Share

Bab 2

Penulis: Luli
Berbagai kenangan membanjiri pikirannya dan membawa rasa pahit yang begitu menyesakkan. Sebelum menikah dengannya, Veronica sudah lama mendengar nama Yanto.

Media sangat memuji ketampanan, kemampuan, dan kecakapan Yanto dalam mengambil keputusan. Dia adalah pewaris yang paling sempurna. Hanya dalam waktu setahun setelah mengambil alih grup, dia sudah membawa Grup Brasmo menduduki puncak Forbes. Satu-satunya kekurangannya adalah dia tidak dekat dengan wanita, seolah-olah dia adalah mesin yang terlahir hanya untuk bekerja.

Namun, hanya dengan melirik sekilas Yanto yang memukau di pesta itu. Aura dingin dan sosoknya yang begitu menonjol di antara keramaian, itu saja sudah cukup untuk membuat Veronica langsung jatuh cinta. Sejak saat itu, hatinya tidak bisa menampung orang lain lagi.

Oleh karena itu, saat keluarga mengusulkan pernikahan aliansi, Veronica menjawabnya dengan sangat gembira.

Saat itu, sahabatnya Veronica sempat menasihatinya, "Yanto memang pria yang baik, tapi dia itu mesin kerja yang nggak punya hati. Kalau kamu menikah dengannya, kamu nggak akan bahagia."

Namun, Veronica yang polos malah berpikir selama dia cukup baik dan cukup mencintai Yanto, suatu hari nanti dia pasti bisa meluluhkan hati Yanto. Akan tetapi, bagaimana hasilnya?

Di malam pertama pernikahan, Yanto hanya menjalankan kewajibannya seperti formalitas dengan dingin. Setelah itu, dia berkata pada Veronica dengan tanpa perasaan sedikit pun, "Aku nggak tertarik sama urusan cinta, menikahimu hanya untuk kebutuhan bisnis."

"Selama kamu tahu posisimu, aku akan jalankan kewajiban sebagai suami dan jaga kehormatanmu sebagai Nyonya Brasmo seumur hidupmu. Selain itu, jangan berharap lebih banyak lagi."

Oleh karena itu, tidak peduli sudah berapa kali diabaikan dan ditinggalkan Yanto demi pekerjaan setelah menikah, Veronica selalu menahannya. Dia memberi tahu dirinya sendiri, pria itu memang tidak mencintainya. Namun, pria itu juga tidak mencintai wanita lain, itu saja sudah cukup.

Namun, hari ini Veronica sudah melihat langsung bagaimana Yanto memanjakan Lucinta dan merendahkan dirinya yang angkuh demi wanita itu. Yanto bahkan mengucapkan kata aku mencintaimu yang begitu didambakannya selama tiga tahun ini, tetapi tidak pernah didapatkannya.

Sejak saat itu, Veronica tidak bisa terus membohongi dirinya sendiri lagi. Bukan karena Yanto tidak dekat dengan wanita dan memang terlahir dingin, tetapi orang yang dicintai Yanto bukan dia. Semua keteguhan dan kesabarannya akhirnya benar-benar menjadi sebuah lelucon.

Veronica berbalik dan keluar dari kantor polisi sambil menyeka air matanya, lalu mengeluarkan ponselnya dan menelepon seseorang. "Pak Louis, tolong bantu aku siapkan surat perjanjian cerai."

Keesokan harinya, Veronica membawa surat perjanjian cerai yang baru saja selesai dibuat dan langsung pergi ke kantor pusat Grup Brasmo.

Namun, resepsionis memberi tahu Veronica. "Nyonya, Pak Yanto sudah lama nggak datang ke perusahaan."

Hati Veronica kembali terasa seperti ditusuk jarum. Sudah lama tidak datang ke perusahaan? Yanto yang dulu bisa makan dan tidur di kantor selama sebulan penuh demi satu proyek?

Veronica menahan rasa perih di hatinya dan bertanya, "Dia pergi ke mana?"

Ekspresi resepsionis itu terlihat serba salah, lalu berbisik, "Temani Bu Lucinta pergi ke acara lelang Sotheby."

Acara lelang ....

Veronica teringat dengan rumor-rumor itu, tentang bagaimana Yanto menghamburkan uang demi memenangkan senyuman wanita pujaannya. Dia menarik napas dalam-dalam, lalu menyetir menuju tempat acara lelang itu.

Di dalam aula di mana aroma parfum mahal bercampur dengan dekorasi mewah, para tokoh ternama berkumpul memenuhi ruangan.

Hanya sekilas saja, Veronica bisa langsung melihat Yanto yang duduk di barisan paling depan dan Lucinta yang manis serta ceria duduk di sampingnya.

Juru lelang sedang memperkenalkan barang pamungkas terakhir yaitu sebuah kalung berlian biru yang konon pernah menjadi milik seorang ratu Inggris. Bahkan harga pembukaannya saja sudah mencapai angka fantastis. Persaingan penawaran berlangsung dengan sangat sengit.

Namun, setiap kali ada orang yang menaikkan harga, Yanto selalu tanpa ragu mengangkat papan nomor dan langsung menekan lawannya dengan santai sekaligus penuh tekad. Pada akhirnya, dia memenangkan kalung itu untuk Lucinta yang duduk di sisinya dengan harga mahal yang membuat semua orang tercengang.

Suasana di seluruh aula langsung gempar dan semua orang menatap Lucinta dengan tatapan dipenuhi iri dan cemburu.

Lucinta merangkul leher Yanto dengan gembira, lalu mengecup pipinya.

Melihat pemandangan itu, Veronica yang berdiri tidak jauh dari sana merasa dadanya sakit hingga mati rasa. Setelah menikah selama bertahun-tahun, pria itu bahkan belum pernah memberinya hadiah yang benar-benar layak. Selama ini, dia selalu mengira Yanto memang dingin dalam urusan perasaan dan tidak mengerti romantis. Ternyata, pria itu hanya tidak mau bersikap romantis padanya.

Veronica menggenggam erat surat perjanjian cerai di tangannya. Dia menarik napas dalam-dalam, lalu melangkah menuju dua sosok yang begitu memukau sekaligus menusuk mata itu.

Yanto adalah orang pertama yang melihat Veronica. Ekspresinya yang tadinya masih tersenyum malas pun langsung menjadi dingin dan secara refleks menarik Lucinta ke belakang tubuhnya untuk melindunginya. "Kenapa kamu datang ke sini?"

Gerakan melindungi yang spontan dari Yanto itu bagaikan pisau tajam yang menusuk lurus ke jantung Veronica. Dia berusaha kerasa menjaga ketenangannya, lalu menyerahkan dokumen di tangannya. "Aku punya satu dokumen yang perlu tanda tanganmu."

Saat itu, seorang staf kebetulan datang menghampiri dan meminta Yanto pergi ke belakang untuk mengurus proses penyerahan kalung itu.

Nada bicara Yanto terdengar dingin. "Aku sedang ada urusan. Apa pun itu, nanti saja kita bicarakan."

Nanti? Veronica tidak ingin ada kata nanti di antaran dia dan Yanto lagi. Dia tidak ingin menunggu sedetik lebih lama lagi. Dia pun tetap bersikeras dan berkata dengan suara yang agak bergetar, "Dokumen ini sangat penting, hanya butuh beberapa menit. Yanto, kita cerai saja. Asal kamu tanda tangan dan setelah masa tunggu perceraian satu bulan, kita nggak ada hubungan apa-apa lagi."

"Karena sekarang kamu sudah punya orang yang benar-benar kamu cintai, aku akan melepaskanmu, dan kamu juga bebaskan aku. Kita cari cinta kita masing-masing, jangan menunda hidup satu sama lain lagi."

Veronica langsung mengatakan semuanya, lalu mengumpulkan seluruh keberaniannya untuk menunggu jawaban Yanto.

Namun, Yanto hanya mengernyitkan alis. Dia baru menoleh setelah terdiam cukup lama, seolah-olah sama sekali tidak mendengar jelas apa yang baru saja dikatakan Veronica. "Tadi kamu bilang apa? Aku sudah bilang aku sedang ada urusan, nanti saja baru kita bicarakan lagi."

Setelah mengatakan itu, Yanto langsung mengikuti staf menuju belakang.

Veronica menarik napas dalam-dalam mengingat Yanto memang selalu seperti ini. Setelah menikah selama lima tahun, Yanto selalu menganggap kata-katanya seperti udara kosong. Namun, saat dia hendak mengejar Yanto, Lucinta tiba-tiba mendekat dan merebut dokumen itu dari tangannya.

Lucinta mengamati Veronica dari atas ke bawah dengan tatapan menghina. "Jadi, kamu istri aliansi dari Yanto ya? Kalau cuma dokumen, biar aku saja yang tanda tangan. Yanto sudah memberiku stempel pribadi yang terukir namanya. Dokumen apa pun, aku bisa bantu tanda tangan atas namanya lho!"

Jantung Veronica seolah-olah diremas dengan kuat oleh tangan tak kasatmata dan sakitnya membuatnya hampir tidak bisa bernapas. Stempel pribadi ... mewakili Yanto tanda tangan semua dokumen?

Semua orang tahu Yanto sangat berhati-hati sampai semua dokumen penting harus dibaca dan ditandatanganinya sendiri. Namun sekarang, dia malah ....

Seolah-olah ingin membuktikannya, Lucinta benar-benar mengeluarkan sebuah stempel batu giok kecil yang indah dari tas mungilnya. Tanpa melihat isi dokumennya, dia langsung membalik ke halaman terakhir dan menekannya di atas dokumen itu.

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Dinikahi Pria Terkaya, Tetapi Hatiku Sepi Merana   Bab 21

    Berbeda jauh dengan kecerahan di Paris, sebuah tempat perawatan mewah yang terpencil di Swiss selalu diselimuti suasana dingin yang sunyi.Yanto tinggal di sebuah vila di tepi danau. Lingkungannya indah luar biasa, tetapi juga terasa kosong dan menyesakkan. Sejak meninggalkan Afrika, dia menetap di sini untuk "pemulihan" dalam jangka panjang.Di mata orang lain, dia adalah sosok yang mundur di puncak kesuksesan dan menikmati hidup. Hanya dia sendiri yang tahu, ini adalah bentuk pengasingan diri tanpa batas waktu. Dia menjadi sangat pendiam dan sering kali tidak mengucapkan sepatah kata pun seharian penuh.Rambut putih di pelipisnya semakin banyak dan di matanya tersisa kelelahan dan kesunyian yang tak terhapuskan. Dia bisa duduk berjam-jam di tepi danau untuk menatap air yang dingin, dengan tatapan kosong. Entah apa yang dipikirkannya saat itu.Di sampingnya, sering tergeletak majalah bisnis. Di sampulnya, kadang ada wawancara Veronica, dengan fotonya yang bersinar.Yanto melihatnya be

  • Dinikahi Pria Terkaya, Tetapi Hatiku Sepi Merana   Bab 20

    Yanto membayangkan sosok Veronica yang berdiri di bawah sorotan lampu sambil menerima trofi dengan senyum percaya diri dan gemilang. Semua itu adalah kejayaan yang seharusnya menjadi milik Veronica sejak dulu. Namun karena dirinya, kesuksesan itu tertunda selama bertahun-tahun.Yanto memejamkan mata. Yang terlintas di benaknya adalah saat dia pertama kali menikah dengan Veronica. Dari sepasang mata yang penuh rasa takut dan harapan, bayangan Veronica saat diam-diam menyiapkan makan malam di vila, air mata putus asa di kantor polisi, dan tatapan terakhir Veronica padanya yang dingin dan tanpa emosi.Setetes air mata mengalir dari sudut matanya, lalu menghilang ke dalam kerah pakaian dengan cepat.Saat dia membuka mata lagi, gejolak hebat di dalam tatapannya telah mereda. Yang tersisa hanyalah doa yang jauh, pasrah, dan kelegaan yang sepenuhnya.Yanto telah mengampuni dirinya sendiri dan akhirnya menerima kenyataan bahwa Veronica akan selalu bahagia, tetapi tidak akan pernah menjadi mili

  • Dinikahi Pria Terkaya, Tetapi Hatiku Sepi Merana   Bab 19

    Waktu selama tiga tahun telah cukup untuk menunjukkan hasil akhir dari banyak hal.Nama Veronica kini telah menjadi nama yang dihormati di dunia desain.Skala studionya berkembang lebih dari dua kali lipat. Karya-karyanya memadukan estetika timur dengan pemikiran modern. Dia sering tampil di galeri internasional ternama dan penghargaan terus mengalir tanpa henti.Dia bukan lagi bayangan siapa pun, melainkan dirinya sendiri, sang desainer Veronica.Hidupnya terasa penuh dan tenang. Dia tidak terburu-buru memulai pernikahan baru, melainkan menikmati ritme hidup yang sepenuhnya dia kendalikan sendiri.Hubungannya dengan Willy stabil dan nyaman. Mereka adalah partner yang selaras dalam pekerjaan, sekaligus sahabat yang bisa saling berbagi dalam kehidupan. Rasa hormat, pengertian, dan kebersamaan yang tenang dari Willy membuatnya merasakan kedamaian dan rasa aman yang belum pernah dia rasakan sebelumnya.Veronica sendiri tidak terburu-buru untuk menentukan apakah hubungan mereka bisa melang

  • Dinikahi Pria Terkaya, Tetapi Hatiku Sepi Merana   Bab 18

    Setiap kali ada kabar baik tentang Veronica, malam itu, lemari anggur di ruang kerja Yanto akan terbuka. Yanto tidak membutuhkan siapa pun untuk menemaninya. Dia hanya duduk sendirian dalam kegelapan sambil meneguk seteguk demi seteguk alkohol sambil menghadap jendela kaca besar dengan gemerlap lampu kota di luar.Melihat senyum percaya diri Veronica saat menerima penghargaan di layar, dia akan tertawa pelan. Namun saat tertawa, air matanya tiba-tiba mengalir, bercampur dengan rasa tajam wiski yang membakar tenggorokan dan jantungnya.Itu adalah emosi yang sangat rumit. Ada kebanggaan yang tulus untuk Veronica, ada penyesalan yang mendarah daging, ada rasa kehilangan yang tak bisa ditebus, dan pada akhirnya semua itu berubah menjadi kesepian yang tak berbatas.Seolah menjaga sebuah rahasia yang tak bisa diungkapkan, dia diam-diam menggunakan segala cara untuk membersihkan setiap rintangan di jalan masa depan Veronica.Saat ada pesaing tak tahu diri yang mencoba menekannya dengan cara k

  • Dinikahi Pria Terkaya, Tetapi Hatiku Sepi Merana   Bab 17

    Apa saja yang sudah dia lakukan?!Rasa sakit dan penyesalan yang begitu besar seketika menggerogoti jantungnya dan membuatnya nyaris tak bisa bernapas. Dia langsung berlari keluar, sekarang hanya ada satu pemikiran di benaknya.Menemukan Veronica!Yanto menunggu di bawah gedung studio tempat Veronica bekerja dan menunggu di depan pintu apartemen barunya.Pria yang dulunya begitu angkuh dan rapi, kini dagunya dipenuhi janggut kasar. Matanya tampak cekung dan jasnya kusut melekat di tubuhnya. Hanya sepasang mata yang memerah itu yang tetap menatap setiap pintu masuk dan keluar dengan intens.Saat akhirnya dia melihat sosok anggun itu muncul, jantungnya berdegup kencang.Yanto tersandung saat berlari untuk mengadang di depan Veronica. Suaranya terdengar serak karena demam tinggi dan kegelisahan, "Vero ... Veronica! Maaf ... maaf! Aku salah ... aku sudah tahu semuanya ...."Yanto tergagap dan mencoba meraih tangan Veronica, tetapi Veronica malah menghindar dengan santai dan tegas."Aku tah

  • Dinikahi Pria Terkaya, Tetapi Hatiku Sepi Merana   Bab 16

    Ternyata ... kenyataannya seperti ini. Yanto akhirnya tahu Lucinta tidak pernah selalu setia menemaninya dan tidak pernah mempertaruhkan nyawa untuk menyelamatkannya juga. Hanya Veronica yang nekat tanpa memikirkan diri sendiri dan kedua tangan berlumuran darah, sedangkan Lucinta hanya berpura-pura dan merebut jasa orang lain tanpa malu.Semua toleransi yang diberikan Yanto selama bertahun-tahun ini, semua tindakan mengalah yang dilakukannya, dan semua rasa bersalah serta tanggung jawab karena utang budi. Ternyata semua yang diberikannya pada Lucinta hanya menjadi lelucon terbesar dalam hidupnya.Sementara itu, apa yang telah dilakukan Yanto pada penyelamat nyawanya yang sebenarnya?Karena Veronica menyelidiki Lucinta, Yanto sengaja menciptakan kecelakaan mobil untuk memperingatkan Veronica. Saat di kantor polisi, dia membiarkan Lucinta mempermalukan Veronica dan bahkan menyuruh Veronica pergi. Hanya karena Lucinta ingin makan kue, dia menyeret Veronica turun dari meja operasi dan meng

  • Dinikahi Pria Terkaya, Tetapi Hatiku Sepi Merana   Bab 9

    Veronica kesakitan sampai merasa dirinya hampir mati.Dokter pribadi akhirnya datang setelah mendengar kabar Veronica dan segera memberikan obat pereda nyeri kuat serta antiinflamasi, lalu menangani luka di punggung Veronica dengan hati-hati. Dia mengingatkan, "Untung saja ditangani tepat waktu. Ini

  • Dinikahi Pria Terkaya, Tetapi Hatiku Sepi Merana   Bab 8

    Dalam beberapa hari berikutnya, Veronica menyaksikan sendiri Yanto memanjakan seseorang sampai sejauh mana. Saat Lucinta bilang ingin makan jelly bunga sakura yang harus dikirim lewat penerbangan khusus, Yanto langsung memborong penerbangan internasional dini hari hanya untuk mengantar jelly itu.Sa

  • Dinikahi Pria Terkaya, Tetapi Hatiku Sepi Merana   Bab 7

    Saat menatap lampu belakang mobil Yanto yang melaju menjauh, tubuh dari para sahabatnya Veronica gemetar karena marah. Namun, mereka hanya bisa buru-buru membawa Veronica yang terluka parah ke rumah sakit terlebih dulu.Saat kembali terbangun di rumah sakit, yang ada di sisi Veronica hanya seorang p

  • Dinikahi Pria Terkaya, Tetapi Hatiku Sepi Merana   Bab 6

    Yanto akhirnya menatap Veronica dengan dingin, lalu ekspresinya langsung sangat muram saat melihat beberapa pria tampan dan berwibawa yang berdiri di belakang Veronica. "Veronica, aku sudah peringatkan kamu jangan berniat buruk pada Lulu. Kenapa? Kamu sendiri saja nggak cukup jadi kamu suruh teman-t

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status