Se connecterPonsel masih menempel di telinga Jay. Vanya masih tertidur di sisi ranjang, punggungnya menghadap Jay. Napasnya tenang. Tidak tahu bahwa namanya sedang jadi pusat ancaman. Di ujung sana, Jordan tertawa nanar. “Jadi aroma Vanya bikin lo bisa klimaks, ya Kak?” suaranya menusuk tanpa ragu. “Satu-satunya obat yang bikin lo nikmat setelah bertahun-tahun mati rasa. Makanya lo nekat nikahin dia? Bukan karena lo cinta, tapi karena lo butuh ‘obat’ itu terus-terusan?” Tubuh Jay menegang keras. Rahangnya mengunci. Otot lengannya menegang di sekitar pinggang Vanya. Napasnya berat. Tapi suaranya tetap rendah. Dingin. Mematikan. “Lo bicara satu kata lagi soal Vanya, gue pastiin lo nggak pulang hidup-hidup.” Jordan tidak gentar. Malah tambah menusuk. “Gue tahu lo pergi ke Boston bareng Vanya, cari Dokter buat ‘nyembuhin’ dia. Kalau Vanya sembuh, lo balik jadi orang yang nggak bisa ngerasain apa-apa lagi, kan?” Jay tidak menjawab. Jordan memanfaatkan keheningan itu. “Lo rela?” Jay diam lam
Jay masih duduk terpaku di sofa besar. Ruang tengah Presidential suite kembali sunyi. Nama pengirim masih tertera jelas di bagian atas email. Dr. Leonard Hayes. Jay membacanya sekali lagi, tanpa perubahan ekspresi. “Saya siap menjelaskan lebih lanjut besok jam 13:00. Hormat saya, Dr. Leonard Hayes.” Jay membaca ulang bagian itu tanpa ekspresi. Wajahnya datar, tidak ada cela. Tidak ada ledakan emosi, tidak ada perubahan drastis. Hanya mata gelap yang menajam sepersekian detik. Potensi sembuh. Potensi netralisasi. Potensi Vanya tidak lagi menjadi ‘pemicu’. Jay menaruh tablet kembali ke meja kaca dengan gerakan pelan. Di pangkuannya, Vanya tertidur. Wajahnya tampak lebih pucat dari biasanya. Lelah, namun damai. Rambutnya terurai lembut di lengan Jay, napasnya teratur menyentuh dada pria itu. Jay menatapnya lama. Awalnya hanya datar. Lalu ada sesuatu yang berubah. Bahunya yang sejak tadi tegang perlahan mengendur. Ada kelegaan yang tidak bisa ia pungkiri.
Pesan dari Riko di layar ponsel Jay terasa seperti bom kecil secara mendadak:“Bos, Jordan tiba-tiba datang ke Mansion. Dia mencari Nyonya.”Udara di Presidential Suite mendadak terasa lebih berat.Vanya melihat perubahan ekspresi Jay lebih dulu.Wajah Jay yang tadi hangat kini mengeras. Tatapannya menggelap sepersekian detik sebelum kembali datar.“Jay … ada apa?” suara Vanya mengecil.Jay tidak langsung menjawab. Vanya mencondongkan tubuhnya sedikit dan mengintip isi pesan singkat dari Riko di ponsel Jay. Vanya menegang setelah membaca. “Jordan … datang ke Mansion?”Jay menoleh pelan. Tidak mengiyakan, bahkan tidak menyangkal. Dan itu lebih menakutkan.Tangan Vanya gemetar saat mencengkram lengan Jay.“Nggak … nggak mungkin,” napasnya mulai tidak teratur. “Dia ke mansion? Jay, Ibu sama Varsha—”Air matanya langsung jatuh deras, ucapannya refleks terhenti sejenak.Vanya teringat dapur sore itu. Adiknya, Varsha berdiri kecil di lantai, menggenggam jari Jay dengan polos di dapur saat
Ruangan observasi itu terasa berbeda setelah ronde kedua berakhir. Tidak lagi dipenuhi napas memburu atau ketegangan yang membakar. Kini hanya ada dengung lembut sistem ventilasi, cahaya kuning hangat yang memantul di dinding steril, dan panel monitor kecil di sudut ruangan yang berkedip hijau stabil. Vanya duduk diam di tepi ranjang observasi. Selimut tipis masih menutupi tubuhnya. Napasnya perlahan kembali teratur. Jay duduk di sampingnya. Ia menarik Vanya ke dalam pelukannya, dagunya bertumpu di bahu Vanya. Tangannya mengusap perut Vanya pelan—gerakan refleks, lembut, hampir seperti memastikan bahwa semuanya masih utuh yang sarat karena kekhawatiran. Vanya menatap lurus ke dinding ruang isolasi. Lampu kuning lembut membuat bayangan mereka terlihat menyatu di permukaan kaca satu arah. Panel monitor di sudut masih menyala hijau. Hening yang panjang. Dibenaknya, satu kalimat berulang pelan: ‘Jay benar. Tubuhku bukan bagian dari grafik dokter.’ Ia menarik napas panjang. “Jay,
Jay terdiam dengan napas masih tersengal hebat. Dahinya berkerut ragu. Vanya masih diatasnya menunggu respons Jay yang tak kunjung ada. Napasnya masih belum stabil, tapi aroma Vanya perlahan menguap di udara. Vanya akhirnya bertanya dengan suara serak. "K-kenapa?" Dada Jay masih naik turun, tapi akhirnya menjawab dengan suara parau. Sekejap ia mengepal tangannya sebentar, napas tertahan. “Kita nggak usah lanjutkan observasi yang … konyol ini.” “Jay? Tapi kan kamu yang setuju—” “Cukup dua,” potong Jay lembut, tapi tegas. “Cukup dua, dan kita sudahi. Aku setuju tadi karena berpikir ini satu-satunya cara. Tapi sekarang, aku lihat kamu hampir pingsan.” Vanya mengernyit bingung, mulai protes meski napasnya masih terengah. “Tapi Jay … ini demi stabilitas kondisi tubuhku untuk jangka panjang.” Vanya menggeleng pelan, matanya mulai berair. “A-aku nggak mau membebani kamu lebih jauh lagi. Kamu … juga mau sembuh, kan?” Jay mengangkat kedua tangannya, menahan pinggul Vanya yang masi
Jay menelan ludah, napasnya memburu berat. Tapi wajahnya masih menimbang–nimbang untuk langkah selanjutnya. “Kamu udah nggak bisa tahan?” tanyanya, berbisik rendah. Vanya mengangguk cepat. Napasnya masih tidak stabil, wajahnya memerah padam. “Aku udah nggak nahan, Jay,” ucap Vanya parau. “Aku mohon. Aku … berasa kayak terbakar. Panas ….” Jay meneliti setiap ekspresi wajah Vanya yang terus mendesah kecil di mulutnya. Napas mereka masih bertabrakan oleh hasrat. Jay menghela napas panjang sebelum akhirnya ia memalingkan wajahnya sebentar. Tubuhnya bergerak condong ke meja di sisi ranjang dan mengambil kondom medis yang sudah disediakan khusus oleh Dokter Hayes. Jay membuka celananya beserta dalamannya, lalu memasangkan kondom dengan tangan terlatih ke asetnya hingga terpasang rapi. Jay mengangkat wajahnya dan menangkap pemandangan istrinya yang masih menunggu suaminya dengan setia. Napas Vanya masih memburu, tapi ada kilat mata berbinar dengan senyuman manis di wajahnya







