LOGINUdah ya, udah. Sepertinya ini adegan ranjang terakhir yang aku buat sebelum kita berpisah :)
“Bukan begitu, Mbak Lala. Tadi kami cuma makan malam biasa.” Naufal terdengar buru-buru meluruskan. “Itu juga karena Mbak Ryn dan Pak Kylar yang merencanakan.”Anne langsung menoleh kepadanya. Ada sesuatu yang mengganjal ketika Naufal begitu cepat menyangkalnya, seolah-olah makan malam bersama dirinya adalah sesuatu yang perlu dijelaskan kepada Lala.Padahal beberapa jam lalu, Anne masih menikmati suasana makan malam itu. Dia bahkan sempat berpikir bahwa mungkin Ryn memang tidak salah ketika mencoba memperkenalkan mereka.Naufal sopan, menyenangkan diajak bicara, dan meskipun tidak banyak membuka diri, Anne tidak merasa keberatan dengan kehadirannya. Sekarang, semua kesan itu terasa sedikit berbeda.“Oh, kirain kalian memang sengaja makan berdua,” ujar Lala santai.“Bukan,” ulang Naufal. “Kebetulan saja.”Kebetulan?Entah kenapa kata itu terdengar menyebalkan di telinga Anne. Tadi ketika mereka makan, Naufal tidak pernah mengatakan makan malam itu sebagai sesuatu yang harus dianggap is
Dia berjalan mendekati Lala yang tampak sedikit terkejut melihat seseorang menghampirinya.“Mbak Lala?” Naufal berhenti beberapa langkah di depan Lala, kemudian pandangannya turun kepada bayi laki-laki yang sedang digendong perempuan itu. “Mbak lagi nunggu kendaraan?”Lala mengangguk, lalu tersenyum canggung. “Iya. Tadi mau pesan taksi online, tapi dari tadi susah dapat.”Naufal otomatis melihat ke arah jalan yang mulai sepi sebelum kembali menatap Lala. “Mau saya antar?”Lala tampak ragu. “Nggak usah, Mas. Nanti merepotkan.”“Nggak merepotkan.” Nada suara Naufal tetap tenang. “Sudah malam, Mbak bawa bayi. Ikut saya saja.”Sebelum Lala sempat menjawab, pintu penumpang di depan terbuka sedikit dan Anne menurunkan kaca. “Mbak Lala!”Lala menoleh. Ekspresinya langsung berubah ketika melihat siapa yang duduk di dalam mobil. “Anne?”Anne tersenyum sambil melambaikan tangan kecil. “Iya. Ingat aku, ‘kan?”“Tentu ingat.” Lala tersenyum lega. “Apa kabar?”“Baik. Mbak Lala gimana?”“Baik juga.”
“Loh, kok Mas Naufal yang datang?”Anne mengernyit heran ketika melihat laki-laki itu berjalan menghampirinya. Sejak tadi dia memang sudah menunggu di The Velvet Spoon sesuai pesan Ryn yang memintanya datang untuk dikenalkan kepada seorang pria. Bahkan sebuah meja untuk dua orang dengan candle light dinner sudah disiapkan di sudut restoran.Anne sempat bertanya-tanya siapa gerangan pria yang hendak dikenalkan Ryn kepadanya, tetapi semua rasa penasaran itu langsung berubah menjadi kebingungan begitu Naufal muncul di hadapannya.“Tadi Pak Kylar minta saya datang,” jawab Naufal, sama bingungnya. Dia menarik kursi di seberang Anne sebelum kembali menatap meja yang dihias terlalu manis untuk ukuran makan malam biasa. “Saya juga nggak tahu kalau Mbak Anne ada di sini.”Anne justru sudah lebih dulu menangkap kejanggalannya. Dia menyandarkan tubuh ke kursi sambil menatap Naufal dengan ekspresi setengah tidak percaya. “Jangan-jangan Mas Naufal yang mau Mbak Ryn kenalkan sama saya? Kalau Mas Na
Ryn langsung menoleh, matanya membesar sebelum wajahnya memerah karena tahu persis ke mana arah pikiran suaminya.“Mas! Tadi juga udah, loh!” protesnya sambil menahan tawa. Namun, melihat Kylar masih memasang wajah memelas, Ryn akhirnya menggeleng geli. “Kamu sumpah clingy banget semenjak anak-anak pulang. Kenapa? Takut perhatian aku terbagi, kah?”“Iya lagi.” Kylar menjawab begitu santainya sampai Ryn terkekeh. Dia kemudian menyandarkan tubuhnya di kepala ranjang sambil memperhatikan Reynash yang masih tenang dalam pelukan ibunya. “Makanya Ibu harus adil, ya? Soalnya anak paling dewasa kalau nggak dikasih perhatian takutnya malah cari di luar sana.”“Ah, Mas! Nggak lucu bercandanya,” rajuk Ryn. Senyum yang tadi masih tersisa di wajahnya perlahan menghilang, digantikan sorot mata yang mulai berkaca-kaca.Entah karena hormon yang belum sepenuhnya stabil setelah melahirkan, kelelahan, atau karena kalimat itu menyentuh sesuatu yang jauh lebih sensitif daripada yang Kylar sadari, tetapi da
Seperti kata orang, berhubungan seks setelah lama tidak melakukannya memang terasa berbeda.Dan itulah yang mereka alami sekarang. Ada rasa lega yang sulit dijelaskan, seolah-olah jarak, kesibukan, rasa takut, dan segala hal yang sempat menghalangi mereka akhirnya luruh begitu saja.Ajaibnya, meskipun permainan mereka terasa cukup lama, tidak terdengar suara tangisan bayi dari monitor pemantau yang terpasang di sisi tempat tidur.Atau mungkin salah satu anak mereka sempat menangis, tetapi suara itu tidak terdengar karena keduanya terlalu sibuk bercinta?“Jahitannya oke? Sakit nggak?” tanya Kylar memastikan. Posisi mereka kini masih tanpa busana, dengan Ryn berbaring nyaman di atas dadanya dan satu tangan Kylar mengusap punggung istrinya perlahan.Ryn mengangkat wajah, lalu menatapnya dengan ekspresi jengkel yang sama sekali tidak berhasil menyembunyikan rasa puasnya. “Mas udah tanya berapa kali, sih? Aku udah bilang nggak apa-apa, Mas. Kalau sakit, dari tadi Mas udah aku tendang, tahu
“Kalau nanny di kamar sebelah dengar gimana?” tanya Ryn. Fokusnya mulai buyar ketika tangan Kylar turun, menggenggam pahanya, lalu menarik celana dalam itu hingga tersangkut di salah satu pergelangan kakinya.“Kamar kita itu bukan ukuran tiga kali tiga meter, Sayang. Lagian, ada peredam suara juga. Kamu mau teriak pun paling cuma kedengeran sedikit. Dan aku udah minta nanny buat nggak bangunin kita kalau anak-anak nangis.”“Mas jahat. Anak-anak baru pulang dari NICU, ayahnya udah geragas aja.”“Jadi mau berhenti? Yakin?” goda Kylar dengan senyum mencurigakan yang langsung membuat Ryn menatapnya kesal.“Ya bukan gitu.”Seakan sudah mendapat jawaban yang diinginkannya, Kylar kembali menggerakkan tangannya. Telapak besarnya menyusuri pinggang Ryn sebelum berhenti di pahanya. Ketika jemarinya bergerak lebih jauh tanpa aba-aba, tubuh Ryn seketika menegang.“Mas!”Kylar langsung mengangkat wajah. “Kenapa? Sakit? Mau aku berhenti?”Ryn semakin terengah-engah. Keringat mulai membasahi pelipisn
“Kalau nggak sukses, nggak mungkin keramas pagi-pagi, Bu,” sahut Kylar, seperti tidak terlihat kaget dengan ucapan Ratna.“Uhuk–uhuk!”Ryn langsung batuk. Jadi ini maksud komentar Ratna soal rambut basah tadi?!“Kalau makan pelan-pelan, Sayang,” tegur Kylar lembut, sambil menyodorkan gelas air ke ar
“Pak ini saya tidur di mana?” tanya Ryn pada Kylar yang baru selesai mandi.Pria itu keluar dari kamar mandi hanya dengan kaus putih polos yang menempel sempurna di badan berototnya. Rambutnya masih sedikit basah, menetes pelan di leher, dan untuk sesaat Ryn lupa caranya berkedip normal.Hanya pere
“Saya Kylar, suaminya Ryn.”Kylar mengucapkannya lugas, tanpa banyak gaya, tapi entah bagaimana terdengar hangat.Dini dan Yanto yang duduk di seberang mereka, di ruang tamu rumah kontrakan keluarga angkat Ryn, langsung membelalakkan mata.Sementara Ryn hanya diam. Duduk manis di sebelah Kylar. Tad
“Ini serius kita sudah menikah, Pak?” tanya Ryn tidak percaya sambil memegang buku nikah erat-erat di depan halaman KUA.Setelah Naufal mengurus dokumen itu dengan perasaan heran dan bingung, Kylar benar-benar langsung membawa Ryn ke kantor KUA. Bahkan, penghulu dan petugas lain juga telah lengkap







