LOGINKakak, done 4 bab buat hari ini, selamat membaca.
Elvano melangkah di koridor menuju ruang kerjanya. Tatapan Elvano tertuju pada Kiran yang baru saja berdiri dari duduknya. Senyum dia lempar ke arah Kiran, sebelum berbelok ke ruang kerjanya diikuti Kiran.“Aku sudah membuatkan latte sejak sepuluh menit lalu, seharusnya sekarang sudah tidak terlalu panas.”Mendengar ucapan Kiran, jari Elvano menyentuh cangkir saat kakinya berhenti melangkah tepat di samping meja.“Sangat pas.” Elvano menoleh sambil kembali melempar senyumnya.Kiran mengangguk. Dia berdiri di depan meja Elvano, kemudian membacakan jadwal Elvano hari ini.Elvano menyesap lattenya sambil mendengarkan apa yang Kiran bacakan.Saat tatapannya terangkat ke arah sang kekasih, Elvano menyadari sorot mata Kiran yang berbeda.“Ada apa, Ki? Apa ada masalah?” Tatapan Elvano terus tertuju pada Kiran, saat tangan kirinya meletakkan cangkir kembali di atas meja.Kiran langsung menatap pada Elvano. Meski kepalanya menggeleng dan senyumnya diangkat paksa, tetapi tak mampu menyembunyika
Kiran merangsek, membelah kerumunan para karyawan yang malah berdiri menonton rekannya yang sedang berkelahi.“Berhenti! Kubilang berhenti!” Kiran melerai sambil melepas tangan seorang staff yang mencengkram rambut Sabrina.Begitu juga dengan sebaliknya.“Apa yang kalian lakukan, hah? Ini kantor, bukan arena gulad!” Kiran berdiri dengan tegak, menatap bergantian pada Sabrina dan staff yang terlibat perkelahian.“Bukankah itu dia ….”“Benar, masih tak tahu malu sekali berada di perusahaan ini ….”Kening Kiran berkerut dalam mendengar samar-samar bisikan karyawan yang ada di belakang punggungnya.Saat dia menoleh, semua orang diam mengalihkan pandangan.Kiran kembali menatap pada Sabrina, penampilan sahabatnya ini berantakan.“Ada apa ini? Kenapa kalian bertengkar sepagi ini?” Kiran menatap bergantian pada Sabrina dan staff.Staff yang berkelahi dengan Sabrina menatap remeh pada Kiran.Staff ini merapikan pakaiannya, lalu mendecih sebelum masuk ke lift yang baru saja terbuka.Semua staf
Di dalam kamar.Sabrina terus menggenggam telapak tangan Kiran.“Kamu benar-benar sudah baik-baik saja? Saat kamu pingsan di pesawat, semua orang panik.” Sabrina terus menatap wajah Kiran yang masih sedikit pucat.Kiran mengangguk-angguk pelan. “Aku baik-baik saja, jangan terlalu cemas.”Napas Kiran dihela kasar, sebelum dia kembali bicara. “Sepertinya pikiranku terlalu penuh, sampai saat melihat kilat, aku semakin panik.”“Hm … wajar kalau banyak yang sedang kamu pikirkan. Apalagi sekarang ada yang berusaha mencelakaimu, dan kamu tidak tahu siapa itu.” Sabrina mengembuskan napas pelan setelah bicara.Kiran diam. Dia mencoba mengingat semua ucapan ayah Sabrina.“Wanita itu dan anaknya, sebenarnya siapa mereka sampai menginginkanku mati?” Kiran terus memikirkan ini.“Apa menurutmu sebenarnya wanita itu dendam ke keluargamu, tapi kamu yang jadi sasaran?” Sabrina mengemukakan pendapatnya.“Tapi Noah bilang kalau keluarganya tidak pernah ada selisih dengan orang lain.” Kening Kiran berkeru
“Noah, aku takut.” Calissa berjongkok di belakang bangku.Kedua tangan kecilnya digunakan menutup telinga ketika suara gemuruh dan kilatan petir menyambar bersahutan.Jari-jari Calissa menekan kuat telinganya, menahan agar suara-suara menakutkan itu tak menembus gendang telinganya.Sampai dinginnya malam ditambah hujan yang jatuh membasahi tubuh mungilnya. Bibirnya mulai bergetar, wajahnya memucat, kepanikannya semakin menguat kala gemuruh tak berhenti menggema.“Noah, Noah, jemput aku, Noah.”Kiran terbangun dari mimpinya bersama bibirnya yang berteriak memanggil nama Noah.Dia terbangun di atas brankar. Wajahnya begitu basah.Sebelum Kiran menyadari di mana dia berada sekarang, tatapannya tertuju pada Elvano dan Noah yang muncul dari balik tirai.“Akhirnya kamu sadar juga.” Elvano menghampiri ranjang tempat Kiran berada.Elvano menatap wajah Kiran yang masih pucat. Dia segera mengambil air putih agar Kiran minum lebih dulu.“Apa kamu mimpi buruk lagi? Kami mendengarmu berteriak?” E
Di perusahaan Bimantara. Yessica menatap ponselnya yang berdering. Nama Martha terpampang di layar. “Halo.” Yessica segera menjawab panggilan itu. “Anak pria itu menghilang. Jika dia kabur, aku tidak punya lagi alat untuk mengancam pria itu. Takutnya, pria itu membuka suara dan menyeret kita ke dalam penjara.” Punggung Yessica ditegakkan mendengar ucapan Martha. “Tapi, jika dia bicara sekarang, apa orang lain akan percaya? Bagaimanapun dia sudah tidak punya bukti jika kamu adalah dalang dari penculikan itu?” Yessica bicara dengan sangat hati-hati. “Jangan lengah, Yess.” Yessica terdiam mendengar suara berat sang ibu. “Sebelum hal-hal yang tak diinginkan terjadi, lebih baik kita bertindak untuk antisipasi.” Satu sudut alis Yessica tertarik ke atas mendengar ucapan Martha. “Jadi, kita bertindak sekarang?” Yessica memastikan. “Jangan mengulur waktu. Lebih cepat menyingkirkan Calissa, maka akan semakin baik untuk kita. Ingat, ketika dia mengingat semua masa lalunya, maka riwaya
Di luar ruang kunjungan.Kiran diam. Ujung kuku jempol kanannya dia gigit pelan.Kenapa Martha dan anaknya merasa terancam dengan keberadaan Kiran?Siapa sebenarnya Martha ini? Dan, siapa anaknya?“Apa keluargamu punya dendam dengan Martha ini?” Tatapan Elvano tertuju pada Noah.Motif Martha ini belum jelas, informasi dari ayah Sabrina juga tidak terlalu lengkap.“Aku bahkan tidak tahu siapa wanita ini. Melihat wajahnya seperti apa saja aku tidak pernah.” Noah menatap ragu, wajahnya kusut memikirkan siapa Martha.Tatapan Elvano kini tertuju pada Kiran yang sejak tadi diam. “Sepertinya ada sesuatu yang membuat wanita itu panik dengan keberadaan Kiran. Tapi apa itu, yang pasti hanya diketahui oleh Kiran saat kecil.”Pandangan Kiran tertuju pada Elvano yang baru saja selesai bicara, sampai dia menyadari kalau semua orang kini juga memandang ke arahnya.“Saat itu aku masih tujuh tahun. Selain bermain dan belajar, apalagi yang aku ketahui? Aku bahkan tidak ingat apa pun, bagaimana bisa aku
Cengkraman jemari Widya semakin menguat di lengan Kiran. Bahkan otot-otot leher Widya tertarik sampai menyembul di bawah kulit. “Kamu berani membantah! Kamu pikir, nyawa ayahmu tidak lebih berharga dari kalungmu itu?” Mata Widya menajam, dia melepas lengan Kiran sambil mendorong kuat tubuh Kiran.
Saat jam makan siang. Dania masuk ke ruang kerja pamannya. Langkah pelannya terarah pasti menuju meja sang paman. “Paman, bagaimana hasil rapatnya tadi?” Dania langsung mengambil posisi duduk setelah bertanya. Malik menatap pada Dania, napasnya berembus pelan sebelum dia menjawab, “Elvano melindu
Sore hari. Kiran baru saja selesai merapikan berkas di meja, ketika ponsel di atas meja berdering. Matanya melirik pada layar ponsel. Pesan dari Widya terpampang di layar. [Pulang lebih awal dan jaga ayahmu, jangan banyak alasan!] Napas dari mulut Kiran berembus pelan. Jempolnya segera bergerak
Suara tegas Elvano menarik semua mata tertuju padanya. Auranya mampu membekukan seluruh ruangan, mengubah atmosphere yang panas menjadi sedingin kutub.Kiran bergeming dengan tatapan tertuju pada Elvano yang sedang melangkah ke arahnya.Pria itu muncul tak terduga. Seolah selalu ada untuknya, sama







