LOGIN“Vanya, kamu lagi di mana Sayang? Aku kangen banget sama kamu.”
Suara itu milik Jordan, mantan tunangan brengsek yang tega menjualnya sekaligus adik dari pria yang kini menjadi pemilik Vanya. Pria itu rupanya sedang mabuk berat dengan kondisi mata merah dan nanar. Namun anehnya, ia masih sanggup berdiri tegak meskipun langkah kakinya sempoyongan. Aroma alkohol menyengat tajam dan langsung menusuk indra penciuman Vanya. “Vanya, aku beneran kangen sama kamu.” Jordan mendekat dengan gerakan cepat. Tangannya langsung mencengkeram lengan dan bahu Vanya dengan sangat kasar. Tawa pria itu terdengar begitu muak di telinga Vanya. “Kamu kan masih milikku, jadi aku mau ambil kamu balik sekarang juga!” Vanya mundur perlahan dengan wajah pucat pasi. “Jordan, jangan mendekat ke sini!” “Apa maksud kamu?” Jordan tersenyum miring dengan licik. “Aku kan masih tunangan kamu.” Jemari pria itu mencengkeram dagu Vanya dengan keras dan memaksa wajah gadis itu untuk menengadah. Tubuh Vanya seketika gemetar hebat karena ketakutan. “Jordan, tolong lepasin aku.” Jordan sama sekali tidak peduli. Ia langsung mencondongkan wajahnya untuk mencium leher dan tulang selangka Vanya dengan agresif. Vanya berusaha mendorong dada bidang pria itu sekuat tenaga. Namun tenaga Jordan jauh lebih besar darinya. Pria itu mendorong Vanya hingga punggung gadis itu menabrak tembok apartemen dengan sangat keras. “Sakit! Lepasin aku!” Kedua tangan besar Jordan menangkup pinggang Vanya lalu meraba turun ke pinggul dengan kurang ajar. Bibirnya masih bermain liar di area leher Vanya sebelum akhirnya menggigit cuping telinga gadis itu. Mulutnya berbisik tepat di telinga Vanya. “Sensasi malam itu nggak bisa aku lupain. Aku mau lagi sekarang.” Vanya menjerit sekuat tenaga. “Aku bilang BERHENTI!” Tanpa peringatan apa pun, tangan Jordan merobek baju Vanya hingga kain itu koyak dan memperlihatkan bra renda yang menutupi buah dada Vanya. Tangan kasar Jordan langsung menyentuh area sensitif itu. Vanya meronta sekuat tenaga sambil mencoba menendang dan mendorong. Tapi semua usahanya sia-sia belaka. “Tubuh kamu ini milik aku, Vanya! Nggak ada orang lain yang boleh ambil kamu dariku!” Pintu apartemen tiba-tiba terbuka paksa dengan suara hantam keras hingga kuncinya jebol. Jay masuk ke dalam ruangan dengan langkah lebar. Sorot matanya menatap tajam, dingin, dan sangat mematikan. Satu tendangan telak mendarat keras tepat di perut Jordan. Pria mabuk itu terhuyung ke belakang dan jatuh menghantam lantai dingin dengan keras. “Kalau lo berani sentuh dia lagi, gue pastikan lo mati detik ini juga,” ancam Jay dengan suara rendah yang menggema ke seluruh ruangan. Jordan terbatuk kesakitan sambil berusaha bangkit untuk melawan. “BANGSAT LO KAK!” Belum sempat Jordan berdiri tegak, tiga anak buah Jay sudah masuk ke dalam ruangan. Tiga moncong senjata api langsung terarah lurus ke kepala Jordan. Nyali pria itu seketika menciut total. Tanpa buang waktu, Jay melepas jas dove miliknya. Ia memakaikannya ke tubuh Vanya yang sedang meringkuk berusaha menutupi tubuh bagian atasnya dengan kedua tangan menyilang. Wajah Vanya memerah padam karena campuran antara rasa malu dan marah yang membakar dada. Harga dirinya terasa diinjak-injak karena perlakuan Jordan barusan menegaskan posisi Vanya saat ini. Dia hanyalah sebuah objek. Jay meraih tangan Vanya lalu menariknya keluar dari apartemen itu tanpa menoleh sedikit pun pada adiknya. Perjalanan pulang menuju mansion terasa sangat mencekam bagi Vanya. Di dalam mobil, Jay hanya diam seribu bahasa tanpa mengucapkan satu kalimat pun. Vanya duduk di sebelahnya sambil menggigil ketakutan sembari merapatkan jas besar milik Jay untuk menutupi tubuhnya. Vanya terus bertanya-tanya dalam hati mengenai sikap Jay. Kenapa pria itu diam saja dari tadi? Kalau memang marah, sebaiknya dia lampiaskan sekarang juga. Keheningan ini justru jauh lebih menakutkan. Sesampainya mereka di mansion, Jay langsung membawa Vanya masuk ke kamar utama dan mengunci pintu rapat-rapat. Kini di dalam kamar itu hanya tersisa mereka berdua. Jay berjalan menuju lemari untuk mengambil sepotong kain hitam tipis, lalu meletakkannya di atas ranjang king size itu. “Aku minta kamu pakai ini sekarang,” perintahnya dengan nada datar. Mata Vanya membelalak kaget saat melihat benda itu. Ternyata itu adalah lingerie hitam transparan yang sangat seksi. Tubuhnya kembali gemetar hebat saat mengingat kejadian mengerikan di apartemen tadi. Vanya ingin sekali protes dan berteriak menolak. Tapi realitas kembali menghantamnya dengan keras. Dia sedang berhadapan dengan pemiliknya yang merupakan seorang mafia kelas kakap. Vanya menghela napas panjang untuk menekan rasa takutnya. Mekanisme pertahanan dirinya mulai mengambil alih. Daripada kembali pada Jordan yang kasar, lebih baik dia melayani Jay. Setidaknya selama enam bulan ini Jay tidak pernah menyakitinya secara fisik. Vanya berdiri perlahan lalu menjatuhkan sisa pakaiannya yang sudah robek ke lantai. Dengan tangan yang masih gemetar, ia mengenakan lingerie itu ke tubuhnya. Setelah kain tipis itu membalut tubuhnya dengan pas, Jay melangkah mendekat. Napas pria itu terdengar mulai berat. Mata gelapnya menatap lurus ke arah Vanya tanpa berkedip sedikit pun. Vanya akhirnya menyerah total. Pertahanannya runtuh seketika. “Silakan. Lakukan apa aja yang Tuan mau.” Jay mendadak berhenti melangkah. Alisnya terangkat sebelah karena tampak terkejut mendengar ucapan itu. Vanya menelan ludah dengan susah payah. “Lagian … aku ini kan barang yang udah Tuan beli.” Jay menghela napas kasar. Sorot mata tajamnya tak ada yang berubah. Bukan marah, bukan perhatian atau empati yang biasanya di lakukan orang-orang umumnya. Yang ada hanya sorot mata yang datar. Rasa takut Vanya berubah menjadi perasaan yang tak nyaman, karena tatapannya seperti menelanjanginya bulat-bulat. Tak lama kemudian, akhirnya Jay bersuara. “Bagian tubuh mana yang terasa sakit?” tanya Jay tiba-tiba. Jay memutar tubuh Vanya mencari bekas luka. Lalu ia melihat memar kemerahan di lengan dan bahu Vanya akibat cengkraman kuat Jordan. Rahang Jay mengeras saat melihat jejak kekerasan itu, namun ia berusaha menahan amarahnya. Ia mengambil kompres dingin yang sudah tersedia di nakas, lalu menempelkannya perlahan pada memar di kulit Vanya. “Aku paling benci milikku di rusak,” katanya dingin. Vanya diam seribu bahasa sambil menahan sakit. Setiap sentuhan membuatnya meringis pelan. Matanya menunduk ke lantai karena ia tak berani menatap wajah pria itu di depannya. Dibenaknya, ia masih takut. Jay dingin, tapi ada sisi perhatiannya yang membuat ia menebak-nebak sendiri apa isi kepala pria itu sebenarnya. Tapi nihil. Setelah selesai mengobati, Jay menatap wajah Vanya dengan datar. Wajahnya benar-benar tanpa ekspresi seperti biasa. Suara Vanya pecah, “Terima kasih.” Jay mengendikkan bahu. “Sekarang kamu mandi air hangat dulu. Aku siapkan airnya.” Ia menuntun Vanya masuk ke kamar mandi, mengatur suhu air, lalu berbalik keluar meninggalkan Vanya sendirian. “Nanti kalau sudah selesai, turunlah ke dapur. Aku bakal masak. Karena kamu belum makan dari pagi.” Satu jam kemudian, Vanya turun dengan mengenakan pakaian tidur yang lebih sopan. Langkahnya ragu menyusuri koridor mansion yang luas hingga akhirnya tiba di dapur. Di sana terlihat Jay sedang sibuk mengaduk sesuatu di atas kompor. Aromanya tercium agak aneh. Di piring tersaji pasta yang seharusnya Carbonara, tapi warnanya hijau pekat dan baunya mirip rumput basah. “Coba kamu cicipi ini,” kata Jay sambil menyodorkan piring tersebut. Vanya menyuap satu sendok ke mulutnya. Rasanya benar-benar … kacau balau di lidah. “Rasanya cukup enak,” bohong Vanya pelan. Jay menyipitkan matanya dan menatap Vanya dengan penuh curiga. Detik berikutnya, pria itu tertawa rendah. Jantung Vanya terlonjak mendengar tawa rendah pria itu. Ini adalah pertama kalinya selama enam bulan ia melihat Jay tertawa. Suaranya terdengar renyah, tapi wajahnya terlihat kaku dan seram. Vanya terperangah dalam keterkejutannya, dan bertanya-tanya apa pria ini sulit mengekspresikan perasaannya dari hati terdalamnya. Tapi, pikiran-pikiran itu menguap lantaran Jay akhirnya bersuara. “Jangan berbohong! Ini rasanya pasti nggak enak. Aku cuma bisa makan masakan mahal, tapi aku sama sekali nggak bisa masak.” Vanya akhirnya ikut terkekeh. “Iya, Tuan. Rasanya memang agak aneh.” Mereka duduk berhadapan untuk memakan pasta gagal itu sambil bertukar cerita ringan. Jay bercerita banyak tentang ayahnya yang merupakan mafia tua dan mati ditembak saingan saat Jay masih berusia 18 tahun. Sejak saat itulah Jay mengambil alih dan membangun kerajaannya dari nol. Ia juga bercerita tentang keluarganya yang berantakan. Saudara-saudaranya, termasuk ibu tirinya, hanya datang saat mereka butuh uang saja. Di balik wajah peduli mereka, tersimpan kemunafikan yang busuk. Pada akhirnya, kesepian menjadi teman paling setia bagi Jay selama bertahun-tahun. Suasana mulai terasa mencair di antara mereka berdua, sampai ponsel Jay bergetar panjang di atas meja makan. Wajah Jay berubah serius saat melihat layar ponselnya. Ia segera mengangkat telepon itu. Suara anak buahnya terdengar cukup jelas di seberang sana. “Lapor Bos, Jordan sedang mengumpulkan banyak orang. Dia berniat melakukan balas dendam. Target utamanya adalah ibu dan adik Nona Vanya yang ada di Kota B.”Jay menatap telapak tangan itu lama sekali. Rahangnya mengeras tipis, matanya menyipit.“Kamu mau kemana memang?” tanyanya rendah, nada suaranya datar tapi ada tekanan halus di dalamnya.Vanya mengangkat dagu sedikit. Matanya tidak berkedip.“Kamu nggak perlu tahu.”Kata-kata itu keluar pelan, tapi menusuk. Sebuah cerminan yang nyaris sempurna dari apa yang selama ini selalu Jay ucapkan setiap kali Vanya mencoba menyinggung soal ‘urusan kerjaan’-nya.Jay terdiam. Matanya semakin gelap.“Vanya.”Vanya melipat tangan di dada, bibirnya mengerucut tipis. “Kenapa? Mau marah?”Jay tidak menjawab langsung. Ia hanya menatap Vanya dengan tatapan yang sulit dibaca—campuran antara dingin, lelah, dan sesuatu yang lebih dalam yang jarang ia tunjukkan.Vanya melanjutkan, suaranya lebih tajam tapi tetap terkendali.“Itu yang selalu kamu bilang tiap aku tanya. ‘Nggak usah tahu detailnya sekarang’. ‘Ini urusan
Mata Violet sedikit melebar dan mengangguk cepat. “Ibu ikut.” Varsha memeluk ibunya erat. “Aku juga mau ikut cari Kak Vanya.” Jay tidak melarang. Ia berjalan lebih cepat, langkahnya tetap tenang tapi ada urgensi yang tidak bisa disembunyikan lagi. Mereka bertiga sampai di pintu ruang membaca. Lampu di dalam redup, hanya menyala dari lampu baca kecil di sudut. Jay mendorong pintu pelan. Dan benar, Vanya ada di sana. Ia meringkuk di sofa panjang berwarna krem, selimut tipis menutupi tubuhnya hingga bahu. Rambutnya tergerai di bantal, tangannya memeluk buku tebal yang terbuka di pangkuannya. Matanya tertutup rapat, napasnya teratur—tertidur lelap. Di depannya ada nampan kosong: sisa muffin cokelat dan stroberi yang sudah dimakan separuh, segelas susu hangat yang tinggal setengah. Violet menutup mulutnya dengan tangan. “Ternyata Vanya disini.” Varsha langsung berlari kecil dan memeluk kaki Vanya sambil berbisik, “Kak Vanya .…” Jay berdiri di ambang pintu, tidak berge
Malam sudah larut di kediaman utama Silvia Russell. Ruang kerja pribadinya terasa lebih dingin dari biasanya, hanya diterangi lampu meja kuning redup. Silvia duduk tegak di kursi kulit hitam besar, jari-jarinya bertaut di atas meja. Di depannya, layar monitor besar menampilkan panggilan video dari tim yang baru kembali dari misi pulau pribadi Jay. Wajah mereka pucat, keringat masih menempel di dahi meski sudah berada di daratan. Bianca Moretti berdiri di samping meja, tangan disilangkan di dada. Matanya dingin, tapi ada kilatan amarah yang tersembunyi. Pria di layar, komandan tim menelan ludah sebelum bicara. “Nyonya Silvia, kami gagal total menyusup ke pulau. Perimeter dijaga sistem otomatis tingkat tinggi: pelat baja anti-peluru di semua jendela, drone patroli 24 jam, sensor gerak di seluruh garis pantai, jammer sinyal yang memblokir hampir semua komunikasi.” Napas pria itu sedikit tercekat. “Dari satelit sipil, pulau itu bahkan tidak terdeteksi sebagai wilayah berpengh
Vanya berjalan cepat menyusuri koridor panjang mansion. Air matanya masih mengalir pelan, tapi ia tidak lagi menangis tersedu. Hanya sesak yang semakin menekan dada, napasnya pendek-pendek, dan tiba-tiba .… Tubuhnya terasa panas. Bukan panas seperti bara yang membakar seperti dulu, tapi hangat yang menyebar perlahan dari perut ke dada, ke leher, ke pipi. Jantungnya berdegup kencang, tidak teratur, seperti ada yang menekan dari dalam. Keringat tipis muncul di pelipis dan punggungnya. “Feromonku … aktif lagi,” gumam Vanya pelan. Vanya berhenti mendadak di sudut koridor. Ia bersandar ke dinding, tangan kanannya menekan dada, mencoba menahan napas yang semakin cepat. Panas tubuhnya tidak sekuat biasanya, tapi tetap ada. Aroma manis mulai samar-samar tercium dari tubuhnya sendiri. Tajam dan menggoda. Ia menutup mata, mencoba latihan pernapasan yang ia pelajari, berulang hingga empat kali. Panas di tubuhnya perlahan mereda, tidak hilang total, tapi intensitasnya turun. Degup
Vanya duduk di ranjang kamar utama mansion, selimut tebal masih melorot di pinggangnya. Matanya kosong menatap lantai marmer yang dingin, tapi pikirannya melayang jauh. Pantai putih itu … ombak kecil yang menyapa kaki … angin laut yang lembut mengusap rambut … Jay yang tersenyum tipis saat ia menyuapi tiramisu di pesawat. Dan sebuah janji “Nanti kita balik lagi” yang terucap di helipad sebelum pesawat lepas landas. Semuanya terasa seperti mimpi yang terlalu indah untuk benar. Dan sekarang, mimpi itu sudah berakhir. Vanya menarik napas dalam, tapi dadanya tetap sesak. Ia memeluk lututnya sendiri, mencoba menahan getaran kecil di tubuhnya. “Padahal kita sudah janji …” gumamnya pelan, hampir tak terdengar. “Kita balik lagi ke sana … suatu hari nanti.” Air mata jatuh lagi, pelan, tanpa suara. Ia hanya diam, menatap kosong, seperti orang yang kehilangan sesuatu yang belum sempat ia pegang erat-erat. Tok. tok. Ketukan pelan di pintu utama kamar. Vanya menoleh. Rahangnya me
Vanya menutup mulutnya dengan tangan. Air matanya langsung jatuh pelan. Ia mundur setengah langkah, nampan teh di tangannya gemetar hingga hampir jatuh. “Jay … dia mau kurung aku?” bisiknya tidak bersuara. Vanya menarik napas pendek, lalu mendorong pintu lebar-lebar tanpa ketuk lagi. Bunyi pintu membentur dinding membuat Jay dan Helena langsung menoleh. Jay duduk di kursi besar belakang meja kerja, tangannya masih di atas tablet. Helena berdiri di sisi meja, ekspresinya langsung berubah tegang. Vanya melangkah masuk satu langkah. Nampan teh di tangannya bergetar keras hingga teh hampir tumpah. “Fasilitas privat itu apa maksudnya?” tanyanya dingin, tapi suaranya bergetar hebat. “Kalian mau kurung aku?” Hening sesaat. Helena membuka mulut, mencoba bicara halus. “Nyonya Vanya, ini bukan—” “Aku dengar sendiri tadi,” potong Vanya tajam, matanya langsung ke Jay. “Jangan bohong lagi.” Jay diam sebentar. Ia hanya menatap Vanya dengan mata yang dingin dan tak bergeming. Lalu







