Share

CHAPTER 45.

Penulis: Amaleo
last update Terakhir Diperbarui: 2026-02-10 10:18:10

Vanya menelan ludah. Matanya menunduk, tapi ia mengangguk pelan. “Kalau itu solusi satu-satunya agar tubuhku nggak bikin orang-orang bereaksi aneh padaku … aku percayakan padamu.”

Jay diam sejenak. Lalu ia mengangguk kecil, ibu jarinya mengusap pipi Vanya pelan.

“Tapi,” Vanya menunduk malu-malu, pipinya memerah. “Aku juga ngerasa harus bantu kamu. Karena … kamu selama ini selalu menahan diri.”

Jay menegang, napasnya tersengal pelan. Matanya menggelap sepenuhnya, pupil melebar karena aroma yang
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Bab Terkunci

Bab terbaru

  • Dimanja Tuan Mafia: Dia Memberiku Segalanya!   CHAPTER 56.

    Pesan dari Riko di layar ponsel Jay terasa seperti bom kecil secara mendadak:“Bos, Jordan tiba-tiba datang ke Mansion. Dia mencari Nyonya.”Udara di Presidential Suite mendadak terasa lebih berat.Vanya melihat perubahan ekspresi Jay lebih dulu.Wajah Jay yang tadi hangat kini mengeras. Tatapannya menggelap sepersekian detik sebelum kembali datar.“Jay … ada apa?” suara Vanya mengecil.Jay tidak langsung menjawab. Vanya mencondongkan tubuhnya sedikit dan mengintip isi pesan singkat dari Riko di ponsel Jay. Vanya menegang setelah membaca. “Jordan … datang ke Mansion?”Jay menoleh pelan. Tidak mengiyakan, bahkan tidak menyangkal. Dan itu lebih menakutkan.Tangan Vanya gemetar saat mencengkram lengan Jay.“Nggak … nggak mungkin,” napasnya mulai tidak teratur. “Dia ke mansion? Jay, Ibu sama Varsha—”Air matanya langsung jatuh deras, ucapannya refleks terhenti sejenak.Vanya teringat dapur sore itu. Adiknya, Varsha berdiri kecil di lantai, menggenggam jari Jay dengan polos di dapur saat

  • Dimanja Tuan Mafia: Dia Memberiku Segalanya!   CHAPTER 55.

    Ruangan observasi itu terasa berbeda setelah ronde kedua berakhir. Tidak lagi dipenuhi napas memburu atau ketegangan yang membakar. Kini hanya ada dengung lembut sistem ventilasi, cahaya kuning hangat yang memantul di dinding steril, dan panel monitor kecil di sudut ruangan yang berkedip hijau stabil. Vanya duduk diam di tepi ranjang observasi. Selimut tipis masih menutupi tubuhnya. Napasnya perlahan kembali teratur. Jay duduk di sampingnya. Ia menarik Vanya ke dalam pelukannya, dagunya bertumpu di bahu Vanya. Tangannya mengusap perut Vanya pelan—gerakan refleks, lembut, hampir seperti memastikan bahwa semuanya masih utuh yang sarat karena kekhawatiran. Vanya menatap lurus ke dinding ruang isolasi. Lampu kuning lembut membuat bayangan mereka terlihat menyatu di permukaan kaca satu arah. Panel monitor di sudut masih menyala hijau. Hening yang panjang. Dibenaknya, satu kalimat berulang pelan: ‘Jay benar. Tubuhku bukan bagian dari grafik dokter.’ Ia menarik napas panjang. “Jay,

  • Dimanja Tuan Mafia: Dia Memberiku Segalanya!   CHAPTER 54.

    Jay terdiam dengan napas masih tersengal hebat. Dahinya berkerut ragu. Vanya masih diatasnya menunggu respons Jay yang tak kunjung ada. Napasnya masih belum stabil, tapi aroma Vanya perlahan menguap di udara. Vanya akhirnya bertanya dengan suara serak. "K-kenapa?" Dada Jay masih naik turun, tapi akhirnya menjawab dengan suara parau. Sekejap ia mengepal tangannya sebentar, napas tertahan. “Kita nggak usah lanjutkan observasi yang … konyol ini.” “Jay? Tapi kan kamu yang setuju—” “Cukup dua,” potong Jay lembut, tapi tegas. “Cukup dua, dan kita sudahi. Aku setuju tadi karena berpikir ini satu-satunya cara. Tapi sekarang, aku lihat kamu hampir pingsan.” Vanya mengernyit bingung, mulai protes meski napasnya masih terengah. “Tapi Jay … ini demi stabilitas kondisi tubuhku untuk jangka panjang.” Vanya menggeleng pelan, matanya mulai berair. “A-aku nggak mau membebani kamu lebih jauh lagi. Kamu … juga mau sembuh, kan?” Jay mengangkat kedua tangannya, menahan pinggul Vanya yang masi

  • Dimanja Tuan Mafia: Dia Memberiku Segalanya!   CHAPTER 53.

    Jay menelan ludah, napasnya memburu berat. Tapi wajahnya masih menimbang–nimbang untuk langkah selanjutnya. “Kamu udah nggak bisa tahan?” tanyanya, berbisik rendah. Vanya mengangguk cepat. Napasnya masih tidak stabil, wajahnya memerah padam. “Aku udah nggak nahan, Jay,” ucap Vanya parau. “Aku mohon. Aku … berasa kayak terbakar. Panas ….” Jay meneliti setiap ekspresi wajah Vanya yang terus mendesah kecil di mulutnya. Napas mereka masih bertabrakan oleh hasrat. Jay menghela napas panjang sebelum akhirnya ia memalingkan wajahnya sebentar. Tubuhnya bergerak condong ke meja di sisi ranjang dan mengambil kondom medis yang sudah disediakan khusus oleh Dokter Hayes. Jay membuka celananya beserta dalamannya, lalu memasangkan kondom dengan tangan terlatih ke asetnya hingga terpasang rapi. Jay mengangkat wajahnya dan menangkap pemandangan istrinya yang masih menunggu suaminya dengan setia. Napas Vanya masih memburu, tapi ada kilat mata berbinar dengan senyuman manis di wajahnya

  • Dimanja Tuan Mafia: Dia Memberiku Segalanya!   CHAPTER 52.

    Vanya menegang di tempat. Napasnya terhenti sepersekian detik ketika mendengar kata ‘bersedia’ keluar dari mulut Jay.“Jay … kamu yakin?” tanyanya berbisik. Ia menatap suaminya dengan mata membulat, penuh keterkejutan yang tidak bisa disembunyikan. Jay tidak langsung menjawab. Tatapannya masih tertuju pada Dokter Hayes, dingin dan tajam.“Pastikan ini murni untuk observasi,” kata Jay pelan, suaranya rendah tapi mengandung ancaman. “Tidak ada agenda lain.”Dokter Hayes mengangguk tanpa ragu. “Murni observasi, Tuan Russell. Tujuan kami adalah menemukan formula injeksi penekan feromon yang lebih maksimal. Bukan hanya untuk kondisi normal, tapi juga di tengah krisis emosi negatif dan stres berat seperti yang sudah dialami Nyonya Russell.”Ia berhenti sejenak, menatap keduanya bergantian melalui kaca helm.“Jika kami bisa memetakan bagaimana feromon Nyonya berinteraksi dengan respons biologis Tuan Russell, kami bisa menyusun senyawa yang menahan lonjakan hormon bahkan saat tubuh berada d

  • Dimanja Tuan Mafia: Dia Memberiku Segalanya!   CHAPTER 51.

    Dokter Hayes melanjutkan, suaranya tetap profesional. “Kalian … bercintalah.” Sunyi terasa berat menyapu ruangan observasi itu. Alis Jay menukik ke atas sedikit terkejut. Napasnya mulai berat. “Apa Anda tak salah dengan observasi terakhir ini?” Dokter Hayes mengangguk singkat, lalu melanjutkan. “Saya perlu meneliti apa yang membuat Anda, Tuan Russell, mampu mencapai klimaks dengan istri Anda. Respons biologis Anda berdua mungkin saling terhubung. Jika kita tidak mengujinya secara langsung, kita hanya akan berspekulasi tanpa bukti ilmiah dan data.” Napas Jay terasa semakin berat. Vanya menatapnya, wajahnya masih memerah, tubuhnya belum sepenuhnya stabil. Hayes melanjutkan dengan tenang, “Tidak ada yang akan mengawasi. Data hanya akan diambil dari sensor hormon dan partikel udara di luar ruangan. Privasi tetap milik kalian.” Napas Vanya masih memburu. Keringat tipis membasahi pelipisnya. Dibenaknya, ucapan Dokter Hayes barusan terus terulang. Observasi terakhir. Melibatkan Ja

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status