ログインSambungan telepon itu dimatikan dengan gerakan pelan. Jay meletakkan ponselnya di atas meja dapur, namun gerakannya terlihat terlalu tenang dan sangat terkendali. Justru ketenangan itulah yang membuat suasana mendadak terasa mencekam.
Vanya yang tadinya mulai tersenyum kecil karena cerita ringan mereka, seketika membeku di tempat duduknya. Ia sangat mengenali perubahan ekspresi itu. Itu adalah wajah saat Jay kembali ke mode aslinya sebagai seorang bos mafia yang dingin. “Siapa yang menelepon?” tanya Vanya pelan, suaranya nyaris hilang tertelan ketakutan. Jay menatap manik mata Vanya cukup lama, seolah sedang menimbang kata-kata yang tepat. Akhirnya ia membuka suara dengan nada datar namun tegas. “Itu Jordan. Dia sedang mengumpulkan orang untuk menyerang ibumu dan adikmu di Kota B.” Dunia Vanya seolah langsung runtuh saat mendengar kalimat itu. Gadis itu butuh beberapa detik untuk mencerna perkataan Jay barusan sebelum rasa panik meledak di dadanya. “Ibu dan Adikku?” Suaranya pecah seketika. Air mata langsung mengalir deras tanpa bisa ia kendalikan. “Itu nggak mungkin. Jordan tidak mungkin senekat itu!” Ia berdiri secara tiba-tiba hingga kursinya terdorong keras dan jatuh ke belakang. Tubuhnya gemetar hebat dengan napas yang tersengal-sengal. “Ini semua salah kamu!” Jay hanya diam di tempatnya. Ia menatap Vanya dengan sorot mata yang terlalu tenang, sama sekali tidak menunjukkan kilatan emosi atau tersinggung. “Iya! Ini salah kamu! Kalau kamu nggak ambil aku waktu itu, Jordan nggak bakal segila ini.” Suara Vanya terdengar patah-patah disertai isakan yang terasa sangat pilu. “Kamu yang bikin dia nekat kayak orang gila! Kamu yang bikin keluargaku dalam bahaya besar!” jerit Vanya dengan dada yang naik-turun cepat. Air matanya mengalir semakin deras membasahi pipi. Ia mundur selangkah, tangannya menutup mulut berusaha menahan suara tangis yang semakin keras. “Aku benci kamu. Aku benci semua ini.” Jay perlahan bangkit dari duduknya dan melangkah mendekat. “Vanya, dengarkan saya—” “JANGAN MENDEKAT!” Vanya memberontak hebat saat tangan Jay hampir menyentuh lengannya. Ia menepis kasar tangan pria itu, lalu memukul dada bidang Jay berkali-kali. Pukulan itu terasa lemah, namun penuh dengan amarah yang meluap. “Kamu itu monster! Kamu pernah janji nggak bakal sakitin aku. Tapi sekarang, keluargaku justru mau disakiti gara-gara urusan kamu!” Jay sama sekali tidak membalas serangan itu. Ia hanya diam mematung, membiarkan tangan kecil Vanya memukul dadanya berulang kali sampai tenaga gadis itu habis dengan sendirinya. Akhirnya Vanya ambruk ke lantai, menangis tersedu-sedu hingga lututnya terasa lemas. Tubuhnya gemetar tak karuan karena guncangan emosi yang hebat. Jay ikut berlutut di hadapannya, namun ia tidak memeluk. Ia tahu Vanya masih belum ingin menatapnya. Tangan pria itu pelan-pelan meraih bahu Vanya tanpa memaksanya untuk mendongak. “Aku udah atur semuanya,” katanya pelan. Suaranya terdengar rendah tapi sangat meyakinkan. Vanya membeku seketika dan perlahan menoleh ke arah Jay dengan tatapan basah. “Sejak siang tadi, anak buahku sudah berjaga di sana. Ibumu dan adikmu aman. Mereka sudah dipindahkan ke safe house. Ada sepuluh orang bersenjata yang menjaga mereka selama 24 jam.” Vanya masih menangis, namun isakannya mulai melambat. Ia menengadah menatap Jay dengan mata merah yang bengkak. “Beneran?” Jay mengangguk mantap. “Aku nggak pernah bohong soal nyawa orang.” Vanya terdiam dan menunduk dalam. Tubuhnya sudah terlalu lemas. Ia hanya menangis pelan sesenggukan, sementara tangannya—tanpa Vanya sadari—mencengkeram kemeja pria itu dengan erat untuk menyalurkan rasa takutnya. “Maaf,” bisik Vanya akhirnya dengan suara serak. “Aku benar-benar takut.” Jay menepuk punggung gadis itu perlahan. Bukan sebuah pelukan, tapi sebuah gerakan menenangkan yang hampir tak pernah ia lakukan pada siapa pun, bahkan pada Vanya sebelumnya. “Aku tahu.” Mereka terdiam dalam posisi itu selama beberapa menit, sampai napas Vanya mulai teratur kembali. Jay akhirnya bangkit berdiri, lalu mengangkat tubuh Vanya ke dalam gendongannya tanpa meminta izin. Tubuh Vanya sempat menegang beberapa detik karena digendong secara tiba-tiba. Namun Vanya tidak protes karena ia sudah terlalu lelah untuk berjalan sendiri. Jay membawa Vanya naik ke rooftop mansion dengan langkah pelan dan mantap. Malam itu langit terlihat cerah, angin berhembus sepoi-sepoi, dan lampu kota berkelap-kelip indah di kejauhan. Di sana terdapat sofa panjang dan selimut tebal yang entah sejak kapan sudah disiapkan. Ia mendudukkan Vanya di sofa tersebut, lalu mengambil selimut untuk menutupi tubuh gadis itu agar tidak kedinginan. Jay duduk di sebelahnya, memberi sedikit jarak namun cukup dekat jika Vanya membutuhkan sandaran. Beberapa menit berlalu dalam keheningan. Hanya terdengar suara angin malam dan detak jantung mereka masing-masing. Tatapan Vanya kosong menatap langit. Pikirannya berputar tak menentu memikirkan setiap kejadian gila belakangan ini. Vanya sering kali menolak kenyataan bahwa pria yang berada di sisinya saat ini adalah orang yang selalu membuatnya merasa aman. Padahal gadis itu tinggal bersama seorang Mafia kejam yang ditakuti banyak orang. Vanya menelan ludah saat merasakan dadanya berdesir aneh. Akhirnya ia memberanikan diri untuk menoleh. Matanya masih terlihat basah, namun sorotnya sudah jauh lebih tenang. “Hei.” “Ya?” jawab Jay singkat. Vanya menunduk pelan. Ia baru sadar bahwa hari ini adalah pertama kalinya mereka bisa bicara lebih ringan dan akrab, terutama saat insiden pasta gagal tadi. Jay menoleh menunggu kelanjutan ucapan Vanya. Gadis itu menghela napas panjang sebelum akhirnya bersuara. “Sebenarnya aku harus memanggilmu apa, Tuan? Karena usia kamu jelas lebih tua dariku.” “Panggil semaumu saja,” potong Jay cepat. Vanya mengernyit kecil, lalu bibirnya menyunggingkan senyum jahil. “Bagaimana kalau Mas Jay?” Alis Jay menukik tajam karena terkejut. Namun yang lebih mengejutkan lagi, Jay memulas senyum kecil di wajahnya. Ia terlihat seperti sedang terhibur. “Lebih baik panggil nama aja.” Vanya terkekeh pelan mendengar respon itu. Suasana kaku di antara mereka akhirnya mulai mencair. “Oke kalau begitu. Jay, kenapa kamu baik banget sama aku?” tanyanya pelan namun serius. Jay terdiam sesaat. Tatapannya beralih lurus ke langit malam yang gelap. “Padahal adik kamu sendiri bisa sejahat itu sama aku,” lanjut Vanya dengan suara berbisik. Vanya menatap profil wajah pria itu dalam-dalam, menunggu jawaban yang tak kunjung datang. Jay hanya menoleh sekilas, matanya gelap penuh dengan rahasia yang tersimpan rapat. Jay akhirnya menghela napas pendek. Ia terlihat seperti sedang menyusun kata-kata dengan sangat hati-hati di kepalanya sebelum akhirnya berbicara. “Jordan itu sebenarnya adik tiriku,” jawabnya datar tanpa ekspresi. Vanya mengernyit karena terkejut mendengar fakta itu. “Dan dia,” Jay memberi jeda beberapa detik sebelum melanjutkan kalimatnya. “Dia adalah anak dari selingkuhan Ayahku.”Vanya beserta Ibu dan adiknya berjalan mengitari setiap lantai di mal besar. Ia tanpa ragu membayar setiap belanjaan pakaian yang menurutnya menarik perhatiannya demi menghibur dirinya sendiri tanpa melihat harga. Semua itu berkat kartu kredit milik Jay yang masih ada di tangannya. Meski begitu, setiap gesekan kartu itu mengingatkannya—bahwa bahkan kebebasan kecil ini pun masih berasal dari pria yang mengikatnya. Perasaan yang sejak tadi berkecamuk akhirnya mereda perlahan, karena perhatiannya teralihkan pada aktivitas yang selama ini sangat jarang untuk dilakukan selama masih di bangku kuliah. Bahkan, selama ia masih bersama Jordan, ia hanya pergi kencan beberapa kali dalam sebulan. Di salah satu toko pakaian, ada sebuah gaun menarik perhatiannya hingga Vanya melirik sekilas. Gaun itu berwarna pastel lembut dengan desain sederhana, dihiasi detail brokat berlipat yang memberi kesan anggun tanpa berlebihan. Kontras dengan gaun-gaun yang selama ini memenuhi lemarinya di mansion Jay—
Vanya membeku saat ia membaca isi pesan singkat suaminya. Tanpa sadar, tangannya yang menggenggam ponselnya mengerat hingga buku-buku jari memutih. Campuran kesal sekaligus muak mengendap di dadanya. Betapa tidak, pria itu masih saja mengontrolnya dari jarak jauh meski keberadaannya sudah tidak ada. Tapi bayang-bayang pria dingin yang tak tahu cara bagaimana berekspresi masih hadir di kepalanya. “Sialan,” gumam Vanya mengumpat pelan. Varsha yang duduk di tengah di antara dirinya dan ibunya langsung menoleh cepat, sebelum menutup kedua telinganya dengan tangan kecilnya. Suaranya terdengar pelan, namun sarat protes dan kekesalan yang begitu jelas. “Kak, ngomongnya jangan kasar.” Vanya tersentak dan menoleh cepat pada adiknya sebelum akhirnya ia merengkuh tubuh kecilnya dan mencium puncak kepalanya. Tangan satunya memasukkan ponselnya ke dalam tas kecilnya. “Maafin Kakak ya. Kakak nggak sengaja ngomong kasar.” Varsha hanya mengerucut bibirnya dan menjawab. “Nanti beliin aku es kri
Violet menatap putrinya lama sekali sebelum ia tersenyum kecil sambil mengangguk pelan. “Baik. Ibu ikut.” Varsha bertepuk tangan kecil. “Jalan-jalan! Aku mau beli es krim!” Vanya tertawa kecil dan memeluk adiknya lagi. “Kalau begitu, aku pakai baju dulu.” Violet mengangguk. “Ibu akan siap-siap bareng Varsha.” Vanya berbalik menuju kamar utama dengan langkah cepat. Di dalam kamar, ia membuka lemari besar dan memilih dress sederhana berwarna krem panjang selutut, cardigan tipis, dan flat shoes yang nyaman. Rambutnya ia keringkan cepat dan diikat ponytail tinggi. Sebelum keluar, ia menatap cermin sekali lagi. Ia memandang wajahnya dengan tajam dan penuh keyakinan. Dibenaknya ia terus meyakinkan diri sendiri, bahwa ia bisa hidup tanpa suaminya yang selalu mengatur hidupnya. Lantas Vanya mengambil tas kecil dan memasukkan Black Card ke dalamnya, lalu keluar kamar. Di koridor, ia bertemu Violet dan Varsha yang sudah siap. Varsha memegang tangan ibunya dengan wajah yang cerah. “Kak
Jay menatap telapak tangan itu lama sekali. Rahangnya mengeras tipis, matanya menyipit.“Kamu mau kemana memang?” tanyanya rendah, nada suaranya datar tapi ada tekanan halus di dalamnya.Vanya mengangkat dagu sedikit. Matanya tidak berkedip.“Kamu nggak perlu tahu.”Kata-kata itu keluar pelan, tapi menusuk. Sebuah cerminan yang nyaris sempurna dari apa yang selama ini selalu Jay ucapkan setiap kali Vanya mencoba menyinggung soal ‘urusan kerjaan’-nya.Jay terdiam. Matanya semakin gelap.“Vanya.”Vanya melipat tangan di dada, bibirnya mengerucut tipis. “Kenapa? Mau marah?”Jay tidak menjawab langsung. Ia hanya menatap Vanya dengan tatapan yang sulit dibaca—campuran antara dingin, lelah, dan sesuatu yang lebih dalam yang jarang ia tunjukkan.Vanya melanjutkan, suaranya lebih tajam tapi tetap terkendali.“Itu yang selalu kamu bilang tiap aku tanya. ‘Nggak usah tahu detailnya sekarang’. ‘Ini urusan
Mata Violet sedikit melebar dan mengangguk cepat. “Ibu ikut.” Varsha memeluk ibunya erat. “Aku juga mau ikut cari Kak Vanya.” Jay tidak melarang. Ia berjalan lebih cepat, langkahnya tetap tenang tapi ada urgensi yang tidak bisa disembunyikan lagi. Mereka bertiga sampai di pintu ruang membaca. Lampu di dalam redup, hanya menyala dari lampu baca kecil di sudut. Jay mendorong pintu pelan. Dan benar, Vanya ada di sana. Ia meringkuk di sofa panjang berwarna krem, selimut tipis menutupi tubuhnya hingga bahu. Rambutnya tergerai di bantal, tangannya memeluk buku tebal yang terbuka di pangkuannya. Matanya tertutup rapat, napasnya teratur—tertidur lelap. Di depannya ada nampan kosong: sisa muffin cokelat dan stroberi yang sudah dimakan separuh, segelas susu hangat yang tinggal setengah. Violet menutup mulutnya dengan tangan. “Ternyata Vanya disini.” Varsha langsung berlari kecil dan memeluk kaki Vanya sambil berbisik, “Kak Vanya .…” Jay berdiri di ambang pintu, tidak berge
Malam sudah larut di kediaman utama Silvia Russell. Ruang kerja pribadinya terasa lebih dingin dari biasanya, hanya diterangi lampu meja kuning redup. Silvia duduk tegak di kursi kulit hitam besar, jari-jarinya bertaut di atas meja. Di depannya, layar monitor besar menampilkan panggilan video dari tim yang baru kembali dari misi pulau pribadi Jay. Wajah mereka pucat, keringat masih menempel di dahi meski sudah berada di daratan. Bianca Moretti berdiri di samping meja, tangan disilangkan di dada. Matanya dingin, tapi ada kilatan amarah yang tersembunyi. Pria di layar, komandan tim menelan ludah sebelum bicara. “Nyonya Silvia, kami gagal total menyusup ke pulau. Perimeter dijaga sistem otomatis tingkat tinggi: pelat baja anti-peluru di semua jendela, drone patroli 24 jam, sensor gerak di seluruh garis pantai, jammer sinyal yang memblokir hampir semua komunikasi.” Napas pria itu sedikit tercekat. “Dari satelit sipil, pulau itu bahkan tidak terdeteksi sebagai wilayah berpengh
Vanya tersentak kecil karena terkejut mendengar kebenaran yang baru saja terlontar dari mulut Jay. Napasnya sempat tersendat selama beberapa detik. “Jadi, Jordan itu anak hasil perselingkuhan Ayahmu?” tanya Vanya pelan sambil berusaha mencerna setiap kata yang diucapkan Jay barusan. Jay mengangg
Vanya masih terikat di tiang ranjang, tubuhnya gemetar saat Jay Russell berdiri di depan tempat tidur. Sorot matanya seperti sedang menilai aset baru. Jay berjalan perlahan ke meja samping, menuang air mineral ke gelas kristal, lalu meletakkannya di nakas dekat Vanya—cukup dekat untuk dijangkau, t
TOK, TOK, TOK! Pukul 21:00, ketukan pintu apartemen kecil Vanya terdengar keras, seperti orang marah. Vanya baru selesai mandi dan sudah mengenakan gaun tidur tipis. Gadis itu buru-buru buka pintu. “Jordan?” katanya kaget. “Van, aku butuh duit. Banyak. Sekarang juga.” Vanya mengerutkan kenin
“Vanya, kamu lagi di mana Sayang? Aku kangen banget sama kamu.” Suara itu milik Jordan, mantan tunangan brengsek yang tega menjualnya sekaligus adik dari pria yang kini menjadi pemilik Vanya. Pria itu rupanya sedang mabuk berat dengan kondisi mata merah dan nanar. Namun anehnya, ia masih sanggu







