ログインKakak, aku masih update 3 bab ya. Makasih akak semua
Di tempat Yessica. Yessica duduk di belakang meja kerjanya ketika ponselnya berdering.Nama yang terpampang di layar, membuat kedua sudut bibir Yessica tertarik ke atas.“Halo, bagaimana? Apa ada perkembangan?” Yessica bicara dengan sangat cepat.“Aku sudah melakukan sesuai dengan apa yang kamu katakan. Semua sesuai prediksimu jika kakakmu akan mengikuti wanita itu. Tapi ….”Kening Yessica berkerut samar. “Tapi apa? Kenapa kamu memotong kalimatmu? Kamu tahu aku tidak suka kalimat setengah-setengah!”Yessica bicara dengan tak sabaran.“Tapi preman yang aku bayar bersikap di luar kendali, mungkin karena kakakmu menghajar mereka, jadi akhirnya terjadi insiden di luar rencana.”Satu sudut alis Yessica kini tertarik ke atas. “Insiden? Insiden apa?”“Kakakmu terluka karena ditusuk salah satu preman yang aku bayar.”“Apa?” Mata Yessica membola lebar.Punggungnya menegak dengan wajah syok luar biasa.“Bagaimana sih? Pekerjaan begini saja kamu tidak becus mengaturnya. Aku hanya ingin wanita it
Di RDJ.Elvano menekuk lengan kirinya, dia menatap ke jarum yang ada di arlojinya, sebelum pandangannya tertuju ke luar ruangan.Sudah hampir setengah jam dan Kiran belum kembali dari kafe.“Apa dia terjebak antrian panjang? Ini bukan jam istirahat, harusnya kafe tidak akan ramai di jam-jam ini.”Elvano mulai gelisah.Dia meraih ponsel di atas meja untuk menghubungi Kiran.Namun, sebelum Elvano berhasil menekan tombol panggil, ponselnya sudah lebih dulu bergetar.Kiran menghubunginya.“Halo, Ki. Kenapa kamu lama sekali? Apa ada–”“El, aku sekarang sedang menuju rumah sakit. Apa kamu bisa menyusulku?”Punggung Elvano menegak.Rumah sakit?“Ki, ada apa? Apa yang terjadi padamu?” Elvano bangkit dari duduknya.Suara Kiran yang berat dan sedikit tertahan, membuat kepanikan membuncah di dadanya.Elvano bergegas meninggalkan ruangan masih dengan panggilan yang terhubung dengan Kiran.“Aku baik-baik saja, tapi tolong susul aku ke rumah sakit.”Elvano mengangguk walau Kiran tidak melihat.“Kam
Di tengah kepanikan yang dialaminya. Pandangan Kiran tertuju pada sosok pria yang tidak pernah dia bayangkan kehadirannya.Noah.Kenapa pria ini di sini?“Menyingkir darinya.” Farhan menarik kasar pundak salah satu preman.Memberikan jalan pada Noah yang kini melangkah menghampiri Kiran.“Kamu baik-baik saja?” Kedua tangan Noah terangkat untuk menyentuh, tetapi dia tahan dan hanya menggantung di udara.Kiran mengangguk pelan. “Aku baik-baik saja.”“Ternyata ada yang mau menjadi pahlawan kesiangan.” Salah satu preman langsung meledek.Farhan sudah berdiri berhadapan dengan para preman.Noah membalikkan tubuhnya. Dia menatap satu persatu preman yang berniat kurang ajar pada Kiran.“Pergi dari sini jika kalian tidak ingin menyesal.” Suara Noah dalam dan penuh penekanan.Bukannya takut. Para preman ini tertawa.“Harusnya, kami yang mengatakan itu.” Telunjuk salah satu preman mengarah ke wajah Noah. “Pergi, atau kalian berdua, akan menyesal.”Belum juga Noah merespon ucapan preman ini. Sal
Tatapan Kiran tertuju pada sang ayah.Bibirnya tersenyum kecil tanpa rasa bersalah.“Kulepas saat tadi mau mandi, Ayah,” kilahnya. Sedangkan kalung itu sudah tidak dia pakai berhari-hari ini.Surya mengembuskan napas lega.“Kenapa tidak dipakai lagi?” Surya kembali memanggang daging setelah mendapat jawaban dari Kiran.Senyum Kiran sedikit masam. Dia memasukkan potongan daging ke mulut, sebelum membalas, “Iya, nanti aku pakai lagi. Sekarang, bolehkan aku makan yang banyak dulu.”Kiran memberikan tatapan memelas ke ayahnya.“Baiklah, baiklah, makan dulu yang banyak sekarang.” Surya kembali meletakkan potongan daging di piring Kiran. Senyum hangat penuh kasih sayang, tidak lekang dari wajah tuanya.**Hari berikutnya.Kiran berada di ruangan Elvano mengatur berkas-berkas yang harus kekasihnya ini tandatangani.“Ini sudah semua, sisanya aku akan cek ulang sebelum kamu tandatangani.” Kiran menyodorkan beberapa stopmap yang sudah dia pilah.“Terima kasih.” Tangan Elvano terulur menerima ber
Surya tersentak.Tetapi, dia segera memasang senyumnya.“Menangis? Siapa yang menangis?” Surya menyentuh pipinya agar Kiran tidak curiga.“Tapi mata Ayah juga merah.” Kiran tak percaya begitu saja. “Ada apa, Ayah? Apa ada masalah di pekerjaan? Karena itu Ayah tidak kerja?”Kiran berasumsi. Ayahnya tidak mungkin cuti tanpa alasan.Surya mencebik. Menyanggah pemikiran putrinya“Kamu ini terlalu curigaan, Kiran.” Secepatnya Surya mengelak. “Ayah sudah berangkat, tapi teman Ayah bilang butuh uang tambahan dan minta jatah kerja Ayah hari ini saja. Makanya Ayah pulang lagi. Biarlah dia dapat tambahan buat istrinya.”Mata Kiran menyipit. Dia masih tidak percaya.“Kamu ini, kenapa tidak percaya sekali sama ayahmu ini?” Surya kembali meyakinkan.Melihat sang ayah yang gigih menjelaskan. Kiran akhirnya mengabaikan.“Baiklah kalau benar seperti itu.” Kiran kembali menatap sang ayah sebelum masuk kamarnya. “Mumpung Ayah di rumah, bikin barbeque ya, Ayah. Saat kemah kemarin, aku belum puas. Jadi,
Di mobil Noah.Noah menatap ke jalanan yang mereka lewati.Tatapannya menyorot tak biasa. Ada optimisme yang membuat semangatnya terbakar.“Anda tahu kalau Kiran adalah anaknya Pak Surya, tapi kenapa Anda sangat yakin jika dia adik Anda, Pak?” Farhan menatap heran. Bagaimanapun sikap Noah sangat aneh saat ini.Noah menoleh pada Farhan.Senyum Noah terangkat kecil.“Bagaimana jika Kiran adalah anak angkat? Anak pungut? Atau semacamnya? Bukankah kita tidak tahu pasti?” Ucapan Noah sangat meyakinkan.Kening Farhan berkerut dalam.“Tapi, bukankah Pak Adrian bilang kalau Kiran anaknya Pak Surya?” Farhan bicara dengan sangat hati-hati.“Anak saja, tidak ada kata anak kandung atau anak angkat. Kata anak bisa kita asumsikan dengan banyak hal.”Farhan membuka bibir untuk bicara lagi.Tetapi ucapan Noah tak terbantah.Farhan kembali melipat bibirnya.Noah kembali memandang keluar jendela, setelah Farhan diam.“Entah kenapa, sejak pertama kali melihat Kiran. Wajahnya sangat tidak asing bagiku.”
Derasnya aliran sungai tak menghentikan usaha Elvano. Kedua tangannya terus bergerak mendayung sekuat tenaga agar bisa segera menggapai Kiran yang terbawa arus tak jauh darinya.Kiran tidak bisa berenang, Elvano harus bisa mengejar sebelum Kiran benar-benar hanyut dan hilang dari pandangannya.Tanga
Kedua pundak Dania menegang, bola matanya bergerak liar mencari kata-kata untuk membalas ucapan Kiran.“Kamu tidak usah mengelak lagi! Aku tahu, semua yang aku alami ini karena laporan darimu!” Kiran tersenyum hambar. Dania masih saja kukuh memfitnahnya.Melihat tenangnya Kiran, emosi Dania semaki
Elvano menoleh pada Kiran, sebelum kembali menatap Leya.“Kakak Kiran asistennya Papa, jadi wajar kalau ikut.” Elvano menjelaskan dengan pelan.Kiran melambaikan tangan, senyumnya begitu hangat pada Leya yang kini menatap kesal padanya.“Nggak mau.” Leya melipat kedua tangan di depan dada. “Pokoknya
Tatapan Elvano menyorot tajam pada Robby, di saat tangannya merentang pelan ke samping untuk isyarat agar Theo tidak bertindak gegabah.“Aku tahu, bukan hanya itu tujuanmu. Baik, aku mengalah. Katakan apa yang mau kamu katakan, aku akan kabulkan tanpa syarat.” Elvano tak bisa mengambil resiko, saat







