perbedaan itu.Yessica tersentak.Buru-buru dia memberi alasan. “Mana berani aku berkata tidak suka, Ma. Aku sangat suka dan senang, tapi ….”Satu sudut alis Kamila tertarik ke atas melihat Yessica sedikit menurunkan pandangan.“Tapi apa?”
‘Ingat, Yessica. Jika kamu ingin menjadi Nona muda di keluarga Bimantara, maka kamu harus menyingkirkan Calissa.’‘Tapi bagaimana caranya? Kalau aku mendorongnya ke kolam, apa Calissa akan pergi?’‘Tidak, itu hanya akan membuatmu terlihat jahat.’‘Jadi, apa yang harus aku lakukan, Ibu?’‘Ibu akan membuat rencana. Saat itu berjalan pura-puralah tidak tahu. Sekarang, kamu harus bersikap baik pada Calissa dan membuatnya percaya padamu. Ingat, jangan membuatnya curiga. Kamu juga harus bersikap lebih baik darinya, agar orang-orang lebih memandangmu daripada Calissa.’Ingatan-ingatan masa kecil Yessica berputar di kepala.Matanya terbuka lebar. Napasnya berat tertahan.Rahang Yessica mengeras, matanya memerah menyorot penuh kebencian.‘Aku sudah sampai sejauh ini, dan aku tidak akan membiarkan dia merebut apa yang sudah menjadi milikku.’Sorot matanya penuh dengan kilatan.Yessica menoleh ke dalam rumah.Telinganya mendengar suara tawa dari dalam.Jemari Yessica mengepal di samping tubuhnya
Kiran bergabung di ruang tengah bersama Noah dan yang lainnya.Tatapan Kiran begitu waspada pada Yessica yang duduk menempel pada Kamila.“Kiran, kemarilah duduk bersama Mama.” Kedua tangan Kamila terulur ke arah Kiran.Yessica tersentak karena pelukannya di tangan Kamila terlepas.Jemari Yessica mengepal saat tatapannya tertuju pada Kiran yang ditatap penuh sayang oleh Kamila.Kiran tersenyum. Dia mendekat, tetapi Kiran tak langsung duduk di dekat Kamila karena ada Yessica di sana.Yessica menyadari tatapan semua orang tertuju padanya. Dia segera berdiri dari duduknya, memberikan posisinya untuk Kiran.Walau Yessica harus menahan kesal Kiran mengambil tempatnya.Kiran duduk di samping Kamila.Telapak tangannya langsung digenggam ibunya ini.“Kiran, apa kamu mau menceritakan bagaimana kehidupanmu selama bertahun-tahun ini? Lalu, di mana keluarga yang merawatmu, kami mau berterima kasih ke mereka.” Kamila tak melepas genggamannya. Seolah takut Kiran kembali terlepas darinya dan hilang d
Yessica tersentak mendengar ucapan Kiran yang blak-blakkan.Matanya menyipit, apa benar Kiran hilang ingatan? “Apa benar itu, Yess?” Kamila menatap tak percaya.Tatapan Noah dan Raihan juga tertuju pada Yessica, menuntut penjelasan.“It-itu, hanya salah paham, Ma.” Wajah Yessica berubah panik. “Saat itu kami berebut tas, jadi ada kesalahpahaman. Benarkan, Kiran?” Tatapan Yessica kini tertuju pada Kiran.Senyum Kiran terangkat tipis. “Ya, benar.” Kamila menghela lega. “Syukurlah kalau hanya salah paham. Bagaimanapun kalian bersaudara, jangan sampai ada perselisihan.”Atmosphere sekitar sedikit menegang.Noah segera ambil sikap. “Ayo masuk dulu, kita bicara di dalam.” Kamila dan yang lain masuk lebih dulu, sedang Kiran di belakang bersama Noah.Saat yang lain duduk di ruang tengah.Kiran memilih ke dapur menemui Noah.“Apa aku boleh tanya sesuatu?” Kiran menghampiri Noah yang sedang mengeluarkan minuman dari dalam lemari pendingin.“Tanya saja.” Noah menoleh sekilas pada Kiran, sebel
Setelah memastikan siapa yang berdiri di depan rumahnya. Noah menoleh pada Kiran.“Kiran, mereka Mama dan Papa.”Kiran tersentak. Matanya membola lebar.“Mereka sudah sampai di sini. Kamu mau menemui mereka, ‘kan?” Noah memastikan.Apalagi Noah melihat Kiran yang terkejut.Kiran menatap ragu.Pandangan Kiran sekilas tertuju ke seberang jalan, ke arah dua orang yang kini menatap ke arahnya.“Kapan kamu memberitahu mereka?” Kiran menatap pada Noah.“Setelah kamu mengakuiku.” Noah bicara dengan sangat hati-hati. “Tapi, aku tidak menyangka kalau mereka akan datang. Aku benar-benar tidak berniat membuatmu tak nyaman dengan langsung bertemu mereka.” Noah segera menjelaskan. Dia takut Kiran tidak suka dan kembali menjauhinya.Kiran terdiam.Banyak hal yang mengganggu pikirannya.Namun, cepat atau lambat, Kiran juga harus mengatasi situasi ini.Hanya beda waktu saja.Kiran menarik napas dalam-dalam sebelum mengembuskan pelan.“Baiklah, kita temui mereka,” katanya saat tatapan Kiran kembali te
Kiran duduk di bangku panjang yang terdapat di koridor rumah sakit.Setelah mengecek kondisi ayahnya. Kiran memilih menenangkan diri, duduk diam sambil merasakan udara dingin yang menusuk hingga ke tulang.“Kopi.”Senyum Kiran mengembang menatap Sabrina yang berdiri di hadapannya, membawa kopi pana
Elvano memasukkan kembali ponsel ke saku jas bagian dalam. Dia menoleh pada Kiran yang ada di belakangnya. “Pergilah ke toko kue, belikan kue strawberry dan kirim ke alamat yang nanti kukirimkan.” Kesadaran Kiran kembali tertarik setelah mendengar suara Elvano. Dia baru menyadari kalau Elvano m
Suasana mendadak tegang. Apalagi saat Kiran melihat Dania menatap tajam padanya. “Bukan seperti itu maksud saya, Bu. Saya hanya–” “Aku tahu, mungkin kamu sulit percaya pada orang lain, apalagi posisimu sekarang bisa dibilang lebih tinggi dari staff lain di divisi pemasaran.” Dania memotong ucapan
Kembali ke divisi pemasaran setelah selesai makan siang. Langkah kaki Kiran terhenti di tengah koridor ketika matanya tertuju pada Elvano yang berdiri di depan ruang kerja.Jemari-jemari Kian meremat erat di sisi tubuhnya kalau melihat tatapan Elvano yang tertuju padanya.“Kemari.”Suara Elvano mem







