LOGINVanya tersentak kecil karena terkejut mendengar kebenaran yang baru saja terlontar dari mulut Jay. Napasnya sempat tersendat selama beberapa detik.
“Jadi, Jordan itu anak hasil perselingkuhan Ayahmu?” tanya Vanya pelan sambil berusaha mencerna setiap kata yang diucapkan Jay barusan. Jay mengangguk sekali. Matanya kembali ke langit malam, seperti cerita itu hanya fakta biasa. Vanya mengerjap beberapa detik. “Bagaimana dengan … Ibumu?” “Meninggal karena kanker saat aku berumur sepuluh.” Jawab Jay pendek. Vanya menatap wajah Jay lekat-lekat. Pria itu hanya menjawab singkat tanpa menoleh langsung pada Vanya. Vanya menelan ludah dengan berat. “Kalo … Ayahmu?” tanyanya ragu, tapi penasaran. Jay menghela napas pendek. “Dulu dia pulang bawa wanita penghibur, dan langsung melakukannya di kamar yang sekarang jadi kamarku.” Jay mengendikkan bahu. Vanya diam sejenak, mencoba mencerna. “Lalu … wanita itu?” “Overdosis.” Jawab Jay singkat. “Jordan dibawa masuk umur empat tahun.” Vanya menatap wajahnya yang tegas. “Kamu … nggak marah sama ayahmu?” Jay diam lama. Angin malam berhembus lagi, membawa hawa dingin. Akhirnya ia menjawab tanpa menoleh. “Buat apa marah?” Vanya menggigit bibir bawah. “Kamu ... nggak sedih ceritain ini semua?” Jay akhirnya menoleh. Matanya datar, tanpa emosi. “Sedih nggak ubah apa-apa.” Sudut bibirnya terangkat tipis, bukan sebuah senyum tulus, melainkan ekspresi seperti sedang menghibur anak kecil yang terlalu polos. “Jangan kaget. Pria mendambakan harta, takhta, wanita. Aku juga pria, kau tahu itu.” Vanya menggeleng pelan, suaranya terdengar hampir berbisik. “Tapi aku ngerasa kamu … berbeda Jay.” Tepat saat kata-kata itu keluar, angin malam tiba-tiba berhembus lebih kencang dari sebelumnya. Aroma keringat Vanya yang tadi bercampur emosi perlahan menguap dan berubah menjadi wangi lembut yang manis, mirip seperti bunga yang baru mekar setelah hujan turun. Aroma itu terbawa angin dan langsung menusuk indra penciuman Jay. Jay seketika membeku di tempatnya. Napasnya mendadak terasa berat. Matanya menggelap dalam sekejap, seolah ada sesuatu yang bangkit di dalam dadanya. Sesuatu yang selama ini tertidur lelap setelah sekian lama. Vanya mengerjap bingung. Ia menatap Jay dengan heran karena perubahan mimik wajah pria itu yang sangat mendadak. “Jay? Kamu kenapa?” Jay tidak menjawab pertanyaan itu. Ia justru mendekat perlahan hingga hidungnya hampir menyentuh leher Vanya. Ia hanya menghirup aroma itu dalam-dalam secara berulang. Benar saja, aroma manis itu tercium semakin kuat seperti madu yang meleleh. Hal itu membuat kepala Jay terasa pusing ringan dan tubuhnya mendadak panas. Tubuh Vanya menegang seketika. Napasnya tertahan selama beberapa detik. Ia bisa merasakan degup jantungnya berpacu kencang. Suasana di antara mereka entah kenapa berubah drastis sejak Jay bertindak aneh seperti sekarang. “Kamu bilang aku berbeda?” gumamnya rendah. Suaranya terdengar serak karena menahan sesuatu. “Apa kamu nggak takut sama aku?” Vanya terkejut hingga tubuhnya kaku. Jantungnya berdegup semakin kencang. “Maksud kamu apa Jay?” “Jawab saja pertanyaanku,” potong Jay datar. Nada bicaranya terdengar lebih seperti perintah mutlak yang tak bisa ditolak. Vanya menelan ludah dengan susah payah. Matanya tak lepas dari tatapan Jay yang kini begitu gelap dan berada sangat dekat dengan wajahnya. “Bukannya aku nggak takut,” jawabnya pelan. Mata Vanya menunduk karena entah kenapa ia tak sanggup menatap Jay terlalu lama. Ia kembali bersuara dengan nada gemetar karena gugup, lalu perlahan menyunggingkan senyum simpul yang manis. “Tapi aku ngerasa bisa percaya sama kamu.” Jay membeku total mendengar pengakuan itu. Beberapa detik berlalu dalam keheningan. Hanya suara angin dan detak jantung mereka yang saling bersahutan di tengah malam itu. Lalu dengan gerakan sangat pelan, Jay mendekatkan bibirnya ke pipi Vanya. Itu adalah ciuman ringan, hangat, dan terasa sangat lembut. Hanya sebuah sentuhan tipis. Vanya terkejut kecil dan tubuhnya kembali gemetar. Bibir Jay berpindah perlahan ke leher jenjang Vanya. Ia menyapu kontur kulit gadis itu dengan kelembutan yang tak pernah Vanya bayangkan bisa dilakukan oleh pria setegas Jay. Sentuhan itu terasa seperti sedang menghormati, bukan mengontrol apalagi menuntut. Vanya menggeliat kecil karena sensasi itu. “Mmhh …. Kamu kenapa tiba-tiba begini?” Desahan pelan keluar tanpa sadar dari bibir Vanya. Tubuhnya bereaksi sendiri di luar kendalinya. Jay langsung memundurkan wajahnya sedikit untuk menatap mata Vanya dalam-dalam. Mata tajamnya kini penuh dengan pertanyaan tanpa kata. Napasnya tertahan dan rahangnya mengeras. Ia masih berusaha keras mengendalikan diri meski hasrat sudah membakar tubuhnya. Vanya membalas tatapan itu cukup lama. Lalu, senyum kecil yang tulus muncul di bibirnya. Tangan kecilnya naik perlahan untuk meraih pipi Jay yang tegas. Dengan keberanian yang entah datang dari mana, Vanya mendekatkan wajahnya lebih dulu dan mencium bibir Jay dengan lembut. Ciuman itu pelan dan penuh keraguan, namun pasti. Jay terkejut sesaat, namun itu tidak berlangsung lama. Tangannya perlahan melingkar di pinggang Vanya, lalu menarik gadis itu agar lebih dekat dengan gerakan tegas. Posisi Vanya kini berubah menjadi duduk di pangkuan Jay, sementara selimut tebal tadi jatuh begitu saja ke lantai. Ciuman itu berlangsung cukup lama. Awalnya terasa lembut seperti proses saling mengenal, namun perlahan berubah menjadi lebih dalam dan lapar. Lidah Jay menggoda lidah Vanya dengan sabar, dan Vanya pun membalas pagutan itu. Untuk pertama kalinya, Vanya merasa punya kuasa dalam sentuhan ini. Jay menggigit bibir bawah Vanya dengan sedikit tekanan, cukup untuk membuat Vanya mengerang pelan di dalam mulutnya. “Mmh.” Sensasi suara itu membuat Jay kehilangan sisa kendali dirinya. Dengan satu gerakan mantap, ia menggendong Vanya dalam posisi berhadapan. Tangannya menopang tubuh gadis itu dengan kuat namun tidak menyakitkan. “Ah! Jay!” Vanya menjerit kecil karena kaget. Tangannya secara refleks melingkar erat di leher Jay. “Kunci kakimu di pinggangku,” bisik Jay dengan suara serak di telinga Vanya. Suaranya bergetar hebat menahan hasrat. Vanya mematuhi perintah itu. Kakinya mengunci pinggang pria itu dengan erat. Detik itu juga matanya melebar saat merasakan jantung Jay berdegup sangat cepat di dadanya. Jay melangkah turun dari rooftop. Langkah kakinya terdengar mantap namun sunyi saat menyusuri koridor panjang menuju kamar utama. “Kita pindah ke kamar.” "Ahh …!" Vanya menjerit kecil saat tubuhnya mendarat di ranjang king-size kamar utama Jay. Matras empuk menahan bobotnya, tapi jantungnya berdegup kencang seperti mau loncat keluar. Jay menatapnya dari atas, mata gelapnya penuh hasrat yang terkendali, tapi Vanya bisa merasakan panasnya. Seperti api yang siap meledak. Jay mendekat pelan, tangannya menyentuh pipi Vanya dengan lembut sebelum turun ke leher, dada, dan pinggang. Bibirnya menyapu kulit Vanya perlahan, mulai dari leher, tulang selangka hingga perut yang masih dilapisi baju. Setiap sentuhan membuat Vanya menggeliat tanpa sadar. Aroma tembakau samar dan parfum maskulin dari tubuh Jay memenuhi penciumannya, membuat kepalanya pusing. Tapi, ia menginginkan lebih. "Mmmh …," desah Vanya pelan saat bibir Jay menyentuh titik sensitif di cuping telinganya. Tubuhnya bereaksi sendiri, punggung melengkung sedikit. Jay menatapnya dalam-dalam, napasnya berat. "Sst,” geram Jay rendah, membuat Vanya berhenti bergerak sejenak. “Diam.”Kedua mata Vanya membulat, terperangah tak menyangka. Lalu masih ada lanjutan di deretan isi pesan pop-up di layar ponsel itu.“Ibu dan adik Nona Vanya sudah diberi tahu secara halus soal ‘acara spesial’. Mereka aman di safe house, tapi mereka antusias. Perlu konfirmasi tanggal resmi? Atau langsung lanjut fitting gaun untuk Nona Vanya minggu depan? Menunggu instruksi, Bos.”Napas Vanya tertahan. Jari-jarinya yang masih gemetar hampir menjatuhkan ponsel itu. Acara spesial.Pernikahan.Keluarganya yang dilibatkan ....Vanya merasa dunia berputar pelan. Tangannya menutup mulut, tubuhnya gemetar saat kesadaran menghantam keras—ini bukan mimpi, melainkan rencana nyata yang sudah Jay susun rapi tanpa pernah meminta persetujuannya. Tanpa satu kata pun padanya.Suara air mandi tiba-tiba berhenti. Pintu kamar mandi terbuka dengan pelan. Jay keluar, hanya mengenakan handuk putih yang melilit pinggangnya. Rambut hitamnya masih basah, tetesan air mengalir di dada dan lengan berototnya. Matanya
Vanya masih merasakan degup jantung yang melompat-lompat, adrenalin yang ia rasakan masih terasa hingga sekarang. Bahkan rasa pusing di kepalanya masih ada. Hingga, ucapan Jay tadi masih mengudara dan belum ada respons dari Vanya.Vanya menggeleng pelan.”Nggak mungkin kamu belum pernah ngerasain.”Jay tertawa pahit. “Kamu pikir aku bohong?”“Kayaknya,” sahut Vanya enteng. “Kamu kan tampan, maskulin, badan kekar dan berotot. Aku yakin banyak cewek yang ngejar kamu. Meski …,” ada jeda sesaat, “ada kalanya kamu itu dingin dan menyeramkan.”Jay tertawa rendah sambil mengeratkan pelukannya pada Vanya. Kepala Vanya pun bersandar di dada telanjang pria itu.“Menyeramkan katamu?” Jay bedecak pelan. “Terserah, aku nggak peduli.”Vanya terdiam dan tak membalas ocehan Jay. Untuk pertama kali, pria ini lebih banyak bicara dari yang ia kira. Vanya menghela napas, rasa tak enak hati langsung menyergapnya karena sudah berbicara frontal terhadap Jay.“Aku nggak bermaksud buat kamu tersinggung, lho.”
Matanya menyipit, hasrat membara terlihat jelas. "Ini semua salahmu.” Vanya mengerang lagi, "J-Jay …?" Desahannya keluar tanpa kendali, tubuhnya panas seperti terbakar. "Kok jadi salah aku??" Suaranya manja campur gugup, tangannya mencengkram seprai untuk menahan sensasi yang membanjiri. Jay menghentikan gerakannya seketika, tubuhnya menegang. Ia mundur sedikit, menatap Vanya dengan mata yang masih gelap tapi terkendali. "Mau lanjut atau keluar sekarang," peringatnya datar, meski Vanya bisa melihat urat di lehernya berdenyut menahan hasrat. "Pilih," lanjutnya. Suaranya lebih rendah. Tubuh Vanya masih gemetar. Aura dominan Jay menekan, tapi entah kenapa, Vanya ingin bertahan—ingin merasakan bagaimana gelombang kenikmatan itu menerjangnya sepenuhnya. Beberapa detik hening, hanya napas mereka yang saling bertabrakan. Akhirnya, Vanya menangkup leher Jay dengan tangan gemetar, menariknya lebih dekat. "Aku mau lanjut," bisiknya tegas. Jay menyeringai tipis, mata gelapny
Vanya tersentak kecil karena terkejut mendengar kebenaran yang baru saja terlontar dari mulut Jay. Napasnya sempat tersendat selama beberapa detik. “Jadi, Jordan itu anak hasil perselingkuhan Ayahmu?” tanya Vanya pelan sambil berusaha mencerna setiap kata yang diucapkan Jay barusan. Jay mengangguk sekali. Matanya kembali ke langit malam, seperti cerita itu hanya fakta biasa. Vanya mengerjap beberapa detik. “Bagaimana dengan … Ibumu?” “Meninggal karena kanker saat aku berumur sepuluh.” Jawab Jay pendek. Vanya menatap wajah Jay lekat-lekat. Pria itu hanya menjawab singkat tanpa menoleh langsung pada Vanya. Vanya menelan ludah dengan berat. “Kalo … Ayahmu?” tanyanya ragu, tapi penasaran. Jay menghela napas pendek. “Dulu dia pulang bawa wanita penghibur, dan langsung melakukannya di kamar yang sekarang jadi kamarku.” Jay mengendikkan bahu. Vanya diam sejenak, mencoba mencerna. “Lalu … wanita itu?” “Overdosis.” Jawab Jay singkat. “Jordan dibawa masuk umur empat tahun.”
Sambungan telepon itu dimatikan dengan gerakan pelan. Jay meletakkan ponselnya di atas meja dapur, namun gerakannya terlihat terlalu tenang dan sangat terkendali. Justru ketenangan itulah yang membuat suasana mendadak terasa mencekam. Vanya yang tadinya mulai tersenyum kecil karena cerita ringan mereka, seketika membeku di tempat duduknya. Ia sangat mengenali perubahan ekspresi itu. Itu adalah wajah saat Jay kembali ke mode aslinya sebagai seorang bos mafia yang dingin. “Siapa yang menelepon?” tanya Vanya pelan, suaranya nyaris hilang tertelan ketakutan. Jay menatap manik mata Vanya cukup lama, seolah sedang menimbang kata-kata yang tepat. Akhirnya ia membuka suara dengan nada datar namun tegas. “Itu Jordan. Dia sedang mengumpulkan orang untuk menyerang ibumu dan adikmu di Kota B.” Dunia Vanya seolah langsung runtuh saat mendengar kalimat itu. Gadis itu butuh beberapa detik untuk mencerna perkataan Jay barusan sebelum rasa panik meledak di dadanya. “Ibu dan Adikku?” Suaranya pec
“Vanya, kamu lagi di mana Sayang? Aku kangen banget sama kamu.” Suara itu milik Jordan, mantan tunangan brengsek yang tega menjualnya sekaligus adik dari pria yang kini menjadi pemilik Vanya. Pria itu rupanya sedang mabuk berat dengan kondisi mata merah dan nanar. Namun anehnya, ia masih sanggup berdiri tegak meskipun langkah kakinya sempoyongan. Aroma alkohol menyengat tajam dan langsung menusuk indra penciuman Vanya. “Vanya, aku beneran kangen sama kamu.” Jordan mendekat dengan gerakan cepat. Tangannya langsung mencengkeram lengan dan bahu Vanya dengan sangat kasar. Tawa pria itu terdengar begitu muak di telinga Vanya. “Kamu kan masih milikku, jadi aku mau ambil kamu balik sekarang juga!” Vanya mundur perlahan dengan wajah pucat pasi. “Jordan, jangan mendekat ke sini!” “Apa maksud kamu?” Jordan tersenyum miring dengan licik. “Aku kan masih tunangan kamu.” Jemari pria itu mencengkeram dagu Vanya dengan keras dan memaksa wajah gadis itu untuk menengadah. Tubuh Vanya se







