Share

CHAPTER 02.

Penulis: Amaleo
last update Tanggal publikasi: 2026-01-09 16:45:17

Vanya masih terikat di tiang ranjang, tubuhnya gemetar saat Jay Russell berdiri di depan tempat tidur. Sorot matanya seperti sedang menilai aset baru.

Jay berjalan perlahan ke meja samping, menuang air mineral ke gelas kristal, lalu meletakkannya di nakas dekat Vanya—cukup dekat untuk dijangkau, tapi ikatan tangannya belum dilepas.

Matanya menunduk menatap lantai. “Adikku yang nggak berguna itu datang tengah malam,” ucap Jay datar, suaranya seperti sedang membaca laporan keuangan.

“Mabuk berat. Menawarkan ‘sesuatu yang berharga’ sebagai jaminan tambahan,” ujarnya pelan. Lalu, Jay menoleh ke wajah Vanya. Mata tajamnya bertemu mata Vanya yang masih terikat tak berdaya.

“Jujur, aku awalnya menolak. Karena aku nggak suka barang bekas.”

Vanya menatapnya tajam, dada naik-turun.

“Tapi, dia menunjukkan foto-fotomu,” lanjut Jay, matanya tak berkedip. “Saat candid. Saat berpakaian seksi, dan saat kamu menggunakan tank top putih. Benar-benar mengagumkan menurutku!”

Bulu kuduk Vanya meremang ketika kata-kata itu dilontarkan dari mulut Jay dengan dingin. Tak ada ekspresi tertarik sama sekali—seperti semua hal itu sudah biasa baginya.

“Well, aku tertarik. Jadi, aku ambil kamu,” ujarnya datar. “Kalau aku puas, utangnya lunas. Kalau tidak ...," Jay mengendik santai, “dia mati, dan kamu tetap di sini sampai aku bosan."

Air mata Vanya langsung mengalir. Bukan jeritan histeris, tapi hancur perlahan. “Jordan … kurang ajar! Dasar pengkhianat!”

Napas Vanya tersendat. “Selama ini aku percaya dia. Kemarin aku baru lulus, kami rencanakan nikah, bulan madu ….” Vanya menangis sesenggukan.

“A-aku, aku kira dia serius dengan hubungan ini.”

Jay diam, mendengarkan tanpa ekspresi. Tapi sesaat, matanya seperti melunak—hampir tak terlihat. Ia mendekat, satu gerakan tangan, ikatan kain halus itu terlepas. Vanya refleks memegang pergelangan tangannya yang memerah.

“Aku nggak suka barangku rusak sebelum dipakai,” kata Jay dingin.

Vanya mengernyit bingung, baru sadar—maksudnya luka dari Jordan malam tadi.

Jay memerintahkan, “Bangun. Ikut aku.”

Aura dominannya membuat Vanya patuh karena takut.

Lantas, mereka keluar kamar—koridor panjang berlantai marmer hitam, lukisan mahal di dinding, penjaga bersenjata diam di sudut. Sekilas Vanya melihat ruang kerja Jay—tumpukan uang cash, senjata di rak kaca, monitor CCTV puluhan layar.

Mereka sampai di ruang makan yang luas. Meja panjang sudah tersaji sarapan lengkap. Roti panggang, telur, daging asap, buah potong, segelas, air, dan segelas jus jeruk.

"Makanlah. Kamu kurus, nggak berguna kalau lemah.” Kata Jay tajam.

Vanya tersentak kecil dan ingin menolak, tapi perutnya keroncongan keras. Akhirnya ia makan sedikit, diam. Jay duduk di ujung meja, membaca tablet seperti bos biasa.

Vanya mengunyah makanannya, tapi matanya tetap fokus pada sosok pria di depannya. Vanya berdehem dan meminum air agar ia bisa menelan makanannya dengan mudah.

Vanya mulai mengumpulkan keberanian untuk bertanya, meski suaranya sedikit bergetar.

“K-Kenapa kamu mau bayar mahal untuk ini?” tanya Vanya pelan.

Jay menatapnya lama, seperti sedang menimbang apa yang akan ia katakan.

“Aku udah lama nggak bisa merasakan apa pun.” Jay menghela napas singkat.

“Ratusan wanita datang dan pergi. Tapi nggak ada yang berhasil,” ada jeda beberapa detik. “Jordan bilang kamu … spesial, ada sesuatu dalam dirimu, tapi nggak dimiliki kebanyakan wanita lain.”

Jay tersenyum miring kecil—dingin, tapi ada kilatan lembut di matanya. “Lulusan akuntansi, IPK tertinggi. Aku sudah cari informasi semua tentangmu.”

Ia mencondongkan tubuh sedikit. “Perusahaanku berkembang. Aku butuh orang yang bisa pegang keuangan internal—nggak pake banyak tanya, dan nggak boleh salah. Kalau kamu mampu, posisinya milikmu. Kalau nggak … aku cari orang lain.”

Otak Vanya tentu ingin menolak. Tapi logikanya—yang selama ini ia banggakan—justru mulai menghitung kemungkinan.

Gaji.

Keuntungan.

Kemewahan.

Tapi itu juga berarti ia harus siap berada di ranah dunia yang gelap jika ia menyetujui tawaran Jay.

Tak lama Jay bangkit. Mendekat ke kursi Vanya. Tubuh Vanya gemetar. Jantungnya berdegup tak beraturan. Kedua tangannya mencengkram sisi meja makan hingga buku-buku jari memutih.

Otot rahang Jay mengeras. Vanya menggeleng panik.

‘Ng—Nggak! Nggak mungkin! Dia bakal … pukul aku …?’ Gumamnya dalam hati—panik.

Vanya sontak menutup mata, menunggu rasa sakit yang akan datang.

‘Ya Tuhan …. Dia beneran mau mukul aku?!’ batinnya lagi meronta.

Tapi—

Yang Vanya rasakan justru … sentuhan hangat di rambutnya, seperti menenangkan peliharaannya yang sedang ketakutan.

Vanya membuka mata, mengerjap kaget. Lalu perlahan, dia menengadah ke sosok Jay di dekatnya.

Wajah datarnya benar-benar sulit dipercaya. Tubuh Vanya kaku. Gadis itu kesulitan membaca isi pikiran orang ini.

Tampan? Iya Vanya akui itu.

Tapi wajah datarnya itu. Ugh!

“Nggak usah takut,” ucapnya rendah. “Aku nggak bakal maksa kamu kayak binatang.”

Vanya membeku seketika.

“Hah?”

***

Waktu demi waktu berjalan di Mansion Jay. Hari pertama berlalu dalam ketakutan setengah mati. Namun perlahan, ketakutan mulai bergeser jadi kebingungan.

Vanya tak lagi seperti tahanan, justru diberi kamar mewah sendiri, lemari penuh pakaian branded, bahkan makanan tiga kali sehari tepat waktu.

Vanya juga kini punya ruang kerja pribadi. Itu pun Jay mulai beri tugas kecil, cek laporan keuangan rumah tangga mansion. Vanya merasa berguna, meski masih di sangkar emas.

Sampai di bulan ke-empat itu ….

Suatu malam saat hujan deras, Jay pulang lebih larut dari biasanya. Tubuh basah kuyup, darah segar menetes dari luka tusuk di bahu. Ia ambruk di sofa ruang keluarga, napas berat, tapi tetap diam. Pria itu bahkan tak meminta tolong.

Vanya yang tak bisa tidur karena hujan badai, turun ke bawah. Melihat Jay, ia panik tapi langsung ambil kotak P3K.

“Jangan bergerak, Tuan.” Kata Vanya tegas, suara bergetar tapi tangannya stabil.

Jay menatapnya lelah. “Pergi aja. Kenapa repot-repot? Kamu bisa tidur sekarang.”

“Kalau aku pergi, Tuan mati kehabisan darah,” balas Vanya, sudah membuka kemeja Jay untuk bersihkan luka. “Tolong diam.”

Untuk pertama kalinya, Jay tak melawan. Ia biarkan Vanya membersihkan, jahit luka dengan benang steril. Diam-diam Vanya belajar dari video tutorial di internet.

Tangan Vanya yang masih kaku membalut luka Jay dengan rapi. Sepanjang proses, Jay tatap wajah Vanya. Kali ini bukan seperti barang, tapi seperti … manusia.

Saat selesai, Vanya duduk di lantai karena lelah. Jay masih terpaku di sana. “Kenapa kamu lakuin ini?” tanyanya pelan.

Vanya menatap balik. “Karena Tuan nggak pernah bikin aku sakit. Jadi, biarkan aku menolong Tuan.”

Jay diam lama. Hingga akhirnya, Jay mengangkat satu tangannya dan membelai rambut Vanya lembut. Lalu suaranya hampir berbisik. “Kamu satu-satunya yang nggak lari saat melihat darah di tubuhku.”

Jay menarik tangannya dari puncak kepala Vanya dan menatap lurus ke depan. Sorot mata kembali dingin. “Sekarang, tidurlah. Ini sudah malam.”

Vanya menatap Jay lama sebelum akhirnya gadis itu menurut sambil bangkit dari lantai dan berjalan ke lantai atas dengan membawa kotak P3K-nya.

Momen itu … menjadi sesuatu di antara mereka. Sejak itu, entah kenapa Jay mulai pulang lebih sering.

Vanya pun mulai memasak makanan sederhana di dapur, dan Jay selalu memakannya hingga habis tanpa tersisa. Percakapan pendek jadi lebih sedikit panjang. Tatapan dingin mulai sedikit hangat saat sendirian.

Enam bulan berlalu.

Rutinitas mereka terbentuk. Jay masihlah mafia paling ditakuti—kebal hukum, tak tersentuh. Tapi di mansion, Jay berbeda. Dan Vanya mulai melihat pria itu bukan lagi monster, tapi manusia yang terlihat kesepian selama Vanya melihatnya.

Suatu hari, Vanya meminta izin ke apartemen lamanya untuk mengambil pakaian tersisa di sana. Jay mengizinkan, tapi meminta dia ditemani pengawal.

Vanya menolak halus, “Aku pengen sendiri. Sebentar saja.”

Jay menghela napas pendek, terlihat menimbang-nimbang sebelum akhirnya mengangguk dingin.

“Ya sudah, jangan lama-lama.”

Setelah perjalanannya dengan menggunakan taksi online. Vanya melangkah dengan kakinya yang ringan sambil masuk ke apartemen kecilnya. Dan di apartemen kecil itu, Vanya sedang mengemas baju dan pritilan lainnya.

Lalu, tiba-tiba—

BRAK!

Pintu masuk terbuka keras. Suara serak pria yang sangat Vanya kenal. “Vanya … kamu di mana, Sayang?? Aku kangen ….”

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Dimanja Tuan Mafia: Dia Memberiku Segalanya!   CHAPTER 93.

    Vanya beserta Ibu dan adiknya berjalan mengitari setiap lantai di mal besar. Ia tanpa ragu membayar setiap belanjaan pakaian yang menurutnya menarik perhatiannya demi menghibur dirinya sendiri tanpa melihat harga. Semua itu berkat kartu kredit milik Jay yang masih ada di tangannya. Meski begitu, setiap gesekan kartu itu mengingatkannya—bahwa bahkan kebebasan kecil ini pun masih berasal dari pria yang mengikatnya. Perasaan yang sejak tadi berkecamuk akhirnya mereda perlahan, karena perhatiannya teralihkan pada aktivitas yang selama ini sangat jarang untuk dilakukan selama masih di bangku kuliah. Bahkan, selama ia masih bersama Jordan, ia hanya pergi kencan beberapa kali dalam sebulan. Di salah satu toko pakaian, ada sebuah gaun menarik perhatiannya hingga Vanya melirik sekilas. Gaun itu berwarna pastel lembut dengan desain sederhana, dihiasi detail brokat berlipat yang memberi kesan anggun tanpa berlebihan. Kontras dengan gaun-gaun yang selama ini memenuhi lemarinya di mansion Jay—

  • Dimanja Tuan Mafia: Dia Memberiku Segalanya!   CHAPTER 92.

    Vanya membeku saat ia membaca isi pesan singkat suaminya. Tanpa sadar, tangannya yang menggenggam ponselnya mengerat hingga buku-buku jari memutih. Campuran kesal sekaligus muak mengendap di dadanya. Betapa tidak, pria itu masih saja mengontrolnya dari jarak jauh meski keberadaannya sudah tidak ada. Tapi bayang-bayang pria dingin yang tak tahu cara bagaimana berekspresi masih hadir di kepalanya. “Sialan,” gumam Vanya mengumpat pelan. Varsha yang duduk di tengah di antara dirinya dan ibunya langsung menoleh cepat, sebelum menutup kedua telinganya dengan tangan kecilnya. Suaranya terdengar pelan, namun sarat protes dan kekesalan yang begitu jelas. “Kak, ngomongnya jangan kasar.” Vanya tersentak dan menoleh cepat pada adiknya sebelum akhirnya ia merengkuh tubuh kecilnya dan mencium puncak kepalanya. Tangan satunya memasukkan ponselnya ke dalam tas kecilnya. “Maafin Kakak ya. Kakak nggak sengaja ngomong kasar.” Varsha hanya mengerucut bibirnya dan menjawab. “Nanti beliin aku es kri

  • Dimanja Tuan Mafia: Dia Memberiku Segalanya!   CHAPTER 91.

    Violet menatap putrinya lama sekali sebelum ia tersenyum kecil sambil mengangguk pelan. “Baik. Ibu ikut.” Varsha bertepuk tangan kecil. “Jalan-jalan! Aku mau beli es krim!” Vanya tertawa kecil dan memeluk adiknya lagi. “Kalau begitu, aku pakai baju dulu.” Violet mengangguk. “Ibu akan siap-siap bareng Varsha.” Vanya berbalik menuju kamar utama dengan langkah cepat. Di dalam kamar, ia membuka lemari besar dan memilih dress sederhana berwarna krem panjang selutut, cardigan tipis, dan flat shoes yang nyaman. Rambutnya ia keringkan cepat dan diikat ponytail tinggi. Sebelum keluar, ia menatap cermin sekali lagi. Ia memandang wajahnya dengan tajam dan penuh keyakinan. Dibenaknya ia terus meyakinkan diri sendiri, bahwa ia bisa hidup tanpa suaminya yang selalu mengatur hidupnya. Lantas Vanya mengambil tas kecil dan memasukkan Black Card ke dalamnya, lalu keluar kamar. Di koridor, ia bertemu Violet dan Varsha yang sudah siap. Varsha memegang tangan ibunya dengan wajah yang cerah. “Kak

  • Dimanja Tuan Mafia: Dia Memberiku Segalanya!   CHAPTER 90.

    Jay menatap telapak tangan itu lama sekali. Rahangnya mengeras tipis, matanya menyipit.“Kamu mau kemana memang?” tanyanya rendah, nada suaranya datar tapi ada tekanan halus di dalamnya.Vanya mengangkat dagu sedikit. Matanya tidak berkedip.“Kamu nggak perlu tahu.”Kata-kata itu keluar pelan, tapi menusuk. Sebuah cerminan yang nyaris sempurna dari apa yang selama ini selalu Jay ucapkan setiap kali Vanya mencoba menyinggung soal ‘urusan kerjaan’-nya.Jay terdiam. Matanya semakin gelap.“Vanya.”Vanya melipat tangan di dada, bibirnya mengerucut tipis. “Kenapa? Mau marah?”Jay tidak menjawab langsung. Ia hanya menatap Vanya dengan tatapan yang sulit dibaca—campuran antara dingin, lelah, dan sesuatu yang lebih dalam yang jarang ia tunjukkan.Vanya melanjutkan, suaranya lebih tajam tapi tetap terkendali.“Itu yang selalu kamu bilang tiap aku tanya. ‘Nggak usah tahu detailnya sekarang’. ‘Ini urusan

  • Dimanja Tuan Mafia: Dia Memberiku Segalanya!   CHAPTER 89.

    Mata Violet sedikit melebar dan mengangguk cepat. “Ibu ikut.” Varsha memeluk ibunya erat. “Aku juga mau ikut cari Kak Vanya.” Jay tidak melarang. Ia berjalan lebih cepat, langkahnya tetap tenang tapi ada urgensi yang tidak bisa disembunyikan lagi. Mereka bertiga sampai di pintu ruang membaca. Lampu di dalam redup, hanya menyala dari lampu baca kecil di sudut. Jay mendorong pintu pelan. Dan benar, Vanya ada di sana. Ia meringkuk di sofa panjang berwarna krem, selimut tipis menutupi tubuhnya hingga bahu. Rambutnya tergerai di bantal, tangannya memeluk buku tebal yang terbuka di pangkuannya. Matanya tertutup rapat, napasnya teratur—tertidur lelap. Di depannya ada nampan kosong: sisa muffin cokelat dan stroberi yang sudah dimakan separuh, segelas susu hangat yang tinggal setengah. Violet menutup mulutnya dengan tangan. “Ternyata Vanya disini.” Varsha langsung berlari kecil dan memeluk kaki Vanya sambil berbisik, “Kak Vanya .…” Jay berdiri di ambang pintu, tidak berge

  • Dimanja Tuan Mafia: Dia Memberiku Segalanya!   CHAPTER 88.

    Malam sudah larut di kediaman utama Silvia Russell. Ruang kerja pribadinya terasa lebih dingin dari biasanya, hanya diterangi lampu meja kuning redup. Silvia duduk tegak di kursi kulit hitam besar, jari-jarinya bertaut di atas meja. Di depannya, layar monitor besar menampilkan panggilan video dari tim yang baru kembali dari misi pulau pribadi Jay. Wajah mereka pucat, keringat masih menempel di dahi meski sudah berada di daratan. Bianca Moretti berdiri di samping meja, tangan disilangkan di dada. Matanya dingin, tapi ada kilatan amarah yang tersembunyi. Pria di layar, komandan tim menelan ludah sebelum bicara. “Nyonya Silvia, kami gagal total menyusup ke pulau. Perimeter dijaga sistem otomatis tingkat tinggi: pelat baja anti-peluru di semua jendela, drone patroli 24 jam, sensor gerak di seluruh garis pantai, jammer sinyal yang memblokir hampir semua komunikasi.” Napas pria itu sedikit tercekat. “Dari satelit sipil, pulau itu bahkan tidak terdeteksi sebagai wilayah berpengh

  • Dimanja Tuan Mafia: Dia Memberiku Segalanya!   CHAPTER 05.

    Vanya tersentak kecil karena terkejut mendengar kebenaran yang baru saja terlontar dari mulut Jay. Napasnya sempat tersendat selama beberapa detik. “Jadi, Jordan itu anak hasil perselingkuhan Ayahmu?” tanya Vanya pelan sambil berusaha mencerna setiap kata yang diucapkan Jay barusan. Jay mengangg

  • Dimanja Tuan Mafia: Dia Memberiku Segalanya!   CHAPTER 04.

    Sambungan telepon itu dimatikan dengan gerakan pelan. Jay meletakkan ponselnya di atas meja dapur, namun gerakannya terlihat terlalu tenang dan sangat terkendali. Justru ketenangan itulah yang membuat suasana mendadak terasa mencekam. Vanya yang tadinya mulai tersenyum kecil karena cerita ringan m

  • Dimanja Tuan Mafia: Dia Memberiku Segalanya!   CHAPTER 03.

    “Vanya, kamu lagi di mana Sayang? Aku kangen banget sama kamu.” Suara itu milik Jordan, mantan tunangan brengsek yang tega menjualnya sekaligus adik dari pria yang kini menjadi pemilik Vanya. Pria itu rupanya sedang mabuk berat dengan kondisi mata merah dan nanar. Namun anehnya, ia masih sanggu

  • Dimanja Tuan Mafia: Dia Memberiku Segalanya!   CHAPTER 01.

    TOK, TOK, TOK! Pukul 21:00, ketukan pintu apartemen kecil Vanya terdengar keras, seperti orang marah. Vanya baru selesai mandi dan sudah mengenakan gaun tidur tipis. Gadis itu buru-buru buka pintu. “Jordan?” katanya kaget. “Van, aku butuh duit. Banyak. Sekarang juga.” Vanya mengerutkan kenin

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status