Share

CHAPTER 04.

Author: Amaleo
last update Huling Na-update: 2026-01-12 09:33:21

Sambungan telepon itu dimatikan dengan gerakan pelan. Jay meletakkan ponselnya di atas meja dapur, namun gerakannya terlihat terlalu tenang dan sangat terkendali. Justru ketenangan itulah yang membuat suasana mendadak terasa mencekam.

Vanya yang tadinya mulai tersenyum kecil karena cerita ringan mereka, seketika membeku di tempat duduknya. Ia sangat mengenali perubahan ekspresi itu. Itu adalah wajah saat Jay kembali ke mode aslinya sebagai seorang bos mafia yang dingin.

“Siapa yang menelepon?” tanya Vanya pelan, suaranya nyaris hilang tertelan ketakutan.

Jay menatap manik mata Vanya cukup lama, seolah sedang menimbang kata-kata yang tepat. Akhirnya ia membuka suara dengan nada datar namun tegas.

“Itu Jordan. Dia sedang mengumpulkan orang untuk menyerang ibumu dan adikmu di Kota B.”

Dunia Vanya seolah langsung runtuh saat mendengar kalimat itu. Gadis itu butuh beberapa detik untuk mencerna perkataan Jay barusan sebelum rasa panik meledak di dadanya.

“Ibu dan Adikku?” Suaranya pecah seketika. Air mata langsung mengalir deras tanpa bisa ia kendalikan. “Itu nggak mungkin. Jordan tidak mungkin senekat itu!”

Ia berdiri secara tiba-tiba hingga kursinya terdorong keras dan jatuh ke belakang. Tubuhnya gemetar hebat dengan napas yang tersengal-sengal.

“Ini semua salah kamu!”

Jay hanya diam di tempatnya. Ia menatap Vanya dengan sorot mata yang terlalu tenang, sama sekali tidak menunjukkan kilatan emosi atau tersinggung.

“Iya! Ini salah kamu! Kalau kamu nggak ambil aku waktu itu, Jordan nggak bakal segila ini.” Suara Vanya terdengar patah-patah disertai isakan yang terasa sangat pilu.

“Kamu yang bikin dia nekat kayak orang gila! Kamu yang bikin keluargaku dalam bahaya besar!” jerit Vanya dengan dada yang naik-turun cepat.

Air matanya mengalir semakin deras membasahi pipi. Ia mundur selangkah, tangannya menutup mulut berusaha menahan suara tangis yang semakin keras.

“Aku benci kamu. Aku benci semua ini.”

Jay perlahan bangkit dari duduknya dan melangkah mendekat. “Vanya, dengarkan saya—”

“JANGAN MENDEKAT!”

Vanya memberontak hebat saat tangan Jay hampir menyentuh lengannya. Ia menepis kasar tangan pria itu, lalu memukul dada bidang Jay berkali-kali. Pukulan itu terasa lemah, namun penuh dengan amarah yang meluap.

“Kamu itu monster! Kamu pernah janji nggak bakal sakitin aku. Tapi sekarang, keluargaku justru mau disakiti gara-gara urusan kamu!”

Jay sama sekali tidak membalas serangan itu. Ia hanya diam mematung, membiarkan tangan kecil Vanya memukul dadanya berulang kali sampai tenaga gadis itu habis dengan sendirinya.

Akhirnya Vanya ambruk ke lantai, menangis tersedu-sedu hingga lututnya terasa lemas. Tubuhnya gemetar tak karuan karena guncangan emosi yang hebat.

Jay ikut berlutut di hadapannya, namun ia tidak memeluk. Ia tahu Vanya masih belum ingin menatapnya. Tangan pria itu pelan-pelan meraih bahu Vanya tanpa memaksanya untuk mendongak.

“Aku udah atur semuanya,” katanya pelan. Suaranya terdengar rendah tapi sangat meyakinkan.

Vanya membeku seketika dan perlahan menoleh ke arah Jay dengan tatapan basah.

“Sejak siang tadi, anak buahku sudah berjaga di sana. Ibumu dan adikmu aman. Mereka sudah dipindahkan ke safe house. Ada sepuluh orang bersenjata yang menjaga mereka selama 24 jam.”

Vanya masih menangis, namun isakannya mulai melambat. Ia menengadah menatap Jay dengan mata merah yang bengkak.

“Beneran?”

Jay mengangguk mantap. “Aku nggak pernah bohong soal nyawa orang.”

Vanya terdiam dan menunduk dalam. Tubuhnya sudah terlalu lemas. Ia hanya menangis pelan sesenggukan, sementara tangannya—tanpa Vanya sadari—mencengkeram kemeja pria itu dengan erat untuk menyalurkan rasa takutnya.

“Maaf,” bisik Vanya akhirnya dengan suara serak. “Aku benar-benar takut.”

Jay menepuk punggung gadis itu perlahan. Bukan sebuah pelukan, tapi sebuah gerakan menenangkan yang hampir tak pernah ia lakukan pada siapa pun, bahkan pada Vanya sebelumnya. “Aku tahu.”

Mereka terdiam dalam posisi itu selama beberapa menit, sampai napas Vanya mulai teratur kembali. Jay akhirnya bangkit berdiri, lalu mengangkat tubuh Vanya ke dalam gendongannya tanpa meminta izin.

Tubuh Vanya sempat menegang beberapa detik karena digendong secara tiba-tiba. Namun Vanya tidak protes karena ia sudah terlalu lelah untuk berjalan sendiri.

Jay membawa Vanya naik ke rooftop mansion dengan langkah pelan dan mantap.

Malam itu langit terlihat cerah, angin berhembus sepoi-sepoi, dan lampu kota berkelap-kelip indah di kejauhan. Di sana terdapat sofa panjang dan selimut tebal yang entah sejak kapan sudah disiapkan.

Ia mendudukkan Vanya di sofa tersebut, lalu mengambil selimut untuk menutupi tubuh gadis itu agar tidak kedinginan. Jay duduk di sebelahnya, memberi sedikit jarak namun cukup dekat jika Vanya membutuhkan sandaran.

Beberapa menit berlalu dalam keheningan. Hanya terdengar suara angin malam dan detak jantung mereka masing-masing. Tatapan Vanya kosong menatap langit. Pikirannya berputar tak menentu memikirkan setiap kejadian gila belakangan ini.

Vanya sering kali menolak kenyataan bahwa pria yang berada di sisinya saat ini adalah orang yang selalu membuatnya merasa aman. Padahal gadis itu tinggal bersama seorang Mafia kejam yang ditakuti banyak orang.

Vanya menelan ludah saat merasakan dadanya berdesir aneh. Akhirnya ia memberanikan diri untuk menoleh.

Matanya masih terlihat basah, namun sorotnya sudah jauh lebih tenang.

“Hei.”

“Ya?” jawab Jay singkat.

Vanya menunduk pelan. Ia baru sadar bahwa hari ini adalah pertama kalinya mereka bisa bicara lebih ringan dan akrab, terutama saat insiden pasta gagal tadi.

Jay menoleh menunggu kelanjutan ucapan Vanya. Gadis itu menghela napas panjang sebelum akhirnya bersuara.

“Sebenarnya aku harus memanggilmu apa, Tuan? Karena usia kamu jelas lebih tua dariku.”

“Panggil semaumu saja,” potong Jay cepat. “Aku nggak keberatan dengan panggilan apa pun.”

Vanya mengernyit kecil, lalu bibirnya menyunggingkan senyum jahil. “Bagaimana kalau Mas Jay?”

Alis Jay menukik tajam karena terkejut. Namun yang lebih mengejutkan lagi, Jay memulas senyum kecil di wajahnya. Ia terlihat seperti sedang terhibur.

“Lebih baik panggil nama aja.”

Vanya terkekeh pelan mendengar respon itu. Suasana kaku di antara mereka akhirnya mulai mencair.

“Oke kalau begitu. Jay, kenapa kamu baik banget sama aku?” tanyanya pelan namun serius.

Jay terdiam sesaat. Tatapannya beralih lurus ke langit malam yang gelap.

“Padahal adik kamu sendiri bisa sejahat itu sama aku,” lanjut Vanya dengan suara berbisik.

Vanya menatap profil wajah pria itu dalam-dalam, menunggu jawaban yang tak kunjung datang. Jay hanya menoleh sekilas, matanya gelap penuh dengan rahasia yang tersimpan rapat.

Jay akhirnya menghela napas pendek. Ia terlihat seperti sedang menyusun kata-kata dengan sangat hati-hati di kepalanya sebelum akhirnya berbicara.

“Jordan itu sebenarnya adik tiriku,” jawabnya datar tanpa ekspresi.

Vanya mengernyit karena terkejut mendengar fakta itu.

“Dan dia,” Jay memberi jeda beberapa detik sebelum melanjutkan kalimatnya. “Dia adalah anak dari selingkuhan Ayahku.”

Patuloy na basahin ang aklat na ito nang libre
I-scan ang code upang i-download ang App

Pinakabagong kabanata

  • Dimanja Tuan Mafia: Dia Memberiku Segalanya!   CHAPTER 08.

    Kedua mata Vanya membulat, terperangah tak menyangka. Lalu masih ada lanjutan di deretan isi pesan pop-up di layar ponsel itu.“Ibu dan adik Nona Vanya sudah diberi tahu secara halus soal ‘acara spesial’. Mereka aman di safe house, tapi mereka antusias. Perlu konfirmasi tanggal resmi? Atau langsung lanjut fitting gaun untuk Nona Vanya minggu depan? Menunggu instruksi, Bos.”Napas Vanya tertahan. Jari-jarinya yang masih gemetar hampir menjatuhkan ponsel itu. Acara spesial.Pernikahan.Keluarganya yang dilibatkan ....Vanya merasa dunia berputar pelan. Tangannya menutup mulut, tubuhnya gemetar saat kesadaran menghantam keras—ini bukan mimpi, melainkan rencana nyata yang sudah Jay susun rapi tanpa pernah meminta persetujuannya. Tanpa satu kata pun padanya.Suara air mandi tiba-tiba berhenti. Pintu kamar mandi terbuka dengan pelan. Jay keluar, hanya mengenakan handuk putih yang melilit pinggangnya. Rambut hitamnya masih basah, tetesan air mengalir di dada dan lengan berototnya. Matanya

  • Dimanja Tuan Mafia: Dia Memberiku Segalanya!   CHAPTER 07.

    Vanya masih merasakan degup jantung yang melompat-lompat, adrenalin yang ia rasakan masih terasa hingga sekarang. Bahkan rasa pusing di kepalanya masih ada. Hingga, ucapan Jay tadi masih mengudara dan belum ada respons dari Vanya.Vanya menggeleng pelan.”Nggak mungkin kamu belum pernah ngerasain.”Jay tertawa pahit. “Kamu pikir aku bohong?”“Kayaknya,” sahut Vanya enteng. “Kamu kan tampan, maskulin, badan kekar dan berotot. Aku yakin banyak cewek yang ngejar kamu. Meski …,” ada jeda sesaat, “ada kalanya kamu itu dingin dan menyeramkan.”Jay tertawa rendah sambil mengeratkan pelukannya pada Vanya. Kepala Vanya pun bersandar di dada telanjang pria itu.“Menyeramkan katamu?” Jay bedecak pelan. “Terserah, aku nggak peduli.”Vanya terdiam dan tak membalas ocehan Jay. Untuk pertama kali, pria ini lebih banyak bicara dari yang ia kira. Vanya menghela napas, rasa tak enak hati langsung menyergapnya karena sudah berbicara frontal terhadap Jay.“Aku nggak bermaksud buat kamu tersinggung, lho.”

  • Dimanja Tuan Mafia: Dia Memberiku Segalanya!   CHAPTER 06.

    Matanya menyipit, hasrat membara terlihat jelas. "Ini semua salahmu.” Vanya mengerang lagi, "J-Jay …?" Desahannya keluar tanpa kendali, tubuhnya panas seperti terbakar. "Kok jadi salah aku??" Suaranya manja campur gugup, tangannya mencengkram seprai untuk menahan sensasi yang membanjiri. Jay menghentikan gerakannya seketika, tubuhnya menegang. Ia mundur sedikit, menatap Vanya dengan mata yang masih gelap tapi terkendali. "Mau lanjut atau keluar sekarang," peringatnya datar, meski Vanya bisa melihat urat di lehernya berdenyut menahan hasrat. "Pilih," lanjutnya. Suaranya lebih rendah. Tubuh Vanya masih gemetar. Aura dominan Jay menekan, tapi entah kenapa, Vanya ingin bertahan—ingin merasakan bagaimana gelombang kenikmatan itu menerjangnya sepenuhnya. Beberapa detik hening, hanya napas mereka yang saling bertabrakan. Akhirnya, Vanya menangkup leher Jay dengan tangan gemetar, menariknya lebih dekat. "Aku mau lanjut," bisiknya tegas. Jay menyeringai tipis, mata gelapny

  • Dimanja Tuan Mafia: Dia Memberiku Segalanya!   CHAPTER 05.

    Vanya tersentak kecil karena terkejut mendengar kebenaran yang baru saja terlontar dari mulut Jay. Napasnya sempat tersendat selama beberapa detik. “Jadi, Jordan itu anak hasil perselingkuhan Ayahmu?” tanya Vanya pelan sambil berusaha mencerna setiap kata yang diucapkan Jay barusan. Jay mengangguk sekali. Matanya kembali ke langit malam, seperti cerita itu hanya fakta biasa. Vanya mengerjap beberapa detik. “Bagaimana dengan … Ibumu?” “Meninggal karena kanker saat aku berumur sepuluh.” Jawab Jay pendek. Vanya menatap wajah Jay lekat-lekat. Pria itu hanya menjawab singkat tanpa menoleh langsung pada Vanya. Vanya menelan ludah dengan berat. “Kalo … Ayahmu?” tanyanya ragu, tapi penasaran. Jay menghela napas pendek. “Dulu dia pulang bawa wanita penghibur, dan langsung melakukannya di kamar yang sekarang jadi kamarku.” Jay mengendikkan bahu. Vanya diam sejenak, mencoba mencerna. “Lalu … wanita itu?” “Overdosis.” Jawab Jay singkat. “Jordan dibawa masuk umur empat tahun.”

  • Dimanja Tuan Mafia: Dia Memberiku Segalanya!   CHAPTER 04.

    Sambungan telepon itu dimatikan dengan gerakan pelan. Jay meletakkan ponselnya di atas meja dapur, namun gerakannya terlihat terlalu tenang dan sangat terkendali. Justru ketenangan itulah yang membuat suasana mendadak terasa mencekam. Vanya yang tadinya mulai tersenyum kecil karena cerita ringan mereka, seketika membeku di tempat duduknya. Ia sangat mengenali perubahan ekspresi itu. Itu adalah wajah saat Jay kembali ke mode aslinya sebagai seorang bos mafia yang dingin. “Siapa yang menelepon?” tanya Vanya pelan, suaranya nyaris hilang tertelan ketakutan. Jay menatap manik mata Vanya cukup lama, seolah sedang menimbang kata-kata yang tepat. Akhirnya ia membuka suara dengan nada datar namun tegas. “Itu Jordan. Dia sedang mengumpulkan orang untuk menyerang ibumu dan adikmu di Kota B.” Dunia Vanya seolah langsung runtuh saat mendengar kalimat itu. Gadis itu butuh beberapa detik untuk mencerna perkataan Jay barusan sebelum rasa panik meledak di dadanya. “Ibu dan Adikku?” Suaranya pec

  • Dimanja Tuan Mafia: Dia Memberiku Segalanya!   CHAPTER 03.

    “Vanya, kamu lagi di mana Sayang? Aku kangen banget sama kamu.” Suara itu milik Jordan, mantan tunangan brengsek yang tega menjualnya sekaligus adik dari pria yang kini menjadi pemilik Vanya. Pria itu rupanya sedang mabuk berat dengan kondisi mata merah dan nanar. Namun anehnya, ia masih sanggup berdiri tegak meskipun langkah kakinya sempoyongan. Aroma alkohol menyengat tajam dan langsung menusuk indra penciuman Vanya. “Vanya, aku beneran kangen sama kamu.” Jordan mendekat dengan gerakan cepat. Tangannya langsung mencengkeram lengan dan bahu Vanya dengan sangat kasar. Tawa pria itu terdengar begitu muak di telinga Vanya. “Kamu kan masih milikku, jadi aku mau ambil kamu balik sekarang juga!” Vanya mundur perlahan dengan wajah pucat pasi. “Jordan, jangan mendekat ke sini!” “Apa maksud kamu?” Jordan tersenyum miring dengan licik. “Aku kan masih tunangan kamu.” Jemari pria itu mencengkeram dagu Vanya dengan keras dan memaksa wajah gadis itu untuk menengadah. Tubuh Vanya se

Higit pang Kabanata
Galugarin at basahin ang magagandang nobela
Libreng basahin ang magagandang nobela sa GoodNovel app. I-download ang mga librong gusto mo at basahin kahit saan at anumang oras.
Libreng basahin ang mga aklat sa app
I-scan ang code para mabasa sa App
DMCA.com Protection Status