MasukKedua mata Vanya membulat, terperangah tak menyangka. Lalu masih ada lanjutan di deretan isi pesan pop-up di layar ponsel itu.“Ibu dan adik Nona Vanya sudah diberi tahu secara halus soal ‘acara spesial’. Mereka aman di safe house, tapi mereka antusias. Perlu konfirmasi tanggal resmi? Atau langsung lanjut fitting gaun untuk Nona Vanya minggu depan? Menunggu instruksi, Bos.”Napas Vanya tertahan. Jari-jarinya yang masih gemetar hampir menjatuhkan ponsel itu. Acara spesial.Pernikahan.Keluarganya yang dilibatkan ....Vanya merasa dunia berputar pelan. Tangannya menutup mulut, tubuhnya gemetar saat kesadaran menghantam keras—ini bukan mimpi, melainkan rencana nyata yang sudah Jay susun rapi tanpa pernah meminta persetujuannya. Tanpa satu kata pun padanya.Suara air mandi tiba-tiba berhenti. Pintu kamar mandi terbuka dengan pelan. Jay keluar, hanya mengenakan handuk putih yang melilit pinggangnya. Rambut hitamnya masih basah, tetesan air mengalir di dada dan lengan berototnya. Matanya
Vanya masih merasakan degup jantung yang melompat-lompat, adrenalin yang ia rasakan masih terasa hingga sekarang. Bahkan rasa pusing di kepalanya masih ada. Hingga, ucapan Jay tadi masih mengudara dan belum ada respons dari Vanya.Vanya menggeleng pelan.”Nggak mungkin kamu belum pernah ngerasain.”Jay tertawa pahit. “Kamu pikir aku bohong?”“Kayaknya,” sahut Vanya enteng. “Kamu kan tampan, maskulin, badan kekar dan berotot. Aku yakin banyak cewek yang ngejar kamu. Meski …,” ada jeda sesaat, “ada kalanya kamu itu dingin dan menyeramkan.”Jay tertawa rendah sambil mengeratkan pelukannya pada Vanya. Kepala Vanya pun bersandar di dada telanjang pria itu.“Menyeramkan katamu?” Jay bedecak pelan. “Terserah, aku nggak peduli.”Vanya terdiam dan tak membalas ocehan Jay. Untuk pertama kali, pria ini lebih banyak bicara dari yang ia kira. Vanya menghela napas, rasa tak enak hati langsung menyergapnya karena sudah berbicara frontal terhadap Jay.“Aku nggak bermaksud buat kamu tersinggung, lho.”
Matanya menyipit, hasrat membara terlihat jelas. "Ini semua salahmu.” Vanya mengerang lagi, "J-Jay …?" Desahannya keluar tanpa kendali, tubuhnya panas seperti terbakar. "Kok jadi salah aku??" Suaranya manja campur gugup, tangannya mencengkram seprai untuk menahan sensasi yang membanjiri. Jay menghentikan gerakannya seketika, tubuhnya menegang. Ia mundur sedikit, menatap Vanya dengan mata yang masih gelap tapi terkendali. "Mau lanjut atau keluar sekarang," peringatnya datar, meski Vanya bisa melihat urat di lehernya berdenyut menahan hasrat. "Pilih," lanjutnya. Suaranya lebih rendah. Tubuh Vanya masih gemetar. Aura dominan Jay menekan, tapi entah kenapa, Vanya ingin bertahan—ingin merasakan bagaimana gelombang kenikmatan itu menerjangnya sepenuhnya. Beberapa detik hening, hanya napas mereka yang saling bertabrakan. Akhirnya, Vanya menangkup leher Jay dengan tangan gemetar, menariknya lebih dekat. "Aku mau lanjut," bisiknya tegas. Jay menyeringai tipis, mata gelapny
Vanya tersentak kecil karena terkejut mendengar kebenaran yang baru saja terlontar dari mulut Jay. Napasnya sempat tersendat selama beberapa detik. “Jadi, Jordan itu anak hasil perselingkuhan Ayahmu?” tanya Vanya pelan sambil berusaha mencerna setiap kata yang diucapkan Jay barusan. Jay mengangguk sekali. Matanya kembali ke langit malam, seperti cerita itu hanya fakta biasa. Vanya mengerjap beberapa detik. “Bagaimana dengan … Ibumu?” “Meninggal karena kanker saat aku berumur sepuluh.” Jawab Jay pendek. Vanya menatap wajah Jay lekat-lekat. Pria itu hanya menjawab singkat tanpa menoleh langsung pada Vanya. Vanya menelan ludah dengan berat. “Kalo … Ayahmu?” tanyanya ragu, tapi penasaran. Jay menghela napas pendek. “Dulu dia pulang bawa wanita penghibur, dan langsung melakukannya di kamar yang sekarang jadi kamarku.” Jay mengendikkan bahu. Vanya diam sejenak, mencoba mencerna. “Lalu … wanita itu?” “Overdosis.” Jawab Jay singkat. “Jordan dibawa masuk umur empat tahun.”
Sambungan telepon itu dimatikan dengan gerakan pelan. Jay meletakkan ponselnya di atas meja dapur, namun gerakannya terlihat terlalu tenang dan sangat terkendali. Justru ketenangan itulah yang membuat suasana mendadak terasa mencekam. Vanya yang tadinya mulai tersenyum kecil karena cerita ringan mereka, seketika membeku di tempat duduknya. Ia sangat mengenali perubahan ekspresi itu. Itu adalah wajah saat Jay kembali ke mode aslinya sebagai seorang bos mafia yang dingin. “Siapa yang menelepon?” tanya Vanya pelan, suaranya nyaris hilang tertelan ketakutan. Jay menatap manik mata Vanya cukup lama, seolah sedang menimbang kata-kata yang tepat. Akhirnya ia membuka suara dengan nada datar namun tegas. “Itu Jordan. Dia sedang mengumpulkan orang untuk menyerang ibumu dan adikmu di Kota B.” Dunia Vanya seolah langsung runtuh saat mendengar kalimat itu. Gadis itu butuh beberapa detik untuk mencerna perkataan Jay barusan sebelum rasa panik meledak di dadanya. “Ibu dan Adikku?” Suaranya pec
“Vanya, kamu lagi di mana Sayang? Aku kangen banget sama kamu.” Suara itu milik Jordan, mantan tunangan brengsek yang tega menjualnya sekaligus adik dari pria yang kini menjadi pemilik Vanya. Pria itu rupanya sedang mabuk berat dengan kondisi mata merah dan nanar. Namun anehnya, ia masih sanggup berdiri tegak meskipun langkah kakinya sempoyongan. Aroma alkohol menyengat tajam dan langsung menusuk indra penciuman Vanya. “Vanya, aku beneran kangen sama kamu.” Jordan mendekat dengan gerakan cepat. Tangannya langsung mencengkeram lengan dan bahu Vanya dengan sangat kasar. Tawa pria itu terdengar begitu muak di telinga Vanya. “Kamu kan masih milikku, jadi aku mau ambil kamu balik sekarang juga!” Vanya mundur perlahan dengan wajah pucat pasi. “Jordan, jangan mendekat ke sini!” “Apa maksud kamu?” Jordan tersenyum miring dengan licik. “Aku kan masih tunangan kamu.” Jemari pria itu mencengkeram dagu Vanya dengan keras dan memaksa wajah gadis itu untuk menengadah. Tubuh Vanya se







