MasukBerbeda jauh dengan kecerahan di Paris, sebuah tempat perawatan mewah yang terpencil di Swiss selalu diselimuti suasana dingin yang sunyi.Yanto tinggal di sebuah vila di tepi danau. Lingkungannya indah luar biasa, tetapi juga terasa kosong dan menyesakkan. Sejak meninggalkan Afrika, dia menetap di sini untuk "pemulihan" dalam jangka panjang.Di mata orang lain, dia adalah sosok yang mundur di puncak kesuksesan dan menikmati hidup. Hanya dia sendiri yang tahu, ini adalah bentuk pengasingan diri tanpa batas waktu. Dia menjadi sangat pendiam dan sering kali tidak mengucapkan sepatah kata pun seharian penuh.Rambut putih di pelipisnya semakin banyak dan di matanya tersisa kelelahan dan kesunyian yang tak terhapuskan. Dia bisa duduk berjam-jam di tepi danau untuk menatap air yang dingin, dengan tatapan kosong. Entah apa yang dipikirkannya saat itu.Di sampingnya, sering tergeletak majalah bisnis. Di sampulnya, kadang ada wawancara Veronica, dengan fotonya yang bersinar.Yanto melihatnya be
Yanto membayangkan sosok Veronica yang berdiri di bawah sorotan lampu sambil menerima trofi dengan senyum percaya diri dan gemilang. Semua itu adalah kejayaan yang seharusnya menjadi milik Veronica sejak dulu. Namun karena dirinya, kesuksesan itu tertunda selama bertahun-tahun.Yanto memejamkan mata. Yang terlintas di benaknya adalah saat dia pertama kali menikah dengan Veronica. Dari sepasang mata yang penuh rasa takut dan harapan, bayangan Veronica saat diam-diam menyiapkan makan malam di vila, air mata putus asa di kantor polisi, dan tatapan terakhir Veronica padanya yang dingin dan tanpa emosi.Setetes air mata mengalir dari sudut matanya, lalu menghilang ke dalam kerah pakaian dengan cepat.Saat dia membuka mata lagi, gejolak hebat di dalam tatapannya telah mereda. Yang tersisa hanyalah doa yang jauh, pasrah, dan kelegaan yang sepenuhnya.Yanto telah mengampuni dirinya sendiri dan akhirnya menerima kenyataan bahwa Veronica akan selalu bahagia, tetapi tidak akan pernah menjadi mili
Waktu selama tiga tahun telah cukup untuk menunjukkan hasil akhir dari banyak hal.Nama Veronica kini telah menjadi nama yang dihormati di dunia desain.Skala studionya berkembang lebih dari dua kali lipat. Karya-karyanya memadukan estetika timur dengan pemikiran modern. Dia sering tampil di galeri internasional ternama dan penghargaan terus mengalir tanpa henti.Dia bukan lagi bayangan siapa pun, melainkan dirinya sendiri, sang desainer Veronica.Hidupnya terasa penuh dan tenang. Dia tidak terburu-buru memulai pernikahan baru, melainkan menikmati ritme hidup yang sepenuhnya dia kendalikan sendiri.Hubungannya dengan Willy stabil dan nyaman. Mereka adalah partner yang selaras dalam pekerjaan, sekaligus sahabat yang bisa saling berbagi dalam kehidupan. Rasa hormat, pengertian, dan kebersamaan yang tenang dari Willy membuatnya merasakan kedamaian dan rasa aman yang belum pernah dia rasakan sebelumnya.Veronica sendiri tidak terburu-buru untuk menentukan apakah hubungan mereka bisa melang
Setiap kali ada kabar baik tentang Veronica, malam itu, lemari anggur di ruang kerja Yanto akan terbuka. Yanto tidak membutuhkan siapa pun untuk menemaninya. Dia hanya duduk sendirian dalam kegelapan sambil meneguk seteguk demi seteguk alkohol sambil menghadap jendela kaca besar dengan gemerlap lampu kota di luar.Melihat senyum percaya diri Veronica saat menerima penghargaan di layar, dia akan tertawa pelan. Namun saat tertawa, air matanya tiba-tiba mengalir, bercampur dengan rasa tajam wiski yang membakar tenggorokan dan jantungnya.Itu adalah emosi yang sangat rumit. Ada kebanggaan yang tulus untuk Veronica, ada penyesalan yang mendarah daging, ada rasa kehilangan yang tak bisa ditebus, dan pada akhirnya semua itu berubah menjadi kesepian yang tak berbatas.Seolah menjaga sebuah rahasia yang tak bisa diungkapkan, dia diam-diam menggunakan segala cara untuk membersihkan setiap rintangan di jalan masa depan Veronica.Saat ada pesaing tak tahu diri yang mencoba menekannya dengan cara k
Apa saja yang sudah dia lakukan?!Rasa sakit dan penyesalan yang begitu besar seketika menggerogoti jantungnya dan membuatnya nyaris tak bisa bernapas. Dia langsung berlari keluar, sekarang hanya ada satu pemikiran di benaknya.Menemukan Veronica!Yanto menunggu di bawah gedung studio tempat Veronica bekerja dan menunggu di depan pintu apartemen barunya.Pria yang dulunya begitu angkuh dan rapi, kini dagunya dipenuhi janggut kasar. Matanya tampak cekung dan jasnya kusut melekat di tubuhnya. Hanya sepasang mata yang memerah itu yang tetap menatap setiap pintu masuk dan keluar dengan intens.Saat akhirnya dia melihat sosok anggun itu muncul, jantungnya berdegup kencang.Yanto tersandung saat berlari untuk mengadang di depan Veronica. Suaranya terdengar serak karena demam tinggi dan kegelisahan, "Vero ... Veronica! Maaf ... maaf! Aku salah ... aku sudah tahu semuanya ...."Yanto tergagap dan mencoba meraih tangan Veronica, tetapi Veronica malah menghindar dengan santai dan tegas."Aku tah
Ternyata ... kenyataannya seperti ini. Yanto akhirnya tahu Lucinta tidak pernah selalu setia menemaninya dan tidak pernah mempertaruhkan nyawa untuk menyelamatkannya juga. Hanya Veronica yang nekat tanpa memikirkan diri sendiri dan kedua tangan berlumuran darah, sedangkan Lucinta hanya berpura-pura dan merebut jasa orang lain tanpa malu.Semua toleransi yang diberikan Yanto selama bertahun-tahun ini, semua tindakan mengalah yang dilakukannya, dan semua rasa bersalah serta tanggung jawab karena utang budi. Ternyata semua yang diberikannya pada Lucinta hanya menjadi lelucon terbesar dalam hidupnya.Sementara itu, apa yang telah dilakukan Yanto pada penyelamat nyawanya yang sebenarnya?Karena Veronica menyelidiki Lucinta, Yanto sengaja menciptakan kecelakaan mobil untuk memperingatkan Veronica. Saat di kantor polisi, dia membiarkan Lucinta mempermalukan Veronica dan bahkan menyuruh Veronica pergi. Hanya karena Lucinta ingin makan kue, dia menyeret Veronica turun dari meja operasi dan meng
Veronica kesakitan sampai merasa dirinya hampir mati.Dokter pribadi akhirnya datang setelah mendengar kabar Veronica dan segera memberikan obat pereda nyeri kuat serta antiinflamasi, lalu menangani luka di punggung Veronica dengan hati-hati. Dia mengingatkan, "Untung saja ditangani tepat waktu. Ini
Dalam beberapa hari berikutnya, Veronica menyaksikan sendiri Yanto memanjakan seseorang sampai sejauh mana. Saat Lucinta bilang ingin makan jelly bunga sakura yang harus dikirim lewat penerbangan khusus, Yanto langsung memborong penerbangan internasional dini hari hanya untuk mengantar jelly itu.Sa
Saat menatap lampu belakang mobil Yanto yang melaju menjauh, tubuh dari para sahabatnya Veronica gemetar karena marah. Namun, mereka hanya bisa buru-buru membawa Veronica yang terluka parah ke rumah sakit terlebih dulu.Saat kembali terbangun di rumah sakit, yang ada di sisi Veronica hanya seorang p
Yanto akhirnya menatap Veronica dengan dingin, lalu ekspresinya langsung sangat muram saat melihat beberapa pria tampan dan berwibawa yang berdiri di belakang Veronica. "Veronica, aku sudah peringatkan kamu jangan berniat buruk pada Lulu. Kenapa? Kamu sendiri saja nggak cukup jadi kamu suruh teman-t







