Share

Bab 32. Pengakuan

Author: Astika Buana
last update Last Updated: 2025-12-24 09:11:24

"I-ini milik saya!” Cahya meringis perih.

Sakit karena kulitnya yang terbakar ditambah cengkeraman Erika yang begitu kuat. Mata Erika menajam. Dia pemerhati fashion dan tahu benar produk baranded keluaran terbaru. Termasuk perhiasan.

Erika menggerakkan dagu, memberi tanda kepada teman-temannya.

Teman satunya membuka paksa perhiasan itu. Kemudian bersama-sama mereka mengamati dan berakhir dengan mata terbelalak. Tulisan berderet di bagian dalam gelang itu menunjukkan keasliannya.

“Benar Erika! Ini Coco crush bracele Asli!”

“Tidak mungkin karyawan rendahan seperti kamu mampu membeli gelang mahal. Pasti kamu mencurinya! Ngaku kamu!”

Cahya bersikukuh. Dia tetap menggeleng. “Sumpah, Non Erika. Saya tidak mencurinya.”

“Bohong kamu!” Erika semakin geram.

Wanita bergincu merah menyala itu ingat benar perhiasan ini, karena terakhir ingin membelinya tetapi uang saku yang diberi Ethan tidak cukup. Sekarang, justru barang yang diidamkan dipakai wanita yang dia benci.

“Pencuri mana mau ngaku.”

“In
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Dimanjakan sang Majikan Tampan   Bab 44. Kamu membawa pengaman?

    Cahya menarik selimut sampai ke dada. Dia memegang erat dengan tangan masih gemetar. Tubuh masih menggigil menyisakan hasrat usai kebersamaan mereka.Meskipun ... ini tidak sepenuhnya seperti harapan.“Aya, kamu membuatku tidak tahan.”“Kenapa kamu membuatku gila?”“Sungguh aku ingin melumatmu tanpa henti.”Bisikan sang majikan disela sentuhan, masih terngiang di setiap kata.Mata wanita muda itu memejam. Ujung-ujung jemari begitu dingin mengingat jejak gairah beberapa detik yang lalu. Napas sang majikan yang menghangatkan di setiap jengkal kulit, menenggelamkannya di samudra indahnya cinta.Kedua orang dewasa itu seakan berlomba mendaki kerinduan. Namun, tidak terduga pada titik pertemuan sang majikan tersadar pada konsekuensi. Tubuh Ethan menegang, dia menatap lekat wanita yang membuatnya gila ini.“Kamu membawa pengaman?”“T-tidak. Saya tidak pernah membawa hal seperti itu,” jawab Cahya sambil menahan napas. Untuk apa dia membawa 'pengaman'? Hal yang terjadi sekarang ini tidak per

  • Dimanjakan sang Majikan Tampan   Bab 43. Sama-sama Butuh

    Bab 43. Pelepasan“Aya, kita pergi sekarang!”Suara Ethan setelah pintu terbuka. Cahya terkejut dan buru-buru mengembalikan bingkai foto itu. Gerakan Ethan yang buru-buru, menyebabkan foto itu menimpa foto lainnya.“T-tuan….”“Biarkan saja. Nanti saya yang membereskan!”Tangan Ethan menggenggam kuat tangan Cahya. Melupakan pertanyaan yang bergumul di kepala Cahya tentang foto orang tuanya itu.Sang Majikan bergegas seakan kehabisan waktu. Dia tidak menuju ke pintu, tetapi ke arah yang berlainan. Ternyata ada meja kerja di balik partisi dari lukisaan ukiran kayu. Di sampingnya ada lemari tinggi.“Kita lewat sini.” Lemari itu bergeser, menunjukkan ada cahaya di ujung lorong.Masih berpegangan tangan, Ethan melangkahkan kaki lebar-lebar yang ternyata bermuara di parkiran khusus direksi. Pintu mobil dibuku, Ethan mendorong pelan Cahya sambil tangan satunya melindungi kepala wanita itu.“Kita mau kemana?”“Kemana saja asal jangan ada Keira,” jawab Ethan sambil menginjak gas.Deru mobil dan

  • Dimanjakan sang Majikan Tampan   Bab 42. Gairah Yang Terpantik

    ~delapan menit yang lalu~Lengan siku Cahya menahan tubuh di atasnya. Ini sungguh terlalu jauh. Meskipun tubuhnya menuntut, tetapi isi kepalanya berhitung.“I-ini di kantor. Kita__”“Aman, Aya. Aku sudah atur semuanya,” ucap Ethan terdengar parau.Manik mata hazel itu masih berkabut. Menunjukkan masih ada bara yang digenggamnya. Pandangan lelaki itu tidak lepas dari wajah yang selama ini dirindukan di setiap malam. Begitu juga tubuhnya yang berontak karena selama ini dipuaskan halusinasi saja.Napas Cahya tercekat menyadari ini bukan sekadar sentuhan biasa. Ada tuntutan yang menjadi tanggung jawab sebagai ‘wanitanya.’ Sebagai janda, dia tahu persis apa ini.“T-tapi.”“Please, Aya. Tolong aku. Aku membutuhkan k-kamu.”Merasa di persimpangan antara tidak atau menyetujui permintaan sang tuan. Niatnya menggeleng, tetapi dengan kurang ajar kepalanya mengangguk samar.Seperti anak panah yang sebelumnya terentang, anak panah itu melesat karena anggukan wanita itu. Lelaki duda itu menyusuri k

  • Dimanjakan sang Majikan Tampan   Bab 41. Jahil

    Puas rasanya balik menjahili sang majikan. Cahya langsung mengamit Komang untuk segera berlalu. Kalau tidak, bisa berjilid-jilid lelaki itu mengerjai dia.“Baru kali ini melihat Bos Ethan kepo urusan karyawan. Biasanya yang diomong tentang kerja dan kerja,” guman Komang sambil berjalan.Dalam hati Cahya tertawa. Entah bagaimana tanggapan Ethan diberi nama seunik itu. Wagiman Sontoloyo.Sementara itu, Ethan bergemin sambil mengernyitkan dahi. Galang yang permisi untuk duluan, pun hanya dijawab anggukan kecil.“Wagiman Sontoloyo?” guman Ethan kemudian melangkahkan kaki.Sampai di dalam ruangan, Ethan masih berguman nama yang asing di telinganya. Sambil menatap layar ponsel yang menunjukkan fotonya, dia berbicara sendiri.“Orang sekeren ini dikasih nama Wagiman Sontoloyo?” Gambar dia ketika menjadi sampul majalah bisnis. Saat itu dia dinobatkan menjadi pengusaha muda berbakat.“Awas kamu Cahya. Nikmati saja pembalasanku nanti,” ucap Ethan setelah mencari tahu arti nama unik itu.Saat Eth

  • Dimanjakan sang Majikan Tampan   Bab 40. Kamu Mencintainya?

    Rasa penasaran masih menuntut jawab, tetapi waktu sudah menunjukkan kalau Cahya harus segera berengkat kerja. Setelah memastikan kebutuhan Sakti anaknya beres, dia memesan ojek online.“Hai, Mbak Cahya!” Komang berlari dari tempat parkir.“Harusnya aku jemput Mbak, ya. Lumayan dari pada keluar ongkos untuk ojek,” ucap Komang setelah mensejajari Cahya.Sambil berjalan Komang melanjutkan cerita, bagaimana sepinya saat suami masih ada kerjaan di Jawa. Awalnya senang karena tidak ada yang cerewet, lama-lama kesepian.“Tapi kan duitnya banyak, Mbok.”“Ya, lumayan. Tapi setiap malam gak ada yang peluk,” celetuknya sambil tertawa.Sambil menyenggol lengan Cahya, Komang berseloroh. “Kalau Mbak Cahya gimana sama pacar. Dia hot, ya?”“Apaan, sih, Mbok Komang ini,” seru Cahya sambil mendesis dan melotot. Namun, diakhiri dengan senyuman.Masih ingat, bagaimana saat sang Tuan minta ciuman meskipun lewat ponsel. Hal yang sepele tetapi menunjukkan kalau Cahya begitu berarti. Dadanya tiba-tiba berdeba

  • Dimanjakan sang Majikan Tampan   Bab 39. Video Kesukaan Tuan Ethan

    Kehidupan Ethan mulai bangkit. Pikirannya mulai ringan dan tidak terbebani dengan masalah masa lalu.“Untuk apa memikirkan masa lalu yang tidak bisa diubah? Lebih baik aku menata hidup. Ada Keira yang harus aku perjuangkan, dan Cahya yang menjadikan aku lebih bersemangat,” ucap Ethan memantapkan hati.Mimpi buruk tentang tuntutan jawaban untuk almarhum Siska-istrinya, mulai memudar. Ethan sudah berani menatap dunia tanpa harus dibantu minuman alkohol. Botol wisky yang berjajar di estalase sebelah meja kerja mulai tidak tersentuh. Dia kembali seperti semula, penyuka kopi sejati.Yang menjadi masalah, kehidupan yang sehat juga membangkitkan kebutuhan dewasa. Memang dengan olah raga bisa mengalihkan perhatian, tetapi kalau tengah malam seperti ini …?“Shit! Ini sungguh mengganggu!” teriak Ethan melempar selimut dan bangkit dari ranjang.Ini satu-satunya jalan.Ethan melangkahkan kaki ke ruang kerja. Tujuannya satu, menyalakan lap top untuk mencari pelampiasan. Dalam keremangan, tatapann

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status